Mas Dwiagus, Pak Risfan dan Rekans Milisters ysh,

Mudah-mudahan kalau Tangguh juga akan dijadikan sebagai salah satu pusat 
industri pupuk seperti Kaltim, pemerintah juga tidak lupa mereplikasi upaya 
pengembangan pertanian dan pangan, spt yg dilakukan Arifin Panigoro di Merauke, 
di wilayah Bintuni dan Kepala Burung lainnya. Siapa tahu upaya "revolusi hijau" 
tersebut bisa menjadi jalan bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan 
masyarakat di Papua.

Pengalaman berkembangnya Sao Paulo (Brazil) bisa menjadi moral untuk melakukan 
pengembangan wilayah berbasis pertanian dan perkebunan. Sao Paulo kini menjadi 
agglomerasi perkotaan terbesar di Brasil yang dengan statusnya sebagai pusat 
industri terbesar di Amerika Selatan mampu mengkontribusikan lebih dari 
setengah PDB industri dari Brasil. Padalah di tahun 1890, waktu Rio de Janeiro 
berpenduduk lebih dari 500 ribu jiwa, Sao Paulo cuma sebuah kota kecil dengan 
penduduk sekitar 65,000 jiwa. Tapi dengan memanfaatkan potensi lahannya yang 
cukup subur untuk perkebunan, Sao Paulo mulai dikembangkan menjadi pusat 
aktivitas pertanian dan perkebunan kopi yang sangat luas di tahun 1890an. Pada 
waktu itu, kopi merupakan suatu komoditas berharga dunia, dimana pasca 
peningkatan kemakmuran akibat revolusi industri di Eropa dan Amerika Utara, 
gaya hidup masyarakat di kedua belahan dunia tsb menjadi meningkat. Apalagi 
banyak tempat ketika itu masih meng-illegal-kan
 penjualan alkohol.

Selanjutnya setelah keberhasilan pengembangan kopi yang juga menghasilkan 
influx tenaga kerja (migran, bahkan juga dari Eropa ketika itu) yang menjadikan 
jumlah penduduknya menjadi sekitar empat kali lipat (240ribuan) di tahun 1900, 
kegiatan industri mulai dikembangkan di awal tahun 1900an. Tahun 1950, Sao 
Paulo sudah berpenduduk 2,3 juta dan menjadi pusat aktivitas industri di 
Brasil. Kini, Sao Paulo masih menjadi pusat kegiatan industri utama di Brasil, 
dan bahkan di Amerika Selatan. Memang, di samping kesuksesan pembangunannya, 
Sao Paulo juga menyimpan beribu duka perkotaan. Kurangnya sediaan infrastruktur 
melahirkan berbagai permasalahan sosial, lingkungan dan ekonomi dalam level 
masyarakatnya. Suatu hal yang "sangat normal" dalam sejarah pembangunan 
perkotaan di negara berkembang. Tapi moral yang perlu diambil dalam sejarah 
pembangunan kota dan wilayah Sao Paulo ini adalah bahwa dengan strategi yang 
tepat, pengembangan pertanian dan perkebunan bisa
 menjadi "trigger" bagi pembangunan wilayah dan kota.

Kembali ke Bintuni, apabila ketersediaan sumber gas alam hanya dijadikan 
sebagai basis pembangunan industri pupuk dan industri berbasis gas alam 
lainnya, bisa jadi peningkatan kecemburuan sosial juga akan meningkat di 
wilayah tsb. Ini disebabkan karena industri-industri tersebut bukan jenis-jenis 
industri yang "barrier to entry"-nya rendah, baik secara permodalan, 
pengetahuan, teknologi dan sebagainya. Akibatnya industri serta tenaga kerja 
yang berkontribusi di dalamnya, besar kemungkinan, akan didominasi oleh 
pendatang. Bisa jadi, penduduk setempat hanya sebagai penonton saja. 

