Yayaya mas EkoBK yg baik....... silahkan... silahkan dah..... Kalo dengan Tahun Baru orang lain pada 'bersemangat baru'.... kalo saya sih krn suasana libur akhir tahun dan karena manula sebenarnya sdg mohon cuti nggak mikir yg serius2 dulu bbrp hari ini.... lagi nggak mikirin segala materi debatnya cak Andri dan mas BTS soal aglomerasi Jkt atau apa deh namanya saya nggak tahu dan EGP….. maklum mesin tua.... jadi mau ngaso2 dulu...... Saya sih sedang tertarik aja mengusilin sikap nyentriknya mas BTS yg seneng tampil beda saja……. Utamanya menyangkut penggal kata-kata “sementara planolog” yg beliau nggak mau kalau itu diartikan dimaksudkan utk beliau dan bbrp planolog lainnya….….. beliau lebih tegaskan bahwa beliau maunya ‘sendirian’ gak pake teman…. Maka mas Eko….. anda juga jangan keburu seneng dulu deh… bilang ‘sependapat’ dengan mas BTS….. anda perlu pastikan dulu tuh.... siapa tahu beliau juga nggak mau ‘disependapatin’ oleh anda?…..hehe… Salam, aby
--- On Sat, 1/3/09, Eko B K <[email protected]> wrote: From: Eko B K <[email protected]> Subject: Re: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) To: [email protected] Date: Saturday, January 3, 2009, 1:35 AM Dalam hal ini pak BTS tidak sendirian pak Aby, saya sepenuhnya sependapat dengan pak BTS.......dan masalah ini juga dihadapi planner2 Jepang yg tak mampu menahan aglomerasi Tokyo...atau planner2 Prancis dgn Paris nya walau kebijakan metropolitan penyeimbang sudah diterapkan di Prancis sejak lama.... salam.. --- On Sat, 1/3/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Subject: Re: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) To: futurol...@yahoogro ups.com Date: Saturday, January 3, 2009, 3:09 AM He...he....mau tampil beda sendirian? Apa untungnya? Gini lho, saya punya pendapat bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menahan aglomerasi Jakarta, termasuk Pemerintah. Bagi yang tidak sependapat dengan saya, berarti memahami bahwa Pemerintah bisa menahan proses aglomerasi Jakarta. Nah,..tolong tunjukkan dengan cara apa Pemerintah mampu menahan aglomerasi Jakarta? Dengan ini maka ada diskusi yang sehat dan dewasa. Thanks. CU. BTS. --- On Fri, 1/2/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) To: futurol...@yahoogro ups.com Cc: refere...@yahoogrou ps.com, pl...@yahoogroups. com Date: Friday, January 2, 2009, 11:37 PM Akh.... cak Andri ini rupanya masih belum paham juga ya?...... Bagi yg namanya mas Bambang Tata Samiadji dari MIT (Mbandung Institute of Technology) itu…. Walau hasil dari national development planning kita masih memble gini… bagi beliau itu samasekali tak soal…. Bagi beliau yg penting adalah pokoknya beliau itu maunya tampil beda sendirian gitu lho…… Gitu aja kok anda masih nggak kunjung paham juga sih?........ . Salam, --- On Fri, 1/2/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Subject: Re: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) To: futurol...@yahoogro ups.com Date: Friday, January 2, 2009, 2:55 AM Mas Andri wrote : ....despite of aglomerasi Jakarta yang menurut sementara planolog tidak akan ada kekuatan yang bisa menahannya." Yang mengatakan itu adalah saya, Bambang Tata Samiadji, yang kebetulan lulusan Planologi ITB. Kalau dikatakan "... sementara planolog"... seolah para planolog berpendapat seperti saya. Justru banyak sementara planolog yang tidak sependapat dengan saya. Thanks. CU. BTS. --- On Fri, 1/2/09, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> Subject: [futurologi] Kontemplasi Tahun Baru (was: Beranikah Pemerintah?) To: Date: Friday, January 2, 2009, 8:56 AM Para anggota milis ysm., Selamat tahun baru 2009, semoga tahun ini lebih baik dan lebih adil bagi seluruh anak bangsa.Saya kira akan baik sekali bahwa kita selalu memulai kalender baru 2009 ini dengan optimisme dan semangat bahwa "di mana ada kemauan, di situ ada jalan." Pemerintahan SBY sendiri terlihat beritikad baik untuk untuk memeratakan pembangunan dan hasil-hasilnya ke daerah-daerah -- despite of aglomerasi Jakarta yang menurut sementara planolog tidak akan ada kekuatan yang bisa menahannya. Secara akademis, ini masuk akal, namun pendapat Albert Einstein, "No problem can be solved from the same level of consciousness that created it," pun layak untuk kita kontemplasi -- kecuali kita memang sejalan dengan headline surat kabar sesaat sebelum Titanic melaut untuk pertama kalinya, ""This ship in unsinkable, even God Himself can't sink it!" Dari beberapa poin yang saya baca di buku baru Pak SBY, "Indonesia Unggul", saya rasa ada baiknya saya list beberapa poin yang relevan untuk introspeksi regional inequalities dan aglomerasi di awal tahun baru ini, sesuai dengan urutan halaman sbb.: -1. "Cara bertindak yang lama, cara berpikir yang lama, mentalitas lama masih berlangsung dalam kehidupan berbangsa kita." -2. "Banyak orang yang menginginkan perubahan, namun ternyata menolaknya ketika perubahan benar-benar terwujud." -3. "... suatu hasrat untuk menjadi yang terbaik, suatu sikap percaya diri bahwa sebaik apapun yang dilakukan orang lain, kita dapat melakukan hal tersebut dengan sama baiknya, atau bahkan jauh lebih baik lagi." -4. "Desentralisasi dan otonomi daerah pilihan, ketika di masa lalu terasa pembangunan ini kurang merata, kurang adil, sentralistik dan konsentrik, kita bedah, kita lakukan pemberdayaan, dan kita perbaiki..." -5. "Kuncinya sekali lagi adalah kesejahteraan bersama dan keadilan sosial." -6. "Rakyat Aceh mengorbankan harta dan darah mereka untuk membantu Republik ini agar tetap hidup dan bertahan." -7. "'Organisasi Papua Merdeka' atau OPM merupakan gerakan separatisme yang memiliki tingkat ancaman militer yang rendah, namun rasa kesukuan sangat kuat di Papua, dan, dicampur dengan ketidakadilan sosial maupun ekonomi." -8. "Sebuah solusi "cookie-cutter" (generik) tidak akan pernah berhasil." -9. "Selama berpuluh-puluh tahun, provinsi Aceh di Indonesia memiliki kebencian terhadap apa yang dirasakan sebagai pembagian yang tidak adil atas hasil-hasil kekayaan alam mereka." -10. "Di mana ada kecemburuan, kami akan membawa keadilan dan rekonsiliasi. " -11. "Saya mengatakan bahwa pembangunan adalah menyediakan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat" Saya cukupkan sampai di sini pandangan Presiden kita yang memang bijak ini, sambil mengajak Bapak dan Ibu ysm untuk berkontemplasi, khususnya untuk poin yang terakhir: Sudahkah kesempatan yang dimiliki masyarakat Jakarta sama dengan kesempatan masyarakat Indonesia di daerah lainnya? Salam, Andri Subject: FW: Beranikah Pemerintah? Artikel ini agaknya menunjukkan bahwa sudah banyak pihak yang merasakan aglomerasi Jakarta -- yang memang sudah sangat keterlaluan. Salam, Andri ----- Forwarded Message ---- From: "bambangsoesatyo@ yahoo.com <mailto:bambangsoesatyo% 40yahoo.com> " <bambangsoesatyo@ yahoo.com <mailto:bambangsoesatyo% 40yahoo.com> > To: Forum Hipmi <forumhi...