Mas Eko yang baik,

Menarik sekali mas dan sepakat bahwa kesempatan mobilitas sosial jadi 
penting. Saya cuma sedikit tergelitik untuk berpikir mengapa seorang 
sarjana hukum alumni Universitas Lambung Mangkurat harus bekerja di 
Jakarta? Dalam konteks pemindahan ibukota, saya kira saya sepakat 
bahwa pemindahan ibukota bukanlah satu-satunya solusi.

jabat erat,
Radja

--- In [email protected], Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Andri dan rekan2 ysh..
>  
> Mas Andri, saya hanya bercanda soal Jog-Jakarta  
>  
> Saya kira alternatif strategi pembangunan bisa sangat beragam, 
>  
> Yg menjadi concern saya dlm masalah regional inequality ini adalah 
kesempatan utk mobilitas sosial, yg antara lain dipengaruhi oleh 
"ruang" melalui "jarak"....Bagaimana anak orang miskin di Wonogiri 
maupun di pedalaman Papua atau Simelue, punya kesempatan untuk 
menikmati pendidikan terbaik kalau dia mampu/pintar... bagaimana 
seorang sarjana hukum yg berkualitas alumni Univ Lambung Mangkurat 
punya kesempatan mendapatkan pekerjaan di Jakarta (bukan hanya alumni 
UI, UGM, Trisakti dll)....mobilitas sosial ini terkait dgn kemudahan 
mobilitas ruang...
>  
> Jadi saya sangat tidak setuju dengan pembatasan migrasi masuk ke 
Jakarta, misalkan...Jakarta dan kemakmurannya adalah milik seluruh 
rakyat Indonesia, bukan milik orang Jakarta dan keturunannya...
>  
> generasi awal kemerdekaan, generasi tahun 50 sampai-80 an banyak 
menikmati mobilitas sosial yg luar biasa, terkait dengan jarak, 
terutama di Sumatera dan Jawa...anak2 petani di Jawa banyak mendapat 
kesempatan pendidikan sangat murah di UGM, UI, ITB, dll...yg sekrg 
rata2 menjadi orang2 kaya di Jakarta... 
>  
> Sudah saatnya ketika sekrg mereka semua menjadi pemimpin2 bangsa ini 
mereka memikirkan nasib rakyat yg memiliki handicap jarak dan 
ekonomi...bukan cuma nasib keturunannya saja... betapa primitifnya 
masyarakat kita ketika sebagian besar kelas menengah ke atas hanya 
memikirkan masa depan keturunan biologisnya saja....
>  
> mobilitas sosial, ini yg penting... dan solusinya tidak selalu dgn 
memindahkan ibu kota...ada banyak cara...transportasi antar daerah yg 
affordable, pemberian beasiswa, penghapusan restriksi migrasi, 
kesempatan kerja yg fair dan tidak diskriminatif, dll...
>  
> Salam
>  
> Eko.
>  
>  
>  
> 
> 
> --- On Thu, 10/30/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
> To: [email protected]
> Date: Thursday, October 30, 2008, 7:16 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Eko dan rekan-rekan ysh.,
> 
> Ya, Pak Eko, saya keliru mengutip paragraf itu. Sebenarnya tidak 
semua
> dari paragraf terakhir yang saya kutip secara khusus itu yang saya
> setujui, sebagaimana tidak semua dari tulisan itu saya sepakati.
> Tulisan itu saya kutip sebagai salah satu opsi counter regional
> inequalities yang bisa didiskusikan di milis tercinta ini. Bila ada
> opsi lain, silakan, Pak Eko dan kawan-kawan berikan.
> 
> Btw, saya sangat sepakat dengan pernyataan Pak Eko di bawah:
> 
> ---
> Kalau bicara regional inequality, umumnya ekonom langsung melihat 
pada
> perbedaan tingkat kesejahteraan masyarakat di regions (definisi no
> 1).... tapi planner dan geographer selain melihat tingkat
> kesejahteraan masyarakat, juga melihat tingkat urbanisasi, 
penyediaan
> infrastruktur, jumlah dan kepadatan populasi, dll dari regions
> (definisi no 2)...
> ---
> 
> Demikian. Terima kasih.
> 
> Salam,
> Andri
> 
> 2008/10/30 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com>:
> > Rekans ysh,
> >
> > Saya sepakat 1000% dengan Pak BTS....