Tapi apabila wilayah Bintuni dan wilayah sekitar Kepala Burung lainnya juga 
dikembangkan sebagai wilayah pengembangan pertanian dan perkebunan, pertama, 
masyarakat setempat bisa ikut terlibat dalam aktivitas pertanian/perkebunan dan 
bahkan bisa juga menjadi petani pemilik kebun apabila telah dididik dan dilatih 
untuk menjadi petani kebun. Pola perkebunan inti-plasma, pemanfaatan 20% 
APBN/APBD untuk pendidikan, dan kekuatan dana dari Otonomi Khusus, mungkin bisa 
digunakan untuk meningkatkan kapasitas teknologi masyarakat setempat untuk bisa 
ikut terlibat aktif di dalam kegiatan pertanian dan perkebunan. Kedua, dengan 
bisa ikut memanfaatkan kekayaan alam sebagai petani (atau petani kebun) yang 
turut memanfaatkan pupuk yang dihasilkan oleh gas alam setempat, serta 
informasi bahwa pupuk dari gas alam tersebut juga digunakan untuk 
mensejahterakan masyarakat di wilayah lainnya, mudah-mudahan ini bisa menjadi 
alat untuk "meningkatkan moral dan kepercayaan diri"
 masyarakat setempat dan masyarakat Papua lain bahwa mereka adalah masyarakat 
yang berjasa kepada elemen bangsa lainnya.

Mungkin itu pendapat saya. Mohon respon dari rekan-rekan (terutama dari Pak 
Risfan, Mas Dwiagus, dan mungkin Pak Aunur Rofiq [ini bicara masalah di daerah 
tertinggal lho Pak; kalo nggak salah Bapak di PDT khan....]). Terima kasih 
sebelumnya....

Salam,

Fadjar Undip



--- On Mon, 1/5/09, risfano <[email protected]> wrote:

> From: risfano <[email protected]>
> Subject: [referensi] Re: Pemerintah Ingin Papua Jadi Sentra Industri Berbasis 
> Gas
> To: [email protected]
> Date: Monday, January 5, 2009, 4:12 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>             Rekans ysh,
> 
> 
> 
> Ini kan seperti komplek industri Pupuk Kaltim khan. Jadi
> tidak 
> 
> mimpi, asal betul betul direncanakan, banyak investor yang
> berminat.
> 
> Masalahnya seperti diberita ini, sebagian gas sudah ada
> kontrak 
> 
> penjualannya ke negara lain. Jadi mesti dihitung berapa
> yang 
> 
> available untuk industri lokal.
> 
> 
> 
> Dan, pilihan industrinya juga harus yang bisa melibatkan
> kegiatan 
> 
> lebih luas. Itu sebagai penggerak pertama, selanjutnya bisa
> industri-
> 
> industri lain sesuai SDA dan SDM di wilayah tersebut. Ini
> realistis.
> 
> 
> 
> Arifin Pangoro saja bisa mengembangkan sentra pertanian
> pangan dan 
> 
> bio-energi di wilayah Merauke. 
> 
> 
> 
> Salam,
> 
> Risfan Munir
> 
> 
> 
> --- In refere...@yahoogrou
> ps.com, "Benedictus Dwiagus S." 
> 
> <bdwia...@.. .> wrote:
> 
> >
> 
> > Awalnya berasal dari mimpi,.  tapi siapa tau bisa jadi
> realisasi. 
> 
> > Amin.
> 
> > 
> 
> > Pemerintah Ingin Papua Jadi Sentra Industri Berbasis
> Gas
> 
> > 
> 
> > 
> 
> > RABU, 31 DESEMBER 2008 | 07:56 WIB
> 
> > TANGGUH, RABU - Pemerintah mendorong agar Papua
> dijadikan pusat 
> 
> industri
> 
> > berbasis gas. Dengan memanfaatkan gas untuk industri
> yang lebih 
> 
> kompleks,
> 
> > hal itu akan memberi dampak bergulir yang lebih besar
> dari sekadar 
> 
> menjual
> 
> > gas alam cair.
> 
> > "Presiden meminta agar dipelajari bagaimana
> menjadikan lapangan 
> 
> Tangguh ini
> 
> > petrokimia kompleks, bukan hanya ekspor gas alam cair
> (LNG) supaya 
> 
> nilai
> 
> > tambahnya lebih tinggi lagi. Yang sekarang ini sudah
> cukup untuk 
> 
> LNG,
> 
> > selebihnya jadi pabrik pupuk, petrokimia, atau
> industri lain yang 
> 
> mungkin,"
> 
> > kata Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika meninjau
> kompleks 
> 
> pengolahan gas alam
> 
> > cair Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat,
> Selasa 
> 
> (30/12).
> 
> > Jusuf Kalla memberi waktu tiga bulan kepada Ditjen
> Migas dan Badan 
> 
> Pelaksana
> 
> > Kegiatan Hulu Migas untuk melakukan studi awal terkait
> cadangan 
> 
> gas yang
> 
> > tersedia dan jenis industri yang bisa dikembangkan di
> Papua. "Nanti
> 
> > pengembangannya bisa dilakukan oleh pemerintah, BUMN,
> atau 
> 
> swasta," ujarnya.
> 
> > Wapres mengatakan, potensi gas yang besar di wilayah
> Papua harus
> 
> > dikembangkan agar bisa lebih maju. Provinsi Papua
> memiliki luas 
> 
> wilayah
> 
> > daratan 41,8 juta hektar dan luas lautan 228.000
> kilometer persegi.
> 
> > Jika Papua bisa menjadi pemasok pupuk untuk wilayah
> Indonesia 
> 
> timur, lanjut
> 
> > Wapres, Jawa dan Sumatera tidak perlu memasok pupuk ke
> sana.
> 
> > Kepala BP Migas R Priyono mengemukakan, Tangguh sangat
> mungkin 
> 
> dijadikan
> 
> > sentra industri petrokimia. "Namun, harus dikaji
> besar 
> 
> cadangannya, apakah
> 
> > cadangan itu cukup ekonomis untuk dikembangkan.
> Tambahan cadangan 
> 
> gas
> 
> > Tangguh baru bisa diketahui akhir 2009 setelah
> eksplorasi yang 
> 
> dilakukan BP
> 
> > Tangguh selesai," kata Priyono.
> 
> > Dirjen Migas Evita Legowo mengatakan, proyek gas alam
> Tangguh 
> 
> cukup lengkap
> 
> > untuk memproses gas alam cair dan kondensat. Namun,
> seluruh gas 
> 
> yang diolah
> 
> > dari dua unit kilang dengan kapasitas 7,2 juta ton
> yang akan 
> 
> beroperasi
> 
> > komersial mulai Mei 2009 sudah habis terkontrak untuk
> jangka waktu 
> 
> 24 tahun.
> 
> > Evita mengatakan, ada rencana untuk mengembangkan unit
> kilang 
> 
> ketiga yang
> 
> > bisa didedikasikan untuk keperluan gas domestik.
> Pemerintah 
> 
> menyetujui
> 
> > proyek Tangguh dengan total investasi 5 miliar dollar
> AS untuk 
> 
> dilaksanakan
> 
> > tahun 2005.
> 
> > Sebesar 37,16 persen saham proyek itu dimiliki BP
> Indonesia 
> 
> sebagai operator
> 
> > dari proyek ini. Mitra BP, antara lain, CNOOC Ltd, LNG
> Japan 
> 
> Corporation, MI
> 
> > Berau BV, Nippon Oil Exploration Berau, Talisman, dan
> KG Companies.
> 
> > Head of Country Manager BP Indonesia Nico Kanter
> mengatakan, 
> 
> pengiriman gas
> 
> > pertama akan disesuaikan dengan kontrak. Gas alam cair
> dari 
> 
> Tangguh sudah
> 
> > mendapat pembeli di Korea Selatan, China, dan Amerika
> Serikat.
> 
> > 
> 
> > DOT 
> 
> > Sumber : Kompas Cetak
> 
> > 
> 
> > ------------ -----
> 
> > Best Regards,
> 
> >  
> 
> > Benedictus Dwiagus S.
> 
> > http://bdwiagus.
> blogspot. com
> 
> > http://bdwiagus.
> multiply. com 
> 
> >  
> 
> > "The most difficult thing in the world is to know
> how to do a 
> 
> thing and to
> 
> > watch somebody else doing it wrong, without
> comment."  - T. H. 
> 
> White
> 
> > 
> 
> > :::... Indo-MONEV ...:::
> 
> > Indo-MONEV is a mailing list to build a network of
> Indonesian 
> 
> People
> 
> > anywhere in the world who are interested, dedicated,
> and 
> 
> profesionalised to
> 
> > the work on monitoring and evaluation and other
> related 
> 
> development issues
> 
> > including development aid works, particularly in
> Indonesia.
> 
> > Join in by sending an email to:  indo-monev-
> 
> subscr...@yahoogrou
> ps.com
> 
> >
> 
> 
> 
> 
>       
> 
>     
>     
>       
>        
>       
>       
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> 
> 
> 
>       
>       
> 
> 
>       
>       
>       
> 
> 


      

Kirim email ke