Mas BTS, milister ysh,

He he he maap maap ternyata mas BTS serious tentang ayam dan telornya. Saya 
jadi ingat dulu di Rabba-Bima sekitar tahun 1985. Airportnya masih bersatu 
dengan ladang garam dan pesawat yang mendarat jenisnya Twin Otter pakai baling2 
dengan kursi 8 orang.  Sekarang pasti sudah besar. Tapi alamnya benar2 indah.

Saya setuju sekali dengan teori ayam dan telornya mas BTS untuk kasus Bima ini.

Saya ada cerita yang serupa tapi dengan hasil yang berbeda. Tidak usah jauh2 
ini adalah pengalaman di DIY. Pada tahun 2002 saya ditugaskan membuat 
Adisucipto sebagai internasional airport. Maka harus ada penerbangan dari luar 
negeri. Maka di-approachlah 3 maskapai, yaitu Garuda, MAS (Malaysia Air 
Service) dan Air Asia. Mereka ternyata mengemukakan respon yang berbeda.

MAS dan Air Asia langsung setuju dan mereka membangun kantor di Jogja. Tetapi 
Departemen Perhubungan menahan dulu sampai Garuda sudah berjalan baik (ini 
semangat nasionalisma lhooo). 

Garuda sebaliknya, mereka mengatakan karena ini route baru maka harus ada 
jaminan load factor tersebut. Garuda meminta 60% load factor dipenuhi. Untuk 
itu dia minta agar pemprop yang menjaminnya. Pemprop setuju dan ditawarkan ke 
agent wisata dan pengusaha perjalanan TKI untuk memanfaatkan itu. Pemprop 
memberikan jaminan kredit kepada kedua kelompok itu agar bisa mengisi kursi. 
Untuk kredit tersebut Pemprop memerintahkan BPD memberikan bantuan kredit.

Pertimbangannya, bila itu dipakai sendiri pegawai pemda bisa-bisa PNS DIY 
kluyuran terus ke Singapura dan Kuala Lumpur.

Masalah muncul, ternyata :

1. Jadwal keberangkatan dan tiba pesawat merugikan bagi pengusaha wisata. 
Sehingga tidak bisa secara maksimal menggunakan fasilitas tersebut. Artinya, 
penumpang dari sektor ini terbatas sekali.
2. BPD ternyata sukar sekali memberikan kredit bagi pengusaha jasa TKI karena 
ternyata TKI yang datang didominasi dari luar DIY. Akibatnya pengusahaan ini 
hanya bisa berjalan 5 kali.

Dengan kondisi tersebut maka Garuda akhirnya menutup jalur tersebut setelah 
berjalan 2 tahun.

Sekarang setelah menunggu sekitar 1 tahun akhirnya MAS dan Air Asia sudah 
diijinkan menerbangi Kuala Lumpur Jogja..... dan mereka ternyata load factornya 
terpenuhi bahkan semula 3 x seminggu menjadi tiap hari.

Pelajaran disini adalah bahwa ternyata break through kalau nanggung-nanggung 
akan menciptakan hasil yang mengecewakan. Sekali melakukan, lakukan dengan 
jelas dan tegas.

Salam

bSP

Kirim email ke