Mas Catur yang baik dan milister ysh,

Trims atas tanggapannya kembali……
Tapi mohon izinkan saya untuk sampaikan dulu tanggapan dari posting ke-2  : 
“Progresivitas Dunia Perencanaan” Tuesday, June 24, 2008…..
Selanjutnya kita nanti bisa diskusi lagi…..
 
+++: Orang-orang tersebut berkumpul dengan berbagai alasan dan motif yang 
berbeda-beda, akan tetapi semuanya didasari oleh sebuah kegelisahan terhadap 
apa yang terjadi saat ini di dunia perencanaan, terutama apa yang terjadi di 
kalangan perencana muda 
>>>: Nampaknya ini seperti indikasi juga …  terutama lebih tentang 
>>>ketidakpuasan yang didapat kaum perencana muda menyangkut  nasib dirinya…… 
>>>dan bukan lebih menyangkut nasib rakyat serta bangsa………
+++: Dunia perencanaan wilayah sebenarnya bukan sebuah disiplin ilmu yang lama 
di Indonesia. Kita bisa katakan tonggak profesi perencanaan adalah ketika 
Sekolah perencanaan pertama dibuka di tahun 1959 di Bandung. Seiring 
berjalannya waktu, dunia perencanaan mengalami berbagai dinamika yang mewarnai 
lulusan dari masing-masing sekolah perencanaan. Lahirnya UU Penataan Ruang pada 
tahun 1992 (43 tahun setelah sekolah perencanaan berdiri), Era dsentralisasi 
yang memperkuat posisi Pemda terhadap Pusat, gelombang partisipasi masyarakat 
setelah era reformasi. Yang terakhir adalah keluarnya UU Penataan ruang yang 
baru, UU 26/2007, yang secara tidak langsung menentukan arah perkembangan 
profesi perencanaan. 
Ratusan bahkan ribuan tenaga perencanaan telah lahir dari berbagai sekolah 
perencanaan di Indonesia. Alumni sekolah perencanaan telah tersebar di berbagai 
macam bidang pekerjaan. Lulusan-lulusan sekolah perencanaan pun telah mengisi 
berbagai level di profesi perencanaan, tidak hanya didominasi oleh satu atau 
dua sekolah perencanaan saja.. seharusnya dengan gambaran tersebut, maka dunia 
perencanaan menuju ke arah yang lebih baik.
>>>: Jelas bahwa disini lebih dibicarakan tentang ‘masa depan’ atau ‘dunianya’ 
>>>alumnus sekolah perencanaan more than perbaikan nasib rakyat dan bangsa 
>>>melalui teknik perencanan ruang……..
 
+++: seharusnya dengan gambaran tersebut, maka dunia perencanaan menuju ke arah 
yang lebih baik. Akan tetapi, beberapa perencana muda yang hadir pada forum 12 
Juni tidak sependapat.. mereka yang hadir merasakan kegelisahan terhadap masa 
depan dunia perencanaan. 
Perencanaan wilayah dan kota telah berubah menjadi sebuah bidang yang tidak 
menarik, tidak berkembang, membosankan, tidak menantang dan tidak ramah 
terhadap para perencana muda. Atau dengan kata lain dunia perencanaan wilayah 
menjadi sebuah bidang yang kurang seksi di tengah era globalisasi saat ini.
>>>: Kalau kepada ‘para perencana muda’ saja PWK telah dibilang ‘tidak 
>>>ramah’…..lha  bisa dibayangkan …bagaimana PWK lebih ‘tidak ramah’ lagi 
>>>kepada para outsiders (saya pernah buktikan hehe..)… atau juga  bagaimana 
>>>PWK akan ‘lebih tidak ramah’ lagi kepada rakyat, bangsa  dan negara…….
Logikanya disini…… kalau ada sikap ‘tidak ramah’… tentu sebaliknya sesekali 
akan ada juga ‘sikap ramah’nya… hanya pertanyaan lalu … kalo gitu ‘sikap ramah’ 
itu ditujuken kepada siapa ya?........ 
 
+++: Beberapa pemikiran yang mencuat dari diskusi di malam itu (kalo boleh saya 
simpulkan ), sebagai berikut ;

di level alumni muda, terdapat sebuah keputusasaan dari produk rencana yang di 
susun. Banyak yang merasa berkiprah di dunia perencanaan tidak memberikan arti 
banyak bagi pengembangan ruang itu sendiri. Karena produk-produk rencana yang 
di susun ternyata tidak mampu untuk diimpelementasikan sebagai sebuah produk 
nyata dalam mengembangkan ruang, entah itu di level Kota, Kabupaten, Provinsi 
atau Nasional. Kondisi dimana penyusunan produk ruang semata-mata sebagai 
sebuah proyek semata, menimbulkan pesimisme di kalangan para alumni muda yang 
menyebabkan mereka berlomba-lomba untuk keluar dari dunia perencanaan ruang. 
Fenomena ini sebenernya sesuatu yang lumrah terjadi di setiap bidang keilmuan. 
Akan tetapi apabila hal ini berkelanjutan, maka tentunya dapat dibayangkan 
sedikitnya alumni sekolah perencanaan yang berkecimpung di dunia perencanaan. 
Tentunya secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas 
perencanaan itu sendiri. 
>>>: Keputusasaan ini jelas menyangkut masalah ‘kebijakan’…. atau ‘policy’… 
>>>atau ‘politik perencanaan’ yang bukan tidak mungkin itu terjadi juga pada 
>>>level nasional….. tapi tidak jelas juga apakah mereka  setelah itu  lalu 
>>>akan ’berkesadaran politik perencanaan’ dengan lebih baik atau tidak……
 
