Bang Nuzul, Bang Aunur, dan rekans ysh,

Terima kasih atas penjelasannya. Tapi anugerah Nobel prize untuk 
Krugman ini bisa jadi momentum bagus untuk membuat ekonom dan 
pengambil kebijakan pembangunan concern pada pentingnya aspek 
location.

Akhirnya saya buka Bab-1 buku "The Spatial Economy" yang ditulis 
Krugman bersama Masahisa Fujita dan Anthony Venables.
Ada dua pertanyaan penting yang diangkat pada buku ini:
1. When is a spatial concentration of economic activity sustainable?
D.p.l Kondisi-kondisi apa yang membuat konsentrasi itu menguntungkan 
dan bertahan.

2. When is sysmetric equilibrium, whitout spatial cncentration, 
unstable?
Atau dalam kondisi bagaimana "perbedaan kecil" di antara lokasi itu 
mengundang snowballing effect yang akhirnya membedakan satu lokasi 
dengan lainnya, sehingga menjadi tidak simetris lagi, atau konsentrasi 
dan agglomerasi terjadi.

Keduanya menjadi bahasan dalam buku tersebut. Yang bagi sebagian 
planner akan bermanfaat karena menjelaskan dengan cara lain 
urban/regional growth. Hanya tampaknya spatial-nya Krugman ini 
tampaknya (juga) meliputi sistem global. 

Bahasan dalam buku The Spatial Economy ini juga banyak menggunakan 
pendekatan economic modelling Dixit-Stiglitz yang banyak berkontribusi 
dalam bidang teori tentang perdagangan internasional, pertumbuhan 
ekonomi dan tentu "new economic geography". 
Menarik untuk menyegarkan dan menambah perspektif anlisis ekonomi 
wilayah.

Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> >
> >
> > Pak Aunur, Pak Risfan, dan pak Dwiagus dan rekan-rekan Ysh,
> >
> > Senang sekali dapat posting pak Dwiagus tentang Krugman. Letih  
setelah
> > "ngamen" di luar kota agak hilang  karena isinya sekaligus 
menjawab
> > pertanyaan pak Risfan yang belum sempat dijawab tentang apa 
kontribusi
> > origininal Krugman dalam persoalan lokasi.
> >
> > Kayaknya cukup tepat apa yang dikatakan dalam artikel yang dipost 
pak Dwi:
> > "Sometimes a good economist, like a good columnist, succeeds not 
by making a
> > point before everyone else, but by making it better than anyone 
else".
> >
> > Yang jelas, awalnya Krugman tidak  berangkat dari teori lokasi 
klasik yang
> > sering dibahas di dalam spatial science dan planning seperti 
Weber, Von
> > Thunen,  Losch, Palander, Christaller, Isard, David Smith, dll, 
tetapi  justru
> > mencari justifikasi dari teori lokasi tersebut.  Krugman tampaknya 
baru
> > paham teori lokasi belakangan.
> >
> > Sebagaimana saya telah kemukakan sebelumnya, kontribusi Krugman 
pada aspek
> > lokasi makro (dinamika urban) adalah melihat sisi lain yang tidak 
terlihat
> > orang lain, misalnya muculnya fenomena pusat-pusat jasa keuangan 
dunia
> > paling terkemuka di dunia yang bertumpu di segitiga kota: New 
York, Tokyo,
> > dan London. Kuncinya terletak di konsep "increasing return" 
(secara
> > matematis bisa dibuktikan). Secara mikro mungkin sama seperti 
cerita mengapa
> > misalnya pasar buku Kwitang tetap survive (sebelum digusur). Kota 
Sawahlunto
> > pasca tambang ombilin, secara konseptual output perekonomiannya 
mengalami
> > "decreasing return" dan kalau tidak direvitalisasi akan mati. 
Mungkin
> > kira-kira sederhananya begitu ya…
> >
> > Untuk pak Aunur, satu di antara yang scholars  yang menggeluti 
konsep "new
> > economic geography" di Indonesia adalah Prof. Mudradjat Kuncoro 
dari FE-UGM,
> > disertasinya di Melbourne adalah tentang agglomerasi dan cluster. 
Yang
> > lainnya adalah teman-teman yang mengajar urban and regional 
economics.
> > Beberapa mahasiswa S1 dan Pasca Ekonomi di UI membuat skripsi dan 
tesis
> > berdasarkan kerangka teori dari Krugman ini antara lain tentang 
fenomena
> > localization economies dan urbanization economies.
> >
> > Kalau substansinya untuk kebijakan, kayaknya suaranya tidak begitu
> > terdengar karena ditelan oleh riuhnya suara …… silahkan diisi 
sendiri he he
> > he…..
> >
> > Wassalam,
> >
> > Nuzul Achjar
> >
> > 
> >
>



Kirim email ke