Pak Aunur dan Pak Risfan,

 

Menarik sekali,..

 

Point Pak Risfan soal Appreciative Inquiry menarik juga,...  menggelitik. 

 

Mungkin sebuah analisis terhadap network yang terjalin antar stakeholder
(berikut interest dibelakangnya) serta relasi power and functionnya, bisa
jadi awal ..

Selanjutnya dikembangkan jadi analisa terhadap 'mekanisme'-nya..

 

Thanks

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

bdwiagus.blogspot.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
as well as development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [EMAIL PROTECTED] 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of risfano
Sent: 21 October 2008 07:27
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Mulai dari mana?

 

Trims, Pak Aunur,

Kalau kita fokus pada "mekanisme" misalnya, maka diskusi Monev yang 
Anda kembangkan kan bisa di"mainkan" untuk meningkatkan kualitas dan 
mempertajam indikator kinerja dari seluruh proses tersebut.

Salam,
Risfan Munir

--- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> ,
Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Risfan,
> Kalau meminjam ilmu politik yang sedikit pernah saya dapat, 
keberhasilan suatu ide menjadi kebijakan publik tergantung pada 3 
faktor. Pertama adalah faktor "figure" seperti Kepala Daerah atau 
Kepala SKPD yang mampu meyakinkan ide/rencana tersebut dan 
mampu mengawal sampai pelaksanaannya. Jadi kalau jakarta masih 
semrawut salah satunya tergantung pada Fauzi Bowo. Kedua adalah faktor 
"mekanisme" seperti yang diceritakan oleh pak risfan tentang tahap 
perencanaan, tahap penganggaran dan tahap pelaksanaan yang banyak 
dilakukan oleh birokrasi dengan berbagai peraturan yang menyertainya. 
Ketiga adalah faktor "kelompok interest" baik mereka yang mempunyai 
interest politik, ekonomi maupun ideologi yang bisa melakukan lobby 
maupun bersuara lantang untuk mempengaruhi keputusan dan pelaksanaan 
suatu proyek. Ketiga faktor ini pasti ada di setiap kebijakan publik 
termasuk pada "perencanaan wilayah/kota".  Jadi 
kegagalan/keberhasilan sangat tergantung pada
> berapa kuat ketiga faktor tersebut berinteraksi. Kalau "mencari 
kambing" bagi suatu kegagalan harus kita analisis tiga faktor 
tersebut, demikian juga kalau mencari tahu suatu keberhasilan. Karena 
itu bagi Planner yang ingin hasil perencanaannya bisa 
dilaksanakan mulailah dengan mempengaruhi ketiga faktor tersebut, 
jangan hanya satu atau dua.
>  Salam
> Aunur Rofiq 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> 
> Sent: Monday, October 20, 2008 12:28:31 PM
> Subject: [referensi] Mulai dari mana?
> 
> Bapak, Ibu ysh,
> 
> Pertanyaan bagus "mulainya dari mana"? Mungkin ini juga 
mencerminkan  
> kegalauan kita semua. Masalahnya situasi eksternal juga kian ruwet, 
> dunia perencanaan pembangunan daerah/kota yang menjadi bagiannya 
juga 
> ikut ruwet mana sebab dan akibatnya.
> 
> Lalu dari mana mulai? Mungkin sebagai sumbang saran, ada pendekatan 
> berfikir dan menyusun strategic planning, yang mulai banyak 
diterapkan 
> di perusahaan atau community development, yaitu: Appreciative 
Inquiry 
> (AI).
> 
> Selama ini pendekatan yang umum berlaku adalah "analisis persoalan", 
> dengan hasilnya: rumusan persoalan dan sebab-sebabnya. Ini kalau 
> dibuat hirarkhi, sebab-sebab itu bisa luas sekali. Apalagi 
lingkungan 
> publik, banyak aktornya. Akhirnya, paling gampang.....cari anak 
> kambingnya.
> 
> Appreciative inquiry, sebaliknya bertolak dari "identifikasi 
> keberhasilan". Sekecil apa pun kita, unit kita, komunitas kita kan 
> pernah sukses (jelek-jelek .... kita masih utuh, pilkada masih 
> jalan,....). Tentu itu karena pernah ada sukses, ada sesuatu yang 
> diperhitungkan. Apa itu? Lalu apa key success factors (KSF) nya? 
> Bagaimana kalau dari sukses dan KSF yang ada itu ditingkatkan dan 
> dikembangkan lagi?
> 
> Dalam praktek ini membawa pengaruh psikologis yang positif. 
> Membesarkan hati. Pengalaman saya dalam memfasilitasi diskusi 
> strategic planning di daerah, kalau start kita dari analisis 
persoalan 
> memang mudah mengundang defensif dan "cari kambing". Dan, di daerah  
> yang populer disalahkan ya Pusat (pokoknya bukan dirinya). Dengan 
> apresiasi atas keberhasilan, mereka jadi lebih terbuka.
> 
> AI ini bukan sekedar "positif thinking" ya, tetapi kuncinya adalah 
> pada teknik bertanya. Pertanyaan kritis, pesimistik, apalagi 
prejudice 
> kan membawa suasana psikologis begitu pula. Sebaliknya pertanyaan 
> appreciative bisa mengungkap potensi. Kan, tujuan kita untuk 
> perbaikan, bukan cari siapa yang salah. 
> 
> Banyak lho daerah yang melakukan inovasi tertentu, dan jelas 
hasilnya 
> bagi masyarakat. Apakah ada daerah yang sukses meningkatkan 
pelayanan 
> publik? Penataan ruang? Ada. Mana? Solo, Sragen, Wonosobo, Blitar 
dst, 
> dalam bidang masing-masing. Tapi kalau pertanyaannya: kok ruwet, apa 
> sebabnya? Buaaanyuuuaaak ...sebabnya. Siapa yang salah? ...(semua, 
> tinggal terserah lagi sebel dengan siapa toh). Semoga manfaat.
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> 
> 
> 
> --- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> ,
Reny ansih <renyansih@> wrote:
> >
> > Horas pak Hotasi....
> > Anda ini bagaimana sih kok masih bertanya, saya mulai merasa malu 
> sebagai lulusan perencana, dari itb pula lagi........... malu 
rasanya 
> kita cuma berdebat, malu cuma berargumentasi, malu karena mau 
> ngeberesin lingkungan sekitar rumah saja ga ada yang mau 
> mendengar...... sudah ga tau mau memulai dari mana untuk membereskan 
