Pak Risfan yang penuh semangat .. Beberapa bulan terakhir ini saya sering (dalam seminggu minimal 2 kali) berkunjung ke Kec. Cikarang Timur, yang sedang menjadi lokasi pilot pendampingan (swakarsa teman2 di Jakarta) bagi masyarakat maupun pemerintah desa ... salah satu yang ingin kita bantu ialah merevitalisasi RPJMDes dan RKPDes ... ini untuk mencari model terbaik dari praktek menyusun rencana pembangunan jangka menengah desa setelah melalui pendampingan di berbagai lokasi (thn 2008 sekitar 2850 kecamatan dan lebih dari 29000 desa) .. meski sudah dilatih sederhana untuk menyusun rencana strategik termasuk village visioning (menggagas masa depan desa) ... ternyata hasilnya (menurut kita) kurang memuaskan, banyak yang luput dari perhatian masyarakat sehingga dikuatirkan akan sulit "bersaing" merebut dana ADD (padahal cuma bersaing dengan Kades dst) apalagi mendapatkan pembiayaan APBD ... Jadi, teman2 memilih dua desa di Cikarang Timur untuk didampingi agar menyusun RPJMDes dan RPKDes yang "benar2 menjadi kebutuhan masyarakat, kompatibel dengan rencana2 (sektoral) pemerintah kabupaten ..dan syukur2 bisa kompatibel juga dengan kepentingan perusahaan (industri) yang jumlahnya ratusan itu ...
Saya hanya ingin mengungkapkan temuan yang mengejutkan saja .... ada dua desa yang langsung berdekatan dengan lokasi industri (Jababeka), yaitu: Labansari dan Karangsari Timur ... dari FGD dan pendataan rumah tangga yang dilakukan oleh kader dari kedua desa (setelah diberi pembekalan sederhana) ternyata cukup mengejutkan ... misalnya, Desa Labansari (luas 363.7 ha, 5.250 jiwa) .. Hampir separuh wargadesa (asli) Labansari bekerja sebagai buruh tani, tetapi lebih dari 80% lahan bukan milik warga desa lagi ... dengan hasil panen 5 sd 6 ton/ha, maka bisa diperkirakan berapa "penghasilan" buruh tani tersebut ..rata2 nyaris dibawah UMP ya sekitar 300 ribuan .. bahkan beberapa pengrajin gedeg bambu di dusun Naggewer, yang menekuni pekerjaan tersebut lebih dari 15 tahun, mengaku mampu menghasilkan satu lebar gedeg dalam dua hari kerja (lebih dari 20 jam) .dengan modal 3 batang bambu @ 6000 perak, hanya bisa dijual 35 ribu perak perlembarnya .. alhasil "penghasilan harian" hanya 8.5 ribu perak saja ... aroma kemiskinan makin terasa di desa tersebut karena lebih dari 85% rumah yang sangat sederhana itu tidak punya wc sehingga wargadesa banyak yang "dolbon" (modol di kebon) ... atau (buang hajat) di saluran2 irigasi, yang pada waktu tertentu pun dimanfaatkan sebagai sumber air wargadesa .... dan sedihnya lokasi desa/dusun ini sekitar 7 sd 10 km dari Bekasi Square atau Metropolitan Mall ...! Nah Pak Risfan ... desa-desa tersebut tidak lebih dari 10 km letaknya dari kompleks Jababeka, dan sepertiga penduduk usia kerja "mengais" dari jasa2 yang "merembes" dari kawasan industri ... Jadi, prihatin juga kalau industri2 bisa begitu survive melawan keterpurukan ekonomi, tetapi warga di depan matanya masih dalam lingkaran kesengsaraan ... dampak lingkungan jika kawasan tersebut makin berkembang (masih banyak lahan kosong di dalam kawasan) apakah bisa memberikan "rembesan" kepada warga sekitarnya ....?? Mengharapkan Pemkab Bekasi..?? dalam beberapa pertemuan dengan pejabat, mereka pun mengeluh hanya "menerima PBB thok" ... padahal mereka pandai sekali menghitung besarnya "pajak" yang disetorkan perusahaan kepada Negara ... tetapi yang kembali dalam bentuk PAD maupun DAU "katanya" relatif kecil ... (jika tidak keliru APBDnya 1.5 T, sekitar 600 milyar DAU !?) ... Jadi pandangan Pak Risfan untuk "membuat pintar dan cerdas" pengelola wilayah memang harus jadi perhatian ... barangkali teman2 planner harus memperluas panggilan profesi-nya untuk menjadi "pendamping pengelola wilayah" (..bukan PNS melulu) ... bagaimana agar birokrat lebih cerdas menghadapi industri (yang pandai mengeksploitasi lahan) agar bersedia menyisihkan sebagian keuntungan sebagai wujud tanggung jawab sosial (pemkab masih bingung dengan CSR !) ... setidaknya bisa mendidik masyarakat sekitar lokasi industri untuk tidak "dolbon" atau "dolwah" .. Mengenai tanggung jawab sosial ... teman2 saya juga memotret kerjasama yang baik di Desa Karangsari Timur ... ada 3 industri yang lokasinya di wilayah desa tersebut (jadi diluar