> >
> > Justru dari tulisan Mas Andri yg menarik utk saya komentari:
> > "Di masa depan Indonesia tidak lagi identik dengan Jawa."
> > Lho sebagai orang Indonesia, saya tidak pernah merasa Indonesia 
identik
> > dengan Jawa... suku Jawa bukan mayoritas (hanya 40 an %)...Jakarta 
pun
> > adanya di tanah Betawi, bukan tanah Jawa (mungkin Mas Andri keliru
> > dgn Jog-Jakarta? )...
> >
> >
> > salam..
> >
> >
> > --- On Thu, 10/30/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] 
com> wrote:
> >
> > From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject: Re: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Thursday, October 30, 2008, 5:12 AM
> >
> > Dear all'
> >
> > Pemindahan ibu kota negara ke Luar Jawa memang sudah menjadi 
wacana yang
> > lama. Di milis ini juga pernah dibahas.
> >
> > Saya tetap berpendapat bahwa pemindahan ibu kota tidak akan 
mengurangi
> > inequality. Sampai dengan sekarang tidak ada bukti bahwa fungsi 
pemerintahan
> > itu bisa men-generate pembangunan. Kota Canberra (di Australia) 
juga tidak
> > ada apa-apanya. Putrajaya di Malaysia cuma ada bangunan mesjid 
yang sangat
> > besar, banyak air mancur, dan lampu-lampu hias (Putrajaya kota 
yang sangat
> > boros). Juga di Indonesia, ibukota Bandung di Soreang yang gitu-
gitu aja.
> > Ibukota Kabupaten Malang di Kepanjen nggak ngaruh.
> >
> > Pindah di Palangkaraya? Ke sananya saja susah. Tidak ada 
pelabuhan. Yang ada
> > cuma sungai besar yang dangkal. Dukungan tanah juga tidak 
memungkinkan untuk
> > bangunan tinggi. Belum lagi sumber air baku untuk PDAM. Apalagi 
listriknya
> > yang masih ditransmisikan dari Banjarmasin.
> >
> > Mengapa inequality diributkan? Yang penting itu kesejahteraan. 
Terlalu
> > banyak enerji terbuang untuk mengurangi inequality. Toh arah tak 
pernah
> > berbelok. Mending dana untuk meningkatkan kesejahteraan.
> >
> > Hayo silahkan disagree!
> >
> > Thanks. CU. BTS
> >
> > --- On Thu, 10/30/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> 
wrote:
> >
> > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Thursday, October 30, 2008, 3:43 AM
> >
> > Rekan-rekan ysh.,
> >
> > Berikut saya forward artikel mengenai pemindahan ibukota ke luar 
Jawa,
> > yang saya harap mudah-mudahan dapat ikut membantu memberikan 
solusi
> > masalah urban di Jabodetabek *sekaligus* membuka peluang untuk
> > menyelesaikan regional inequalities. (Btw, ide ini tentu bukan
> > satu-satunya lho ;-).
> >
> > Saya kutip paragraf terakhir:
> >
> > "Pemindahan Ibu Kota Indonesia keluar Pulau Jawa apabila dapat
> > dilakukan dengan baik, akan ada efek ganda yang positif baik bagi
> > Jakarta sendiri maupun Indonesia secara keseluruhan. Ibu Kota
> > Indonesia di Palangka Raya akan membawa dampak politik yang luar
> > biasa positif bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Di masa depan
> > Indonesia tidak lagi identik dengan Jawa. Palangka Raya sebagai 
Ibu
> > Kota NKRI akan menjadi pengikat jiwa keindonesian yang lebih 
kukuh,
> > menjadikan Indonesia yang lebih sejahtera dan damai. Jakarta biar
> > berkembang sebagai kota perdagangan dan industri yang bertaraf
> > internasional dengan segala hiruk pikuknya."
> >
> > Salam,
> > Andri
> >
> > http://strategic- manage.com/ ?p=14
> >
> > ---forwarded article begins---
> >
> > IBU KOTA DI LUAR PULAU JAWA, MUNGKINKAH?
> >
> > Oleh : Sampurno
> >
> > Hujan lima hari berturut-turut di Jakarta dan Bogor pada awal 
Februari
> > yang lalu benar-benar telah menenggelamkan Jakarta. Diperkirakan 
70%
> > wilayah Jakarta terendam banjir bahkan ada yang mencapai 
ketinggian
> > sampai 3 meter. Banjir di awal Februari ini telah menelan korban 
jiwa
> > lebih dari 40 orang dan kerugian materiil lebih dari Rp. 5 
triliun.
> >
> > Benarkah banjir Jakarta ini fenomena alam dan siklus lima tahunan?
> > Hujan kali ini intensitasnya memang lebih besar dibanding dengan
> > tahun-tahun sebelumnya. Tetapi kalau kita melempar kesalahan 
kepada
> > alam adalah sangat tidak tepat, karena ulah manusia - power abuse
> > seungguhnya yang dominan. Banjir melanda dan menenggelamkan 
Jakarta
> > terutama karena terjadi anarki dalam perencanaan dan pembangunan
> > fisik. Dalam prespektif planologi/perencana an wilayah, 
pembangunan
> > kawasan pemukiman baru di Jabodetabek berlangsung "liar" dalam
> > pengertian tidak mengikuti kaidah-kaidah baku keseimbangan 
lingkungan.
> > Selain itu, praktis tidak ada koordinasi dan sinkronisasi 
perencanaan
> > wilayah di antara Pemda Jabodetabek. Masing-masing berjalan
> > sendiri-sendiri dengan prespektifnya yang sangat sempit.
> >
> > Jakarta yang Sumpek
> >
> > Menurut sensus BPS jumlah penduduk Jakarta pada tahun 1980 
tercatat
> > sebanyak 6,5 juta jiwa dan pada tahun 2000 (30 Juni) mencapai 
8,389
> > juta jiwa. Angka sensus tahun 2000 disinyalir oleh berbagai 
kalangan
> > terlalu undercount. Dewasa ini jumlah penduduk Jakarta 
diperkirakan
> > sudah mendekati angka 13 juta orang. Pada siang hari angka itu 
bisa
> > lebih dari 20 juta, karena banyak warga yang bertempat tinggal di 
luar
> > Jakarta dan bekerja di Jakarta pada siang hari.
> >
> > Ditambah Botadebek, Jakarta yang hanya seluas 660 kilometer 
persegi
> > atau 0.04% total wilayah Indonesia dihuni oleh lebih dari 10% 
total
> > penduduk Indonesia. Oleh karena itu Jakarta sungguh sudah penuh 
sesak,
> > tidak mempunyai daya dukung lagi untuk menampung arus urbanisasi 
yang
> > cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Dengan jumlah penduduk
> > lebih dari 10 juta jiwa, dewasa ini Jakarta termasuk salah satu 
dari
> > 20 kota terbesar di dunia dan terbesar di Asia Tenggara. Tahun 
1980,
> > United National Council for Human Settlements menempatkan Jakarta 
pada
> > urutan ke-21 kota terbesar di dunia. Tahun 2000 naik menjadi 
urutan ke
> > 14 dan tahun 2010 diprediksikan menjadi urutan ke 10 dengan jumlah
> > penduduk lebih dari 15 juta jiwa. Jika Jabodetabek diasumsikan 
sebagai
> > perluasan metropolitan, maka Jakarta saat ini sudah masuk 10 kota
> > besar di dunia bahkan Richard L Forstall pada tahun 2001 telah
> > menempatkan Jakarta diurutan ketiga kota terbesar di dunia.
> >
> > Upaya pembatasan arus urbanisasi ke Jakarta yang dilakukan selama 
ini
> > tidak pernah berhasil. Ratusan ribu pendatang baru setiap tahun
> > mengadu nasib di Jakarta dibawa oleh kerabatnya sewaktu kembali 
dari
> > mudik Lebaran. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat pesat ini,
> > melampaui daya dukung Jakarta dan kemampuan pemerintah untuk
> > menyediakan kebutuhan dan fasilitas dasar untuk penduduknya yang
> > berjumlah sangat besar. Hal ini yang menjadi penyebab utama 
kualitas
> > hidup di Jakarta cenderung terus mengalami penurunan. Tingkat
> > pengangguran, angka kejahatan, pemukiman kumuh, polusi, sanitasi 
yang
> > buruk, kelangkaan air bersih dan kualitas pelayanan umum yang 
rendah
> > menjadikan Jakarta tidak nyaman lagi sebagai Ibu Kota Indonesia.
> >
> > Kondisi lingkungan sosial dan fisik seperti itulah yang 
menyebabkan
> > Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) menjadi episentrum flu burung
> > dan area wabah Demam Berdarah Dengue dengan jumlah penderita 
terbanyak
> > di Indonesia. Tingkat morbiditas dan mortalitas Jakarta juga 
jelek,
> > tidak mencerminkan metropolitan dan kosmopolitan dunia. 
