Pak Risfan ysh,

First of all, saya bertrima kasih atas respon sekaligus konfirmasi ttg apa yg 
saya pikirkan. Senang bisa diskusi seperti ini karena mudah-mudahan diskusi 
bisa fokus dan bisa mencerahkan saya secara pribadi, dan mudah-mudahan bagi 
yang lainnya.

Tentang lingkaran-lingkaran yang Pak Risfan tanyakan, terus terang saya tidak 
memikirkan sebagai suatu lingkaran-lingkaran seperti modelnya von Thunen yang 
mengasumsikan bahwa kendala transportasi selalu berbanding lurus dengan 
jaraknya ke tempat pusat, dimana secara riil asumsi tersebut tidak selalu sama 
dengan kondisi di lapangan. Hal yang saya pikirkan adalah bagaimana bisa 
terjadi suatu kolaborasi dan kombinasi antar-sektor aktivitas agar dapat 
diperoleh suatu hasil sinergis dalam pembangunan wilayah. 

Mengapa saya menginginkan adanya kolaborasi dengan pengembangan 
pertanian/perkebunan apabila Bintuni atau LNG Tangguh juga dikembangkan menjadi 
sentra industri pupuk dan industri lain yg berbasis gas alam, adalah agar 
masyarakat setempat (wilayah Bintuni dan Kepala Burung, atau wilayah Papua 
umumnya) juga mendapatkan manfaat langsung dari pengelolaan sumber data gas 
alam tadi. Dengan dikembangkannya pertanian/perkebunan sebagai salah satu basis 
aktivitas masyarakat di sana, maka pengolahan gas alam menjadi pupuk akan 
memberikan manfaat langsung kepada masyarakat umum di sana. Terlebih apabila 
nanti di kemudian hari, dalam program-program CSR-nya, Proyek Tangguh dan 
industri-industri pupuk tadi juga bekerja melakukan peningkatan kapasitas 
teknologi masyarakat (teknologi tepat guna) dalam usaha pertanian/perkebunan 
yang sesuai dengan kondisi/kualitas tanah setempat dan produk-produk pupuk yang 
dihasilkan. Apabila kualitas tanah setempat memang cocok untuk
 pertanian/perkebunan yang menjadi bahan baku untuk bio-fuel, mungkin hal itu 
bagus untuk dikembangkan mengingat persoalan penyediaan energi dunia masa depan 
akan bergeser kepada sustainable energy yang lebih ramah lingkungan. Namun, 
apabila lahannya bagus untuk tanaman coklat (kakao), mungkin boleh juga 
perkebunannya difokuskan untuk coklat dan kemudian nanti bisa berkembang 
industri coklat di sana. 

PKT memang merupakan salah satu cerita sukses dalam pengembangan industri gas 
alam. Tapi selain PKT yang sukses, kita juga punya pengalaman Arun yang tak 
sesukses PKT. Tapi, di sisi lain, walau PKT merupakan cerita sukses, Kal-Tim 
juga memiliki cerita sedih akibat besarnya proporsi penduduk yang masih berada 
di bawah garis kemiskinan. Oleh karena itu, untuk memperbaiki cerita Arun dan 
PKT (anggap PKT merupakan perbaikan dari cerita Arun), maka saya berharap agar 
disana juga dilakukan suatu "revolusi hijau" dengan melakukan pengembangan 
kegiatan pertanian/perkebunan apabila Tangguh akan dikembangkan menjadi salah 
satu sentra industri pupuk. Setidaknya Bintuni/Tangguh nanti punya cerita yang 
mirip dengan PUSRI di Palembang yang sangat kompatibel dengan pengembangan 
kebun-kebun sawit dan karet di SumBagSel....

Saya yakin upaya tersebut bukan merupakan upaya mudah mengingat banyak hal 
harus dilakukan, yang memerlukan pelibatan banyak pihak termasuk pengembangan 
visi bersama (antara pemerintah pusat, propinsi serta kabupaten ybs, BUMN dan 
swasta pemilik dan pengelola Tangguh, industri pupuk, dan industri-industri 
lain yang akan dikembangkan, serta elemen-elemen utama masyarakat di sana), 
peningkatan kapasitas institusi pemerintah dan masyarakat untuk 
mengimplementasi visi tsb apabila visi bersama telah tersepakati, dan terutama 
juga pengembangan kapasitas dan teknologi masyarakat dalam mengimplementasinya. 
Saya yakin, peran community development juga akan sangat diperlukan di sana.

