Kasihan Indonesia…….
Kalau kita sudah dipastikan (artinya nyaris putus asa)  tak bisa membuat 
apa-apa pada versi serius dan hitech dari bidang apa saja…. biasanya muncul 
versi parodianya yang mentertawakan diri sendiri sekaligus untuk penghibur hati 
melupakan kekecewaan……. 
Barangkali ini semua didasari oleh budaya semboyan2 seperti ‘hidup tidak usah 
ngoyo’…. Atau ‘tertawa itu sehat’….. atau ‘Gitu Aja Kok Repot’ dan semacamnya…. 
yang mungkin saja itu terlintas juga dipikiran Balitbang kotanya Cak Andri 
ketika ide membuat indeks Liveable City itu mula2 dimunculkan……
Kalau ada satu asosiasi kontan menyambut ….. barangkali juga  ada pula didasari 
semboyan ‘akh daripada kelihatannya nggak punya kegiatan apa-apa atau hasil 
apa-apa yg heboh’…….
Sebagai sekedar penonton luar pagar dunia planologi…. tentu saya tidak banyak 
mengerti apa-apa yang dikerjakan dan terjadi didalamnya….. 
 
Kalau saya tak salah….. ide tentang membuat kompetisi  tahunan world’s most 
liveable city oleh berbagai lembaga-lembaga  dunia…. dimaksudkan antara lain 
pada satu sisi… agar ia dapat menjadi alat tambahan panduan bagi berbagai 
perusahaan2 internasional menilai di-negara2 mana atau di-kota2 mana sebaiknya 
cabang kantor baru atau pabrik baru akan didirikan…. Termasuk merekapun dapat 
menilai tentang  perkiraan pasaran upah buruh domestiknya….
Disisi lain ini dapat pula memacu kota2 dunia itu untuk terus berkompetisi 
meningkatkan mutu kotanya.. agar peringkatnya ditahun depan dapat bergeser 
ketempat lebih tinggi…. Yang walhasil itu semua akhirnya akan  meningkatkan 
kenyamanan penduduk kota2 didunia juga…….
Hanya yang rada sontoloyo  (tapi wajar dan apa boleh buat)… …. dari berbagai 
komentar pengantar tentang world’s surveys itu…. Kurang asem…. Jakarta selalu 
termasuk menjadi ‘langganan’ disebut2 bersama dengan bbrp kota lain seperti 
Lagos, Rio de Janeiro atau Beirut sebagai  menjadi contoh tentang kota2 yang 
diledek sebagai belum ideal utk menjadi peserta lomba peringkat ideal most 
liveable city itu…...
 
Yang sedih khan sekarang kita (hehe.. emangnya yang namanya ‘kita’ itu siapa ya 
mas Djarot dan mas Ongko W?.. bukankah ada ‘eksklusivitas’ ya?)  bukannya 
bekerja lebih keras….. bukannya bersikap lebih terbuka dan siap ‘berubah’ … 
bukannya bersikap lebih demokratis dsb….. tapi malah membuat seperti semacam 
parodi saja….. 
Padahal dana pengembangan infrastruktur kota juga payah…. Atau walikota2 utk 
sekedar turun kejalan mengontrol kebersihan tepi jalan saja seperti mengontrol 
kotak2 lusuh meja dagangan kakilima yg jualannya dimalam hari dan siangnya 
dibiarkan tergeletak jorok dipinggir pagar…. atau tak adanya papan nama jalan 
hampir disemua sudut kota seperti Bekasi misalnya… itu juga  tak membuat 
beberapa walikota risih……..
 
Dalam rangka memasyarakatkan budaya ‘perlunya pengembangan ‘sistem nasional’ 
dan ‘perlunya menambah jumlah’ kota2…. Dimana arus urbanisasi kita yang kini 
berada pada proporsi 50%.... dan terus bergerak dahsyat akan  menuju  keangka 
80%.....sambil angka pengangguran kita 10 juta TK (10%) dimana utk itu 
diperlukan perluasan sebaran kota2 industri … seperti perlunya ‘filialisasi 
(fasilitas produksi ditempat jauh) utk industri2 nasional memimpin …..agar 
daerah juga ‘menggeliat bangkit’….  Itu saja pun banyak telinga seperti 
tersumbat kecoak…. Tak mau dengar… atau setengahnya juga tak mengerti atau tak 
paham…. Karena pikirannya sehari2 bukan pada dunia industri dan kewiraswastaan 
sebagai lokomotip ekonomi dan kesempatan kerja… karena mitos bahwa “perencanaan 
adalah fisik”…….. eeh sekarang mendadak mau bikin peringkatan liveable city 
pula …. Lah… Opo ora hebat?.........
 
Kalau kompetisi liveable city index kelas dunia dimana New York ditetapkan 
sebagai berada pada angka 100 dan lainnya ‘dipersilahkan berpacu lebih tinggi 
lagi’…. yang semacam  itu saya pikir bisa dimengerti…… ‘peserta’nya adalah 
memang sudah macan2 kota dan industri dunia….. itupun terbanyak dari negeri2 
maju dan kaya yang tentu proses urbanisasinya sudah selesai……. Dan hasil birth 
controlnyapun sudah baik pula…. Sehingga kota2 dunia negeri maju  yang berlomba 
itu  tidak lagi dirisaukan oleh serbuan arus orang miskin dari desa yang tak 
semuanya siap dan mau ‘berbudaya kota’……. Tak lagi dirisaukan oleh pembangunan 
infrastruktur dasar kota dsb….  Sehingga jelas bahwa kota2 dunia itu hanya 
perlu saling adu kecerdasan dan kreativitas tingkat tinggi saja … karena SDM 
hebat dan uangnya pun ada….. lha kita?........ apa ini bukannya ibarat 
dikawasan terserang busung lapar bukannya dibuat operasi jaring pengaman 
sosial, job
 creation dsb…  lalu malah main dibuat lomba bayi sehat dan bergizi?..........
Kalau pada 2008 MasterCard juga sudah membuat peringkatan “75 Worldwide Centers 
of Commerce”…. Saya  kok khawatir… setelah ini nanti jangan2 ada kota lain lagi 
 yang terinspirasi membuat juga (parodi) “75 Indonesia’s Best Centers of 
Commerce”…… mas Djarot minat nggak jadi panitianya?.....
 
Salam,
aby 
 
 


      

Kirim email ke