Diskusi dengan Pak Bambang Tri ysh,
 
+++: SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? 
>>>:  Pertanyaannya sepertinya terlampau umum/ luas…. Hampir mirip-mirip dengan 
>>>pertanyaan “siapa akan lebih banyak masuk surga …. pria atau wanita?... hehe…
Keduanya bisa sama-sama merusak….  Hampir pasti yang miskin menjadi pelaku 
lapangan… dan yang kaya menjadi pemodalnya…..
 
+++: 1.      Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan 
hidup kita rusak, siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan 
sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. 
Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan 
kemudian dijual lagi untuk ekspor, yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang 
paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil 
adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja, sedangkan 
orang-orang kaya adalah “pahlawan pembangunan”. 
>>>: Sepertinya pendapat umum tidak pernah mengatakan bahwa yang dipersalahkan 
>>>hanya orang miskin saja….. dan sepertinya pendapat umum juga tak pernah 
>>>mengatakan bahwa ‘orang kaya adalah pahlawan pembangunan”….
Tentunya semuanya saja yang salah harus berhadapan dengan hukum…..
Bukankah di Kalbar Kapoldanya juga sampai dicopot juga karena dianggap 
terlibat... lalu anggota DPR seperti Al Amin, Jusuf Faisal, Anthony Zeidra 
Abidin dll juga diseret ke KPK?........
 
+++: 2.      Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa ... “membuang kotoran 
manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare ...” 
atau “penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar 
untuk bertahan hidup, dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan 
sekitar”, kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Pemenuhan kebutuhan pokok 
penduduk miskin bukan masalah “hanya”, tetapi “mutlak” harus dipenuhi untuk 
hidup. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah 
karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa. 
>>>: Saya kira ini bukan masalah “adil” atau “tidak adil”….. tapi masalahnya 
>>>kalau terjadi wabah diare…. Yang terkena khan lingkungan mereka sendiri juga 
>>>(jadi diadili oleh alam setempat?.. hehe..)….. saya kira semua paham bahwa 
>>>kemiskinan memang bisa cenderung merusak lingkungan….. karena itu untuk 
>>>melestarikan  lingkungan langkah pertama barangkali ya penanggulangan 
>>>kemiskinan  itu dulu…..
 
+++: 3.      Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya 
hutan, disebabkan para pemodal yang haus keuntungan, “memesan” kayu dalam 
jumlah besar  sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat 
besar pula. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus 
dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusak an hutan, bukan karena 
orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Maka untuk menjamin terjadinya 
pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang 
kaya. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja “keserakahan”. 
>>>: Diluar Jawa seperti  Kalimantan atau Papua dan Riau…. Pelaku kerusakan 
>>>hutan  nampaknya adalah baik masyarakat miskin sebagai pelaku lapangan 
>>>maupun orang kaya sebagai pemodalnya…. Di Jawa… nampaknya para pelaku 
>>>perusakan (istilah lebih populernya : penjarahan) hutan jati 
>>>Perhutani nampaknya lebih banyak dilakukan oleh masyarakat lokal….. sering 
>>>diiringi cerita bahwa para penjarah hutan juga melawan polis hutan.. ada 
>>>juga polhutnya yang terbunuh dan disiksa …walau tentu ada kasus oknum polhut 
>>>yang terlibat juga…..
Ilmu ekonominya sendiri saya kira tidak salah apa-apa…. Yang salah adalah yang 
berwatak serakah….. lagipula kalau ada penegakan hukum yang pasti atau 
kepastian hukum dapat ditegakkan…. Seperti bahwa penjarah hutan kelas kakap 
bisa dihukum mati….. tentu “keserakahan” itu tidak menjadi-jadi….. 
Masalahnya adalah seperti misalnya Adelin Lis…..
Di pengadilan Medan divonis bebas….  Maka lalu segera menghilang… padahal 
dipengadilan banding  ia divonis 10 tahun penjara, membayar uang pengganti 
Rp119,802 miliar subsider enam bulan penjara dan denda sebesar Rp1 miliar……..
Yang memuja keserakahan disini nampaknya bukan ilmu ekonomi….. tapi orang atau 
manusia…… banyak diantaranya yang bukan dibidang ekonomi…….
 
+++: 4.      Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur 
dimana-mana, yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan 
mengganggu ketertiban, juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL 
karena pekerjaan itulah satu-satunya “mata pencaharian” yang dapat dilakukan 
dalam kondisi kepepet. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha 
ditanggung sendiri, tidak ada subsidi apapun dar pemerintah, dan memang ada 
pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan 
yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya “pencegahan” munculnya PKL, 
bukan dengan “menggusurnya” setelah berkembang. PKL bukan “masalah” tetapi 
”pemecahan” masalah kemiskinan. 
>>>: Setuju bahwa PKL adalah “pemecahan”  masalah kemiskinan….. tetapi mentang2 
>>>orang susah dan serba modal sendiri… tidak boleh juga kalau  segala 
>>>sesuatunya boleh bebas semau-maunya sehingga melanggar dan mengganggu etika 
>>>umum….. 
Seperti didaerah macet tetapi berdagang dibadan jalan….. menggelar dagangan 
persis didepan toko yang resmi sampai berlapis2 sehingga toko yang resmi nyaris 
‘tak kelihatan’ dari jalan…… usai berdagang propertinya yang kumuh ditinggalkan 
saja ditempat (meja dagangan yang  kumuh, gerobak dorong, batu  pengganjal atau 
pemberat tenda…. Sampah dibuang digot atau dibalik pagar…. dsb.
Jalan keluar bagi PKL yang holistik dan komprehensip adalah a.l. galakkan KB 
utk menekan ledakan jumlah penduduk… tambahkah jumlah kota besar…. Galakkan 
program migrasi urban (transurbanisasi) serta filialisasi industri manufaktur 
memimpin diluar Jawa…. Berikan sebanyak2 ruang kewiraswastaan bagi sikecil 
direncana kota besar baru diluar Jawa (ruko bagi sikecil melalui program 
transurbanisasi)… dsb.. 
 
5.      +++: Kesimpulan kita, pendekatan terhadap masalah “pengurangan 
kemiskinan dan pengelolaan lingkungan” atau sebaliknya terhadap “pengelolaan 
lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan” selama 
ini kiranya salah dan tidak adil, karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa 
mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan 
lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi 
yang bersifat “serakah” dalam eksploitasi SDA, yaitu sistem ekonomi kapitalis 
liberal yang berkembang di Barat, dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai 
era globalisasi masa kini. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah 
sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan 
lima cirinya sebagai berikut: 
(1)   Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, 
dan moral; 
(2)   Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial 
yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan 
kesenjangan sosial; 
(3)   Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya 
urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri; 
(4)   Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan 
usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat;  
(5)   Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara 
perencanaan  nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, 
bebas, dan bertanggung jawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh 
rakyat Indonesia
>>>: Setuju sekali….. Persoalannya adalah…. Kalau bagi politikus… langkahnya  
>>>cukup dengan membuat statemen politik saja…. Tetapi untuk teknokrat seperti 
>>>anda atau pak Eka….. tentu jalannya panjang sekali….. sebagai rakyat saya 
>>>mendukung penuh pandangan anda…….
 
Salam,
aby
 
 
[referensi] Lingkungan oh..Lingkungan
Wednesday, October 22, 2008 1:48 AM
From: "bambang trihartanto s" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
 
SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA?   
 


      

Kirim email ke