Jadi saya tidak mencoba mengelompokkan ke dalam lingkaran-lingkaran yang 
spesifik, namun mengusulkan agar bisa dilakukan suatu collaborative strategy 
yang mengkombinasikan eksploitasi gas alam dan pengolahannya ke dalam industri 
pupuk (yang notabene merupakan industri yang bersifat high technology dan padat 
modal sehingga masyarakat awam tak mudah untuk ikut terlibat di dalamnya) 
dengan pengembangan kegiatan pertanian/perkebunan (yang lebih rendah kebutuhan 
teknologinya dan mampu melibatkan jauh lebih banyak orang), dimana kedua 
kegiatan tersebut bisa dikembangkan secara berkaitan.

Dengan demikian, eksploitasi gas alam dan pengolahannya ke dalam industri pupuk 
juga bisa berkontribusi kepada pengembangan ekonomi masyarakat dan wilayah 
setempat secara luas. Dan apabila banyak terjadi cerita sukses dari 
pengembangan pertanian/perkebunan tersebut, seperti banyak cerita sukses dari 
petani kakao di Sulawesi yang kemudian bisa menyekolahkan anak-anaknya ke 
sekolah-sekolah tinggi terkemuka baik di Manado, Palu, Makasar, Malang, Yogya, 
Semarang (termasuk di Undip ada mahasiswa anak petani kebun dari Sulawesi Pak, 
he... he... he...), Bandung, dan bahkan ke luar negeri, maka hal ini bisa jadi 
obat pelipur lara Mas Andri yang berduka nestapa akibat banyak anak-anak Papua 
yang bernasib tak sebaik anak Jakarta.

Mohon Pak Risfan bisa mengkritisi pendapat saya ini (jangan cuma nanya-nanya ya 
Pak, he... he... he.. peace....). Saya yakin Pak Risfan juga punya pengalaman 
baik yang juga bisa diceritakan...

Salam,

Fadjar Undip


--- On Mon, 1/5/09, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Pemerintah Ingin Papua Jadi Sentra Industri Berbasis 
Gas
To: [email protected]
Date: Monday, January 5, 2009, 8:32 PM










    
            Pak Fajar dan Rekans ysh,



Mencoba memahami ide Pak Fajar ini, sepertinya ada lingkaran-lingkaran begitu. 
Seperti kibout-kibout di Israel, wilayah pertanian "mengepung" kota.



Pada lingkar terdalam ada industri gas, lalu industri yang terkait (seperti di 
PKT), lalu industri tak terkait gas tapi komplementer, lalu agro-industri, lalu 
perkebunan, dan lahan pangan, juga yang terkait bio-energi.



Secara general, lingkar terdalam memang teknologinya lebih high, makin keluar 
makin rendah, dan makin padat karya. Yang terluar menyangkut pekerjaan 
community development, dan sejenisnya. Apakah begitu Pak Fajar?



Bukan berarti pekerjaan low skill tidak ada di core, untuk jasa pendukung tentu 
ada.



Itu lingkar-lingkar kegiatan ekonomi, tapi secara sosial, pelayanan publik 
tidak ada gradasi seperti itu (jangan salah ngerti, bukan bikin tembok besar 
ala kisah Lasykar Pelangi).



Saat ini pemerintah, BUMN, sudah punya pengalaman lebih baik, buktinya PKT 
sudah jauh lebih baik dari kompleks pupuk lainnya. Saat ini CSR sudah menjadi 
imperative bagi corporate, beda dengan dulu yang eksklusif.

Jadi sekali lagi kalau perencanaannya jelas, apa peran, hak & kewajiban dari 
stakeholders (Pemerintah, Pemda, BUMN, corprates, UMKM, community dan warga) 
jelas, ada mussyawwaroh, rasanya kok tidak ada hil yang mustahal.



Wassalam,

Risfan Munir



--- In refere...@yahoogrou ps.com, <efha_mardiansjah@ ...> wrote:

>

> 

> Mas Dwiagus, Pak Risfan dan Rekans Milisters ysh,

> 

> Mudah-mudahan kalau Tangguh juga akan dijadikan sebagai salah satu pusat 
> industri pupuk seperti Kaltim, pemerintah juga tidak lupa mereplikasi upaya 
> pengembangan pertanian dan pangan, spt yg dilakukan Arifin Panigoro di 
> Merauke, di wilayah Bintuni dan Kepala Burung lainnya. Siapa tahu upaya 
> "revolusi hijau" tersebut bisa menjadi jalan bagi peningkatan kualitas hidup 
> dan kesejahteraan masyarakat di Papua.

