Pak Risfan ysh,
 
+++: Terima kasih atas tanggapannya, juga atas kepercayaannya pada misi 
planolog. Soal norma, patriotisme, tentu benar semua.
>>>: Terimakasih

+++: Tapi justru itu alasan saya untuk mengajak melihat realita kontemporer.
Kata bijak, "jer basuki mowo bea" (semua tujuan ada ongkosnya).
Masalahnya, kalau planolog bermain di aspek "rencana" saja idenya dan konsepnya 
selalu bagus, ideal. Tapi bergeserlah sedikit kepada aspek "implementasi". Ada 
ongkos besar yang mesti dibayar secara ekonomi, sosial ataupun politik. Yang 
harus dipertimbangkan.
>>>: Tentu saja saya sangat setuju bin akur bahwa setelah 50 tahun planologi 
>>>planolog seyogyanya lebih banyak bermain diaspek ‘implementasi’ dan tidak 
>>>ngupleg terus diaspek ‘rencana’……  Dan kalau sudah bermain diaspek 
>>>‘implementasi’…. Maka upleg2an diaspek “Rencana Penataan Ruang Wilayah 
>>>Nasional” juga seharusnya dapat lebih digeser diranah  “Rencana Pembangunan 
>>>Wilayah Nasional”….. sebagai ciri khas pekerjaan (implementasi) spatial 
>>>planning yang membedakannya  dari “Rencana Pembangunan Nasional” yang tidak 
>>>mengamanahkan aspek ‘spatial development and planning’ didalamnya…. Yang itu 
>>>akan   lebih menjadi ranah pekerjaan non spatial seperti pembangunan 
>>>ekonomi.. pembangunan sosial… hukum.. politik.. keamanan… iptek…dsb.…  
Tapi meskipun demikian saya juga sangat  tidak percaya (kasarnya mengecam) 
pandangan bahwa pada aspek ‘implementasi penataan ruang’  lalu akan selalu ada 
‘ongkos besar’ eksospol yang harus dibayar……. 
 
Kalau asumsinya masih akan selalu terdapat  ‘ongkos besar’ eksospol yang harus 
dibayar (oleh pemerintah)…… maka itu menandakan bahwa planners atau siapapun 
yang berpikir demikian  masih terus dibayangi oleh  mitos pola pikir bahwa 
“implementasi penataan ruang ” haruslah  “it must be such a heavy physical 
infrastructure development first”…… 
Padahal kita melihat bahwa masalah implementasi pembangunan keruangan tidak 
harus selalu “physical infrastructure first”……dalam artian… bahwa kalau disatu 
wilayah infrastructure itu sudah ada dan cukup memadai (spt di Mks, malah akan 
ada Disneyland segala) ….. sementara apa yang kurang pada wilayah itu adalah 
sesungguhnya lebih berupa “lack of manufacturing industries”….. serta “lack of 
middle income class society”…. sementara  pada sisi lain kita melihat pada satu 
wilayah lain terdapat “overcrowd  or overconcencentration of manufacturing 
industries”…… maupun  juga “overconcentration of middle class sociaety”…...dan  
"overconcentration of migration flow".... sementara kita mengerti bahwa 
manufacturing industries  maupun middle class society serta migrasi adalah 
ujung tombak pembangunan wilayah dan ujungtombak bagi menggerakkan kegiatan 
ekonomi wilayah/ lokal…… maka kita seharusnya menyadari  bahwa kalau
 demikian…. Maka implementasi PR pada konteks ini adalah mengapa  kita tidak 
samasekali meninggalkan saja dulu  atau meninggalkan saja (menyerahkan saja) 
segala urusan rutin tradisional ritus PR lokal seperti zoning dsb. lebih kepada 
the lower spatial authority…. Dan Tarunas seharusnya lebih berfokus pada the 
most strategic spatial planning implementation …. Dimana ia tidaklah harus 
pertama-tama menyangkut masalah infrastruktur fisik (apalagi jelas pendanaannya 
tak punya)… dan kenapa tidak lebih mengedepankan mengutamakan menata distribusi 
–distribusi seperti tempat konsentrasi berlebih dari aktivitas manusia…..  
seperti tentang industri memimpin yang terlalu overconcentrated di 
Jabodetabek…agar bukannya direlokasi totally.. namun agar  dibuat pecahan 
kecilnya saja (filialisasi) dan “menyemainya”  dicalon lokasi kota tandingan 
Jabodetabek (national countermagnet to  primate city)….. karena walau sekedar 
dengan “filialisasi”
 (semai jarak jauh) industri saja….. dampaknyapun sudah akan nampak 
signifikan…….
Dampak yang muncul  tidak  akan sekedar berupa redistribusi konsentrasi 
industri … namun juga akan berupa dampak-dampak  redistribusi konsentrasi 
permukiman perkotaan…. redistribusi arah migrasi.... Redistribusi konsentrasi 
employment…. Redistribusi konsentrasi perputaran uang … redistribusi 
favoritisme investasi perkotaan dsb….dsb….
Siapa bilang filialisasi 1/8 dari kapasitas industri sepedamotor  yang 6 juta 
unit per tahun kecalon  kota tandingan Jabodetabek sebagai langkah semai 
industri manufaktur diluar Jawa atau KTI ... yang pada dasarnya adalah sebagai 
"langkah awal agung" implementasi perencanaan ruang nasional paling 
strategis..... merupakan biaya sosial-ekonomi dan politik yang besar dan ekstra 
mahal?.........    
 
