Milisters ysh,
Posting dari pak Risfan kemilis 'plbpm' yang mengandung beberapa
pertanyaan....mungkin juga tidak secara khusus ditujukan kepada saya saja....
tetapi barangkali kalau saya tak salah.... posting ini setidaknya cocok untuk
di-cc-kan juga ke milis 'referensi' yg 'spesialisasinya' memang lebih banyak
ke pembahasan masalah penataan ruang/ perencanaan ruang/ implementasi
keruangan/ konkretisasi keruangan.....
Atau dibalik.... ditujukannya ke 'referensi' dan cc-nya ke plbpm..... atau
memang ada maksud khusus dari pak Risfan dgn itu?....
Saya tentu saja mau menanggapi ... tapi seperti saya sdh katakan mau mohon cuti
sebentaran... maka tanggapan kembali dari saya brkali bisa tdk secepatnya.....
Salam,
aby
--- On Mon, 11/17/08, Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [plbpm] Re: Morotai Lagi (8)
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, November 17, 2008, 1:40 PM
Rekans ysh,
Mencoba memahami yang disampaikan Pak Aby:
1. Ada Rencana Tata Ruang, ada Rencana Pengembangan Wilayah - yang merinci dari
program jangka panjang, menengah, hingga kegiatan tahunan. Serta Action Plan -
yang bisa dilakukan hari ini
2. Soal posisi Morotai dalam konstelasi transportasi regional, mungkin perlu
dilihat pula Rencana skala provinsi dan wilayah lebih luas, termasuk rencana
sektor perhubungannya.
3. Mas Dwiagus menambahkan, "APA yang di trade kan? Wisata apa yang ditawarkan?
Ini mengundang pertanyaan berikutnya: "Kepada siapa itu akan (sesuai) di jual?"
misal kepada negaranya Nakamura, yang semasa PD2 terdampar disitu. Atau siapa?
Adakah mereka sudah berwisata di sekitar situ? Berapa length-of-stay rerata
mereka? Bisa nambah ke Morotai? Apa gimmick promo yang bisa ditawarkan?
4. Dalam action plan, perlu juga diidentifikasi, di approach SIAPA aktor utama
ekonomi disana. Mitos investor biasanya adalah "dari luar". Tapi prakteknya
yang jalan adalah pelaku setempat, atau di wilayah itu. Tanya mereka apa bisnis
mereka, dan apa bisnis yang potensial disitu? Pebisnis lah yang tahu bisnis,
bukan planner atau ekonom. Tanya juga kalau tak ada kendala, ada modal, mau
ngembangin apa mereka disana.
5. Maaf pertanyaan nakal: Bapak-bapak sekalian ke Morotai itu proyek apa? Misi
utamanya apa? Menjaga perbatasan supay pulau tak diduduki bangsa lain?
Mengamankan hutan lindung? Menata-ruang? Peduli ekonomi warga disana?
Kalau masih sepi kan tak ada kerusakan lingkungan, jangan-jangan karena
direncanakan ekonomi dan fisiknya - malah mengundang perusakan lingkungan.
Kalau mayoritas hutan lindung ya dihutankan saja, biar kehutanan saja yang
jaga. Biar tetap utuh.
Kalau tujuannya pengamanan, ya bangun saja pos atau pelabuhan/ pangkalan
militer.
Saya kuatir ada kontradiksi dari tujuan-tujuan "orang Jakarta" yang kesana.
Sudahkah ditanya mereka sendiri mau apa? Maaf he he he
Salam,
Risfan Munir
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
Sent: Monday, November 17, 2008 8:38 AM
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Cc: [EMAIL PROTECTED] com; alumni-unhas@ yahoogroups. com
Subject: [plbpm] Re: Morotai Lagi (8)
Milisters semuanya ysh,
Masih dlm koridor kepercayaan “transportation established first… then
development surely growing later”….
Kalau dlm “perencanaan” (saja) brgkali kita masih boleh merencana apa saja…..
termasuk apa yg rada sulit utk konkretisasinya sekalipun…..dan brgkali tak
perlu jelas… kapan atau bgmn “rencana” itu dapat dikonkretisasikan… .. Tapi
dalam “upaya pembangunan wilayah” utamanya utk cita-cita “konkretisasinya”……
rasanya rincian serta urutan yang jelas dari berbagai langkah upaya
pembangunan sektoral utamanya dgn aspek ekonomi perlu dikemukakan…… agar
‘rencana’ itu dapat dipandang sebagai ‘logis/ masuk akal’ (plan that logic)….
Dan bukannya diolok2 menjadi “plan no logic”… agar sebanyak2 stakeholders
dapat sebanyak2 pahami … hingga dpt berperan lbh optimal…….
Contoh Gorontalo… tentu sudah ada Perencanaan Ruang disana… bayangkan apa
terjadi kalau pembangunan disana hanya andalkan ‘kesaktian’ Perencaan Ruang….