@yahoogro ups.com <mailto:ForumHIPMI%40yahoog roups.com> > Sent: Thursday, January 1, 2009 5:38:04 PM Subject: [ForumHIPMI] Beranikah SBY? BERANIKAH PEMERINTAH? memerintahkan manajemen pengelola BUMN untuk tinggal / pindah bersama keluarganya dipusat kegiatan BUMN itu?!! Banyak yang tidak pernah bisa mengerti atau mendapatkan penjelasan yang rasional kenapa BUMN selalu mempunyai kantor operasi di Jakarta. Kantor operasi yang sangat tidak efisien, kadang mewah tapi tidak secara strategis mempunyai guna untuk perseroan. Pertanyaan bahkan kegalauan kadang timbul melihat BUMN seperti Pupuk Kaltim misalnya yang material dasarnya di Kalimantan, pabriknya di Kalimantan, pasarnya Terutama di Kalimantan, harus mempunyai kantor di Jakarta. RNI mempunyai pabrik gula di Jawa tengah/timur, dekat dengan perkebunannya, pasar yang tersebar di Jawa tapi juga beroperasi dengan gagah di Jakarta. . Aneh memang jika semua operasi tehnis perseroan berlokasi diluar Jakarta, tetapi phisik para pengelolanya berada dan dibiayai dengan mahal untuk menikmati harumnya kekuasaan di Jakarta BUMN, seharusnya dapat menjadi lokomotif pembangunan daerah., karena BUMN memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap disinsentif Usaha dan efektif sebagai alat untuk mentransformasi kebijakan pemerintah yang terkadang sulit diimplementasikan di lapangan . BUMN juga bahkan mampu menciptakan stimulan yang dapat membangun infrastruktur didaerah, termasuk sarana pendidikan dan sentra ekonomi lainnya. Dengan masuknya BUMN ke daerah diharapkan terjadi multiplier efek yang mampu meningkatkan size Perekonomian daerah. Baik melalui accumulated creating capital maupun efek ikutan dari pelaku usaha swasta yang masuk setelah resiko usaha mulai menurun. Dengan adanya business entity yang besar di daerah diharapkan juga mendorong desentraliasasi sumber daya manusia yang unggul ke daerah. Sumber daya yang selama ini lari ke Jakarta dapat ditahan oleh daerah karena terdapat tantangan dan kesempatan kerja yang setara. Jika manajemen RNI misalnya diwajibkan untuk berkantor dan bekerja di dekat pabrik Jawa tengah, Pupuk Kaltim ke Kalimantan, Merpati ke Makasar, Bukit Asam ke Sumatera selatan, Pertamina ke Riau, BNI ke Sumatera Utara. Maka dapat dibayangkan bagaimana semua pegawai inti yang mempunyai pendidikan bagus, pindah kedaerah membawa keluarga, membawa pindah kemakmuran yang mereka miliki. Semua suplier utama akan pindah, sekolah sebagai lembaga penunjang akan secara otomatis berdiri atau menyempurnakan diri, sentra perekonomian akan bergerak dan yang menarik akan terjadi interaksi antar komponen bangsa yang tadinya tidak saling mengenal. Kluster industri secara strategis akan terbentuk. Kemajuan tehnologi komunikasi dan peningkatan kemampuan industri transportasi memfasilitasi perseroan untuk beroperasi dengan efisien. Levis telah memindahkan kantor pusatnya jauh ke pinggiran kota, Lippo secara taktis memindahkan kantor pusat serta dengan konsisten memaksa semua jajaran SDM nya untuk pindah ke Karawaci. Mereka berhasil, lingkungan daerah nya pun berkembang. Tidak ada alasan bagi BUMN untuk juga kembali memfungsikan dirinya sebagai 'agent of development' , didaerah mrk beroperasi. Diperlukan keberanian bertindak bahkan memerintah agar BUMN yang selama ini merajalela di Ibukota , bergaul, bersentuhan langsung dengan pusat kekuasaan dipindahkan secara phisik ke daerah yang memang tidak mempunyai dan membutuhkan big Bussiness entity untuk mampu menggali keunggulan komparatif nya. Perpindahan yang bisa diartikan berupa 'hijrah'. Perpindahan yang jangan diartikan sebagai kemunduran bahkan pengorbanan, tetapi perpindahan yang harus dirasakan sebagai perjalanan pulang kampung untuk membangun daerah. Beranikah Presiden Perintah Ini?!! tito sulistio Sent from my BlackBerry(R) wireless device Sent from my BlackBerry(R) smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... ! ------------ --------- --------- ------ Yahoo! Groups Links

