Bung Eka gimana sih,... mau pindah ke Kalimantan supaya nggak byar pet? 
Kalimantan yang mana? Kalau di Tarakan (seperti ceritanya Pak Risfan) mungkin 
oke, tapi kalau di Banjarmasin? Atau di Palangkaraya?
 
Saya khan baru saja 5 bulan indekos di Palangkaraya (Kalteng). Dua hari byar, 
terus pet. Kalau lagi pet, kasihan anak ibu kos, kalau belajar melototi buku di 
bawah sinar lilin; saya sebagai anak kos juga bingung mau ngapain. Kalau lagi 
gitu akhirnya cari-cari hiburan malam (kafe/dugem). Yang jauh dari keluarga 
gini repot kalau sering cari dugem... bisa-bisa temptation and persuaded... 
Alhamdulilah sekarang ada di Tangerang lagi.

Thanks. CU. BTS.  

--- On Sat, 1/3/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?)
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Saturday, January 3, 2009, 5:14 AM







Cak H. Andri ysh,
Kalau di Medan listriknya masih byar pet, memang tidak cocok untuk jadi ibukota 
negara. Jakarta dan Jawa memang telah mencapai 'stalled development' karena 
masalah energi ini, atau dengan kata lain: telah ter-'growth management' 
sendiri oleh kita sendiri (... naif). Alternatif yang layak memang Kalimantan 
... mudah-mudahan kalau Cak Andri nanti pindah kesana bisa menggunakan 
setrikaan 1200 Watt dan home theater 10.000 Watt semurahnya dan sepuasnya. Atau 
ada peningkatan kecerdasan anak-menantu 3-4 kali lipat. Salam.
 
-ekadj


2009/1/3 Mohammad Andri Budiman mand...@gmail. com







Pak Risfan dan Rekan-rekan ysh.,
Pak Rodi, eh, Parodi menurut saya justru tidak tepat dikatakan menghina. 
Satire-satire Mark Twain bahkan lebih layak bila ingin disebut menghina, 
seperti, "Let us be thankful for the fools. But for them the rest of us could 
not succeed." dan  "Suppose you were an idiot. Suppose you were a member of 
Congress. But I repeat myself." Tapi ya saya maklumlah, ini negara Pancasila, 
bukan Amerika Serikat.
Jadi, kalau Pak Risfan dan rekan-rekan merasa terhina, saya yang paling dulu 
harus meminta maaf kepada Anda sekalian. Mungkin ini kebodohan dan 
ketidaksopanan saya, sebagai anak daerah, yang tentunya pendidikannya tidak 
tinggi sehingga tidak seberadab anak-menantu Bapak-Ibu yang berdomisili di 
Jakarta dan sekitarnya. 

Nah, sekarang permasalahannya adalah bagaimana mengentaskan kebodohan di 
daerah, misalnya di Medan, sedangkan listrik saja byar pet waktu kami mau 
belajar?
Salam,
Andri




On Sat, Jan 3, 2009 at 10:38 AM, risfano <risf...@yahoo. com> wrote:






Pak Aby dan rekan2 ysh,

Sebaiknya kalau diskusi jangan gampang dibelokkan ke debat pribadi 
begini. Semua tujuannya sama, yang soal membahas caranya. Syukur-
syukur kalau bisa terakumulasi menjadi segepok usulan bagi yang 
fihak yang berkepentingan. 

Kalau saya perhatikan ada simpang siur soal persepsi. Kalau Pak Aby 
dan Andri, selalu menyampaikan harapan. Kalau beberapa teman 
planologi, yang dipikir adalah caranya, dalam konteks Indonesia yang 
begini ini. Jadi tidak ada beda tujuan.

Ungkapan beberapa teman planologi selalu "mempertanyakan". Karena 
ilmu, pengetahuan dan pengalamannya yang membuat mereka selalu 
berfikir menguji "kemungkinan diterapkannya" suatu ide.

Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan regional 
inequality adalah misi regional planning yang basic, sehingga para 
planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu, "kekuatan" yang 
mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan ekonomi, yang 
pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan ekonomi (pasar) 
dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional). Dan, celakanya 
keterlibatan para regional planner adalah terbatas sekali disitu. 

Rezim pemerintah manapun, apalagi dengan masa pemerintahan lima 
tahun, akan berfokus pada "pertumbuhan" ekonomi, kalau tidak maka 
habislah dia. Maka tak terhindarkan, soal pemerataan antar daerah, 
pemerataan antar lapisan, sering terabaikan, alias tidak 
diprioritaskan, basa-basi saja. Jadi kalau mau berjuang, ya rame-
rame ke pengambil kebijakan ekonomi (makro) itu, bukan berdebat 
dengan planolog yang juga bukan pengambil kebijakan ekonomi.

Namun, dengan desentralisasi/ otonomi, buah reformasi itu, harapan 
akan pemerataan ke daerah itu ada. Karena ada kewenangan dan alokasi 
dana bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya 
masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan Prof Mardiasmo, mulai 
tahun 2009 ini alokasi dana ke daerah sudah melampaui alokasi untuk 
departemen/lembaga di tingkat pusat.

Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi, peran sektor 
sektor manufaktur dan jasa itu masih kurang. Jasa masih lebih banyak 
perdagangan eceran yang pasarnya lokal, atau sektor informal. Dan 
sebarannya belum merata. Ini kurang mampu menyerap kelebihan pencari 
kerja dari wilayah perdesaan, ataupun yang terpelajar dari daerah, 
sehingga mereka bermigrasi ke kota besar. Ini yang membebani kota 
besar.

Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional planner, ya 
sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan inovasi-inovasi daerah, 
supaya capacity building daerah makin gencar, sehingga meningkat 
kepercayaan ke daerah. Ilmu planologi itu intinya site plan, urban 
plan, regional plan. Ada sekitar 472 kabupaten/kota di Indonesia 
yang perlu ditingkatkan kapasitasnya.

Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan pesannya jangan 
pribadi. Kalau mau perubahan mindset sebetulnya mindset Pak Aby yang 
selalu mendambakan "national development planning" yang mengatur 
daerah, dan mindset Cak Andri yang sangat menghina inovasi-inovasi 
daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) itulah yang perlu dirubah. Jelas-
jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan meremehkan kemampuan 
daerah. Pola pikir macam itulah yang membuat orientasi terus ke 
Jakarta.

Kata psikolog, kalau kita bilang "anti Jakarta" itu membuat pikiran 
bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah sadar tidak 
mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita 
bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran bawah sadar akan mengarahkan 
kita untuk berfikir "pembangunan daerah." 

Salam,
Risfan Munir 

 
.. 

 














      

Kirim email ke