Pak BTS,

Saya masih ingat cerita pak BTS soal Kab Bima ini di posting sebelumnya
beberapa waktu lampau,. ngomong2 itu efek keterkaitan kota bima dengan
kabupaten bima-nya gemanah ya? 

 

Dalam hal ini sangat tipis sekali antara berani untuk konyol atau berani
untuk melakukan terobosan,..

Futurology yang mengurangi kesan kekonyolan mungkin adalah point penting di
sini, . yang dengan cara yang cermat dan tepat memprediksi sebuah
potensi,... dan meng-arrange dengan strategis bagaimana
mengoperasionalisasi-kan-nya,.. 

 

 

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

bdwiagus.blogspot.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [EMAIL PROTECTED] 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Bambang Tata Samiadji
Sent: 17 November 2008 20:33
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] Re: Ayam atau Telor....., belajar dari Bima.

 


Dear all.

 

Sebuah "break through", itulah solusi. Ada sebuah "lesson learned" dari
Kabupaten Bima nun jauh di Pulau Sumbawa. Saya lupa apakah ini pernah saya
ceritakan atau belum di milis ini. Oke saya ceriterakan lagi terkait dengan
: ayam atau telor...telor atau ayam.

 

Ini terjadi tahun 2006 yang lalu. Perkembangan ekonomi wilayah Sumbawa
umumnya dan Bima pada khususnya sepertinya stagnan. Sarana transportasi yang
potensial adalah pesawat udara yang menghubungkan Bima dengan Pulau Jawa
sebagai sumber ekonomi. Tapi pesawat Merpati yang melayani Jawa
(Jakarta-Surabaya-Bima) hanya 3 kali seminggu. Maklum jumlah penumpang tak
sampai memenuhi kuota "load factor".Pemerintah daerah ingin Merpati bisa
terbang setiap hari. Muncul sebab akibat tadi...penumpangnya dulu ada,  baru
Merpati melayani... tapi bisa juga Merpati dulu memastikan melayani setiap
hari, maka akan men-generate penumpang..... Coba, mana  dulu yang berani
mendahului? Nggak ada khan... kalau nggak ada terobosan (break through) yang
dilakukan.

 

Itulah saatnya pemda Bima melakukan terobosan (inisiatif). Kebetulan
Kabupaten Bima punya SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran). Tak besar...
sekitar Rp 25 milyar saja.

Kebetulan PP 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
memungkinkan penggunaan SILPA untuk pembiayaan (financing) semacam penanaman
modal, sekuritisasi dsb, yang penting pengeluaran itu akan menghasilkan
pemasukan (definisi pembiayaan).

 

Pemda Bima melakukan sekuritisasi seat (tempat duduk pesawat), atau
"mengijon" seat Merpati sehingga Merpati mau terbang setiap hari (mencapai
load factor). Sekuritisasi itu dilakukan selama 2 tahun dengan modal Rp 18
milyar. Seat itu kemudian dijual oleh Merpati dan keuntungannya dibagi 2
antara Merpati dan Pemda. Kerja sama ini jelas sangat menguntungkan. Bagi
Merpati selain pasti untung karena tercapainya Load factor, juga masih ada
keuntungan dari penjualan ticket. Pemda juga untung selain dari penjualan
ticket, juga  bergairahnya ekonomi wilayah akibat ramainya penumpang setiap
hari...... Itu semua kalau ticketnya laku.

 

Mengapa pemda Bima berani melakukan "bisnis" tersebut? Karena Pemda yakin
banyak masyarakat Sumbawa yang merantau dan banyak yang sukses. Dipastikan
mereka akan suka pulang kampung dan mau membangun daerahnya.

 

Ternyata, dengan kepastian terbang setiap hari, timbulah permintaan baru
(betul juga perkiraan pemda). Akhirnya setiap hari Merpati terbang ke dan
dari Bima  dengan penumpang yang selalu penuh. Akhirnya Merpati untung,
pemda juga untung. 

 

Perjanjian itu berakhir awal tahun 2008 yang lalu. Akibat Merpati terbang
setiap hari dan selalu penuh, muncul Sriwijaya dan Batavia juga terbang
setiap hari. Jadi kalau dulu 3 kali seminggu, sekarang 3 kali perhari.
Ekonimi wilayah menjadi sangat bergairah. Airport menjadi salah satu titik
keramaian ekonomi tersendiri. Luar biasa bukan?

 

Pada tahun 2008 ini, perjanjian sekuritisasi antara Merpati dan pemda Bima
dilanjutkan dengan modal Rp 20 milyar untuk 2 tahun akan datang.

 

Betul Mas BSP, ayam atau telor tidak perlu didiskusikan, tapi komitmen
(tekad) untuk melakukan terobosan. Itu telah dilakukan oleh Pemda Bima.
Apakah pemda Morotai mau melakukan seperti ini? Saya kira dalam 3-4 tahun
tidak berani karena masih menjalankan APBD transisi dan belum mempunyai
SILPA yang cukup.

 

Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 11/17/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [referensi] Re: Morotai Lagi (8)
To: [email protected]
Date: Monday, November 17, 2008, 10:32 AM

Mas Dwiagus, pak Aby, milister ysh.

 

Ijinkan juga nimbrung posting mas Dwiagus nanggapi pak Aby .....

 

Trade follows transport... transport follow trade...

He he he telor apa ayam ... ayam apa telor.

Kalau saya .....

Telornya saya pecahkan dan jadikan ceplok telor dan kemudian dimakan supaya
punya kekuatan untuk bisa beli ayam .... 

Nah ayamnya biar bertelor .... itu mungkin yang paling sesuai.

Artinya janganlah diperdebatkan mana yang dulu tapi sebuah break through.

 

Salam dari orang yg bingung ayam apa telor

 

bsp

 

 

Kirim email ke