Pak Risfano, pertanyaan nakalnya menarik sekali...eh sangat menarik. Menurut saya, jika tidak ada orang Morotai yang "cukup kompeten" mengikuti (terlibat) di dalam diskusi ini maka situasi pembicaraan adalah Morotai sebagai obyek kajian orang dari luar Morotai. Nah disitu menjadi sangat krusial karena setiap orang membawa skenario sendiri-sendiri, meskipun kemudian dibenturkan dalam diskusi dan akhirnya akan muncul skenario yang kurang lebih menjadi kebenaran bersama. Saya belum melihat adanya "aktor lokal" yang terlibat dan intens dalam diskusi Morotai kecuali jika Eyang ABY sidah menjadi orang Morotai beneran, yang menyatu jiwa dan raganya. Kalau diskusi Morotai sekedar latihan intelektual ya itu lain lagi persoalannya.
Salam, Djarot Purbadi http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenonemologiarsitektur.wordpress.com --- On Thu, 11/20/08, Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] FW: [plbpm] Re: Morotai Lagi (8) To: [email protected] Date: Thursday, November 20, 2008, 4:32 AM -----Original Message----- From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED] com> Sent: Tuesday, November 18, 2008 4:40 AM To: [EMAIL PROTECTED] com Subject: RE: [plbpm] Re: Morotai Lagi (8) Rekans ysh, Mencoba memahami yang disampaikan Pak Aby: 1. Ada Rencana Tata Ruang, ada Rencana Pengembangan Wilayah - yang merinci dari program jangka panjang, menengah, hingga kegiatan tahunan. Serta Action Plan - yang bisa dilakukan hari ini 2. Soal posisi Morotai dalam konstelasi transportasi regional, mungkin perlu dilihat pula Rencana skala provinsi dan wilayah lebih luas, termasuk rencana sektor perhubungannya. 3 Mas Dwiagus menambahkan,"APA yang di trade kan? Wisata apa yang ditawarkan? Ini mengundang pertanyaan berikutnya: "Kepada siapa itu akan (sesuai) di jual?" misal kepada negaranya Nakamura, yang semasa PD2 terdampar disitu. Atau siapa? Adakah mereka sudah berwisata di sekitar situ? Berapa length-of-stay rerata mereka? Bisa nambah ke Morotai? Apa gimmick promo yang bisa ditawarkan? 4. Dalam action plan, perlu juga diidentifikasi, di approach SIAPA aktor utama ekonomi disana. Mitos investor biasanya adalah "dari luar". Tapi prakteknya yang jalan adalah pelaku setempat, atau di wilayah itu. Tanya mereka apa bisnis mereka, dan apa bisnis yang potensial disitu? Pebisnis lah yang tahu bisnis, bukan planner atau ekonom. Tanya juga kalau tak ada kendala, ada modal, mau ngembangin apa mereka disana. 5. Maaf pertanyaan nakal: Bapak-bapak sekalian ke Morotai itu proyek apa? Misi utamanya apa? Menjaga perbatasan supay pulau tak diduduki bangsa lain? Mengamankan hutan lindung? Menata-ruang? Peduli ekonomi warga disana? Kalau masih sepi kan tak ada kerusakan lingkungan, jangan-jangan karena direncanakan ekonomi dan fisiknya - malah mengundang perusakan lingkungan. Kalau mayoritas hutan lindung ya dihutankan saja, biar kehutanan saja yang jaga. Biar tetap utuh. Kalau tujuannya pengamanan, ya bangun saja pos atau pelabuhan/ pangkalan militer. Saya kuatir ada kontradiksi dari tujuan-tujuan "orang Jakarta" yang kesana. Sudahkah ditanya mereka sendiri mau apa? Maaf he he he Salam, Risfan Munir From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> Sent: Monday, November 17, 2008 8:38 AM To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Cc: [EMAIL PROTECTED] com; alumni-unhas@ yahoogroups. com Subject: [plbpm] Re: Morotai Lagi (8) Milisters semuanya ysh, Masih dlm koridor kepercayaan “transportation established first… then development surely growing later”…. Kalau dlm “perencanaan” (saja) brgkali kita masih boleh merencana apa saja….. en Morotai itu harus a.l. dgn cara “Galela mengalah”…... atau dpl…. posisi tawar bandara Morotai sebenarnya agak ‘lemah’ dibanding Galela….. tapi kedepan Morotai dgn banyak runway serta keunikan lokal sebagai ‘pulau bibir pasifik’ masih akan lebih menantang jadi bandara int’l… sehingga kalau berpikir “nasional” dan “kedepan” (dan bukan “lokal” serta “hari ini”)… maka Galela memang patut “mengalah” pada Morotai…. Singkat kata… potensi passengers (pemerintah, swasta, masyarakat) dari Tobelo, Galela dan Morotai sendiri saat ini akan cukup untuk memulai keekonomian penerbangan reguler pesawat kecil…. Dan memang perlu terdapat hubungan udara Morotai-Manado utk “layanan perbekalan kebutuhan sehari2 regional” terdekat…. Atau Morotai-Ternate khususnya bagi “hub pemerintahan oleh aparat pemda”……. Salah satu cara memulai ‘soft opening’ bandara Morotai dengan “kelayakan ekonomi bisnis penerbangan” adalah dengan pertama.. utk rute “inter-regional” Manado-Sorong (3x seminggu) … Lion Air diminta bersedia transit dan mencadangkan 4-6 seat utk Morotai…. Kemudian bila jumlah passengers meningkat…. Jadwalnya bisa ditingkatkan menjadi 5x seminggu sampai akhirnya 7x seminggu… dst.… Sementara itu utk rute ‘intra-regional’ Morotai-Ternate (250km)…. Nampaknya pesawat kecil 8 seat 4x seminggu dapat menjadi satu awalan…. Atau cara lain ’extension’ dari “rute existing yang ada Manado-Ternate” 2x sehari Wings/Lion Air pesawat dgn 30 prenumpang….diperpan jang menjadi rute”Manado-Ternate- Morotai” 3x seminggu sebagai awalan misalnya…… Bila itu dapat dikonkritkan… . Tak ada alasan utk tak mulai bicara ttg pengembangan pembangunan/ pariwisata khususnya di Morotai….. Salam, aby

