Pak Aby ysh,
Betul yang dikatakan pak Aby tentang kecewanya orang Morotai, karena itu saya 
untuk sementara waktu tidak pergi ke Morotai, kapok di bentak-bentak oleh 
mereka. Tahun lalu saya ke sana bersama rombongan sekitar 50 orang dari 
berbagai departemen untuk melihat kondisi P morotai  dan ternyata hampir semua 
teman-teman kementerian dan lembaga yang merencanakan pembangunan P morotai 
belum pernah ke sana. Salah satunya teman dari Dep Dalam Negeri yang pada saat 
diminta mengomentari presentasi pak Bupati Halmahera Utara, dia katakan bahwa 
Morotai bukan merupakan prioritas pembangunan, karena pada Perpres (78/2006?) 
tidak termasuk pulau-pulau terluar, karena itu Dep Dagri tidak memasukkannya 
sebagai prioritas. Ada juga teman dari Menko Perekonomian yang menyatakan bahwa 
P Morotai ternyata tidak mempunyai peran strategis seperti yang sering 
dibicarakan di Jakarta. Komentar-komentar tersebut sebenarnya berasal dari 
presentasi Bappeda Halmahera Utara yang tidak
 menempatkan P Morotai sebagai wilayah yang mempunyai potensi untuk berkembang. 
 Dengan ditetapkan P Morotai sebagai daerah otonom, mudah-mudahan harapan  Pak 
Eka, Pak Wawo dan Pak Aby untuk melihat landasan yang tujuh itu digunakan 
kembali segera terwujud

 Salam
Aunur Rofiq




________________________________
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, November 1, 2008 11:56:48 AM
Subject: [referensi] Re: Ibukota di Luar Jawa, Mungkinkah?


 
Pak Rofiq ysh, 
  
Mengenai diskusi pemindahan ibukota... saya kira hanya milisters 'baru' atau  
milisters  ‘belum lamabergabung'saja yang masih bersemangat untuk 
‘memulainya’….   
Milisters lamasaya kira tidakakan cepat 'memulainya' lagi....dan paling hanya 
akan bereaksi sekedar mengeluarkan tanggapan saja…. Karenasetidaknyadiskusi 
demikian itu sudah berlangsung cukup panjang setidaknya pada 2006 lalu........ 
Untuk milisters baru atau yang setengah  lama.. mungkin baik juga nanti 
sesekali atau dekat sebentar ini kita daur ulang diskusi yang lalu itu….. 
  
Mengenai Morotai…….. 
Bbrp hari lalu saya juga baru plg dari Ternate karena ada yang ngutus  utk 
diskusi masalah  ‘sinkronisasi perencanaan pembangunan kws perbatasan Morotai… 
sambil diluar bbrp mhs berdemo utk kemarahan atas ditundanya status Morotai 
sebagai kabupaten…. Yang “untungnya“ sehari  dua kemudian status kabupaten itu 
akhirnya dikeluarkan…. 
  
Kalau pak Rofiqnanya  ..”..senang ya Morotai jadi Kabupaten?....”.. saya 
sendiri malah agak kurang jelas.. apakah ‘senang’ atau ‘biasa-biasa saja’…. 
Tapi yang pasti amat sangat suuweenaang ya tiada lain adalah elit lokalnyaitu…. 
Yang sudah sejak lama membayangkan statusnya naik jadi bupati atau pejabat 
penting pemda kabupaten……alamat ehm… 
  
Morotai memilik beberapa aspek perencanaan pembangunankeruangan yang unik….. 
Pertama ia memiliki “jebakan potensi pembangunan keruangan’ 
yangselain‘menggoda’  tentu saja juga bisa “menjebak”…  seperti denganadanya 7 
runwaynganggur  peninggalan PD-II dan ‘kebesaran masa lalu lokal”…  yang  saat 
ini ironisnya tak ada secuil  jadwal penerbangan sipil apapun disana (kecuali 
TNI-AU sebulan sekali)….yang akibatnya banyakpihak bersemangat untuk membuatkan 
‘perencanaannya’…. 
  
