Rekans ysh,
 
Saya sepakat 1000% dengan Pak BTS....
 
Justru dari tulisan Mas Andri yg menarik utk saya komentari:
"Di masa depan Indonesia tidak lagi identik dengan Jawa."
Lho sebagai orang Indonesia, saya tidak pernah merasa Indonesia identik dengan 
Jawa... suku Jawa bukan mayoritas (hanya 40 an %)...Jakarta pun adanya di tanah 
Betawi, bukan tanah Jawa (mungkin Mas Andri keliru dgn Jog-Jakarta?)...
 
 
salam..
 


--- On Thu, 10/30/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [email protected]
Date: Thursday, October 30, 2008, 5:12 AM











Dear all'
 
Pemindahan ibu kota negara ke Luar Jawa memang sudah menjadi wacana yang lama. 
Di milis ini juga pernah dibahas.
 
Saya tetap berpendapat bahwa pemindahan ibu kota tidak akan mengurangi 
inequality. Sampai dengan sekarang tidak ada bukti bahwa fungsi pemerintahan 
itu bisa men-generate pembangunan. Kota Canberra (di Australia) juga tidak ada 
apa-apanya. Putrajaya di Malaysia cuma ada bangunan mesjid yang sangat besar, 
banyak air mancur, dan lampu-lampu hias (Putrajaya kota yang sangat boros). 
Juga di Indonesia, ibukota Bandung di Soreang yang gitu-gitu aja. Ibukota 
Kabupaten Malang di Kepanjen nggak ngaruh. 
 
Pindah di Palangkaraya? Ke sananya saja susah. Tidak ada pelabuhan. Yang ada 
cuma sungai besar yang dangkal. Dukungan tanah juga tidak memungkinkan untuk 
bangunan tinggi. Belum lagi sumber air baku untuk PDAM. Apalagi listriknya yang 
masih ditransmisikan dari Banjarmasin.
 
Mengapa inequality diributkan? Yang penting itu kesejahteraan. Terlalu banyak 
enerji terbuang untuk mengurangi inequality. Toh arah tak pernah berbelok. 
Mending dana untuk meningkatkan kesejahteraan.
 
Hayo silahkan disagree!
 
Thanks. CU. BTS


--- On Thu, 10/30/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Thursday, October 30, 2008, 3:43 AM




Rekan-rekan ysh.,

Berikut saya forward artikel mengenai pemindahan ibukota ke luar Jawa,
yang saya harap mudah-mudahan dapat ikut membantu memberikan solusi
masalah urban di Jabodetabek *sekaligus* membuka peluang untuk
menyelesaikan regional inequalities. (Btw, ide ini tentu bukan
satu-satunya lho ;-).

Saya kutip paragraf terakhir:

"Pemindahan Ibu Kota Indonesia keluar Pulau Jawa apabila dapat
dilakukan dengan baik, akan ada efek ganda yang positif baik bagi
Jakarta sendiri maupun Indonesia secara keseluruhan. Ibu Kota
Indonesia di Palangka Raya akan membawa dampak politik yang luar
biasa positif bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Di masa depan
Indonesia tidak lagi identik dengan Jawa. Palangka Raya sebagai Ibu
Kota NKRI akan menjadi pengikat jiwa keindonesian yang lebih kukuh,
menjadikan Indonesia yang lebih sejahtera dan damai. Jakarta biar
berkembang sebagai kota perdagangan dan industri yang bertaraf
internasional dengan segala hiruk pikuknya."

Salam,
Andri

http://strategic- manage.com/ ?p=14

---forwarded article begins---

IBU KOTA DI LUAR PULAU JAWA, MUNGKINKAH?

Oleh : Sampurno

Hujan lima hari berturut-turut di Jakarta dan Bogor pada awal Februari
yang lalu benar-benar telah menenggelamkan Jakarta. Diperkirakan 70%
wilayah Jakarta terendam banjir bahkan ada yang mencapai ketinggian
sampai 3 meter. Banjir di awal Februari ini telah menelan korban jiwa
lebih dari 40 orang dan kerugian materiil lebih dari Rp. 5 triliun.

