Raflis
Kabut Riau
http://yas-kabut.blogspot.com/
http://pulp-dan-kertas-indonesia.blogspot.com/
http://rencanatataruangriau.blogspot.com/
http://riau-forest-fire.blogspot.com/
 
Email : [EMAIL PROTECTED]
IM: einstein_f94 (YM), raflis_f94 (skype), raflis.f94(Gtalk)
----- Original Message ----- 
From: wirendro sumargo 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Milis Pulp dan Kertas ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, October 30, 2008 11:26 AM
Subject: [Pulp_and_paper_forum] Re: Press Release FWI "Solusi Dalam Menghambat 
Laju Deforestasi Dan Degradasi Hutan di Indonesia"



Keakuratan, Ketersediaan Dan Keterbukaan Data Serta Perlindungan Hak-Hak 
Masyarakat Adat Untuk Perencanaan Tata Ruang Wilayah Sebagai Solusi Dalam 
Menghambat Laju Deforestasi Dan Degradasi Hutan di Indonesia



Jakarta, 28 Oktober 2008. Forest Watch Indonesia bersama Aliansi Masyarakat 
Adat Nusantara, Global Forest Coalition dan Ikatan Cendekiawan Tanimbar 
Indonesia mengadakan pertemuan dengan tema 'Laju dan Penyebab Deforestasi dan 
Degradasi hutan di Indonesia' pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2008. Pertemuan 
ini dihadiri oleh ornop lingkungan, Departemen Kehutanan, organisasi masyarakat 
adat, akademisi dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia.  



Ada beragam data yang menunjukkan rata-rata laju deforestasi di Indonesia dari 
tahun ke tahun. Forest Watch Indonesia mengungkapkan bahwa laju deforestasi 
selama periode 1989 - 2003 adalah 1,9 juta hektar. Sementara Badan Planologi 
Departemen Kehutanan membagi dalam tiga periode yaitu, 1985 - 1997 sebesar 1,87 
juta hektar, 1997 - 2000 sebesar 2,83 juta hektar dan 1,08 juta hektar pada 
periode tahun 2000 - 2005. FAO mencatat laju deforestasi di Indonesia mencapai 
1,87 juta hektar selama 2000 - 2005. Berapa pun angka yang ditampilkan, 
menunjukkan bahwa laju deforestasi dan degradasi di Indonesia sangat tinggi 
dari waktu ke waktu. 



Tingginya permintaan pasar global akan komoditi berbasis sumber daya alam 
seperti: kayu, minyak sawit, pulp, tambang, dan kertas mendorong sikap reaktif 
dan oportunis pemerintah untuk mengeluarkan banyak kebijakan sektoral yang 
semata-mata berorientasi pada peningkatan pendapatan, eksploitatif dan tidak 
berkelanjutan. Di sisi lain, perencanaan dan pengawasan atas pengelolaan dan 
pemanfaatan sumberdaya hutan oleh pemerintah tidak menunjukkan tanda-tanda 
perbaikan yang berarti. Misalnya sampai saat ini dari 120,35 juta hektar 
kawasan hutan yang ditetapkan oleh Departemen Kehutanan baru sekitar 12% yang 
dikukuhkan atau di tata batas (temu gelang). 



Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan dampak lingkungan seperti: 
hilangnya keanekaragaman hayati, bencana alam, dan hilangnya sumber-sumber 
penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Dalam konteks 
perubahan iklim global, kebakaran hutan dan lahan menjadikan Indonesia negara 
ke-3 penyumbang emisi CO2 terbesar di dunia. 



Pertemuan ini merumuskan bahwa akar masalah dari deforestasi dan degradasi 
hutan di Indonesia, antara lain:

-         Lemahnya perencanaan tata ruang wilayah dan sinkronisasi antar sektor 
maupun antar tingkat pemerintahan (pusat, daerah tingkat I dan daerah tingkat 
II) mengakibatkan inkonsistensi kebijakan terkait dengan pengelolaan sumberdaya 
hutan. 

-         Lemahnya akomodasi dan perlindungan negara terhadap hak-hak 
masyarakat adat. 

-         Lemahnya keakuratan, ketersediaan dan keterbukaan data dari para 
pihak yang memiliki kewenangan terhadap isu pengelolaan sumberdaya hutan. 



Informasi lebih lanjut, kontak:
Wirendro Sumargo

Public Campaign And Policy Dialogue Coordinator

Forest Watch Indonesia, 
HP: +62 8159280585,
email: [EMAIL PROTECTED]

Sekretariat Forest Watch Indonesia 
Jalan Sempur Kaler No.26 Bogor, 
Telp: +62 251 8323664, Fax: +62 251 8317926, 
email: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
website www.fwi.or.id




 

Kirim email ke