Pak Aby dan pak risfan serta para milisters, Menarik apa yang dikemukakan oleh pak aby dan pak risfan, karena saya melihat diskusi ini akan terus-menerus berputar sekitar perencanaan dan pelaksanaan yang tidak sinkron. Nah saat ini saya sedang memantau kegiatan yang dilakukan oleh para pemegang wewenang pengaturan tata ruang di negara ini yakni ditjen PR. Mereka mempunyai proyek perencanaan tata ruang yang dianggap sesuai dengan TUPOKSI mereka sebagai TurBinWas (pengatur, pembina dan pengawas). Proyek tersebut berupa sinkronisasi RTRWP/RTRWK. Saya tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dan apa hasilnya nanti, tetapi kelihatannya ingin melakukan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan tata ruang daerah. Apakah kegiatan tersebut nantinya akan menjawab pertanyaan pak Aby tentang koordinasi dan tumpang tindih? mudah2an demikian. Apakah teman-teman dari ditjen PR dapat menjawabnya? Salam Aunur Rofiq
----- Original Message ---- From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, October 17, 2008 8:18:44 PM Subject: [referensi] Re: Kordinasi Re: Jababeka PR atau Industri? Lanjutan diskusi dengan Pak Risfan ysh, dalam rangka memeriahkan 50 tahun planologi (salut … pak Risfan harus menghadapi kritik sendirian…. Seolah pak Risfan adalah satu2nya jubir masyarakat planologi…… karena yang lainnya entah sedang kemana atau mungkin merasa rendah untuk turun gelanggang dimilis kerakyatan ini)….. +++: Merencana penyebaran pembangunan ke seluruh tanah air, sudah ada rencananya Pak. Sudah disempurnakan berkali-kali. Tapi melaksanakan itu kan ada ongkosnya. Butuh budget raksasa, dan karena tak cukup, perlu prioritas. Prioritas yang manapun selalu ada konsekuensi ketidak-puasan dari yang tak diuntungkan. Ada ongkos politik yang harus dibayar, sehingga pemerintah cenderung biayai sedikit sana dan sini, akhirnya tidak jadi semua. >>>: “Penyebaran pembangunan” setidaknya bisa mempunyai dua corak arti…. >>>Pertama ‘concentrated deconcentration’…... mendekonsentrasi tapi tetap dalam >>>bentuk sub-konsentrasi….. dan kedua ‘deconcentrated deconsentration’… alias >>>benar-benar ‘menyebar’ dalam arti harafiahnya…. barangkali ibarat ‘menyebar’ >>>biji jagung ketanah seperti kala kita memberi makan segerombolan ayam >>>kampung piaraan kesayangan…… Mereka yang tidak mengenal teknik planologi atau teori pembangunan wilayah…. barangkali tidak pernah memikirkan model2 concentrated deconcentration itu….. tetapi kalau planolog sampai kejadian ada yang tidak memikirkan itu….. wah ini luar biasa…….. Tentang “pelaksanaan” dan tanpa syarat “budget raksasa”…. Setidaknya saya sudah berkali-kali sebutkan modelnya….. ialah filialisasi industri manufaktur memimpin…. saya menantang masyarakat planologi (khususnya yang tidak merasa rendah untuk berkomunikasi dengan rakyat seperti saya) untuk menyanggah hipotesa saya itu kalau itu dianggap tidak masuk diakal dan tidak workable……. +++: Sebagai planner saya mungkin juga akan bilang itu bisa diatasi - "demikian rupa sehingga" sana puas, sini senang. Tapi apa iya. Itu maksud saya, mengajak berfikir dalam kenyataan empiris, untuk merangsang berfikir: "bahwa dalam pilihan ideal manapun selalu ada ongkosnya". Dan bagaimana proses pemilihan itu dibahas, dengan +/- masing-masing. Termasuk kalau mengundang swasta, untuk yang cost recovery, apa konsekuensinya. Kalau mengundang LSM, CBO apa pula risikonya. Sudahkah dipertimbangkan dalam rencana pelaksanaan dan pengendalian. >>>: Tidak comment….. +++: Coba kalau ikuti cermati diskusi dalam milist ini saja, antar Departemen saja banyak konflik. Bukan yang satu benar, yang lain salah. Soalnya bukan hitam/putih, tapi masing-masing punya argumen yang mereka yakini kebenarannya. Repotnya masing-masing punya kewenangan, sumber daya, dan masing-masing tidak cukup. Jawaban normatifnya, ya lakukan koordinasi. Ya, itu masalahnya, siapa yang mampu menggoordinasi. >>>:Yah… jangankan “antar departemen”…. Dalam satu departemen saja juga >>>‘pembagian kewenangan’ walaupun disatu sisi dapat menjamin ‘soliditas >>>organisasi’…. Disisi lain juga bukannya tidak menimbulkan masalah….. ialah >>>justru lalu sering muncul “dinding penyekat” antar sub bagian….. seperti >>>sebagai contoh…. Pembagian Wilayah PR menjadi I sampai IV.. lalu di KBI >>>terdapat 2 Wilayah I dan II dan di KTI terdapat Wilayah III dan IV….. >>>masing2 justru tanpa disadari bukan tidak sering malah menjadi semacam >>>‘kerajaan-kerajaan kecil keruangan’…… yang satu sama lain malah lalu saling >>>menjaga jangan sampai saling tumpang tindih (emangnya tumpang tindih selalu >>>berkonotasi buruk?)…. Atau jangan sampai saling bersinggungan…. Padahal >>>bahwa hubungan antar kota-kota dan antar wilayah adalah “integral dan hirarkhial” (contohnya wilayah III PR/ membawahi Makassar adalah periferinya Indonesia… dan …..wilayah IV PR/ membawahi Ternate, Papua. Kupang dsb. adalah periferinya KTI) …. Dimana dalam pembangunan wilayah diperlukan integrasi… tetapi secara organisatoris pada departemen teknik keruangan … wilayah III dan IV adalah setara…. Sama-sama dibawahi seorang Direktur PR……sama-sama ingin mengejar target pengembangan wilayahnya….. bila perlu sadar atau tanpa sadar saling bersaing…. dan masing2 sama memiliki program kerjanya yang pasti saling berbeda dan tak bersinggungan… Nah yang repot bagi rakyat adalah… yang belum pasti adalah saling integrasinya maupun hirarkhinya…… +++: Karena itu, yang perlu banyak dilakukan menurut saya adalah justru latihan membahas "implementasi rencana" berdasar kenyataan empiris/ kontemporer. >>>: Barangkali juga perlu acara siraman rohani khas keruangan?...hehe... Sementara demikian dulu, lanjutannya menyusul … Salam, aby __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