Benarkah banjir Jakarta ini fenomena alam dan siklus lima tahunan?
Hujan kali ini intensitasnya memang lebih besar dibanding dengan
tahun-tahun sebelumnya. Tetapi kalau kita melempar kesalahan kepada
alam adalah sangat tidak tepat, karena ulah manusia - power abuse
seungguhnya yang dominan. Banjir melanda dan menenggelamkan Jakarta
terutama karena terjadi anarki dalam perencanaan dan pembangunan
fisik. Dalam prespektif planologi/perencana an wilayah, pembangunan
kawasan pemukiman baru di Jabodetabek berlangsung "liar" dalam
pengertian tidak mengikuti kaidah-kaidah baku keseimbangan lingkungan.
Selain itu, praktis tidak ada koordinasi dan sinkronisasi perencanaan
wilayah di antara Pemda Jabodetabek. Masing-masing berjalan
sendiri-sendiri dengan prespektifnya yang sangat sempit.

Jakarta yang Sumpek

Menurut sensus BPS jumlah penduduk Jakarta pada tahun 1980 tercatat
sebanyak 6,5 juta jiwa dan pada tahun 2000 (30 Juni) mencapai 8,389
juta jiwa. Angka sensus tahun 2000 disinyalir oleh berbagai kalangan
terlalu undercount. Dewasa ini jumlah penduduk Jakarta diperkirakan
sudah mendekati angka 13 juta orang. Pada siang hari angka itu bisa
lebih dari 20 juta, karena banyak warga yang bertempat tinggal di luar
Jakarta dan bekerja di Jakarta pada siang hari.

Ditambah Botadebek, Jakarta yang hanya seluas 660 kilometer persegi
atau 0.04% total wilayah Indonesia dihuni oleh lebih dari 10% total
penduduk Indonesia. Oleh karena itu Jakarta sungguh sudah penuh sesak,
tidak mempunyai daya dukung lagi untuk menampung arus urbanisasi yang
cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Dengan jumlah penduduk
lebih dari 10 juta jiwa, dewasa ini Jakarta termasuk salah satu dari
20 kota terbesar di dunia dan terbesar di Asia Tenggara. Tahun 1980,
United National Council for Human Settlements menempatkan Jakarta pada
urutan ke-21 kota terbesar di dunia. Tahun 2000 naik menjadi urutan ke
14 dan tahun 2010 diprediksikan menjadi urutan ke 10 dengan jumlah
penduduk lebih dari 15 juta jiwa. Jika Jabodetabek diasumsikan sebagai
perluasan metropolitan, maka Jakarta saat ini sudah masuk 10 kota
besar di dunia bahkan Richard L Forstall pada tahun 2001 telah
menempatkan Jakarta diurutan ketiga kota terbesar di dunia.

Upaya pembatasan arus urbanisasi ke Jakarta yang dilakukan selama ini
tidak pernah berhasil. Ratusan ribu pendatang baru setiap tahun
mengadu nasib di Jakarta dibawa oleh kerabatnya sewaktu kembali dari
mudik Lebaran. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat pesat ini,
melampaui daya dukung Jakarta dan kemampuan pemerintah untuk
menyediakan kebutuhan dan fasilitas dasar untuk penduduknya yang
berjumlah sangat besar. Hal ini yang menjadi penyebab utama kualitas
hidup di Jakarta cenderung terus mengalami penurunan. Tingkat
pengangguran, angka kejahatan, pemukiman kumuh, polusi, sanitasi yang
buruk, kelangkaan air bersih dan kualitas pelayanan umum yang rendah
menjadikan Jakarta tidak nyaman lagi sebagai Ibu Kota Indonesia.

Kondisi lingkungan sosial dan fisik seperti itulah yang menyebabkan
Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) menjadi episentrum flu burung
dan area wabah Demam Berdarah Dengue dengan jumlah penderita terbanyak
di Indonesia. Tingkat morbiditas dan mortalitas Jakarta juga jelek,
tidak mencerminkan metropolitan dan kosmopolitan dunia. Berdasarkan
Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002, angka kematian ibu
melahirkan di Jakarta mencapai 373 kematian dari 100 ribu kelahiran
hidup. Bandingkan dengan Singapura yang hanya 6 kematian per 100 ribu
kelahiran hidup dan Malaysia 36 kematian per 100 ribu kelahiran hidup.

Jakarta dan Bodetabek dengan perencanaan wilayah yang anarkis dan
semrawut, kehidupan yang sumpeg dan polutif serta sarana dan
fasilitas publik yang jelek, menempatkan kota ini di urutan ke-35
daftar kota terbaik di Asia. Urutan Jakarta ini jauh dibelakang
Singapura (urutan 4), Kuala Lumpur ( 9) dan Metro Manila (14). Ke
depan kondisi Jakarta tidak akan bertambah baik, karena kota ini
terlalu sarat dengan beban multi fungsi antara lain: pusat
pemerintahan, pusat perdagangan dan industri, pusat kegiatan politik,
pusat perbankan, pusat pendidikan dan pusat media masa.

Palangka Raya, Ibu Kota Indonesia di Masa Depan?

Ke depan Jakarta sangat sulit untuk dipertahankan sebagai Ibu Kota
Indonesia. Dengan menyandang fungsi yang campur aduk yang tidak
didesain dengan baik, Jakarta di masa depan akan menjadi kota raksasa
yang uncontrolable dan tidak nyaman sebagai ibu kota. Turbulensi
politik, ekonomi dan kriminal di Jakarta tidak kondusif untuk
pengambilan keputusan strategis oleh Pemerintah Nasional. Oleh karena
itu sudah saatnya dipikirkan dan direncanakan secara sungguh-sungguh
untuk memindahkan Ibu Kota NKRI dari Jakarta.
Bung Karno pernah mempunyai gagasan visioner untuk memindahkan Ibu
Kota NKRI dari Jakarta ke Palangka Raya. Di balik ide Bung Karno untuk
memindahkan ibu kota ini sesungguhnya banyak gagasan besar yang sangat
strategis untuk hari depan negara bangsa (nation state) Indonesia.
Palangka Raya dengan luas wilayah 2.678, 51 kilometer persegi dan
jumlah penduduk 168.449 jiwa (2003), dapat dibangun sebagai ibu kota
yang indah dan cantik seperti Canberra Ibu Kota Australia.

Apakah negara kita mampu memikul biaya pemindahan ibu kota dari
Jakarta ke Palangka Raya? Pemindahan itu tentu saja harus direncanakan
dengan cermat dan dilaksanakan secara bertahap. Proses pemindahan itu
mungkin memerlukan waktu antara 10 sampai 15 tahun. Perencanaan dan
pentahapan pemindahan tidak boleh menimbulkan guncangan politik,
ekonomi maupun sosial budaya. Aset pemerintah berupa gedung-gedung
perkantoran yang megah di Jakarta dapat digunakan sebagai sumber
pembiayaan untuk membangun perkantoran pemerintah nasional di
Palangkaraya.

Pemindahan Ibu Kota Indonesia keluar Pulau Jawa apabila dapat
dilakukan dengan baik, akan ada efek ganda yang positif baik bagi
Jakarta sendiri maupun Indonesia secara keseluruhan. Ibu Kota
Indonesia di Palangka Raya akan membawa dampak politik yang luar
biasa positif bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Di masa depan
Indonesia tidak lagi identik dengan Jawa. Palangka Raya sebagai Ibu
Kota NKRI akan menjadi pengikat jiwa keindonesian yang lebih kukuh,
menjadikan Indonesia yang lebih sejahtera dan damai. Jakarta biar
berkembang sebagai kota perdagangan dan industri yang bertaraf
internasional dengan segala hiruk pikuknya.

---forwarded article ends---

 














      

Kirim email ke