SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA?
1. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan hidup
kita rusak, siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar
hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Tetapi
kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan kemudian
dijual lagi untuk ekspor, yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang paling
bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah
kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja, sedangkan orang-orang kaya
adalah “pahlawan pembangunan”.
2. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa ... “membuang kotoran
manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare ...”
atau “penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar
untuk bertahan hidup, dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan
sekitar”, kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Pemenuhan kebutuhan pokok
penduduk miskin bukan masalah “hanya”, tetapi “mutlak” harus dipenuhi untuk
hidup. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah
karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.
3. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya
hutan, disebabkan para pemodal yang haus keuntungan, “memesan” kayu dalam
jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat
besar pula. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus
dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan, bukan karena
orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Maka untuk menjamin terjadinya
pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang
kaya. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja “keserakahan”.
4. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana,
yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu
ketertiban, juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena
pekerjaan itulah satu-satunya “mata pencaharian” yang dapat dilakukan dalam
kondisi kepepet. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung
sendiri, tidak ada subsidi apapun dar pemerintah, dan memang ada pembeli
terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan yang
rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya “pencegahan” munculnya PKL, bukan
dengan “menggusurnya” setelah berkembang. PKL bukan “masalah” tetapi
”pemecahan” masalah kemiskinan.
Kesimpulan kita, pendekatan terhadap masalah “pengurangan kemiskinan dan
pengelolaan lingkungan” atau sebaliknya terhadap “pengelolaan lingkungan yang
berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan” selama ini kiranya salah
dan tidak adil, karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari
sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan lebih adil
jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang
bersifat “serakah” dalam eksploitasi SDA, yaitu sistem ekonomi kapitalis
liberal yang berkembang di Barat, dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai
era globalisasi masa kini. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah
sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan
lima cirinya sebagai berikut:
(1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial,
dan moral;
(2) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial
yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan
kesenjangan sosial;
(3) Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya
urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri;
(4) Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan
usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat;
(5) Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara
perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas,
bebas, dan bertanggung jawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia
Kenapa BBM mesti naik? Apakah tidak ada solusi selain itu? Temukan
jawabannya
di Yahoo Answers!"