Sebaliknya karena ‘dipandang/ dirasa’ terlampaubanyak ‘hanya perencanaan’  dan 
‘hasil atau ujudkonkritnya kagak’…. Perangkat pemda lokal sudah agak bbrp waktu 
lamanya sinis dan sering bersikap galak pada mereka2 yang datang‘menjanjikan 
mimpi pembangunan’ ….ataupun kepada yang ‘mengundang dari ibukotanya (Ternate) 
utk mendengarkan presentasi’…. Karena itu bisa berarti “perjalanan jauh 
darat-laut bisa tak kurang 200km…..hanya untuk 3 jam acara ‘mendengarkan’ 
rencana2 ’impian’..… lalu tiba giliran beberapa menit ‘kesempatan bicara’… lalu 
‘dicounter’…. Dan selebihnya mereka kembali pulang the next 200km darat dan 
laut… dan keadaan kembali sunyi senyap seperti sediakala…… 
  
Mereka bisa saja sensitip pada kantornyapak Eka yang produknya adalah  
“perencanaan”… dan “belum implementasi”…. hehe..dan sangatamatboleh jadi juga 
mereka bisa sensitip kekantornyapak Rofiqjuga….hehe..karena menterinya maupun 
pak Rofiq sendiri dan serombongan besar para pengiring tahun-tahun lalu pernah 
kesana juga khan ya?… yang tentunya sepulangnya anda dan rombongan… setidaknya 
perangkat pemda lokal disana dan rakyatnya  berharap besar ada perubahan/ 
kemajuan konkretisasi pembangunan signifikan yang terjadi disana….. tapi 
dipikir mereka lha kok selalu kagak-kagak acan?..... 
  
Karena itu agar DJPR dan masyarakat intelektual planning tidak lambat laun 
dipandang sebelah mata saja oleh pihak2 yang amat sangat berharap pada 
“kesaktian perencanaan ruang” yang semula dikira “memiliki kekuatan ajaib untuk 
dalam waktu singkat  “memunculkan implementasi keruangan yang konkrit”  dan 
“hasil yang signifikan”…. Dan bukan sekedar “perencanaan  doang”  yang 
“implementasinya masih harus entah oleh banyak pihak lain lagi” ….. yang “oleh 
siapa” maupun  “kapan waktunya” maupun “mereka mau apa tidak” pun masih  “serba 
tak jelas juga”….  padahal sering terlihat bahwa ‘pihak lain’ diluar DJPRpun  
…‘terlihat’ dianggap “bisa membuat perencanaan dan sekaligus konkretisasinya” 
dan “Sering dalam waktu relatif singkat”…. Maka kedepan tak terlalu  jauh ini…. 
Saya pikir seyogyanya DJPR juga perlu menempatkan  aspek “formulasi 
implementasi keruangan”  (sejalan dgn visi pak Risfan) ….
 Yang simply dan economically workable…. Sebagai bagian kebijakan  digaris 
depan……  Yang didalamnya perlu lebih terdapat muatan “strategi  enjinering 
keruangan dalam kerangka implementasi PR menuju konkretisasi PR” lebih dari 
sekedar ritual klasiknya “penataan ruang semata”….. yang “konkretisasinya” 
boleh “terserah”…..boleh “oleh siapa” juga masih belum tahu”….dan boleh “ entah 
kapan” yang masih belum tahu juga …… 
  
Salam, 
aby 


--- On Fri, 10/31/08, Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [email protected]
Date: Friday, October 31, 2008, 2:29 AM


Memang di referensi ini kalau sudah mentok diskusi "regional inequality", 
selalu berbuntut pada memindahkan ibukota keluar jawa. Saya setuju sama mas eko 
dan mas BTS tentang kesenjangan regional ini yang penting adalah bagaimana bisa 
memberi kesempatan yang sama pada penduduk Indonesia untuk bisa meraih 
kesejahteraan. Kalau kita ingin mengambil contoh bahwa pemindahan ibukota tidak 
sama dengan pemerataan pembangunan sangat banyak sekali, karena itu lupakan 
jika pemindahan tersebut untuk tujuan mengurangi kesenjangan.

Mas Aby,
Senang ya Morotai jadi Kabupaten... .....kita lihat beberapa tahun yang akan 
datang..... ada perubahan?

Salam
Aunur Rofiq

----- Original Message ----
From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Thursday, October 30, 2008 11:38:28 AM
Subject: Re: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?

2008/10/30 Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] com>:

> Pindah di Palangkaraya? Ke sananya saja susah. Tidak ada pelabuhan. Yang ada
> cuma sungai besar yang dangkal. Dukungan tanah juga tidak memungkinkan untuk
> bangunan tinggi. Belum lagi sumber air baku untuk PDAM. Apalagi listriknya
> yang masih ditransmisikan dari Banjarmasin.

Sebenarnya poinnya di situ, Pak. Memang di luar daerah Jakarta tidak
ada fasilitas yang mendukung untuk dijadikan ibukota, bila
dibandingkan dengan Jakarta. Dan sebentar lagi tentu akan semakin
banyak fasilitas di Jakarta bila MRT gol. Dengan demikian,
inequalities akan semakin besar -- meskipun Bapak bersikukuh bahwa ini
tidak penting.

Salam,
Andri

------------ --------- --------- ------

Komunitas Referensi
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links

 
 


      

Kirim email ke