> 

> Pengalaman berkembangnya Sao Paulo (Brazil) bisa menjadi moral untuk 
> melakukan pengembangan wilayah berbasis pertanian dan perkebunan. Sao Paulo 
> kini menjadi agglomerasi perkotaan terbesar di Brasil yang dengan statusnya 
> sebagai pusat industri terbesar di Amerika Selatan mampu mengkontribusikan 
> lebih dari setengah PDB industri dari Brasil. Padalah di tahun 1890, waktu 
> Rio de Janeiro berpenduduk lebih dari 500 ribu jiwa, Sao Paulo cuma sebuah 
> kota kecil dengan penduduk sekitar 65,000 jiwa. Tapi dengan memanfaatkan 
> potensi lahannya yang cukup subur untuk perkebunan, Sao Paulo mulai 
> dikembangkan menjadi pusat aktivitas pertanian dan perkebunan kopi yang 
> sangat luas di tahun 1890an. Pada waktu itu, kopi merupakan suatu komoditas 
> berharga dunia, dimana pasca peningkatan kemakmuran akibat revolusi industri 
> di Eropa dan Amerika Utara, gaya hidup masyarakat di kedua belahan dunia tsb 
> menjadi meningkat. Apalagi banyak tempat ketika itu masih meng-illegal- kan

>  penjualan alkohol.

> 

> Selanjutnya setelah keberhasilan pengembangan kopi yang juga menghasilkan 
> influx tenaga kerja (migran, bahkan juga dari Eropa ketika itu) yang 
> menjadikan jumlah penduduknya menjadi sekitar empat kali lipat (240ribuan) di 
> tahun 1900, kegiatan industri mulai dikembangkan di awal tahun 1900an. Tahun 
> 1950, Sao Paulo sudah berpenduduk 2,3 juta dan menjadi pusat aktivitas 
> industri di Brasil. Kini, Sao Paulo masih menjadi pusat kegiatan industri 
> utama di Brasil, dan bahkan di Amerika Selatan. Memang, di samping kesuksesan 
> pembangunannya, Sao Paulo juga menyimpan beribu duka perkotaan. Kurangnya 
> sediaan infrastruktur melahirkan berbagai permasalahan sosial, lingkungan dan 
> ekonomi dalam level masyarakatnya. Suatu hal yang "sangat normal" dalam 
> sejarah pembangunan perkotaan di negara berkembang. Tapi moral yang perlu 
> diambil dalam sejarah pembangunan kota dan wilayah Sao Paulo ini adalah bahwa 
> dengan strategi yang tepat, pengembangan pertanian dan perkebunan
 bisa

>  menjadi "trigger" bagi pembangunan wilayah dan kota.

> 

> Kembali ke Bintuni, apabila ketersediaan sumber gas alam hanya dijadikan 
> sebagai basis pembangunan industri pupuk dan industri berbasis gas alam 
> lainnya, bisa jadi peningkatan kecemburuan sosial juga akan meningkat di 
> wilayah tsb. Ini disebabkan karena industri-industri tersebut bukan 
> jenis-jenis industri yang "barrier to entry"-nya rendah, baik secara 
> permodalan, pengetahuan, teknologi dan sebagainya. Akibatnya industri serta 
> tenaga kerja yang berkontribusi di dalamnya, besar kemungkinan, akan 
> didominasi oleh pendatang. Bisa jadi, penduduk setempat hanya sebagai 
> penonton saja. 

> 

> Tapi apabila wilayah Bintuni dan wilayah sekitar Kepala Burung lainnya juga 
> dikembangkan sebagai wilayah pengembangan pertanian dan perkebunan, pertama, 
> masyarakat setempat bisa ikut terlibat dalam aktivitas pertanian/perkebuna n 
> dan bahkan bisa juga menjadi petani pemilik kebun apabila telah dididik dan 
> dilatih untuk menjadi petani kebun. Pola perkebunan inti-plasma, pemanfaatan 
> 20% APBN/APBD untuk pendidikan, dan kekuatan dana dari Otonomi Khusus, 
> mungkin bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas teknologi masyarakat 
> setempat untuk bisa ikut terlibat aktif di dalam kegiatan pertanian dan 
> perkebunan. Kedua, dengan bisa ikut memanfaatkan kekayaan alam sebagai petani 
> (atau petani kebun) yang turut memanfaatkan pupuk yang dihasilkan oleh gas 
> alam setempat, serta informasi bahwa pupuk dari gas alam tersebut juga 
> digunakan untuk mensejahterakan masyarakat di wilayah lainnya, mudah-mudahan 
> ini bisa menjadi alat untuk "meningkatkan moral dan kepercayaan
 diri"

>  masyarakat setempat dan masyarakat Papua lain bahwa mereka adalah masyarakat 
> yang berjasa kepada elemen bangsa lainnya.