> kampung, jangan kota dulu deh.......
> > Salam - 2ny
> >  
> > --- On Sun, 10/19/08, hotasi simamora <hotasisimamora@> wrote:
> > From: hotasi simamora <hotasisimamora@>
> > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
> > To: [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> 
> > Date: Sunday, October 19, 2008, 10:18 AM
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >    
> >            
> > Saya cukup prihatin juga mengenai kondisi perdebatan yang diawali 
> dengan cepatnya kita memberikan kesimpulan dalam sesuatu hal. Hal 
ini 
> terjadi dalam berbagai hal, dari kasus Lumpur Sidoarjo, sampai 
kondisi 
> dampak ekonomi global yang ada sekarang. Yang paling saya 
prihatinkan 
> adalah bahkan kesimpulan tersebut menjadi sebuah KEBENARAN MUTLAK, 
> coba kita ikuti dari sidang-sidang Kasus Monas, Kasus Korupsi, 
> Pembuatan RUU Anti Pornografi.
> > Beberapa waktu yang lalu, saya nonton  debat di tv Mengenai Anak 
PKI 
> (yang anggota DPR dari PDIP), ada satu orang sedemikian ngototnya 
> mengatakan SIAP BERHADAPAN dengan mereka (ANAK2 PKI tentunya), 
> demikian juga ketika orang berunjuk rasa di depan istana meminta 
Papua 
> Merdeka, langsung ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa mereka 
> pemberontak. 
> > Jangan-jangan, saya sebagai alumni planologi akan dikatakan 
perusak
> >  negara. Coba simak berbagai bencana alam yang ada serta korban 
yang 
> sudah sedemikian banyak, trus dikatakan semuanya adalah tanggung 
jawab 
> ahli penataan ruang wilayah. Kemudian kemacetan lalulintas yang 
sudah 
> sedemikian parahnya, kemana ahli perencana kota? Percuma negara 
> memberi subsidi yang besar terhadap perguruan tinggi yang 
menghasilkan 
> ahli perencana kota.
> > Saya akan lebih setuju, kita menggugat misalnya "Hoi para ahli 
> perencana kota, kemana saja koq Jakarta macet gini? Padahal Fauzi 
Bowo 
> sudah serahkan pada ahlinya?" Kemudian, berbondong-bondongl ah para 
> planolog bangkit, dari mulai menulis secara bertubi-tubi dengan 
> argumentasi ilmiah, pengalaman praktis, sampai dengan ajakan berdemo 
> kepada Fauzi Bowo menuntut Kapan Fauzi Bowo serahkan kepada Ahli 
> Perencana Kota untuk menyelesaikan berbagai Permasalahan Kota 
Jakarta?
> > 
> > Horas,
> > 
> > Hot Asi Simamora
> > --- On Sun, 19/10/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
> >  wrote:
> > From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Sunday, 19 October, 2008, 8:20 AM
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >    
> >            Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan 
arsitek 
> sebagai perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini 
> (mungkin juga masa depan!) Jika demikian, apakah institusi 
pendidikan 
> profesi yang merusak dunia ini dibubarkan saja ?
> > 
> > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu 
> diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk; 
> malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu 
juga 
> ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya 
> berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing. 
> > 
> > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah 
> penyandang dosa utama adalah profesi
> >  arsitek. Heheheee.... nyuwun pencerahan, sebab saya masih 
mendosen 
> di institusi yang mendidik para arsitek....jangan- jangan semua dosa 
> ditumpahkan seluruhnya pada kami...heheheee. ...terus apa
> >  saran dan nasihatnya dari mantan arsitek seperti bapak ? Lha 
> mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak untuk mengubahnya 
dari 
> dalam, bukan melempari batu dari luar heheheee.... bagaimana 
> pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi yang 
> memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak 
> ini....mumpung masih ada di dalamnya.... .
> > 
> > Salam,
> > 
> > 
> > 
> > Djarot Purbadi
> > 
> > 
> > 
> > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> > 
> > http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com
> > 
> > --- On Fri, 10/17/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] 
com> 
> wrote:
> > From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Friday, October 17, 2008, 6:49 AM
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >    
> >            Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,
> > 
> > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah  
> "muddling  through" atau "barefood architect".. .
> > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi 
bagi 
> rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, 
yang 
> sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu 
saya 
> mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, 
dan 
> masih berlanjut hingga saat ini).
> > 
> > 
> > 
> >  
> >     
> >     
> >     
> > ____________ _________ _________ _________ _________ __
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> > http://mail. yahoo.com 
> >      
> > 
> > 
> >     
> >     
> >     
> > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
> .yahoo.com 
> >      
> > 
> >    
> >    
> >     
> >     
> >     
> >     
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >     
> > 
> > 
> >     
> >     
> > 
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> > http://mail.yahoo.com
> >
> 
> 
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com
>

 

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.173 / Virus Database: 270.8.0/1721 - Release Date: 21/10/2008
14:10

Kirim email ke