Diskusi (2) :

+++: Rezim pemerintah manapun, apalagi dengan masa pemerintahan lima 
tahun, akan berfokus pada "pertumbuhan" ekonomi, kalau tidak maka 
habislah dia. Maka tak terhindarkan, soal pemerataan antar daerah, 
pemerataan antar lapisan, sering terabaikan, alias tidak diprioritaskan, 
basa-basi saja.
>>>: Setuju……..
 
+++: Jadi kalau mau berjuang, ya rame-rame ke pengambil kebijakan ekonomi 
(makro) itu, bukan berdebat dengan planolog yang juga bukan pengambil kebijakan 
ekonomi.
>>>: Utk “rame2 (pergi ke) kepengambil kebijakan ekonomi (makro) itu… jelas 
>>>setidaknya seblmnya diperlukan “resolusi” atau ‘kata hampir sepakat’ dari 
>>>rombongan delegasi…..
Kalau ‘resolusi’ sebagai ‘himpunan kesamaan pendapat’ saja belum bisa 
didapat….. tentu akan lucu juga kalau “sambil rame2 kepengambil kebijakan” 
sambil “rame2 juga disuarakan  silang pendapat internal dikalangan perencana” 
didepan pengambil kebijakan……..
Kalau “berdebat dengan planolog” dianggap bukan berjuang (mengacu kekalimat  “… 
kalau mau berjuang, ya rame-rame ke pengambil kebijakan….., bukan berdebat 
dengan planolog…..”  nah ini dia logika  yg jadi tak mudah utk setidaknya dapat 
dimengerti oleh saya…..

+++: Namun, dengan desentralisasi/ otonomi, buah reformasi itu, harapan akan 
pemerataan ke daerah itu ada. Karena ada kewenangan dan alokasi dana bagi 
pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya masing-masing. 
Sebagaimana yang dikatakan Prof Mardiasmo, mulai tahun 2009 ini alokasi dana ke 
daerah sudah melampaui alokasi untuk departemen/lembaga di tingkat pusat.
>>>: Namanya (sekedar) harapan….  tentu hampir selalu ada utk banyak  prospek 
>>>pembangunan didaerah………

+++: Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi, peran sektor sektor 
manufaktur dan jasa itu masih kurang. 
>>>: Kalau dikaitkan dengan cita2 reforma “pembangunan keruangan” di 
>>>Indonesia…. Lalu  kalau sekiranya sampai muncul pandangan (entah dari siapa) 
>>>tentang “tak akan mampunya” atau “masih kurangnya” sektor manufaktur kita 
>>>dan jasa yg ada” utk berperan besar “mengubah konstelasi keruangan dari 
>>>kegiatan unit2 ekonomi nasional/ regional  kita…… saya akan amat  sangat 
>>>menyesalkan pernyataan demikian…....  
Pertama….. dari teori awal pembangunan wilayah yg ‘kuno’ dan ‘amat terbatas’…. 
Disebutkan bahwa peran utama pembangunan wilayah dimainkan oleh “industri 
memimpin” (national leading industries) atau industri propulsip (propulsive 
industries) dengan ciri2nya yg tertentu ….. Ini menunjukkan bahwa  
pertama…..tak asal dan tak sebarang industri atau sebarang perusahaan dpt 
dikategorikan sebagai ‘national leading industries’…….. 
Kedua… setidaknya para nationalistic regional planner seharusnya dpt bersepakat 
(dan a.l. bukan berbangga dengan eksklusivitas beda pandangannya) tentang 
masalah ini…… sehingga kalau bicara  penggerak awal ‘pembangunan wilayah’ dan 
menyentuh masalah ‘peran leading industries’ ini misalnya……a.l.  tak lalu 
muncul pandangan menggebu ‘tak mendekati teori awalnya’…. Yg tentu lalu jadi 
kurang logik, tak workable dan tak jelas arti strategiknya…. Seperti ttg 
“perlunya kantor pusat BUMN pindah kedaerah” (padahal makna dan dampaknya 
sajapun bisa beda : 10 BUMN pindah ke 10 kota berbeda…… atau 10 BUMN pindah 
kekota lain yg sama…. Atau hanya 1 atau 2 sebarang BUMN pindah kantor 
pusat….seperti Merpati sebagai BUMN ‘sakit’ sudah lakukan… Lalu apa dampaknya?) 
dsb……
 
Dari keluhan tentang “masih kurangnya peran sektor manufaktur” dalam 
pembangunan  wilayah……. Disandingkan dengan kenyataan bahwa padahal kita 
memiliki industri sepedamotor yg adalah “one of the big three in world 
motorcycle industries” dan itu tak pernah disinggung semilimeterpun dalam 
wacana pembangunan wilayah (kecuali oleh saya)   …..disandingkan pula dengan 
bunyi salah satu ayat teori pembangunan wilayah yg mengatakan tentang perlunya 
menempatkan leading industries sebagai pemeran utama penggerak pembangunan 
wilayah…..   saya kira ini adalah sebuah paradoks yg menunjukkan tentang betapa 
amat lemahnya pemahaman akan implementasi teori pembangunan wilayah dinegeri 
kita… bahkan oleh masyarakat intelektualnya sekalipun….
 
+++: Jasa masih lebih banyak perdagangan eceran yang pasarnya lokal, atau 
sektor informal. Dan sebarannya belum merata. Ini kurang mampu menyerap 
kelebihan pencari  kerja dari wilayah perdesaan, ataupun yang terpelajar dari 
daerah, sehingga mereka bermigrasi ke kota besar. Ini yang membebani kota 
besar.
>>>: Ini juga merupakan agenda pembahasan diskusi PW yg penting dan perlu 
>>>dicatat bersama…….

+++: Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional planner, ya 
sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan inovasi-inovasi daerah,  supaya 
capacity building daerah makin gencar, sehingga meningkat kepercayaan ke 
daerah. Ilmu planologi itu intinya site plan, urban  plan, regional plan. Ada 
sekitar 472 kabupaten/kota di Indonesia yang perlu ditingkatkan kapasitasnya.
>>>: “Sebaiknya menguatkan daerah”… tapi sambil jangan sampai menyinggung “Jkt 
>>>sebagai parameter level of difficulties”?....... nah inilah tugas penalaran 
>>>ilmiah aneh bin ajaib yg harus dilakukan……..
 
(bersambung)
 
Salam,
aby
 


      

Kirim email ke