Sementara segini dulu nanti disambung lagi dan salam,
aby
 
 
--- On Thu, 10/16/08, Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
To: [email protected]
Date: Thursday, October 16, 2008, 8:04 AM






Pak Aby, Pak Onno ysh,

Terima kasih atas tanggapannya, juga atas kepercayaannya pada misi planolog. 
Soal norma, patriotisme, tentu benar semua.

Tapi justru itu alasan saya untuk mengajak melihat realita kontemporer.
Kata bijak, "jer basuki mowo bea" (semua tujuan ada ongkosnya).
Masalahnya, kalau planolog bermain di aspek "rencana" saja idenya dan konsepnya 
selalu bagus, ideal. Tapi bergeserlah sedikit kepada aspek "implementasi". Ada 
ongkos besar yang mesti dibayar secara ekonomi, sosial ataupun politik. Yang 
harus dipertimbangkan.

Merencana penyebaran pembangunan ke seluruh tanah air, sudah ada rencananya 
Pak. Sudah disempurnakan berkali-kali. Tapi melaksanakan itu kan ada ongkosnya. 
Butuh budget raksasa, dan karena tak cukup, perlu prioritas. Prioritas yang 
manapun selalu ada konsekuensi ketidak-puasan dari yang tak diuntungkan. Ada 
ongkos politik yang harus dibayar, sehingga pemerintah cenderung biayai sedikit 
sana dan sini, akhirnya tidak jadi semua.

Sebagai planner saya mungkin juga akan bilang itu bisa diatasi - "demikian rupa 
sehingga" sana puas, sini senang. Tapi apa iya.

Itu maksud saya, mengajak berfikir dalam kenyataan empiris, untuk merangsang 
berfikir: "bahwa dalam pilihan ideal manapun selalu ada ongkosnya". Dan 
bagaimana proses pemilihan itu dibahas, dengan +/- masing-masing.

Termasuk kalau mengundang swasta, untuk yang cost recovery, apa konsekuensinya. 
Kalau mengundang LSM, CBO apa pula risikonya. Sudahkah dipertimbangkan dalam 
rencana pelaksanaan dan pengendalian.
Coba kalau ikuti cermati diskusi dalam milist ini saja, antar Departemen saja 
banyak konflik. Bukan yang satu benar, yang lain salah. Soalnya bukan 
hitam/putih, tapi masing-masing punya argumen yang mereka yakini kebenarannya. 
Repotnya masing-masing punya kewenangan, sumber daya, dan masing-masing tidak 
cukup. Jawaban normatifnya, ya lakukan koordinasi. 
Ya, itu masalahnya, siapa yang mampu menggoordinasi.

Karena itu, yang perlu banyak dilakukan menurut saya adalah justru latihan 
membahas "implementasi rencana" berdasar kenyataan empiris/ kontemporer.

Kebiasaan berfikir "ideal di atas ideal, didukung asumsi-asumsi ideal pula". 
Cateris paribus. Itulah "jebakan" bagi perencana. Yang membuat rencana kian 
jauh dari kenyataan kemampuan melaksanakannya. Kian besar idealisasinya, kian 
banyak potensi kecewanya. 

Itu yang saya maksud, Pak. Soal fakta-fakta sekitar pengembangan realestat, 
misalnya persentase lahan untuk fasos, fasum kan sudah ada aturannya, juga 
perimbangan ukuran kavling besar:sedang: kecil, dst. Nyatanya bagaimana, itu 
juga soal yang perlu didiskusikan.

Juga soal apakah itu PR atau Industri, saya kira bukan soal. Yang satu misinya 
Dep PU, yang lain Dep Perindustrian. Sama-sama mendukung misi bangsa. Planolog 
belajar perencanaan spasial juga kompleks industri (ingat Isard).

Mengenai PKL harus tidak menempati lahan terlarang, harus ditingkatkan 
ekonominya. Yah Pak, jangan ketularan normatif gitu dong. Siapa yang tidak 
tahu! 
Tapi ya jangan terus menuntut itu diurus planolog, ini harus ditangani planner. 
Ini idealisasi lagi. Apalagi pakai contoh pengacara kondang yang dari satu 
perkara saja bisa hidup lebih dari setahun. Ini idealisasi lagi. Saya juga 
ingin disebut oleh Pak Aby sebagai "patriot", tapi lebih kuatir kalau hati 
kecil saya berkata: "please deh....."

Tapi omong-omong, posting ini saya tulis di warung di Pantai Losari, di kota 
idaman Pak Aby, Makassar. Sambil memandang water-front city Tanjung Bunga yang 
sudah banyak dibangun gudang-gudang komersial, dan tampak dari kejauhan logo 
"si konglomerat" pembangun kota pulau itu.

Salam,
Risfan Munir


 













__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke