Rekan-rekan ysh.,

Beberapa penjabat sering kita dengar mengeluh gaji dan tunjangannya tidak
cukup. Tidak kurang seorang Menteri yang pernah di-reshuffle pernah
mengeluhkan hal ini, bukan?
Nah, kalau begitu, tentu menjadi tanda tanya bagi kita masih memiliki akal
sehat, bila gaji dan tunjangan itu memang tidak cukup, bagaimana sih caranya
beberapa di antara mereka bisa mendapat dana yang cukup, misalnya untuk
punya tanah di Puncak, menyekolahkan anak di luar negeri, menikah
dengan artis menjelang pensiun, atau punya tabungan ruarr biasa yang tidak
pernah bisa terungkap di Swiss maupun yang agak gres: seorang mantan penegak
hukum yang dikabarkan mempunyai asset sekitar Rp 800 M beberapa waktu yang
lalu.

Berapa sih pendapatan para penjabat? Rasanya jarang ada yang mau terbuka
tentang hal ini.
Jadi, untuk mereka-reka, sementara kita gunakan saja "Daftar Pendapatan
Penjabat" yang kebetulan masih terdapat di archive milis MM-UGM. Silakan
klik di:

http://tinyurl.com/9sxc5q

atau langsung ke:

http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg01082.html


Kita ambil sebuah contoh saja: Kepala Daerah Kabupaten/Kota.
Tunjangan pokok Rp 2.100.000
Tunjangan jabatan Rp 3.780.000
Total Rp 5.880.000
Waduh, kecil banget ya, "cuman" Rp 5,88 juta sebulan?
Artinya kurang dari Rp. 200.000,- per hari.

Ini artinya kalah dengan pedagang sate asal Boyolali yang ngetem di Jakarta,
yang omzetnya Rp. 3 juta per hari -- yang menurut Kompas, kalau mudik ke
Jateng mobilnya minimal sekelas kijang, dan pernah tidak terimbas krismon
dan Lehman Brothers.
(Sumber:
http://gantyo.blog.mediaindonesia.com/2008/10/06/krisis-lehman-dan-pedagang-sate-tongseng/
 )

Jadi, kenapa kalau kita tanyakan sama tukang sate, "Mau nggak jadi Walikota,
Mas?" respons si Mas cenderung, "Mau, dong, Pak biar bisa lebih makmur!"
...tapi... kalau kepada Pak Wali justru kita yang nggak berani nanya, "Pak,
mau nggak, Pak Wali jadi tukang sate?"

Oke deh, silakan saja berfilosofi bahwa pekerjaan adalah "preferensi
masing-masing", "hak azasi individual", "tergantung anune", "menjabat adalah
mengabdi, bukan mau cari senang", dsb., dst., dll.

Tapi kok nggak ada ya mantan Menteri, Gubernur, Walikota yang berpikir,
"Enak juga ya, kalau jual sate bisa muter uang 3 jeti per hari daripada
cuman dapat 200 ribu thok potong pajak dan masih dicurigai KPK?" kemudian
menyatakan mundur dari dari jabatannya dan mulai "ngipas-ngipas" di
pinggiran jalan sambil senyam-senyum sama pelanggan setia dan bilang, "Sate-nya
mau nambah seporsi lagi kayak biasa, Mas?"

Salam,
Andri

Kirim email ke