Milisters semuanya ysh, Masih dlm koridor kepercayaan “transportation established first… then development surely growing later”…. Kalau dlm “perencanaan” (saja) brgkali kita masih boleh merencana apa saja….. termasuk apa yg rada sulit utk konkretisasinya sekalipun…..dan brgkali tak perlu jelas… kapan atau bgmn “rencana” itu dapat dikonkretisasikan….. Tapi dalam “upaya pembangunan wilayah” utamanya utk cita-cita “konkretisasinya”…… rasanya rincian serta urutan yang jelas dari berbagai langkah upaya pembangunan sektoral utamanya dgn aspek ekonomi perlu dikemukakan…… agar ‘rencana’ itu dapat dipandang sebagai ‘logis/ masuk akal’ (plan that logic)…. Dan bukannya diolok2 menjadi “plan no logic”… agar sebanyak2 stakeholders dapat sebanyak2 pahami … hingga dpt berperan lbh optimal……. Contoh Gorontalo… tentu sudah ada Perencanaan Ruang disana… bayangkan apa terjadi kalau pembangunan disana hanya andalkan ‘kesaktian’ Perencaan Ruang…. Belum tentu yang muncul adalah tanam jagung secara massal itu…… Sebaliknya…. krn pembangunan disana dimulai dengan “rencana pembangunan wilayah”…. Dasar gubernurnya (Fadel M) adalah industrialis dan wiraswasta (saudagar?)…. Maka muncul ‘langkah konkrit’ pragmatis…. ‘tanam jagung’ itu… dimana logikanya 3 atau 6 bulan kemudian panen… semua lapisan rakyat dapat digerakkan terlibat…. 6 bulan kemudian masyarakat ‘pegang uang’…. Jadi katakunci yang penting disitu adalah rute rinci pragmatis menuju ‘konkretisasi’……. Pada studi kasus Morotai….. utk menegakkan reguler time tabled airliner… yg dipercaya akan mendorong aktivitas ekonomi lbh lanjut…. baik kita acu jg pertanyaan pak Hutomo dari Oceanografi LIPI/UI….. mana yang benar… transportation follow trade.. atau trade follow transportation…. Atau pertanyaannya barangkali boleh diubah atau dibalik….. airlinernya diadakan dulu… nanti passengersnya muncul…. Ataukah passengersnya disuruh muncul dulu… baru airlinernya datang?...... Rasa2nya keduanya saling ogah utk konyol mulai duluan….. Jadi kesimpulannya kedua pihak harus janjian muncul barengan….. karena bgmn passengers mau datang kalau tak jelas airlinernya….. sebaliknya airliner (kecuali BUMN perintis, gak takut rugi) ngapain singgahi sebuah bandara… kalau tak jelas pasengersnya…. krn bisa rugi….. Di Morotai bandara, ‘terminal’ , pelabuhan laut, sarana penyeberangan dari/ ke Halmahera, penginapan, pasar, bank, hankam, telkom, semuanya ada… Jadi kita tinggal bicara “potensi passengers”nya…. Potensi passengers terbesar Morotai sebenarnya masih lbh berasal dari kota kabupaten Tobelo dan Galela (Halmahera)… dimana dibanding jarak Tobelo/Galela ke Ternate (200km) lewat darat dan laut…. Perjalanan kebandara Morotai masih lebih dekat (50km)… Di Galela, Halmahera Utara sebenarnya sdh ada bandara (panjang runway entah) …. Dan itu dekat sekali dari Tobelo, ibukota disana…. Sehingga kalau saja bandara Galela ‘dihidupkan’ … maka potensi passengers dari Tobelo akan ‘tumpah’ ke Galela (alan darat, dekat) dan tak akan ke Morotai (50km nyebrang laut)…… Jadi ‘menghidupkan’ bandara Morotai itu harus a.l. dgn cara “Galela mengalah”…... atau dpl…. posisi tawar bandara Morotai sebenarnya agak ‘lemah’ dibanding Galela….. tapi kedepan Morotai dgn banyak runway serta keunikan lokal sebagai ‘pulau bibir pasifik’ masih akan lebih menantang jadi bandara int’l… sehingga kalau berpikir “nasional” dan “kedepan” (dan bukan “lokal” serta “hari ini”)… maka Galela memang patut “mengalah” pada Morotai….. Singkat kata… potensi passengers (pemerintah, swasta, masyarakat) dari Tobelo, Galela dan Morotai sendiri saat ini akan cukup untuk memulai keekonomian penerbangan reguler pesawat kecil…. Dan memang perlu terdapat hubungan udara Morotai-Manado utk “layanan perbekalan kebutuhan sehari2 regional” terdekat…. Atau Morotai-Ternate khususnya bagi “hub pemerintahan oleh aparat pemda”……. Salah satu cara memulai ‘soft opening’ bandara Morotai dengan “kelayakan ekonomi bisnis penerbangan” adalah dengan pertama.. utk rute “inter-regional” Manado-Sorong (3x seminggu) … Lion Air diminta bersedia transit dan mencadangkan 4-6 seat utk Morotai…. Kemudian bila jumlah passengers meningkat…. Jadwalnya bisa ditingkatkan menjadi 5x seminggu sampai akhirnya 7x seminggu… dst.… Sementara itu utk rute ‘intra-regional’ Morotai-Ternate (250km)…. Nampaknya pesawat kecil 8 seat 4x seminggu dapat menjadi satu awalan…. Atau cara lain ’extension’ dari “rute existing yang ada Manado-Ternate” 2x sehari Wings/Lion Air pesawat dgn 30 prenumpang….diperpanjang menjadi rute”Manado-Ternate-Morotai” 3x seminggu sebagai awalan misalnya……. Bila itu dapat dikonkritkan…. Tak ada alasan utk tak mulai bicara ttg pengembangan pembangunan/ pariwisata khususnya di Morotai….. Salam, aby

