Pak Aby dan Pak Onnos,

Yang saya maksud dengan "ongkos" bukan hanya yang akan ditanggung
pemerintah, (atau masyarakat atau swasta), tapi juga pengorbanan dari
"tujuan perencanaan" itu sendiri. Ada trade-off.

Kalau mengundang swasta, ya mesti mengakomodir motif swasta. Mungkin
tidak selalu selaras dengan niat padat karya misalnya, karena invest
mereka di prasarana dst. juga mesti kembali.

Kalau mengundang proses demokratis/pertisipatif, mungkin tujuan
efisiensi, pertumbuhan cepat, penetapan lokasi, penetapan mitra swasta
dan lainnya - bisa tidak seperti yang diharapkan sebelumnya.

Yang penting, yang seperti itu disadari saat pengambilan keputusan, dan
diantisipasi solusinya. Jangan lagi pakai istilah sejenis  "ke kanan,
sedemikian rupa hingga ke kiri juga". Ini pernyataan politikus, bukan
perencana.

Salam lagi,
Risfan Munir


--- In [email protected], hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Risfan ysh,
>
> +++: Terima kasih atas tanggapannya, juga atas kepercayaannya pada
misi planolog. Soal norma, patriotisme, tentu benar semua.
> >>>: Terimakasih
>
> +++: Tapi justru itu alasan saya untuk mengajak melihat realita
kontemporer.
> Kata bijak, "jer basuki mowo bea" (semua tujuan ada ongkosnya).
> Masalahnya, kalau planolog bermain di aspek "rencana" saja idenya dan
konsepnya selalu bagus, ideal. Tapi bergeserlah sedikit kepada aspek
"implementasi". Ada ongkos besar yang mesti dibayar secara ekonomi,
sosial ataupun politik. Yang harus dipertimbangkan.
> >>>: Tentu saja saya sangat setuju bin akur bahwa setelah 50 tahun
planologi planolog seyogyanya lebih banyak bermain diaspek
`implementasi' dan tidak ngupleg terus diaspek
`rencana'……  Dan kalau sudah bermain diaspek
`implementasi'…. Maka upleg2an diaspek "Rencana Penataan
Ruang Wilayah Nasional" juga seharusnya dapat lebih digeser diranah 
"Rencana Pembangunan Wilayah Nasional"….. sebagai ciri khas
pekerjaan (implementasi) spatial planning yang membedakannya  dari
"Rencana Pembangunan Nasional" yang tidak mengamanahkan aspek
`spatial development and planning' didalamnya…. Yang itu
akan   lebih menjadi ranah pekerjaan non spatial seperti pembangunan
ekonomi.. pembangunan sosial… hukum.. politik.. keamanan…
iptek…dsb.…
> Tapi meskipun demikian saya juga sangat  tidak percaya (kasarnya
mengecam) pandangan bahwa pada aspek `implementasi penataan
ruang'  lalu akan selalu ada `ongkos besar' eksospol yang
harus dibayar…….
>
> Kalau asumsinya masih akan selalu terdapat  `ongkos besar'
eksospol yang harus dibayar (oleh pemerintah)…… maka itu menandakan
bahwa planners atau siapapun yang berpikir demikian  masih terus
dibayangi oleh  mitos pola pikir bahwa "implementasi penataan ruang
" haruslah  "it must be such a heavy physical infrastructure
development first"……
> Padahal kita melihat bahwa masalah implementasi pembangunan keruangan
tidak harus selalu "physical infrastructure first"……dalam
artian… bahwa kalau disatu wilayah infrastructure itu sudah ada dan
cukup memadai (spt di Mks, malah akan ada Disneyland segala) …..
sementara apa yang kurang pada wilayah itu adalah sesungguhnya lebih
berupa "lack of manufacturing industries"….. serta "lack of
middle income class society"…. sementara  pada sisi lain kita
melihat pada satu wilayah lain terdapat "overcrowd  or
overconcencentration of manufacturing industries"…… maupun  juga
"overconcentration of middle class sociaety"…...dan 
"overconcentration of migration flow".... sementara kita mengerti bahwa
manufacturing industries  maupun middle class society serta migrasi
adalah ujung tombak pembangunan wilayah dan ujungtombak bagi
menggerakkan kegiatan ekonomi wilayah/ lokal…… maka kita seharusnya
menyadari  bahwa kalau
> demikian…. Maka implementasi PR pada konteks ini adalah mengapa 
kita tidak samasekali meninggalkan saja dulu  atau meninggalkan saja
(menyerahkan saja) segala urusan rutin tradisional ritus PR lokal
seperti zoning dsb. lebih kepada the lower spatial authority…. Dan
Tarunas seharusnya lebih berfokus pada the most strategic spatial
planning implementation …. Dimana ia tidaklah harus pertama-tama
menyangkut masalah infrastruktur fisik (apalagi jelas pendanaannya tak
punya)… dan kenapa tidak lebih mengedepankan mengutamakan menata
distribusi –distribusi seperti tempat konsentrasi berlebih dari
aktivitas manusia…..  seperti tentang industri memimpin yang terlalu
overconcentrated di Jabodetabek…agar bukannya direlokasi totally..
namun agar  dibuat pecahan kecilnya saja (filialisasi) dan
"menyemainya"  dicalon lokasi kota tandingan Jabodetabek
(national countermagnet to  primate city)….. karena walau sekedar
dengan "filialisasi"
> (semai jarak jauh) industri saja….. dampaknyapun sudah akan nampak
signifikan…….
> Dampak yang muncul  tidak  akan sekedar berupa redistribusi
konsentrasi industri … namun juga akan berupa dampak-dampak 
redistribusi konsentrasi permukiman perkotaan…. redistribusi arah
migrasi.... Redistribusi konsentrasi employment…. Redistribusi
konsentrasi perputaran uang … redistribusi favoritisme investasi
perkotaan dsb….dsb….
> Siapa bilang filialisasi 1/8 dari kapasitas industri sepedamotor  yang
6 juta unit per tahun kecalon  kota tandingan Jabodetabek sebagai
langkah semai industri manufaktur diluar Jawa atau KTI ... yang pada
dasarnya adalah sebagai "langkah awal agung" implementasi perencanaan
ruang nasional paling strategis..... merupakan biaya sosial-ekonomi dan
politik yang besar dan ekstra mahal?.........
>
> Sementara segini dulu nanti disambung lagi dan salam,
> aby
>
>
> --- On Thu, 10/16/08, Risfan M [EMAIL PROTECTED] wrote:
>

Kirim email ke