Ysh Bung Aunur dan milister semua. Menurut saya krisis global nggak usah dikait-kaitkan dengan pengembangan wilayah. Pengembangan wilayah itu adalah kebijakan yang dampaknya akan terasa dalam jangka panjang, sementara itu krisis global ini perlu solusi yang cepat. Jadi tetap saja langkahnya adalah moneter dan fiskal, bukan spasial. Thanks. CU. BTS.
--- On Sun, 11/23/08, Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] Fw: [spartan-id] Krisis global To: [email protected] Date: Sunday, November 23, 2008, 3:04 PM Milisters ysh, boleh ya bergeser dikit ke krisis global, karena pengembangan wilayah tidak mungkin dilakukan jika ekonomi kita mulai terseok-seok seperti sekarang ini. Barangkali ada yang ingin memberikan saran bagi daerah untuk bisa bertahan, sedangkan apa yang bisa dilakukan pemerintah saya forward dari milist sebelah. Salam Aunur Rofiq ----- Forwarded Message ---- From: Pos hutabarat <poshutabarat@ yahoo.com> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com Sent: Sunday, November 23, 2008 9:18:18 PM Subject: Re: [spartan-id] Krisis global Sebenarnya pemerintah sudah melakukan kebijakan yang lumayan di sektor financial, tetapi sektor riil belum dan masih kita tunggum karena menteri-menter yang menangani sektor riil berasal dari partai, bukan teknokrat. 1. Ekspor sudah menurun, terutama komoditi, elektronik dan tekstil. Ini semuanya labor intensif sehingga mulai gelombang PHK 2. Rupiah terdepresiasi tajam, karena banyak statement yang ngacau, disuruhlah untuk menjual dollar (padahal valuta asing sudah menjadi salah satu investasi). Mestinya pejabat yg berwenang dalam bidang moneter mengerti pasar (transaksi valuta asing sudah 250 kali lebih besar dari transaksi ekspor/impor) 3. Cadangan devisa sudah menipis, tinggal US$ 50 milyar, sangat kritis untuk negara sebesar Indonesia 4. Bursa saham sudah anjlok dan kepercayaan masyarakat sudah sangat tipis terhadap pasar modal di Indonesia Yang perlu dilakukan pemerintah sekarang adalah: 1. Segera membenahi sektor riil (menurunkan harga solar, premium dengan siknifican 2. Menurunkan suku bunga 3. Memotong pajak 4. Memperbaiki peraturan di bursa saham 5. Statement pemerintah harus konsisten dan janga terlihat ada perpecahan Thanks Pos H --- On Sun, 11/23/08, [EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: [EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [spartan-id] Krisis global To: "Spartan" <[EMAIL PROTECTED] ups.com> Date: Sunday, November 23, 2008, 6:23 AM Pak Rofiq benar kalau prosesnya dibiarkan alami. Tetapi pemerintah bukannya bisa membelokkan arah ini? --- Regards, Kahlil From: Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> Date: Sat, 22 Nov 2008 17:39:22 -0800 (PST) To: <[EMAIL PROTECTED] ups.com> Subject: Re: [spartan-id] Krisis global thanks pak khalil dan pak setyanto, rupanya sektor riil harus bersabar dulu ya nunggu kesembuhan sektor keuangan? Salam Aunur Rofiq ----- Original Message ---- From: Kahlil Rowter <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com Sent: Saturday, November 22, 2008 11:47:51 PM Subject: Re: [spartan-id] Krisis global Pak Rofiq, Pak Setyanto, dkk., Benar sekali. Ekonomi dunia saat ini sedang melambat. Dimulai dari negara2 maju. Karena itu demand komoditas turun tajam. Contoh yang paling nyata adalah minyak mentah yang harganya sekarang di bawah USD50. Padahal baru kuartal 2 tahun ini harganya sempat ke USD140. Penyebab harga komoditas tadinya begitu tinggi adalah spekulasi, khususnya dari hedge funds yang memindahkan dana dalam jumlah besar ke komoditas dari mortgage papers. Tetapi seiring mulai bermasalahnya mortgage market ini mulai terjadi redemption pada hedge funds ini. Jadi mereka kabur dari komoditas dan berakibat harganya anjlok seperti sekarang. Komoditas selain minyak juga terkena dampaknya. Perlu pula diingat pada saat harga komoditas menggila banyak sekali dilakukan investasi di sektor ini. Akibatnya pada saat demand turun oversupply ikut menekan harganya ke bawah. Memang siklus demand-supply ini sangat fluktuatif dan tidak ada sama sekali peran pemerintah untuk melakukan smoothing. Saat ini dunia memasuki periode yang sangat unik karena pecahnya bubble housing di AS terjadi sekaligus dengan pecahnya bubble credit derivative, bubble spekulasi komoditas. Pecahnya bubble credit derivative berakibat terjadinya credit crunch (berhentinya pasar surat utang) yang berbuntut resesi. Bahkan saking besarnya efek credit crunch ini bisa2 AS, Eropa & Jepang memasuki depresi dan dapat berujung pada deflasi berkepanjangan. Sekaligus dengan ini terhentinya arus dana dari negara maju ke negara berkembang berdampak sangat besar. Salah satu gejalanya adalah penarikan dana dari pasar modal negara berkembang. Dan untuk kita ini yang pada awalnya menurunkan Rupiah. Sekarang kepanikan bisa dikatakan sudah menjalar dan banyak penarikan Rupiah dan penukaran ke USD sedang terjadi. Mudah2an tidak sangat parah. Tetapi harus diakui kepercayaan pada pasar keuangan Indonesia sedang merosot. Beberapa tindakan BI dan pemerintah belum terlihat mengatasi tetapi hanya mengurangi terjadinya hal ini. Mengenai apa yang dapat dilakukan pasar keuangan untuk sektor riil saya duga sulit diharapkan. Karena episentrum gempa ini justru di pasar keuangan. Yang seharusnya dilakukan adalah mengusahakan efeknya tidak menjalar ke sektor riil. Tetapi ini sulit karena 1. Mayoritas pemain di sektor riil juga memiliki eksposur di sektor keuangan; 2. Sumber dana di sektor riil berasal dari sektor keuangan. Dan ini sedang berkurang (kalau tidak mau dikatakan penyaluran kredit umumnya stop); 3. Kepercayaan investor di sektor riil mau tidak mau terpengaruh apa yang terjadi di sektor keuangan; 4. Fokus pemerintah saat ini di sektor keuangan. Apa yang dapat dilakukan? Pada saat bleeding, hal pertama yang harus dilakukan adalah isolasi luka (tourniquet) . Kedua upaya pemulihan kesehatan. Untuk sektor keuangan hal ini sudah lumayan berkembangan dengan berbagai kebijakan dari BI dan pemerintah. Contoh terakhir adalah kasus Bank Century. Untuk sektor riil belum terlihat secara nyata. Hanya ada beberapa upaya penyelesaian masalah trade financing (yang masih terkait perbankan) dan mungkin juga masalah THC di Priok. Lainnya masih kita tunggu. Sekian dulu Pak. 2008/11/22 setyanto ps <[EMAIL PROTECTED] net.id>: > Kalau saya diijinkan sharing the views: Saat krisis 1998 negara2 > pengimport barang2/komoditi kita tidak mengalami krisis sehingga mereka > dapat meneruskan membeli barang2 kita bahkan dengan harga yang lebih murah > karena mata uang mereka lebih kuat, sehingga permintaan ekspor pun > meningkat, terutama perkebunan di luar Jawa. Sedangkan krisis kali ini > diawali dari kebangkrutan ekonomi mereka, sehingga terasa kepada ekonomi > kita walaupun harganya murah tapi tidak ada yang membeli komodititi kita > maka lambat laun akan berakibat kepada perekonomian kita.... Silahkan pak > Kahlil diteruskan.. .. > > sps > +++ > > On Sat, November 22, 2008 20:40, Aunur rofiq wrote: >> Bung Khalil dan temans >> Mungkin pertanyaan ini agak terlambat dan "telmi" menyangkut masa depan >> ekonomi kita, saya sedang cemas karena dari perjalanan ke daerah-daerah >> perkebunan yang waktu krisis tahun 1998 sangat diuntungkan, saat ini >> kondisinya benar-benar terpuruk (sawit saat ini harganya hanya Rp 150/kg, >> Vanili yang dulunya diatas 1 juta/kg sekarang hanya 40 ribu/kg). Meskipun >> dolar naik ternyata harga hasil perkebunan malah turun....saya tidak bisa >> memahami karena harga sudah sangat tidak wajar....... . Pada tatanan >> ekonomi riil seperti itu, bagaimana kondisi pasar finansial kita bisa >> menolong kondisi perkebunan ini ya...? apa hasil G20 bisa menolong kondisi >> ini ya...? >> wah ini pertanyaan mungkin susah dijawab tapi pengennya ada diskusi >> tentang itu di milist ini supaya nggak sepi >> >> >> Salam >> Aunur Rofiq >> >> >> > > -- Regards, Kahlil ------------ --------- --------- ------ /* Michigan State University Indonesian Alumni Association */Yahoo! Groups Links

