Re : Diskusi Pak Risfan dan Aby (1)
Warning :
Posting in cukup panjang (1 sampai 3) dan membosankan… maka bagi yg mudah utk
“ndak kuat” atau mudah “ndak tahan lama” mbaca…. Dianjurkan utk ndak usah
mbaca saja…..
Kemudian karena posting ini oleh bbrp pihak bisa saja dikategorikan sebagai
sifatnya ‘mutilasi’… maka bagi yg sangat trauma pada kengerian dianjurkan utk
ndak usah mbaca juga…..
Trimakasih dan salam dari penulis
+++: Pak Aby dan rekan2 ysh,
>>>: Pak Risfan ysh dan milister ysh….. maaf agak terlambat menjawab….
+++: Sebaiknya kalau diskusi jangan gampang dibelokkan ke debat pribadi begini.
Semua tujuannya sama, yang soal membahas caranya. Syukur-syukur kalau bisa
terakumulasi menjadi segepok usulan bagi yang fihak yang berkepentingan.
>>>: Belok untuk ‘mampir sejenak’ atau ‘kunjung sejenak’ kedebat pribadi atau
>>>‘humor pribadi’ barangkali artinya beda dengan sekedar “belok beneran”
>>>semata…… apa yg perlu’dibeloki sejenak’ tentu pasti amat sangat terkait
>>>dengan ‘arah utama’ perjalanan dan itu sulit utk tak boleh disinggung
>>>samasekali……...
Utk perjuangan berskala nasional atau atas nama ‘demi bangsa dan negara’ saja
dimana banyak nyawa sudah melayang …. Banyak anak manusia sudah cacat permanen
tubuhnya…. Banyak waktu berharga telah terlewat tanpa guna….banyak uang negara
telah melayang sia2… banyak anak bangsa masih hidup susah…. kalo hanya sedikit
masalah spt diatas masih diperkarakan… sptnya kok terkesan cengeng
ya?.............
+++: Kalau saya perhatikan ada simpang siur soal persepsi.
>>>: Ya betul….Saya sepakat lebih 100 prosen dengan pendapat pak Risfan ini…..
>>>ini sesuatu yang logis, alamiah dan manusiawi…. Tetapi saya kira masih bisa
>>>diharapkan menjadi lebih baik nantinya…...
Setidaknya dari eklektika sebagai ciri ‘kedalaman, ketinggian dan keluasan’
sains planologi….. mereka yg mencomot, menggali dan menggabungkan planologi
dgn lebih banyak lintas disipliner lainnya yg luas… tentu amat berbeda
persepsinya ttg planologi dibanding mereka yg memahami planologi sebagai
sekedar sebuah sains monodisipliner semata………
Belum lagi beda persepsi akibat faktor lainnya…..
+++: Kalau Pak Aby dan Andri, selalu menyampaikan harapan. Kalau beberapa teman
planologi, yang dipikir adalah caranya, dalam konteks Indonesia yang begini
ini. Jadi tidak ada beda tujuan.
>>>: Kalau soal mas Andri saya tidak mengerti dan no commentlah krn yg paling
>>>tahu hatinya hanya dirinya sendiri dan Tuhan saja….. tetapi menyangkut diri
>>>saya…… kalau dibilang “selalu menyampaikan harapan”….. saya masih
>>>membenarkan…. Tetapi sebagai orang LSM yg umumnya berpikir pragmatisme dan
>>>selalu mengharapkan ‘konkretisasi’ . yg ‘maksimal’ bahkan ‘selekasnya’ bagi
>>>rakyat….. pak Risfan mungkin tidak… tapi saya khawatir kalau nanti ada orang
>>>lain yg mengira saya hanya dapat ‘selalu menyampaikan harapan saja’……
Sehubungan dengan paham pragmatisme yg rasanya kental melekat pada diri
saya….seingat saya saya selalu melengkapi “harapan saya” dengan “suggestions
yg selalu logically dan easily workable” baik pada tingkat hirarkhi teratas,
atau arah top-down (nasional) maupun dari hirarkhi terbawah… bottom-up
(lokal)…… karena apalah artinya suggestion yg tak dapat/ sulit
direalisasikan…..
