Mas Catur yang baik dan milister ysh,
Karena ada beberapa istilah dari paragraf saya yang mas Catur tidak mudeng,
maka saya ingin coba jelaskan…….
Dari penggal dialog berikut :
+++: 3. Tidak membuminya penataan ruang sebagai wacana publik
Penataan ruang itu hanya milik lulusan sekolah perencanaan? ? Mungkin
harusnya tidak. Kenyataannya? ? Terminology- terminologi yang melangit dengan
dokumen rencana yang kompleks ternyata mengakibatkan ketidakpahaman terhadap
penataan ruang. Yang kemudian terjadi tidak pernah ada diskusi di ranah public
mengenai penataan ruang yang tuntas. Implikasinya proses check and balance
terhadap penataan ruang sebuah wilayah hanya wacana sesaat dan "anget2 tai
ayam", yang tidak pernah tuntas.
>>>: “….Sebenarnya ini secara tak langsung kurang lebih sedang dibicarakan
>>>tentang azas 'demokratisme' dalam perencanaan ruang….. tapi pada saat yang
>>>sama tak jelas juga… apakah yang bersangkutan sebenarnya juga berminat
>>>dengan 'demokratisme dalam PR' beneran atau tidak……”.
+++ : “…Saya kurang mudeng dengan pernyataan bapak yang ini…
Sebenernya yang saya ingin bicarakan dalam pernyataan saya yang dikomentari
oleh bapak adalah selalu ada isitilah insider dan putsider. perencana dan
masyarakat.
Perencana datang dengan data2 yang extraordinary (entah itu datanya dari mana)
istilah dan perumpamaan yang canggih. tapi tidakpernah mengkomunikasikan dengan
masyarakat apa ang sebenernya mereka kerjakan dengan baik. akhirnya?? kemacetan
informasi………”
Insiders dan outsiders
Tanpa peduli akan dicap sebagai menjadi “sangat orde baru” atau bukan….Dalam
kehidupan manusia….. atau dalam sosiologi … dikenal fakta-fakta naluri
‘penggolongan2 atau pengelompokan manusia’…… untuk membantu memudahkan
memilah2kan status hubungan sosial seperti bahwa dalam ‘keluarga’ misalnya
dikenal istilah2 seperti anak/ saudara kandung… anak/saudara tiri…. Sepupu…
ipar… mertua.. besan…… mantan suami.. istri muda.. istri tua….dsb….
Dalam ‘planologi’ serta dalam praktek pemerintahan atau pekerjaan profesional
berkait planologi….. kita melihat fakta yang jelas tentang ‘kelompok2’ yang
jelas ‘saling terpisah’ atau ‘berbeda’ seperti dalam sekolah planologi…ada staf
pengajar, mahasiswa dan alumnus planologi…. Lalu dipemerintahan ada Ditjen PR
didepartemen ‘inti’… Biro/ Direktorat PR dilembaga atau departemen lain…. Dalam
bisnis ada pekerjaan konsultansi planologi… dalam asosiasi profesi ada IAP yang
bersertifikat … jadi tak sulit untuk mengatakan bahwa dalam planologi…kelompok
ini adalah para ‘insiders’ yang akan merasa paling berkompeten untuk bicara
serta mengeksekusi masalah planologik…… …
Dalam implementasi planologi pada pembangunan…. Maka muncul pula kemudian
‘peminat studi planologi’…. ada pula LSM tata ruang….. serta ada pula lembaga
DPR yang akan menugaskan salah satu komisinya untuk mengawasi kebijakan
penataan ruang oleh eksekutif… yang kemudian hampir pasti dapat dikatakan
bahwa kelompok yang terakhir ini dapat menjadi ‘kritikus planologi’…….
Atau seperti saya yang merasa hanya sekedar sedikit belajar planologi dari luar
pagar istana pendidikan planologi…. dan tentu saja saya tidak pernah merasa
diri saya adalah juga ‘planner’….. sehingga paling banter secara canda dan
terbuka sering saya katakan bahwa saya adalah ‘planner palsu’…. Dan saya
misalnya cukup tahu diri untuk selalu menempatkan diri saya sebagai sekedar
‘orang luar planologi’ saja… walau terharu bahwa pak Risman Maris selalu
berkeberatan tentang itu….