Berdasarkan
> > Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002, angka kematian ibu
> > melahirkan di Jakarta mencapai 373 kematian dari 100 ribu 
kelahiran
> > hidup. Bandingkan dengan Singapura yang hanya 6 kematian per 100 
ribu
> > kelahiran hidup dan Malaysia 36 kematian per 100 ribu kelahiran 
hidup.
> >
> > Jakarta dan Bodetabek dengan perencanaan wilayah yang anarkis dan
> > semrawut, kehidupan yang sumpeg dan polutif serta sarana dan
> > fasilitas publik yang jelek, menempatkan kota ini di urutan ke-35
> > daftar kota terbaik di Asia. Urutan Jakarta ini jauh dibelakang
> > Singapura (urutan 4), Kuala Lumpur ( 9) dan Metro Manila (14). Ke
> > depan kondisi Jakarta tidak akan bertambah baik, karena kota ini
> > terlalu sarat dengan beban multi fungsi antara lain: pusat
> > pemerintahan, pusat perdagangan dan industri, pusat kegiatan 
politik,
> > pusat perbankan, pusat pendidikan dan pusat media masa.
> >
> > Palangka Raya, Ibu Kota Indonesia di Masa Depan?
> >
> > Ke depan Jakarta sangat sulit untuk dipertahankan sebagai Ibu Kota
> > Indonesia. Dengan menyandang fungsi yang campur aduk yang tidak
> > didesain dengan baik, Jakarta di masa depan akan menjadi kota 
raksasa
> > yang uncontrolable dan tidak nyaman sebagai ibu kota. Turbulensi
> > politik, ekonomi dan kriminal di Jakarta tidak kondusif untuk
> > pengambilan keputusan strategis oleh Pemerintah Nasional. Oleh 
karena
> > itu sudah saatnya dipikirkan dan direncanakan secara sungguh-
sungguh
> > untuk memindahkan Ibu Kota NKRI dari Jakarta.
> > Bung Karno pernah mempunyai gagasan visioner untuk memindahkan Ibu
> > Kota NKRI dari Jakarta ke Palangka Raya. Di balik ide Bung Karno 
untuk
> > memindahkan ibu kota ini sesungguhnya banyak gagasan besar yang 
sangat
> > strategis untuk hari depan negara bangsa (nation state) Indonesia.
> > Palangka Raya dengan luas wilayah 2.678, 51 kilometer persegi dan
> > jumlah penduduk 168.449 jiwa (2003), dapat dibangun sebagai ibu 
kota
> > yang indah dan cantik seperti Canberra Ibu Kota Australia.
> >
> > Apakah negara kita mampu memikul biaya pemindahan ibu kota dari
> > Jakarta ke Palangka Raya? Pemindahan itu tentu saja harus 
direncanakan
> > dengan cermat dan dilaksanakan secara bertahap. Proses pemindahan 
itu
> > mungkin memerlukan waktu antara 10 sampai 15 tahun. Perencanaan 
dan
> > pentahapan pemindahan tidak boleh menimbulkan guncangan politik,
> > ekonomi maupun sosial budaya. Aset pemerintah berupa gedung-gedung
> > perkantoran yang megah di Jakarta dapat digunakan sebagai sumber
> > pembiayaan untuk membangun perkantoran pemerintah nasional di
> > Palangkaraya.
> >
> > Pemindahan Ibu Kota Indonesia keluar Pulau Jawa apabila dapat
> > dilakukan dengan baik, akan ada efek ganda yang positif baik bagi
> > Jakarta sendiri maupun Indonesia secara keseluruhan. Ibu Kota
> > Indonesia di Palangka Raya akan membawa dampak politik yang luar
> > biasa positif bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Di masa depan
> > Indonesia tidak lagi identik dengan Jawa. Palangka Raya sebagai 
Ibu
> > Kota NKRI akan menjadi pengikat jiwa keindonesian yang lebih 
kukuh,
> > menjadikan Indonesia yang lebih sejahtera dan damai. Jakarta biar
> > berkembang sebagai kota perdagangan dan industri yang bertaraf
> > internasional dengan segala hiruk pikuknya.
> >
> > ---forwarded article ends---
> >
> >
> >
>



Kirim email ke