Belum tentu yang muncul adalah tanam jagung secara massal itu……
Sebaliknya…. krn pembangunan disana dimulai dengan “rencana pembangunan
wilayah”…. Dasar gubernurnya (Fadel M) adalah industrialis dan wiraswasta
(saudagar?)…. Maka muncul ‘langkah konkrit’ pragmatis…. ‘tanam jagung’ itu…
dimana logikanya 3 atau 6 bulan kemudian panen… semua lapisan rakyat dapat
digerakkan terlibat…. 6 bulan kemudian masyarakat ‘pegang uang’…. Jadi
katakunci yang penting disitu adalah rute rinci pragmatis menuju
‘konkretisasi’…….
Pada studi kasus Morotai….. utk menegakkan reguler time tabled airliner… yg
dipercaya akan mendorong aktivitas ekonomi lbh lanjut…. baik kita acu jg
pertanyaan pak Hutomo dari Oceanografi LIPI/UI….. mana yang benar…
transportation follow trade.. atau trade follow transportation… . Atau
pertanyaannya barangkali boleh diubah atau dibalik….. airlinernya diadakan
dulu… nanti passengersnya muncul…. Ataukah passengersnya disuruh muncul dulu…
baru airlinernya datang?.... .
Rasa2nya keduanya saling ogah utk konyol mulai duluan….. Jadi kesimpulannya
kedua pihak harus janjian muncul barengan….. karena bgmn passengers mau datang
kalau tak jelas airlinernya…. . sebaliknya airliner (kecuali BUMN perintis,
gak takut rugi) ngapain singgahi sebuah bandara… kalau tak jelas pasengersnya…
. krn bisa rugi…..
Di Morotai bandara, ‘terminal’ , pelabuhan laut, sarana penyeberangan dari/ ke
Halmahera, penginapan, pasar, bank, hankam, telkom, semuanya ada… Jadi kita
tinggal bicara “potensi passengers”nya… .
Potensi passengers terbesar Morotai sebenarnya masih lbh berasal dari kota
kabupaten Tobelo dan Galela (Halmahera)… dimana dibanding jarak Tobelo/Galela
ke Ternate (200km) lewat darat dan laut…. Perjalanan kebandara Morotai masih
lebih dekat (50km)…
Di Galela, Halmahera Utara sebenarnya sdh ada bandara (panjang runway entah) ….
Dan itu dekat sekali dari Tobelo, ibukota disana… Sehingga kalau saja bandara
Galela ‘dihidupkan’ … maka potensi passengers dari Tobelo akan ‘tumpah’ ke
Galela (alan darat, dekat) dan tak akan ke Morotai (50km nyebrang laut)……
Jadi ‘menghidupkan’ bandara Morotai itu harus a.l. dgn cara “Galela
mengalah”…... atau dpl…. posisi tawar bandara Morotai sebenarnya agak ‘lemah’
dibanding Galela….. tapi kedepan Morotai dgn banyak runway serta keunikan lokal
sebagai ‘pulau bibir pasifik’ masih akan lebih menantang jadi bandara int’l…
sehingga kalau berpikir “nasional” dan “kedepan” (dan bukan “lokal” serta
“hari ini”)… maka Galela memang patut “mengalah” pada Morotai….
Singkat kata… potensi passengers (pemerintah, swasta, masyarakat) dari Tobelo,
Galela dan Morotai sendiri saat ini akan cukup untuk memulai keekonomian
penerbangan reguler pesawat kecil…. Dan memang perlu terdapat hubungan udara
Morotai-Manado utk “layanan perbekalan kebutuhan sehari2 regional” terdekat….
Atau Morotai-Ternate khususnya bagi “hub pemerintahan oleh aparat pemda”…….
Salah satu cara memulai ‘soft opening’ bandara Morotai dengan “kelayakan
ekonomi bisnis penerbangan” adalah dengan pertama.. utk rute “inter-regional”
Manado-Sorong (3x seminggu) … Lion Air diminta bersedia transit dan
mencadangkan 4-6 seat utk Morotai…. Kemudian bila jumlah passengers
meningkat…. Jadwalnya bisa ditingkatkan menjadi 5x seminggu sampai akhirnya 7x
seminggu… dst.…
Sementara itu utk rute ‘intra-regional’ Morotai-Ternate (250km)…. Nampaknya
pesawat kecil 8 seat 4x seminggu dapat menjadi satu awalan…. Atau cara lain
’extension’ dari “rute existing yang ada Manado-Ternate” 2x sehari Wings/Lion
Air pesawat dgn 30 prenumpang….diperpan jang menjadi rute”Manado-Ternate-
Morotai” 3x seminggu sebagai awalan misalnya……
Bila itu dapat dikonkritkan… . Tak ada alasan utk tak mulai bicara ttg
pengembangan pembangunan/ pariwisata khususnya di Morotai…..
Salam,
aby