+++: 2. Selain dari kondisi di atas, ternyata masih ada sebuah ”kerinduan” dari 
para alumni sekolah perencana terhadap dunia perencanaan ruang. Aktivitas di 
luar dunia perencanaan ruang tidak semata-mata membuat mereka tidak perduli 
terhadap apa yang terjadi di dunia perencanaan. Kebutuhan sebuah media di luar 
rutinitas pekerjaan dimana mereka dapat berdialog mengenai apa yang terjadi di 
dunia perencanaan. Sebuah media dimana ”planning can be fun”. Media dialog yang 
pada akhirnya dapat memperkaya dunia perencanaan tanpa harus berkontribusi 
langsung sebagai perencana ruang. 
>>>: Saya pikir ‘media’ itu sudah ada dan banyak… dan dizaman kecanggihan 
>>>teknologi komputer saat ini… setidaknya ada ‘milis referensi’ yang relatif 
>>>terbuka dan tidak eksklusif…. Yang cukup merakyat, murah,  mudah, cepat dan 
>>>gratis dan kalau ada minat  utk sosialisasi planologi kepada kalangan luas 
>>>agar rakyat ‘bisa tahu lebih banyak’ misalnya… bukankah ini media yang tepat 
>>>juga…. Tapi kalau ‘suara anak muda planners’ itu seperti dimilis ini ‘nyaris 
>>>tak terdengar’…. Wah jangan2 masyarakat nanti bisa bertanya-tanya… maunya 
>>>para beliau itu apa ya … hehe..
 

 
Adanya perubahan dalam struktur-budaya masyarakat, perubahan peran birokrasi, 
dan iklim bisnis dan democratisasi yang memberikan peluang bagi perencanaan 
untuk berkiprah lebih jauh mengisi ruang-ruang publik. 
Potensi-potensi para alumni muda sekolah perencanaan saat ini tersebar ke 
berbagai bidang dan penjuru nusantara. Berbagai prestasi pun diraih. Akan 
tetapi hal ini belum terkonsolidasi dengan baik. Sehingga prestasi yang muncul 
ada prestasi individu dan bukan prestasi komunitas dunia perencanaan. Apalagi 
dengan kondisi feodalistik masyarakat Indonesia yang melihat komptensi 
seseorang berdasarkan umur, tidak memberikan kesempatan yang luas bagi 
perencana muda untuk mengekspresikan inovasi dan kreativitas mereka ke publik. 
>>>: Nampaknya kelompok ‘planners muda’ ini sedang terus memblame ‘planners 
>>>tua’  sebagai kenapa kok tidak secara bijak segera memberi tempat kepada 
>>>yang muda…. Jadi ini setengahnya seperti merupakan ‘masalah antara yang 
>>>muda  dan (kurang puas pada) yang tua’ gitu ya?......
 
+++: Dari sedikit persoalan yang berhasil di ekspose oleh rekan-rekan yang 
berkumpul, terbersit keinginan untuk membentuk komunitas dimana alumni muda 
sekolah perencanaan dapat berkomunikasi, berdialog, konsolidasi inovasi, 
bertukar informasi dan fungsi lain yang mampu melakukan mediasi kepentingan 
perencana muda. 
>>>: Nah… sepertinya menjadi sedikit jelas sekarang….. sepertinya ini lebih 
>>>tentang bgmn mencari wadah saluran penampung aspirasi ’kepentingan anak muda 
>>>planners’ gitu ya?........
 
+++: 1. Komunitas perencana muda tidak semata-mata membatasi diri pada usia 
atau umur kelulusan semata. Akan tetapi harus dapat mewakili ide-ide progressif 
dunia perencanaan. Komunitas yang ada mampu mewadahi dan memancing 
inovasi-inovasi baru dalam dunia perencanaan. Komunitas ini diharapkan mewakili 
ide-ide progresif yang ada dan tentunya menginformasikan ke masyarakat. 
>>>: Kalau memang  mau mengutamakan ‘progresivitas’ ya barangkali tidak usah 
>>>menonjolkan ciri apakah ‘muda-tua’ ataukah ’STW’ gitu ya?.... lagipula kalo 
>>>menyangkut ‘ciri muda-tua’…. lalu yang namanya ‘muda’ itu mau sampai usia 
>>>berapa….  Karena yang ‘muda’ itu khan juga gak berapa lama kemudian akan 
>>>‘tua’ atau ‘STW’ (setengah tua) juga…. Dan mereka yang kemudian berangsur 
>>>menjadi ‘tua’ apa tetap mau bercokol disana… atau apakah dengan mekanisme  
>>>‘progresivitas’ organisasi kaum muda itu diharapkan yang tua otomatis akan 
>>>‘mapan’ dan mungkin tak perlu lagi bantuan ‘organisasi kaum muda’ 
>>>itu?......yah ini barangkali sedikit tanda tanya tambahan juga……..
 
Salam,
aby
 


      

Kirim email ke