Milisters yang masih rajin hadir dan aktif seperti mas Djarot, pak Nuzul, pak
Rofiq atau pak Abimanyu barangkali juga akan ‘menempatkan diri’ sebagai
‘outsiders’ juga misalnya dan tak akan mengaku-aku sebagai ‘planner’… yang
walau jiwa atau batin para beliau itu juga selalu dekat pada dunia
perencanaan…. Karena setidaknya para beliau tidak memiliki sertifikat atau
keanggotaan IAP … tanda bahwa para beliau dapat mengklaim diri atau diakui
sebagai ‘planners beneran’……..
Demokratisme dana Penataan Ruang
Bahwa planologi bukan sekedar masalah ‘hitam dan putih’ …atau sekedar masalah
‘suka --- tak suka’ …. Atau ‘setuju dan tak setuju’…. Maka tak sebagaimana
dalam dunia politik dimana rakyat buta huruppun sekedar berbekal
subyektivitas serta mekanisme sederhana seperti voting atau money politics
sekalipun akan sah untuk memilih salah satu dari para pemimpinnya apakah si A,
B, atau C ….. maka apa yang saya maksudkan dengan ‘demokratisme dalam
perencanaan’ samasekali bukanlah bahwa ‘seluruh rakyat dengan tanpa mengerti
duduk perkara planologi sekalipun lalu tiap orang berhak lantang bicara tentang
penataan ruang’……..
Sebagaimana teknik kedokteran, teknik geologi, prinsip akuntansi atau ilmu
hukum hanya akan lebih pantas untuk didiskusikan pada kalangan
terbatas….Planologipun hanya lebih pantas didiskusikan diantara mereka yang
memang ‘mengerti’ planologi saja…..
Jadi ‘demokrasi dalam penataan ruang/planologi’ adalah sesungguhnya hanyalah
‘demokrasi diantara masyarakat intelektual planologi’ (saja)…… dimana dengan
itu rakyat telah mendelegasikan keterwakilannya…….
Maka kemudian praktek ‘demokrasi dalam penataan ruang’ adalah….. kebalikan dari
situasi ‘saling berebut porsi’ sambil ‘tak peduli pada rakyat dan negara’ yang
memalukan … namun ialah agar kemudian ‘seluruh masyarakat planologi’ saling
‘berbagi peran’ dan atau secara periodik agar saling ‘bertukar peran’ dan
bekerja lebih transparan….…. seperti bahwa sebagian lalu duduk dibawah payung
eksekutif (DJPR, Depdagri, Bappenas dll)…. Sebagian lagi ‘mewakili rakyat’
dengan duduk dibawah (membentuk dulu) lembaga independen dibawah DPR…… dan
agar selalu terdapat forum dialog yang konstitusional.... terhormat…. Setara…
dan sepanjang waktu… kapan saja antara (perwakilan) eksekutif dan
legislatif……..
Masalah rejeki?..... jangan khawatir…Tuhan akan pasti mengaturnya……. Dengan
seadil2nya….. karena Tuhan Maha Kaya dan Maha Cerdas…….
Dengan demikian masyarakat planologi sendiripun lalu bukan memberikan ‘tontonan
intelektual’ yang memalukan seperti dengan sebagian meratapi nasibnya yang
malang dan menghujat yang ‘mapan’….… atau yang ‘mapan’ tak tahu diri serta tak
takut Tuhan……..
Dengan demikian masyarakat planologi sendiripun lalu memberikan ‘tontonan
intelektual’ yang terpuji kepada masyarakat (yang akan kembali berbentuk
reward dari masyarakat berupa apresiasi)… bahwa mereka telah tunjukkan telah
bekerja keras dalam rangka saling bersama2 berjuang untuk perbaikan nasib
rakyat serta masa depan bangsa dan negara maupun bagi perkembangan sains
teknologi keruangan itu sendiri …..
Dengan demikian planolog yang duduk di eksekutip tidak lalu merasa selalu
sebagai ‘raja arogan yang selalu ingin disembah’…. Sementara itu yang tidak
duduk dieksekutip pun tidak perlu merasa menjadi rakyat yang harus hanya
tiarap dan tak boleh menyanggah…..
Salam,
aby