Mas Fajar dan mas Djarot ysh, Posting anda berdua agak sedikit ‘serupa’ (intinya komplain masalah bahasa) walau jelas sangat jauh berbeda materinya… tapi biarlah tanggapan baliknya saya satukan saja (ojok dikomplen maneh yo rek?/ jangan komplain lagi ya man)….. Dialog Jawa ‘aneh’ saya dengan bruder Paulus Bawole von University of Stuttgart (ben mas Djarot gak komplen maneh rek) sebenarnya lebih merupakan permohonan izin tak tertulis saya kemilisters utk agar saya boleh dong sesekali “berekreasi bahasa” secara ‘visual’ (saya bisa nikmati visualisasi komposisi huruf2nya) dengan menjadikan brur Cak Bawole sebagai obyek eksplorasi dialog bahasa Jawa jawatimuran (campur kasaran) yang bagi saya ‘agak langka terdengar, penuh sense of humour dan amat sangat saya nikmati’…..… Utamanya saya amat sangat menikmati perbedaan-perbedaan kecilnya dgn bhs jawatengahan seperti ibarat beda2 tipis mother dan mutter… father dan vater.. brother dan bruder…. ‘Mung’ (hanya; jateng) yang menjadi ‘mek’ … atau ‘ora biso’ (nggakbisa) menjadi ‘gak iso’…. ‘babarpisan’ (samasekali) menjadi ‘blas’…..’rodo’ (agak) menjadi ‘rodok’ dst….. ibarat beda tarian ‘bedoyo’ dari kraton yogya yang kelewat gemulai dan nggak nyampe2 dibanding dengan tarian bali yang dinamis masih plus plarak-plirik gerak mata yg tajam segala……. Bhs jawatengahan (yg sering diklaim sebagai ‘alusan’ yg saya mulai bosan karena seumur2 hanya berbahasa jawa yg demikian itu….. dan bhs jawatimuran atau ditambah dialek2 kasar amat saya nikmati karena belum2 sudah mudah menumbuhkan sense of humour tersendiri bagi saya…… suatu rekreasi batin yang mudah, murah meriah….. (maklum nulis gratisan dimilis segitu banyaknya menghibur terus khan capek juga man…. itung2 ngomong jowo ini ‘honornya’….. masak gak boleh sih?)…… Saya benar2 segera menjadi ‘merasa nyedulur’ (muncul perasaan menganggap saudara dekat) ke cak Bawole yang pada awal postingnya (judul waktu itu : “plano dan arch yg merusak”)…. Sudah muncul dengan jenaka : “…Kulo Nuwun...Nderek Langkung Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang saya hormati,…” (permisi.. numpang lewat bpk2/ ibu ysh)…..; kata2 salam yg biasanya disertai gerakan agak membungkuk, telapak tangan didepan serta senyuman…. dan perhatikan…. Banyak posting tidak diawali dgn kata salam….. sehingga saya amat sangat tidak ragu untuk menunjukan rasa hormat (dan rasa persaudaraan) saya pada beliau… a.l. dengan kembali mengimbangi bhs jawa beliau yang ‘lucu’ itu dalam sebuah dialog jawa campur humor….. Sedikit analog dengan masalah ini adalah saya kira seperti kisah sutradara serial TV/ pengajar di IKJ Tatiek Maliyati istri dari Wahyu Sihombing… yang mengisahkan keponakan2nya memanggil Wahyu bukan dengan “tulang” SIhombing … tapi lebih memanggilnya dengan “pakde Hombing” suatu tanda rasa sayang/ persaudaraan yang secara batin lekat sekali… karena Wahyu Sihombing sendiri telah membaur sedemikian rupa pada budaya istrinya serta keluarga besarnya yg orang jawa dan medok itu………. Satu hal saya mohon kemilisters semuanya….. berhubung ini adalah milis gratisan…. Maka seyogyanya utk hal2 yg gratisan mohon agar dapat sedikit tolerating utk2 hal2 yang kurang berkenan…. Ingat anekdote penumpang dan pengemudi becak asal Madura.. dimana ketika sampai ditempat sipenumpang marah2 karena siabang becak mengemudi dengan kecepatan tinggi dan zig zag segala yg mendebarkan jantung…. maka siabang becak menjawab kalem…. Sampeyan itu sudah mbayarnya sedikit kok maunya enak dan slamet….. Salam hormat saya dan rindu dialog jowo lagi ke rekan Cak Bawole dan salam utk semuanya, aby Re: [referensi] Re: Cak Bawole Re: Street Vendors Tuesday, November 18, 2008 11:18 PM From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Mohon posting pendapat dilakukan dalam Bahasa Indonesia yang tak dicampur dengan bahasa daerah. Tidak semua peserta milist ini merupakan orang yang mampu memahami perbincangan dengan bahasa daerah. Terima kasih. Salam, Fadjar - Undip
Re: [referensi] Re: Cak Bawole Re: Street Vendors Wednesday, November 19, 2008 8:12 AM From: "Djarot Purbadi" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Eyang ABY ini gencar kampanye tentang Morotai tetapi manggil Bung Bawole pakai CAK, kan aneh... mosok namanya BAWOLE sudah aneh kok masih diformat dengan perspektif Jawanisme... dikira orang Jawatimuran. ... mosok sih ada orang Jawa Timur yang namanya Bawole..... Panggil DAENG atau apalah...yang ada di Morotai....biar lebih pas..... orangnya memang lucu... kayak Rhoma Irama begitu..heheheee. .. perepektifnya yang konsisten gitu lhoh Eyang.... masak Jawa deles banget..... mengindo nesia-lah. ..... atau BLI seperti orang Bali yang memanggil temannya.... Salam, Djarot Purbadi --- On Wed, 11/19/08, paulus bawole <paulus_bawole@ yahoo.com> wrote: From: paulus bawole <paulus_bawole@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Re: Cak Bawole Re: Sreet Vendors To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Wednesday, November 19, 2008, 12:30 PM Eyang Aby dan rekan-rekan yang baik, Ya pancen awakku iki rodok ngawur respone, wong uthek yo mek pas-pasan je. Maksud saya bukan mau melegalkan fenomena informal yang ada di tengah kota seperti pemukiman informal…………:

