Milisters ysh,
Reny ansih [EMAIL PROTECTED] com wrote :
 
“... sudah ga tau mau memulai dari mana untuk membereskan kampung,
 jangan kota dulu deh.......”.
"hotasi simamora" [EMAIL PROTECTED] wrote :
 
“…..Mari kita bagi desa dan kota, pasti akan ada yang mengatakan desa yang 
paling tepat, tapi akan banyak yang mengatakan kota paling tepat. ….”.
 
Pemikiran  ‘mulai dari desa dulu’ sepertinya terinspirasi oleh kebenaran2 yang 
ditawarkan oleh logika ‘mulai dari yang kecil dulu’… atau ‘mulai dari diri 
sendiri dulu’….. yang ‘kalau berhasil’ nanti skala urusannya bisa diperluas……
Tapi logika yang sehat  tidak harus selalu tunggal atau satu2nya…….
Memberantas korupsi bisakah “dimulai dari diri sendiri” atau “dimulai  dari 
kampung sendiri dulu”?...... 
Meng’alim’kan TNI bisakah dimulai dari menertibkan prajurit2 nakal dulu…. Lalu 
meningkat  ke penertiban para sersan…. Para Letnan… para kolonel… dst.?....
 
Mulai dari “membereskan kampung (sendiri)” sih boleh saja…… tetapi teman2 tentu 
ingin tahu juga…. Caranya bgmn…. Atau agenda yang mau dibuat itu apa saja….. 
Kalau “jangan mulai dari kota”…..itu sih boleh juga….. tapi alasannya 
apa?........
Untuk dibayangkan saja……apakah kalau kita mulai dari kampung (Desa) dulu…. 
Bisakah diukur kapan akan diperoleh hasil signifikan…… hingga setelah itu 
masyarakat planolog bisa “beralih” atau meningkat jenjang ganti menangani 
“kota”….. 
Atau…. Kalau “menangani kampung” pun juga tak jelas… kapan atau berapa lama 
urusannya akan beres….. apakah itu artinya planolog Indonesia akan untuk 
setidaknya beberapa dekade  perlu hanya bermain mengurus kampung (jadi khawatir 
nanti ada yang meledek planolog Indonesia kampungan) ?......
 
Sekedar sebuah perbandingan … bukan dari desa… bukan dari kota……. … 
 
Dikawasan  perairan  (bukan daratan) Ambalat ditimur Kalimantan yang 
dipersengketakan Indonesia-Malaysia yang tentunya rada gawat…….. perusahaan 
tambang ENI (Ente Nazionale Idrocarburi) dari Italia justru berencana membangun 
terminal LNG terapung (floating LNG terminal) disana….
Walaupun itu bukanlah teknologi  ‘barang baru’…. Tapi filosofi dari teknologi 
mesin dan industri selalu a.l. melihat “peralatan baru apa”  yang dapat terus 
dibuat bagi keuntungan ekonomi (kesejahteraan manusia)…… dimedan (ruang) yang 
sesulit apapun (termasuk proyek stasiun ruang angkasa)….
 
Maka giliran tugas mulia dari planolog lah (keroyokan bersama lainnya, rekan 
Hot Asi)… kalau soal perenungan desa dan kotanya sudah selesai…….  untuk 
merangkaikan kombinasi atau integrasi “ruang” dan a.l. “inovasi teknologi 
industri” bagi (umumnya) kesejahteraan manusia…. Maupun (khususnya) pada 
konteks Ambalat …. bagi inovasi teknik habitasi dan okupasi ruang dimedan yang 
sulit (perairan) serta terpencil disana……. 
 
Dalam hal Ambalat….. kita belajar dari pengalaman  hilangnya Sipadan dan 
Ligitan…. Ialah bahwa walau dalam proses sengketa…. Okupasi dan eksplorasi 
ternyata akan mampu memenangkan sengketa diperadilan internasional…..
 
Kalau semula setelah didirikannya anjungan asal –awal -darurat  sekedar tanda 
bahwa kawasan itu kita duduki dan eksplorasi…. Lalu tak ada kegiatan 
(activities) lain… lalu   malah  nelayan banyak disuruh mondar-mandir disana 
(maklum bukan pikiran planologi).... kawasan perairan (tanpa fasilitas daratan) 
 yang jauhnya setidaknya 200km dari pantai Kaltim-ut (lalu solarnya habis 
berapa, belum resiko keselamatannya bagaimana)….. yang walau dijagai TNI-AL 
tapi juga dibayangi patroli maupun  resiko gamparan oleh tentara Malaysia……   
 
Lalu maka saya pernah  berpikir (sepertinya pernah nulis juga dimilis ini)  
tentang aktiviti ditempat terapung (offshore  floating activities)…. Seperti 
bahwa pada titik pertama ditancapkan anjungan di blok Ambalat itu perlu dibuat 
perluasan maupun agenda aktivitinya (floating deck… helipad…. Military 
post…recreation (lapangan voli… dsb) …. Fishing camp…. Mini store… fuel 
station….clean water ....sedikit pohon2an dalam bak besar… boleh juga semuanya 
serba pake arsitektur nusantara… hai rekan Djarot)……
 
Ditambah kini ENI dari Italia bermaksud membangun LNG floating terminal di 
Ambalat sana….. maka misi permanently mengokupasi serta mengeksplorasi ruang 
perairan Ambalat itu dengan tingkat kesulitannya yang tinggi itu  tentu akan 
jauh lebih masuk akal… lebih  produktip dan tepat sasaran…… dibanding hanya 
sekedar anjuran nelayan disuruh2 mondar-mandir disana…….
 
Jadi bersama dengan ENI  kita boleh berharap wilayah  kita tak jadi kecaplok 
lagi oleh tetangga…. Ruang kita yang gung-liwang-liwung (5.8 juta km2 lautan 
dan 1,9 juta km2 ribu pulau) akan memiliki tambahan teknologi okupasi dan 
eksplorasi ruang….. dan sedikit banyak aktiviti itu juga akan merupakan job 
creation…….
 
Sama seperti cabang disiplin ilmiah lainnya……. Ilmu terus berkembang…. semakin 
luas…. Semakin dalam dan semakin tinggi…… dan tak pernah ada batas akhirnya……..
Planologi tak hanya urusan fisik saja… ekologi saja…. Tetapi juga sosial… 
ekonomi… hankam…. Spiritualpun  juga boleh……..
 
Memulai dari yang “kecil dan didepan hidung” dulu seperti skala kampung tentu 
mulia dan realistis….. tetapi kalaupun toh tak bisa juga…. Mungkin ada 
sebabnya…… sebab dari luar .. atau bisa juga sebab pada diri kita sendiri……
Maka melanjutkan mendalami ilmu…. Melanjutkan memanjat ketinggiannya….  Maupun 
melanjutkan mengarungi keluasannya ... serta kelanjutan dialog.... adalah 
bagian dari upaya kita…. Dan itu adalah ibadah yang mulia juga…... 
 
Pada kedalaman… ketinggian serta  keluasannya  itu…. Kita jangan-jangan nanti 
dapat menemukan angle yang cantik dan dapat terlihat sangat jelas… apa yang 
sebenarnya tidak beres pada apa yang terjadi didepan hidung kita tadi itu…… 
 
Dan penyelesaiannya boleh jadi juga tidak harus dimulai dari ketidakberesan 
yang terjadi didepan hidung kita pula…...
 
Salam, 
 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke