Halo Dwiagus. Mengukur Liveable City Index (LCI) itu memang penting dan perlu. Tapi kita sering terjebak pada pemikiran yang sok akademis, sok rumit, ..padahal yang disebut akademis itu yang sulit jadi gampang, bukan sebaliknya. Juga dalam mengukur LCI ini, idenya ada 37 variabel. Wah trus gimana ngukurnya? Paling-paling nantinya pakai model scoring dan pembobotan lagi. Padahal kita tahu khan kalau metode scoring dan pembobotan itu variabel-variabelnya harus independen, lha yang 37 variabel itu sebagian besar saling dependen. Saran saya pakai Analisis Faktor dulu sehingga bisa terkelompok menjadi 2 kelompok variabel yang independen, baru kemudian diperoleh klasifikasi LCI. Cuman sayang, penggunaan Analisis Faktor tidak menghasilkan pemeringkatan (ranking : i, 2, 3, 4...) LCI, tetapi hanya klasifikasi LCI dalam 4 kuadran saja. Cara kuadranisasi ini lebih sederhana dan lebih akurat daripada scoring dan pembobotan yang menghasilkan ranking.... tapi bisa misleading (karena salah metode). Bukankah begitu? Thanks. CU. BTS.
--- On Wed, 12/17/08, Benedictus Dwiagus S. <[email protected]> wrote: From: Benedictus Dwiagus S. <[email protected]> Subject: [referensi] Liveable City Index [Oleh-oleh dari IAP : Simposium Nasional, Metropolitan Indonesia] To: [email protected], [email protected], [email protected] Cc: [email protected] Date: Wednesday, December 17, 2008, 11:13 AM Dear Rekans Sudah ada yang memperhatikan hasil symposium nasional IAP (Ikatan Ahli Perencana) di Medan beberapa waktu lalu? Berikut saya lampirkan di bawah email ini. Maaf, kalau udah dapat Menarik juga ya, dari symposium tersebut keluar variable dan kriteria untuk livable city index. Saya penasaran sebenarnya, dari ke 8 variable dan35 kriteria tersebut, disebutkan akan diturunkan menjadi indikator dalam bentuk kuesioner. Berikut: 1. Fisik Kota : Tata ruang, arsitektur, RTH, ciri dan karakter budaya lokal 2. Kualitas Lingkungan : kebersihan kota dan tingkat pencemaran. 3. Transportasi- Aksesibilitas : angkutan umum, kualitas jalan, waktu tempuh ke tempat aktivtas, pedestrian 4. Fasilitas : Fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan, rekreasi, taman kota. 5. Utilitas : Air bersih, listrik, telekomunikasi 6. Ekonomi : tingkat pendapatan, biaya hidup, ramah investasi 7. Sosial : Ruang publik, ruang kreatif, interaksi sosial, kriminalitas, tingkat kesetaraan warga kota, partisipasi warga, dukungan terhadap orang tua, penyandang cacat, dan wanita hamil. 8. Birokrasi dan Pemerintahan : Leadership yang kuat, dukungan kebijakan, kepastian hukum, akuntabilitas pemerintah, tingkat penerapan rencana kota, dukungan program pembangunan, dukungan pembiayaan Kalau dibilang dalam laporan IAP itu, … “Indikator dalam bentuk kuesioner?” Apakah itu artinya indikator untuk penyusunan indeks ini akan dihasilkan dari kuesioner. Atau indikatornya akan disusun dulu baru nanti di kirim ke responden ? Respondennya ini sample penduduk kota itu atau pemdanya ya ? Kalau indikator ini sudah tersusun saya mau dong intip-intip,… apa data-data untuk menggambarkan indikator itu data mengenai persepsi pendudk/pemda, .. atau data kuantitatif, juga ya ?… Sebenarnya kalau sudah didapat indeks ini,….. bisa menjadi acuan membuat SPM Pembangunan Kota nih,….. Sehingga bisa menjadi dasar bagi monitoring dan evaluasi kinerja pembangunan kota,… Lantas dibuat sistem informasi /data collecting yang bisa menjawab kinerja berdasarkan SPM tersebut,… Jadi index ini diintegrasikan kedalam sistem evaluasi kinerja pembangunan daerah,… dan tidak menjadi kegiatan survey musiman, …. tapi sudah masuk dalam sistem,…. atau sudah ada SPM untuk Pembangunan Kota ya?? bedanya indeks Liveable City ini dengan indeks yang digunakan untuk Kota Adipura apa yah kira ? Lebih complexhensive (complex tapi comprehensive) ya,…. ? Kalau di sektor kesehatan dan pendidikan,….. Sudah terbentuk SPM yang sangat memabntu,.. jadi ketika kita ingin melihat kinerjanya, tinggal mengacu ke SPM itu,….. Dan kalau sudah ada SPM, tinggal sistem informasi/data berdasarkan SPM itu yang dikembangkan,…. Kalau di sektorkesehatan,….. kalau ingin bicara kinerja sudah jelas patokannya, misalnya, angka kematian ibu, angka kematian bayi, gizi buruk, dll Maaf, saya jadi keliatan meracau. Akhir kata,….. Ditunggu dengan penuh harap Indeks ini… Salam dwiagus ---------hasil symposium nasional itu--------- --------- --------- --------- --------- --------- ----- http://www.iap. or.id/detail_ brt.asp?id= 48 Tanggal : 4 Desember 2008 WIB Judul : Simposium Nasional : Masa Depan Kota Metropolitan Indonesia Sumber : Panitia Pada tanggal 4 Desember 2008, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) bekerjasama dengan Balitbang Kota Medan menggelar symposium nasional dengan tema : Masa Depan Kota Metropolitan di Indonesia. Pada acara ini juga dihasilkan suatu rumusan kriteria Liveable Cities yang akan dijadikan bahan dasar bagi penyelenggaraan Most Liveable City Index yang akan diselenggarakan oleh IAP pada pertengahan tahun 2009. Kegiatan Simposium ini dihadiri oleh 80 orang peserta dari berbagai institusi perencanaan nasional yang meliputi pemerintah kota Medan, pemerintah propinsi sumatera utara, dinas tata kota dan bappeda di beberapa kota metropolitan, REI, IAI, URDI, perwakilan institusi pendidikan serta beberapa pengurus daerah IAP. Pembukaan symposium dilakukan oleh Pejabat Walikota Medan Yaitu Drs. Afifuddin Lubis, M.Si, yang menekankan pada pentingnya kualitas lingkungan perkotaan untuk menunjang kualitas hidup yang sehat dan berkualitas dan harapannya untuk menjadikan Kota Medan sebagai Kota Metropolitan yang nyaman. Keynote Speech di berikan oleh Ir. Bambang Guritno, MBA, Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum yang memaparkan tantangan perkembangan perkotaan secara nasional yang harus disikapi oleh semua pihak dengan cermat untuk mewujudkan suatu keseimbangan antara pembangunan fisik dan ekonomi disatu sisi dengan kelestarian lingkungan dan kenyamanan hunian pada sisi yang lain. Sesi diskusi panel I diisi oleh pemaparan dari Ir.Iman Soedradjat, MPM (Ketua Umum IAP), Dra. Indah Suksmaningsih, MPM (Ketua Umum YLKI) dan Ir.Wicaksono Sarosa, PhD dari URDI. Iman Soedradjat mengatakan bahwa di tahun 2008, secara global jumlah penduduk kawasan perkotaan sudah melebihi jumlah penduduk yang tinggal di kawasan rural. Kondisi ini menyebabkan terjadinya urban paradox : Pada satu sisi kota sebagai kekuatan ekonomi tetapi pada sisi lain kota juga menjadi pusat kemiskinan dan kekumuhan. Kebijakan yang ada sekarang meskipun secara konseptual sudah cukup baik tetapi pada tataran praksis masih belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pada gap antara kesenjangan antara konsep dan praksis inilah diharapkan planner dan asosiasi profesi (IAP) dapat memberikan kontribusinya dan professional responsibility untuk mewujudkan harmonisasi perkembangan kota melalui : keseimbangan dan keselarasan antar elemen-elemen perkotaan, kebijakan penataan ruang yang kondusif bagi sektor informal, menjaga keunikan identitas kota serta peningkatan keterlibatan masyarakat kota. Indah Suksmaningsih menekankan perlu adanya suatu kesetaraan antara penyelenggara pemerintahan dan seluruh lapisan masyarakat kota dalam mewujudkan lingkungan kota yang berkualitas. Perlu adanya fasilitasi terhadap para penyandang cacat, wanita hamil dan orang tua serta dari sisi kelembagaan perlu adanya akuntabilitas dari penyelenggara pembangunan dan di sisi lain kepatuhan terhadap hukum dari sisi konsumen/ masyarakat. Wicaksono Sarosa memaparkan bahwa adanya harga yang harus dibayar untuk menciptakan kenyamanan hidup. Paradox yang terjadi etika dikawasan perumahan mewah yang sangat nyaman dibandingkan dengan fasilitas publik yang buruk menjadi bukti bahwa ada aktor biaya yang bermain. Oleh karena itu Wicaksono menekankan perlu adanya dukungan anggaran pemerintah untuk mewujudkan kota yang Liveable. Wicaksono juga menekankan faktor leadership, kretaivitas dan fungsu waktu sebagai solusi untuk mewujudkan kota yang nyaman. Pada Sesi II, diskusi panel menghadirkan Ir. Hari Ganie, MM (DPP REI), Djodi Trisusanto, MBA (Jones Lang La Salle, international property consultant ) dan Dr.Icwan Azhari seorang Sejarawan Kota Medan. Hari Ganie memberikan sebuah perspektif developer dalam mewujudkan lingkungan yang liveable. Kata kunci nya adalah kompetitiveness, daya saing dan kreativitas. Bahwa kota-kota sekarang bersaing secara global untuk menarik investasi dan kaum terdidik. kota-kota metropolitan di indonesia tidak hanya bersaing secara nasional, tetapi secara regional dan global, contohnya dengan Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Hanoi. Kesadaran mengenai iklim kompetisi ini penting untuk memberikan dorongan dan kreativitas dalam rangka meningkatkan daya saing kota. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah : Infrastruktur, fasiltitas dan pengembangan lingkungan hunian, sustainable transportation, high cost economy dari birokrasi, kualitas SDM yang berpendidikan. Djodi Trisusanto dari JLL memberikan gambaran pola pikir dari internasional real estate investor dalam melihat perkembangan suatu kota. Djodi memaparkan adanya 3 elemen penting yang mempengaruhi perkembangan real estate kota, yaitu : Consumer group (individual & Institution) , Space Producer (Architect, Planners, Developers) dan public yang semuanya mempunyai harapan yang sama akan tingkat kualitas lingkungan perkotaan. Faktor yang diharapkan oleh ketiga elemen tersebut adalah : Kepastian kepemilikan lahan, kemudahan proses perijinan, ketersediaan infrastruktur, kepastian rencana pembangunan kota, keamanan, tingkat transparansi bisns, tingkat korupsi yang rendah, akses terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan yang berkualitas, ketersediaan fasilitas rekreasi dan budaya, dan kualitas lingkungan udara, polusi. Sedangkan Dr. Ichwan Azhari menekankan perlunya sebuah kota yang berkarakter dan memiliki penghargaan terhadap budaya lokal dan tetap mempertahankan ciri khas lokal. Acara simposium ditutup dengan perumusan kriteria Liveable Cities yang terdiri dari 8 Variabel dan 35 kriteria sebagai berikut : 1. Fisik Kota : Tata ruang, arsitektur, RTH, ciri dan karakter budaya lokal 2. Kualitas Lingkungan : kebersihan kota dan tingkat pencemaran. 3. Transportasi- Aksesibilitas : angkutan umum, kualitas jalan, waktu tempuh ke tempat aktivtas, pedestrian 4. Fasilitas : Fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan, rekreasi, taman kota. 5. Utilitas : Air bersih, listrik, telekomunikasi 6. Ekonomi : tingkat pendapatan, biaya hidup, ramah investasi 7. Sosial : Ruang publik, ruang kreatif, interaksi sosial, kriminalitas, tingkat kesetaraan warga kota, partisipasi warga, dukungan terhadap orang tua, penyandang cacat, dan wanita hamil. 8. Birokrasi dan Pemerintahan : Leadership yang kuat, dukungan kebijakan, kepastian hukum, akuntabilitas pemerintah, tingkat penerapan rencana kota, dukungan program pembangunan, dukungan pembiayaan Selanjutnya variabel dan kriteria ini akan diturunkan menjadi indikator dalam bentuk kuestioner yang akan dibagiakan kepada para responden di 15 Kota Metropolitan di Indonesia. Penyusunan kuestioner akan dilakukan pada Bulan Januari 2009, survei akan dilakukan pada bulan Maret dan April 2009, dan pada Bulan Juli 2009 sudah dihasilkan Indonesia Most Liveable City Index. ------------ --------- --------- ----end of quote ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -- Best Regards, Benedictus Dwiagus S. http://bdwiagus. blogspot. com http://bdwiagus. multiply. com "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White :::... Indo-MONEV ...::: Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on monitoring and evaluation and other related development issues including development aid works, particularly in Indonesia. Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com

