Milister ysh,
 
Pertama trims utk mas Dwi dan mas BTS yang telah mengawali diskusi topik ttg 
kota Surabaya asal dari berita Kompas……
 
+++:  Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya :
“……Idealnya, jumlah penduduk di Kota surabaya rata-rata 75 orang per hektar. 
Namun, volume penduduk Surabaya saat ini mencapai 87 orang per hektar….”.
 
>>>: Pengin tau juga…. Ini idealisme untuk kota Sby dalam fungsinya sebagai apa 
>>>serta dalam bentuknya yang bagaimana… serta berdasar rumus hitungan yg 
>>>bagaimana ya?.......
Sby sebagai kota  metropolitan atau bahkan greater metropolis ….. bukankah ia 
telah  dan harus saling berbagi fungsi dengan ‘kota2 satelit’ sekitarnya 
Gerbang kertosusila?....... dan memangnya apakah Sby bisa ’berdiri sendiri’ dan 
mengisolasi diri?........
Sebagai greater metropolis, sebagai ‘kota internasional’, sebagai ibukota 
propinsi dan bahkan sebagai ‘pusat layan KTI…… tentu Sby memundak berbagai 
fungsi layan yang amat bermacam2…….  Fungsi pusat pemerintahan, pusat bisnis 
dan dagang, pusat industri,  pusat wisata, pusat hub perhubungan…….. dsb…..  
Jadi apakah gedung pencakar langit dan lingkungan hijau disekitarnya serta 
kelak jaringan subway bawah tanah juga tidak akan menolong pembentukan kota Sby 
yang ideal?..........
 
Data KTP mungkin tidak menggambarkan 100% identik dengan fakta lokasi domisili 
…. Artinya data penduduk kotaSby bisa lebih besar lagi… atau pada saatnya kelak 
… sebagaimana di Jkt dan banyak kota dunia lainnya… ‘pusat kota Sby’ juga bisa 
saja suat saat ‘menyusut’ jumlah penduduknya karena berpindah kekota satelit 
……..
Sbgmn fenomena Jkt dan banyak kotabesar lain…. Sby tentu juga menjadi kota 
tujuan commuting……bertambah jumlah penduduknya disiang hari  …. Dan menyusut 
dimalam hari……
Ini apakah boleh dikatakan  sbg Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sby 
sedang iseng mencobain  memakai kacamata kuda?..........
 
+++: Penduduk baru yang tidak memiliki kejelasan tujuan dan tempat tinggal akan 
dikembalikan ke daerah asalnya.  
>>>: Kalau tujuan sih saya kira jelas ya….. tentulah seputar ‘ingin memperbaiki 
>>>nasib/ masa depan……. Kalau ‘tak memiliki tempat tinggal’ lalu asal saja 
>>>mendiami  kolong jembatan dan banyak  tempat lain yang terlarang … nah yang 
>>>ini sih  boleh ditindak…….
 
+++: Jika ingin mengajak saudara, maka pendatang baru harus memiliki kemampuan, 
pekerjaan, dan tempat tinggal yang jelas.  
>>>: Orang cacat  saja memiliki kemampuan…. Apalagi yang sehat…… Kemampuan, 
>>>ketrampilan atau keahlian pada dasarnya bisa dibangun dengan pelatihan dalam 
>>>waktu yang singkat….. sebaliknya dikotabesar seperti Sby kita tahu… banyak 
>>>sekali kesempatan kerja yang tidak harus memerlukan kemampuan/ keahlian 
>>>tingkat tinggi……  proyek galian kabel PLN/ Telkom cukup mengandalkan 
>>>kekuatan fisik dalam menggali…… tukang2 kayu dan tukang batu  ahli juga 
>>>sangat banyak mencetak keahlian dari  jam terbang bekerja yang lama  
>>>dikotabesar dan bukan didesa (karena didesa/ kota kecil proyek pembangunan 
>>>sangat kurang)…… dan umumnya menapak mulai dari pekerja tidak trampil…...
Tukang2 ahli dibanyak sekali bidang sangat membutuhkan asisten/ kenek  kurang 
trampil… sekaligus ini sebagai kesempatan bagi para pekerja tanpa ketrampilan 
untuk magang…….. PRT atau tukang kebun dan banyak pekerja sektor informal 
dengan ketrampilan minimal banyak dibutuhkan dikota besar……….
Untuk “tempat tinggal yang jelas”…..  asalkan memiliki pekerjaan dan 
penghasilan atau kerabat/ teman….. penduduk akan dapat memiliki “tempat tinggal 
yang jelas” (sewa, KPR, numpang)…….  
Terakhir…. pada dasarnya bukankah  negara juga memiliki kewajiban menyediakan 
rumah sewa untuk rakyat juga…….. 
Memandang kota Surabaya nampaknya perlu mencobai  bermacam-macam model 
kacamata….. dan tak cukup dengan hanya model kacamata kuda saja……..
 
Salam,
aby
 


      

Kirim email ke