Jababeka!), salah satunya industri ban Achiles .... dan mungkin juga "ESQ"-nya Kades yang cukup tinggi sehingga terasa ada "rembesan" kesejahteraan di desa Karangsari Timur ... jalan desa di beton sumbangan dari Achiles dan sebuah pabrik asbes ... ada sumbangan 30 unit komputer yang dipergunakan untuk kursus komputer bagi anak usia sekolah dan remaja dengan sertifikat dari Binus ... dan ada TK yang gratis dengan sumber pembiayaan dari Achiles .. Herannya .. cerita sukses ini belum bisa menjadi inspirasi bagi Pemkab untuk menggerakan "potensi industri -- terutama yang terkonsentrasi di Jababeka" ... Pak Risfan ... Sesungguhnya banyak sekali contoh terbaik yang bisa jadi pembelajaran ... sayang sekali birokrat di kabupaten tidak mengetahui atau kurang peduli ..? Mudah2an dengan kesepahaman yang sedang di- insert kepada beberpa pejabat (dan wakil bupati) dapat membangunkan dari kenyenyakan berada disamping "kawasan industri" ... rencananya akan dibentuk "corporate forum for community empowerment" ... masyarakat/wargadesa merumuskan kebutuhannya dan mengundang pihak perusahaan untuk ikut membiayainya ... daripada sibuk cari2 instrument untuk pengenaan pajak/retribusi ... lebih baik pergunakan cara2 yang partisipatif, transparan, akuntabel dan membangun komunikasi masyarakat tempatan dengan industri yang punya dampak sosial ekonomi ..dan lingkungan ! Pak Risfan semoga ada gunanya ... Tabik & Wassalam, IBNU TAUFAN Urban & Regional Planner, Community Developement Pesanggrahan Permai, Jakarta Selatan, Indonesia P: +622170433974 M: +62816940978 [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] ----- Original Message ---- From: risfano <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, 6 October, 2008 10:03:08 AM Subject: [referensi] Re: Meramaikan setahun menyongsong Plano-50 Pak Aby dan temans ysh, Trims atas sambutannya. Maksud saya dengan mengangkat beberapa kasus seperti Jababeka dan trend mulut tol adalah untuk menjelaskan hubungan-hubungan antar faktor dan antar komponen. Saya tidak ada preferensi mihak yang mana. Hanya saya kalau antar swasta, seperti uraian Pak Aby, mekanisme pasar akan menyeleksi mereka, adjusment juga bisa mereka lakukan dengan relatif cepat. Tapi terkait dengan Pemda, itu yang perlu di'pinterkan' dalam aspek-aspek yang perlu diantisipasi, seperti bagaimana mengatasi dampak lingkungan dan biaya eksternalnya. Memang sepertinya mudah memungut retribusi atau pajak tertentu, tapi pajak dan fee apa sih untuk Pemda? Bagaimana manajemen pemungutan selama ini? Itu yang perlu ditindak lanjuti dengan diskusi mengenai aspek manajemen, dst. Salam, Risfan Munir --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote: > > Memenuhi ajakan sahabat Risfan Munir untuk memberikan komentar atau > blogsnya beliau dalam rangka menyemarakkan peringatan 50 th pendidikan > planologi ditanah air (untuk blogs dari sahabat lain nyusul) ….. berikut > adalah komentar saya sekenanya tentang tulisan beliau `Over Eksploitasi > Lahan'…… > > Saya kira kalau sampai nilai atau harga lahan dikawasan ini `kian merosot' > rasanya justru tidak….. sebab diam2 `aglomerasi' dikawasan itu justru > semakin kuat saja terbentuk disini……… Baru beberapa hari lalu saja diantara > Ramayana dan Bekasi Square (tepat dipinggir jalan tol juga sudah dilaunch > pengembangan apartemen……… > Disatu sisi bisa saja disebut fenomena pengembangan intensip kawasan mulut > Gerbang Jalan Tol Bekasi Barat (GTBB) ini sebagai `over eksploitasi > lahan'….. terlebih bagi mereka yang terbiasa pada idealisme pengembangan > beautiful and green small town…… tapi kalau kita melihatnya pertama dari sisi > nasional bahwa kota2 perlu dikembangkan untuk menampung luapan arus tenaga > kerja dari desa…. Serta bahwa Jkt (Jabodetabek) perlu menjadi bagian dari > deretan `kota dunia' yang potensial ….. Lalu dari sisi Bekasi sebagai > bagian dari megapolitan Jabodetabek…. .dari sisi lokal melihat kawasan mulut > GTBB itu sebagai bagian dari 'pengembangan wilayah kota metropolitan > Bekasi'…… rasanya `over eksploitasi lahan' dikawasan itu adalah hal sangat > `wajar-wajar saja…… > Tentang kekhawatiran bahwa biaya eksternal karena overcrowded bisa-bisa akan > ditanggung Pemda sendiri…… pemda Bekasi saya kira