Hanya saja dari trilogi trias politika…. wadah kelembagaan utk menampung suara
rakyat utk urusan PR dinegeri ini belum ada bentuknya yg ideal….. krn itu
eksekutif di Indonesia pd bidang PR ini masih enak dan nyaman…. Belum
memperoleh “partner yg setara” dari legislatif (komisi nasional/ independen PR)
yg akan dengan keras dan ketat mengontrol segala kebijakan strategi
nasionalnya…….
Dari kalimat pak RIsfan “Kalau beberapa teman planologi, yang dipikir adalah
caranya, dalam konteks Indonesia yang begini ini.(Jadi tidak ada beda tujuan)…”.
katakanlah “tujuan” kita itu sama…… bagi mereka yg berpikir ‘pragmatisme’…. Itu
belumlah menjadi ‘kata hiburan’ yg mampu menenteramkan hati……
Karena pertanyaannya khan adalah… “dari beda persepsi” itu yg nyatanya bisa
teramat tajam seperti antara ‘ngalor dan ngidul’….…. walau “satu tujuan”…...
lalu pada zaman abad kapankah realisasi/ konkretisasi idealisme pembangunan
keruangan di Indonesia itu baru akan terwujud?........
Kalo universitas misalnya khan pertimbangannya bisa beda juga…. Pokoknya
mengajar….mengajar… dan mengajar…. Mencetak sarjana.. mencetak dan mencetak….
Lalu pemerintah misalnya beda lagi …. Merencana dan memerintah… merencana dan
memerintah…. dan merencana dan memerintah…..
+++: Ungkapan beberapa teman planologi selalu "mempertanyakan" . Karena ilmu,
pengetahuan dan pengalamannya yang membuat mereka selalu berfikir menguji
"kemungkinan diterapkannya" suatu ide.
>>>: Ya kalau “mempertanyakan” itu selalu disertai sikap proaktip dan
>>>konsistensi serta antusiame tinggi tentu akan masih mending hasilnya……
>>>masalahnya khan kalau berputar2nya itu terus saja disekitar hanya
>>>“mempertanyakan“ terus…..sedangkan yg lebih nampak adalah pro-pasifisme atau
>>>pernah juga pro-aktifisme tapi pake syarat komersial yg kelewat vulgar (maaf
>>>ada pengalaman amat membekas ttg komersialisme planologi tak terpuji itu
>>>jauh2 saya pegi dr Jkt kesatu tempat kandang macan planologi ) …… lalu
>>>langkah maju apa yg dapat diharapkan?....... Kadar hasilnyapun dapat kita
>>>lihat bersama dikehidupan nyata kita hari ini……..
+++: Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan regional inequality
adalah misi regional planning yang basic, sehingga para
planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu, "kekuatan" yang
mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan ekonomi, yang
pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan ekonomi (pasar) dan
"kebijakan makro ekonomi" (nasional). Dan, celakanya keterlibatan para regional
planner adalah terbatas sekali disitu.
>>>: dari “…. celakanya keterlibatan para regional planner adalah terbatas
>>>sekali disitu…..”, kita lihat bahwa kegagalan/ absensi peran penting
>>>planner itu bukanlah takdir harga mati yg amat berat utk dpt diubah seperti
>>>ibarat umpama kata dominasi tentara dan persenjataan israel yg ingin
>>>dilawan oleh pejuang hamas…..…
Kalau bicara skala nasional [mengacu kekalimat pak Risfan diatas : "kebijakan
makro ekonomi" (nasional)]. ……..bbrp kali saya kemukakan ttg nasionalisme…. krn
bicara skala nasional perlu menjadi landasan kuat bagi pengabdian planologi utk
bangsa dan negara…. Krn memang hanya itulah saya kira landasan pikir dan tekad
yg akan tahan cuaca dan tahan banting…. Dan gaya-gaya seperti regional planner
‘kelas salon’ (kalau ada lho) saya kira tak akan menjawab masalah…… kita pasti
ingat…. Banyak perjuangan “skala nasional” taruhannya bahkan nyawa… penjara…dan
tentu saja bahkan harta juga…….
(bersambung)
Salam,
aby