Milister ysh,

Sekadar informasi.....penduduk Pulau Panggang kalau hanya berbasis paradigma
daratan sudah lebih dari 350 org per hektar luas pulau, sangat padat,
seolah-olah tidak mungkin hidup.....tetapi kalau berbasis daya dukung
pulau-laut (berikut sumber daya laut sekitarnya) kepadatan per pulau-laut
menjadi amat sangat rendah, sehingga selama ini mereka masih bisa bertahan
hidup di pulau tersebut selama sekian puluh tahun...terisolasi dan tidak
terpedulikan oleh mesin pembangunan....(eksistensi cikal bakal mereka
terekam VOC sejak abad ke 15. Kondisi semacam ini sudah tidak asing di
pulau-pulau mikro Indonesia.

Kehidupan mereka mulai memburuk (daya dukung luat menurun) sekitar 2 - 3
dekade lalu, semakin memburuk hampir satu dekade lalu justru sejak sumber
daya laut sekitar pulaunya mulai di"manfaat"kan oleh masyarakat daratan
pulau Jawa (termasuk invasi investor dibidang perikanan, rumput laut, ikan
hias, hiasan karang laut, wisata bahari dan pemilikan pulau yang  tidak
mengindahkan peningkatan pengetahuan, kearifan, potensi dan kesejahteraan
jangka panjang penduduk pulau-laut setempat)...bukan karena tidak
menyertakan mereka, tetapi karena mesin ekonomi lebih cepat berputar
daripada metabolisme konservasi, kearifan dan kewaspadaan resiko
terganggunya daya dukung lingkungan setempat yang berkelanjutan...

Salam,

Abimanyu

2008/9/24 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>

>    Milister ysh,
>
>
>
> Pertama trims utk mas Dwi dan mas BTS yang telah mengawali diskusi topik
> ttg kota Surabaya asal dari berita Kompas……
>
>
>
> *+++: ** Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya** :*
>
> *"……I**dealnya, jumlah penduduk di Kota surabaya rata-rata 75 orang per
> hektar. Namun, volume penduduk Surabaya saat ini mencapai 87 orang per
> hektar**…."**.*
>
> * *
>
> >>>: Pengin tau juga…. Ini idealisme untuk kota Sby dalam fungsinya sebagai
> apa serta dalam bentuknya yang bagaimana… serta berdasar rumus hitungan yg
> bagaimana ya?.......
>
> Sby sebagai kota  metropolitan atau bahkan greater metropolis ….. bukankah
> ia telah  dan harus saling berbagi fungsi dengan 'kota2 satelit'
> sekitarnya Gerbang kertosusila?....... dan memangnya apakah Sby bisa
> 'berdiri sendiri' dan mengisolasi diri?........
>
> Sebagai greater metropolis, sebagai 'kota internasional', sebagai ibukota
> propinsi dan bahkan sebagai 'pusat layan KTI…… tentu Sby memundak berbagai
> fungsi layan yang amat bermacam2…….  Fungsi pusat pemerintahan, pusat
> bisnis dan dagang, pusat industri,  pusat wisata, pusat hub
> perhubungan…….. dsb…..
>
> Jadi apakah gedung pencakar langit dan lingkungan hijau disekitarnya serta
> kelak jaringan subway bawah tanah juga tidak akan menolong pembentukan kota
> Sby yang ideal?...........
>
>
>
> Data KTP mungkin tidak menggambarkan 100% identik dengan fakta lokasi
> domisili …. Artinya data penduduk kotaSby bisa lebih besar lagi… atau pada
> saatnya kelak … sebagaimana di Jkt dan banyak kota dunia lainnya… 'pusat
> kota Sby' juga bisa saja suat saat 'menyusut' jumlah penduduknya karena
> berpindah kekota satelit ……..
>
> Sbgmn fenomena Jkt dan banyak kotabesar lain…. Sby tentu juga menjadi kota
> tujuan commuting……bertambah jumlah penduduknya disiang hari  …. Dan
> menyusut dimalam hari……
>
> Ini apakah boleh dikatakan  sbg Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan
> Sipil Sby sedang iseng mencobain  memakai kacamata kuda?..........
>
>
>
> *+++: **Penduduk baru yang tidak memiliki kejelasan tujuan dan tempat
> tinggal akan dikembalikan ke daerah asalnya.**  ***
>
> >>>: Kalau tujuan sih saya kira jelas ya….. tentulah seputar 'ingin
> memperbaiki nasib/ masa depan……. Kalau 'tak memiliki tempat tinggal' lalu
> asal saja mendiami  kolong jembatan dan banyak  tempat lain yang terlarang
> … nah yang ini sih  boleh ditindak…….
>
>
>
> *+++: **Jika ingin mengajak saudara, maka pendatang baru harus memiliki
> kemampuan, pekerjaan, dan tempat** **tinggal yang jelas.**  *
>
> >>>: Orang cacat  saja memiliki kemampuan…. Apalagi yang sehat……
> Kemampuan, ketrampilan atau keahlian pada dasarnya bisa dibangun dengan
> pelatihan dalam waktu yang singkat….. sebaliknya dikotabesar seperti Sby
> kita tahu… banyak sekali kesempatan kerja yang tidak harus memerlukan
> kemampuan/ keahlian tingkat tinggi……  proyek galian kabel PLN/ Telkom
> cukup mengandalkan kekuatan fisik dalam menggali…… tukang2 kayu dan tukang
> batu  ahli juga sangat banyak mencetak keahlian dari  jam terbang bekerja
> yang lama  dikotabesar dan bukan didesa (karena didesa/ kota kecil proyek
> pembangunan sangat kurang)…… dan umumnya menapak mulai dari pekerja tidak
> trampil…...
>
> Tukang2 ahli dibanyak sekali bidang sangat membutuhkan asisten/ kenek  kurang
> trampil… sekaligus ini sebagai kesempatan bagi para pekerja tanpa
> ketrampilan untuk magang…….. PRT atau tukang kebun dan banyak pekerja sektor
> informal dengan ketrampilan minimal banyak dibutuhkan dikota besar……….
>
> Untuk *"**tempat tinggal yang jelas**"…..*  asalkan memiliki pekerjaan dan
> penghasilan atau kerabat/ teman….. penduduk akan dapat memiliki "tempat
> tinggal yang jelas" (sewa, KPR, numpang)…….
>
> Terakhir…. pada dasarnya bukankah  negara juga memiliki kewajiban
> menyediakan rumah sewa untuk rakyat juga……..
>
> Memandang kota Surabaya nampaknya perlu mencobai  bermacam-macam model
> kacamata….. dan tak cukup dengan hanya model kacamata kuda saja……...
>
>
>
> Salam,
>
> aby
>
>
>  
>

Kirim email ke