tak mengkhawatirkannya > sedikitpun……. Karena dengan berjubelnya investasi properti serta kegiatan > komersial dikawasan itu…. Jelas bahwa pendapatan Pemda karena berdirinya > deretan properties disana serta dengan banyaknya unit2 usaha disana…. Pajak > atau pendapatan daerah juga jelas meningkat pesat…… > Mungkin yang perlu `diprihatinkan' bukanlah soal fenomena `over eksploitasi > lahan'nya…. Tetapi adalah lebih tentang fenomena "duplikasi dan ke-sia2-an > " yang timbul dari berdirinya usaha2 tenant `besar' yang sejenis….. > Seperti contoh tentang toko fashion di Ramayana serta `Rimo' di Giant > dengan `barang mode' yang serba hampir sama…. yang nampak agak `merana' > karena terlalu sepi dibanding dengan `Matahari' yang nampaknya `memimpin'…. > Dimana `fashion' yang adalah bagian dari `barang mode' dan lebih menjadi > `kebutuhan sekunder' preferensinya berada dibawah barang `pangan' yang > merupakan kebutuhan sehari2 …… maka `eksklusivitas' dari `toko mode' itu > mungkin bisa menjadi daya survivalitasnya…….. > Berbeda dengan supermarket `Indohero' di Metropolitan Mall (MM) yang > nampaknya masih bisa survive `bersaing' dengan Giant….. karena sebagai > sesama toko `bahan pangan' atau `kebutuhan se-hari2' yang barang2 serta > harganya saling nyaris sama…… disini nampaknya berlaku hukum `ekonomisasi > prinsip jarak'…….. dimana untuk kebutuhan fashion yang `eksklusif' dan > untuk `pilihan lebih leluasa' orang akan datang ke Metropolitan Mall/ MM > (ke `Matahari') lebih daripada ke `Rimo' di Giant atau apalagi ke `Ramayana' > yang lebih kecil…. untuk kemudahan waktu serta tenaga untuk sekaligus `one > stop shopping' untuk kebutuhan `pangan' …. Dari ` Matahari' orang bisa > langsung turun ke ke `Indohero' (satu gedung di Metropolitan Mall yang sama, > tanpa perlu menyebrang jalan atau memindahkan mobil ke Giant) …. Atau > apalagi kalau disitu ada keperluan ke book store > tinggal ke Gramedia' saja ( di MM juga) ….. selain disitu juga ada toko > alat2 (hardware, furniture, dsb) …toko roti eksklusif `Breadtalk'…. juga > pujasera…… Dsb….. > Sementara itu kalau `dari rumah' niatnya lebih akan berbelanja kebutuhan > `pangan'…. Nampaknya ke Giant masih lebih menjadi pilihan (atau sekarang > juga Carrefour di Bekasi Square) karena pilihan yang sangat leluasa…….. > Hero plaza yang kalah besar dan tadinya `suram' dengan cerdik mengubah diri > menjadi `cyber store' sehingga untuk kebutuhan menyangkut komputer konsumen > hampir pasti akan kesini… selain McDee disini adalah bagian dari > eksklusivitasnya juga…….. > Jadi nampaknya dikawasan mulut GTBB ini adanya `duplikasi' usaha besar > sejenis (yang dikhawatirkan menghasilkan kesia2an bagi yang lebih lemah) > lebih perlu `diprihatinkan' lebih daripada gejala `over eksploitasi lahan' > yang timbul…….. > Masing2 unit usaha perlu saling secara cerdas `menonjolkan perbedaan dan > keistimewaan diri' untuk agar masing2 bisa `saling beda' sehingga malah > justru berbagai jasa2 `akan saling melengkapi' satu sama lain dikawasan itu…… > Terlebih kalau `over eksploitasi lahan' itu justru akan meningkatkan job > creation dikawasan itu…… lha why not pak Risfan?..... ...... > > Salam, > aby > > --- On Sun, 10/5/08, Risfan M [EMAIL PROTECTED] wrote: > > From: Risfan M [EMAIL PROTECTED] > Subject: [referensi] Meramaikan setahun menyongsong Plano-50 > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com, [EMAIL PROTECTED] ps.com > Date: Sunday, October 5, 2008, 7:08 AM > > > > > > > > > > > > Rekan-rekan milisters ysh, > > Menyongsong 50 th pendidikan Planologi di tanah air saya mikir-mikir apa yang > bisa dikontribusikan untuk menyemarakkannya. Paling layak bagi saya sementara > ini ya nulis Blog. > > Blog saya ini tentang Urban Land Economic, suatu interpretasi populer (dan > bebas) tentang location theory, land use, urban geography, housing dan urban > economic. Sambil nostalgia jaman kuliah dulu (saya tak tahu apakah sekarang > masih ada mata kuliah itu) juga mencoba-coba memahami fenomena perkotaan yang > kontemporer. Siapa tahu ada gunanya. > > Silahkan klik: Urban Land Economic. Komentar dan saran sangat diharapkan. > > Salam, > Risfan Munir > Get the latest headlines with Yahoo!Xtra News - http://nz.news.yahoo.com

