Mas Agus, Terima kasih atas tanggapannya, Anda yang promote milist ya, saya ketukar dengan Bung Aunur.
"Appreciative Inquiry (AI)" bisa jadi alternatif, disamping "analisis persoalan". Karena dalam situasi benang kusut, grid-lock, mencari "persoalan dan akarnya" bisa jadi saling tuduh atau cari kambing hitam. Dan, lalu ke kambing hitam, salahkan Belanda, Orba, profesi, ilmu dari barat....so what gitu? Nyatanya kita ya disini, dengan ilmu ini, dengan masalah ini, mengalami "grid-lock" di perempatan jalan. Sementara kalau kita mencoba melihat yang ada. "Jelek-jelek gini ada lah yang kita capai....." Ada lah yang layak disyukuri, misalnya: bisa mensyahkan UUPR, PR punya Ditjen sendiri, mulai ada kepedulian kelembagaan atas kepulauan kecil...daerah tertinggal. Jangan lihat "persoalannya" saja (tentu masih banyak pekerjaan rumah). Dari beberapa achievement itu, bisa dikaji, didiskusikan (brain- strormng, FGD, dst) apa-apa "key success factors" (KSF) di balik capaian itu.....bisakah dirumuskan. Bisakah itu ditingkatkan, direplikasi? Bagaimana? apa syarat-syaratnya? dst. Cari "champions" yaitu daerah/lembaga yang secara giat mengembangkan inovasi tertentu, ada capaiannya, beri apresiasi, kaji KSF nya, dst. Soal "mekanisme" atau proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Sebagaimana kita tahu (posting sebelumnya) prosesnya. Yang bisa sepenuhnya dikontrol planner mungkin tahap "teknokratis"nya ya, sedang tahap "partisipasi", "politis", dan "hukum", mau tak mau planner mesti kerja dengan para stakeholders itu (kelompok masyarakat, unsur-unsur pemerintah yang lain, legislatif, media, dst). Supaya ada pemahaman, dukungan dan "pengawalan" agar rencana sesuai yang dimaksud, juga bagaimana meyakinkan banyak pihak-pihak tersebut. Itu situasinya sekarang, boleh saja kita menyukai arsitektur lingkungan gaya "tradisional". Tapi bagaimana meyakinkan masyarakat. Caranya ya promosi ke berbagai pihak, media, developer, dst. Kan tidak bisa memaksa. Orang desa ingin gaya kota, orang kota ingin kembali ke alam, menerpkan gaya dari majalah/TV, dst. Tahun 80an pernah ada trend rumah model "country/tropis" itu karena beberapa developer ternama mempromosikannya. Sekarang simplicity, lalu ...... Sekali lagi ada proses pengambilan keputusan di masyarakat yang layak dipelajari polanya. Kalau pakai Appreciative Inquiry (AI) - Bagaimana suatu trend tercipta atau berhasil dipengaruhi? Prosesnya bagaimana, ada capaiannya? KSF nya apa saja, bisa diulang? Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Aunur dan Pak Risfan, > > > > Menarik sekali,.. > > > > Point Pak Risfan soal Appreciative Inquiry menarik juga,... menggelitik. > > > > Mungkin sebuah analisis terhadap network yang terjalin antar stakeholder > (berikut interest dibelakangnya) serta relasi power and functionnya, bisa > jadi awal .. > > Selanjutnya dikembangkan jadi analisa terhadap 'mekanisme'-nya.. > > > > Thanks > > > > Best Regards, > > > > Benedictus Dwiagus S. > > bdwiagus.blogspot.com > > > > "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to > watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White > > > > :::... Indo-MONEV ...::: > > Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People > anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to > the work on monitoring and evaluation and other related development issues > as well as development aid works, particularly in Indonesia. > > Join in by sending an email to: indo-monev- [EMAIL PROTECTED] > > > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf > Of risfano > Sent: 21 October 2008 07:27 > To: [email protected] > Subject: [referensi] Re: Mulai dari mana? > > > > Trims, Pak Aunur, > > Kalau kita fokus pada "mekanisme" misalnya, maka diskusi Monev yang > Anda kembangkan kan bisa di"mainkan" untuk meningkatkan kualitas dan > mempertajam indikator kinerja dari seluruh proses tersebut. > > Salam, > Risfan Munir > > --- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> , > Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@> > wrote: > > > > Pak Risfan, > > Kalau meminjam ilmu politik yang sedikit pernah saya dapat, > keberhasilan suatu ide menjadi kebijakan publik tergantung pada 3 > faktor. Pertama adalah faktor "figure" seperti Kepala Daerah atau > Kepala SKPD yang mampu meyakinkan ide/rencana tersebut dan > mampu mengawal sampai pelaksanaannya. Jadi kalau jakarta masih > semrawut salah satunya tergantung pada Fauzi Bowo. Kedua adalah faktor > "mekanisme" seperti yang diceritakan oleh pak risfan tentang tahap > perencanaan, tahap penganggaran dan tahap pelaksanaan yang banyak > dilakukan oleh birokrasi dengan berbagai peraturan yang menyertainya. > Ketiga adalah faktor "kelompok interest" baik mereka yang mempunyai > interest