dari teman

 Salam
Aunur Rofiq


----- Original Message ----
From: Kahlil Rowter <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, November 22, 2008 11:47:51 PM
Subject: Re: [spartan-id] Krisis global

Pak Rofiq, Pak Setyanto, dkk.,

Benar sekali. Ekonomi dunia saat ini sedang melambat. Dimulai dari
negara2 maju. Karena itu demand komoditas turun tajam. Contoh yang
paling nyata adalah minyak mentah yang harganya sekarang di bawah
USD50. Padahal baru kuartal 2 tahun ini harganya sempat ke USD140.
Penyebab harga komoditas tadinya begitu tinggi adalah spekulasi,
khususnya dari hedge funds yang memindahkan dana dalam jumlah besar ke
komoditas dari mortgage papers. Tetapi seiring mulai bermasalahnya
mortgage market ini mulai terjadi redemption pada hedge funds ini.
Jadi mereka kabur dari komoditas dan berakibat harganya anjlok seperti
sekarang. Komoditas selain minyak juga terkena dampaknya.

Perlu pula diingat pada saat harga komoditas menggila banyak sekali
dilakukan investasi di sektor ini. Akibatnya pada saat demand turun
oversupply ikut menekan harganya ke bawah.

Memang siklus demand-supply ini sangat fluktuatif dan tidak ada sama
sekali peran pemerintah untuk melakukan smoothing.

Saat ini dunia memasuki periode yang sangat unik karena pecahnya
bubble housing di AS terjadi sekaligus dengan pecahnya bubble credit
derivative, bubble spekulasi komoditas. Pecahnya bubble credit
derivative berakibat terjadinya credit crunch (berhentinya pasar surat
utang) yang berbuntut resesi. Bahkan saking besarnya efek credit
crunch ini bisa2 AS, Eropa & Jepang memasuki depresi dan dapat
berujung pada deflasi berkepanjangan. Sekaligus dengan ini terhentinya
arus dana dari negara maju ke negara berkembang berdampak sangat
besar. Salah satu gejalanya adalah penarikan dana dari pasar modal
negara berkembang. Dan untuk kita ini yang pada awalnya menurunkan
Rupiah. Sekarang kepanikan bisa dikatakan sudah menjalar dan banyak
penarikan Rupiah dan penukaran ke USD sedang terjadi. Mudah2an tidak
sangat parah. Tetapi harus diakui kepercayaan pada pasar keuangan
Indonesia sedang merosot. Beberapa tindakan BI dan pemerintah belum
terlihat mengatasi tetapi hanya mengurangi terjadinya hal ini.

Mengenai apa yang dapat dilakukan pasar keuangan untuk sektor riil
saya duga sulit diharapkan. Karena episentrum gempa ini justru di
pasar keuangan. Yang seharusnya dilakukan adalah mengusahakan efeknya
tidak menjalar ke sektor riil. Tetapi ini sulit karena 1. Mayoritas
pemain di sektor riil juga memiliki eksposur di sektor keuangan; 2.
Sumber dana di sektor riil berasal dari sektor keuangan. Dan ini
sedang berkurang (kalau tidak mau dikatakan penyaluran kredit umumnya
stop); 3. Kepercayaan investor di sektor riil mau tidak mau
terpengaruh apa yang terjadi di sektor keuangan; 4. Fokus pemerintah
saat ini di sektor keuangan.

Apa yang dapat dilakukan? Pada saat bleeding, hal pertama yang harus
dilakukan adalah isolasi luka (tourniquet). Kedua upaya pemulihan
kesehatan. Untuk sektor keuangan hal ini sudah lumayan berkembangan
dengan berbagai kebijakan dari BI dan pemerintah. Contoh terakhir
adalah kasus Bank Century. Untuk sektor riil belum terlihat secara
nyata. Hanya ada beberapa upaya penyelesaian masalah trade financing
(yang masih terkait perbankan) dan mungkin juga masalah THC di Priok.
Lainnya masih kita tunggu.

Sekian dulu Pak.



2008/11/22 setyanto ps <[EMAIL PROTECTED]>:
> Kalau saya diijinkan sharing the views: Saat krisis 1998 negara2
> pengimport barang2/komoditi kita tidak mengalami krisis sehingga mereka
> dapat meneruskan membeli barang2 kita bahkan dengan harga yang lebih murah
> karena mata uang mereka lebih kuat, sehingga permintaan ekspor pun
> meningkat, terutama perkebunan di luar Jawa. Sedangkan krisis kali ini
> diawali dari kebangkrutan ekonomi mereka, sehingga terasa kepada ekonomi
> kita walaupun harganya murah tapi tidak ada yang membeli komodititi kita
> maka lambat laun akan berakibat kepada perekonomian kita.... Silahkan pak
> Kahlil diteruskan....
>
> sps
> +++
>
> On Sat, November 22, 2008 20:40, Aunur rofiq wrote:
>> Bung Khalil dan temans
>> Mungkin pertanyaan ini agak terlambat dan "telmi" menyangkut masa depan
>> ekonomi kita, saya sedang cemas karena dari perjalanan ke daerah-daerah
>> perkebunan yang waktu krisis tahun 1998 sangat diuntungkan, saat ini
>> kondisinya benar-benar terpuruk (sawit saat ini harganya hanya Rp 150/kg,
>> Vanili yang dulunya diatas 1 juta/kg sekarang hanya 40 ribu/kg). Meskipun
>> dolar naik ternyata harga hasil perkebunan malah turun....saya tidak bisa
>> memahami karena harga sudah sangat tidak wajar........ Pada tatanan
>> ekonomi riil seperti itu, bagaimana kondisi pasar finansial kita bisa
>> menolong kondisi perkebunan ini ya...? apa hasil G20 bisa menolong kondisi
>> ini ya...?
>> wah ini pertanyaan mungkin susah dijawab tapi pengennya ada diskusi
>> tentang itu di milist ini supaya nggak sepi
>>
>>
>> Salam
>> Aunur Rofiq
>>
>>
>>
>
> 



-- 

Regards, Kahlil

------------------------------------


/* Michigan State University Indonesian Alumni Association */Yahoo! Groups Links




      

------------------------------------


/* Michigan State University Indonesian Alumni Association */Yahoo! Groups Links




      

Kirim email ke