politik, ekonomi maupun ideologi yang bisa melakukan lobby > maupun bersuara lantang untuk mempengaruhi keputusan dan pelaksanaan > suatu proyek. Ketiga faktor ini pasti ada di setiap kebijakan publik > termasuk pada "perencanaan wilayah/kota". Jadi > kegagalan/keberhasilan sangat tergantung pada > > berapa kuat ketiga faktor tersebut berinteraksi. Kalau "mencari > kambing" bagi suatu kegagalan harus kita analisis tiga faktor > tersebut, demikian juga kalau mencari tahu suatu keberhasilan. Karena > itu bagi Planner yang ingin hasil perencanaannya bisa > dilaksanakan mulailah dengan mempengaruhi ketiga faktor tersebut, > jangan hanya satu atau dua. > > Salam > > Aunur Rofiq > > > > > > > > ----- Original Message ---- > > From: risfano <risfano@> > > To: [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> > > Sent: Monday, October 20, 2008 12:28:31 PM > > Subject: [referensi] Mulai dari mana? > > > > Bapak, Ibu ysh, > > > > Pertanyaan bagus "mulainya dari mana"? Mungkin ini juga > mencerminkan > > kegalauan kita semua. Masalahnya situasi eksternal juga kian ruwet, > > dunia perencanaan pembangunan daerah/kota yang menjadi bagiannya > juga > > ikut ruwet mana sebab dan akibatnya. > > > > Lalu dari mana mulai? Mungkin sebagai sumbang saran, ada pendekatan > > berfikir dan menyusun strategic planning, yang mulai banyak > diterapkan > > di perusahaan atau community development, yaitu: Appreciative > Inquiry > > (AI). > > > > Selama ini pendekatan yang umum berlaku adalah "analisis persoalan", > > dengan hasilnya: rumusan persoalan dan sebab-sebabnya. Ini kalau > > dibuat hirarkhi, sebab-sebab itu bisa luas sekali. Apalagi > lingkungan > > publik, banyak aktornya. Akhirnya, paling gampang.....cari anak > > kambingnya. > > > > Appreciative inquiry, sebaliknya bertolak dari "identifikasi > > keberhasilan". Sekecil apa pun kita, unit kita, komunitas kita kan > > pernah sukses (jelek-jelek .... kita masih utuh, pilkada masih > > jalan,....). Tentu itu karena pernah ada sukses, ada sesuatu yang > > diperhitungkan. Apa itu? Lalu apa key success factors (KSF) nya? > > Bagaimana kalau dari sukses dan KSF yang ada itu ditingkatkan dan > > dikembangkan lagi? > > > > Dalam praktek ini membawa pengaruh psikologis yang positif. > > Membesarkan hati. Pengalaman saya dalam memfasilitasi diskusi > > strategic planning di daerah, kalau start kita dari analisis > persoalan > > memang mudah mengundang defensif dan "cari kambing". Dan, di daerah > > yang populer disalahkan ya Pusat (pokoknya bukan dirinya). Dengan > > apresiasi atas keberhasilan, mereka jadi lebih terbuka. > > > > AI ini bukan sekedar "positif thinking" ya, tetapi kuncinya adalah > > pada teknik bertanya. Pertanyaan kritis, pesimistik, apalagi > prejudice > > kan membawa suasana psikologis begitu pula. Sebaliknya pertanyaan > > appreciative bisa mengungkap potensi. Kan, tujuan kita untuk > > perbaikan, bukan cari siapa yang salah. > > > > Banyak lho daerah yang melakukan inovasi tertentu, dan jelas > hasilnya > > bagi masyarakat. Apakah ada daerah yang sukses meningkatkan > pelayanan > > publik? Penataan ruang? Ada. Mana? Solo, Sragen, Wonosobo, Blitar > dst, > > dalam bidang masing-masing. Tapi kalau pertanyaannya: kok ruwet, apa > > sebabnya? Buaaanyuuuaaak ...sebabnya. Siapa yang salah? ...(semua, > > tinggal terserah lagi sebel dengan siapa toh). Semoga manfaat. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > > > > > --- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> , > Reny ansih <renyansih@> wrote: > > > > > > Horas pak Hotasi.... > > > Anda ini bagaimana sih kok masih bertanya, saya mulai merasa malu > > sebagai lulusan perencana, dari itb pula lagi........... malu > rasanya > > kita cuma berdebat, malu cuma berargumentasi, malu karena mau > > ngeberesin lingkungan sekitar rumah saja ga ada yang mau > > mendengar...... sudah ga tau mau memulai dari mana untuk membereskan > > kampung, jangan kota dulu deh....... > > > Salam - 2ny > > > > > > --- On Sun, 10/19/08, hotasi simamora <hotasisimamora@> wrote: > > > From: hotasi simamora <hotasisimamora@> > > > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri? > > > To: [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> > > > Date: Sunday, October 19, 2008, 10:18 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Saya cukup prihatin juga mengenai kondisi perdebatan yang diawali > > dengan cepatnya kita memberikan kesimpulan dalam sesuatu hal. Hal > ini > > terjadi dalam berbagai hal, dari kasus Lumpur Sidoarjo, sampai > kondisi > > dampak ekonomi global yang ada sekarang. Yang paling saya > prihatinkan > > adalah bahkan kesimpulan tersebut menjadi sebuah KEBENARAN MUTLAK, > > coba kita ikuti dari sidang-sidang Kasus Monas, Kasus Korupsi, > > Pembuatan RUU Anti Pornografi. > > > Beberapa waktu yang lalu, saya nonton debat di tv Mengenai Anak > PKI > > (yang anggota DPR dari PDIP), ada satu orang sedemikian ngototnya > > mengatakan SIAP BERHADAPAN dengan mereka (ANAK2 PKI tentunya), > > demikian juga ketika orang berunjuk rasa di depan istana meminta > Papua > > Merdeka, langsung ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa mereka > > pemberontak. > > > Jangan-jangan, saya sebagai alumni planologi akan dikatakan > perusak > > > negara. Coba simak berbagai bencana alam yang ada serta korban > yang > > sudah sedemikian banyak, trus dikatakan semuanya adalah tanggung > jawab > > ahli penataan ruang wilayah. Kemudian kemacetan lalulintas yang > sudah > > sedemikian parahnya, kemana ahli perencana kota? Percuma negara > > memberi subsidi yang besar terhadap perguruan tinggi yang > menghasilkan > > ahli perencana kota. > > > Saya akan lebih setuju, kita menggugat misalnya "Hoi para ahli > > perencana kota, kemana saja koq Jakarta macet gini? Padahal Fauzi > Bowo > > sudah serahkan pada ahlinya?" Kemudian, berbondong-bondongl ah para > > planolog bangkit, dari mulai menulis secara bertubi-tubi dengan > > argumentasi ilmiah, pengalaman praktis, sampai dengan ajakan berdemo > > kepada Fauzi Bowo menuntut Kapan Fauzi Bowo serahkan kepada Ahli > > Perencana Kota untuk menyelesaikan berbagai Permasalahan Kota > Jakarta? > > > > > > Horas, > > > > > > Hot Asi Simamora > > > --- On Sun, 19/10/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com> > > > wrote: > > > From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com> > > > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri? > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > > Date: Sunday, 19 October, 2008, 8:20 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan > arsitek > > sebagai perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini > > (mungkin juga masa depan!) Jika demikian, apakah institusi > pendidikan > > profesi yang merusak dunia ini dibubarkan saja ? > > > > > > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu > > diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk; > > malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu > juga > > ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya > > berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing. > > > > > > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah > > penyandang dosa utama adalah profesi > > > arsitek. Heheheee.... nyuwun pencerahan, sebab saya masih > mendosen > > di institusi yang mendidik para arsitek....jangan- jangan semua dosa > > ditumpahkan seluruhnya pada kami...heheheee. ...terus apa > > > saran dan nasihatnya dari mantan arsitek seperti bapak ? Lha > > mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak untuk mengubahnya > dari > > dalam, bukan melempari batu dari luar heheheee.... bagaimana > > pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi yang > > memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak > > ini....mumpung masih ada di dalamnya.... . > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > > > > > http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Fri, 10/17/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] > com> > > wrote: > > > From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com> > > > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri? > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > > Date: Friday, October 17, 2008, 6:49 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Halo Pak Ono yang sudah nywasta, > > > > > > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah > > "muddling through" atau "barefood architect".. . > > > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi > bagi > > rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, > yang > > sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu > saya > > mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, > dan > > masih berlanjut hingga saat ini). > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ __ > > > Do You Yahoo!? > > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > > http://mail. yahoo.com > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger > > .yahoo.com > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > > Do You Yahoo!? > > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > > > > > > > ------------------------------------ > > > > Komunitas Referensi > > http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links > > > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > > > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG - http://www.avg.com > Version: 8.0.173 / Virus Database: 270.8.0/1721 - Release Date: 21/10/2008 > 14:10 >