> 

> Mungkin itu pendapat saya. Mohon respon dari rekan-rekan (terutama dari Pak 
> Risfan, Mas Dwiagus, dan mungkin Pak Aunur Rofiq [ini bicara masalah di 
> daerah tertinggal lho Pak; kalo nggak salah Bapak di PDT khan....]). Terima 
> kasih sebelumnya.. ..

> 

> Salam,

> 

> Fadjar Undip

> 

> 

> 

> --- On Mon, 1/5/09, risfano <risf...@... > wrote:

> 

> > From: risfano <risf...@... >

> > Subject: [referensi] Re: Pemerintah Ingin Papua Jadi Sentra Industri 
> > Berbasis Gas

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

> > Date: Monday, January 5, 2009, 4:12 PM

> > 

> > 

> > 

> > 

> > 

> > 

> > 

> > 

> > 

> >  

> > 

> > 

> > 

> > 

> > 

> > 

> >     

> >             Rekans ysh,

> > 

> > 

> > 

> > Ini kan seperti komplek industri Pupuk Kaltim khan. Jadi

> > tidak 

> > 

> > mimpi, asal betul betul direncanakan, banyak investor yang

> > berminat.

> > 

> > Masalahnya seperti diberita ini, sebagian gas sudah ada

> > kontrak 

> > 

> > penjualannya ke negara lain. Jadi mesti dihitung berapa

> > yang 

> > 

> > available untuk industri lokal.

> > 

> > 

> > 

> > Dan, pilihan industrinya juga harus yang bisa melibatkan

> > kegiatan 

> > 

> > lebih luas. Itu sebagai penggerak pertama, selanjutnya bisa

> > industri-

> > 

> > industri lain sesuai SDA dan SDM di wilayah tersebut. Ini

> > realistis.

> > 

> > 

> > 

> > Arifin Pangoro saja bisa mengembangkan sentra pertanian

> > pangan dan 

> > 

> > bio-energi di wilayah Merauke. 

> > 

> > 

> > 

> > Salam,

> > 

> > Risfan Munir

> > 

> > 

> > 

> > --- In refere...@yahoogrou

> > ps.com, "Benedictus Dwiagus S." 

> > 

> > <bdwiagus@ .> wrote:

> > 

> > >

> > 

> > > Awalnya berasal dari mimpi,.  tapi siapa tau bisa jadi

> > realisasi. 

> > 

> > > Amin.

> > 

> > > 

> > 

> > > Pemerintah Ingin Papua Jadi Sentra Industri Berbasis

> > Gas

> > 

> > > 

> > 

> > > 

> > 

> > > RABU, 31 DESEMBER 2008 | 07:56 WIB

> > 

> > > TANGGUH, RABU - Pemerintah mendorong agar Papua

> > dijadikan pusat 

> > 

> > industri

> > 

> > > berbasis gas. Dengan memanfaatkan gas untuk industri

> > yang lebih 

> > 

> > kompleks,

> > 

> > > hal itu akan memberi dampak bergulir yang lebih besar

> > dari sekadar 

> > 

> > menjual

> > 

> > > gas alam cair.

> > 

> > > "Presiden meminta agar dipelajari bagaimana

> > menjadikan lapangan 

> > 

> > Tangguh ini

> > 

> > > petrokimia kompleks, bukan hanya ekspor gas alam cair

> > (LNG) supaya 

> > 

> > nilai

> > 

> > > tambahnya lebih tinggi lagi. Yang sekarang ini sudah

> > cukup untuk 

> > 

> > LNG,

> > 

> > > selebihnya jadi pabrik pupuk, petrokimia, atau

> > industri lain yang 

> > 

> > mungkin,"

> > 

> > > kata Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika meninjau

> > kompleks 

> > 

> > pengolahan gas alam

> > 

> > > cair Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat,

> > Selasa 

> > 

> > (30/12).

> > 

> > > Jusuf Kalla memberi waktu tiga bulan kepada Ditjen

> > Migas dan Badan 

> > 

> > Pelaksana

> > 

> > > Kegiatan Hulu Migas untuk melakukan studi awal terkait

> > cadangan 

> > 

> > gas yang

> > 

> > > tersedia dan jenis industri yang bisa dikembangkan di

> > Papua. "Nanti

> > 

> > > pengembangannya bisa dilakukan oleh pemerintah, BUMN,

> > atau 

> > 

> > swasta," ujarnya.

> > 

> > > Wapres mengatakan, potensi gas yang besar di wilayah

> > Papua harus

> > 

> > > dikembangkan agar bisa lebih maju. Provinsi Papua

> > memiliki luas 

> > 

> > wilayah

> > 

> > > daratan 41,8 juta hektar dan luas lautan 228.000

> > kilometer persegi.

> > 

> > > Jika Papua bisa menjadi pemasok pupuk untuk wilayah

> > Indonesia 

> > 

> > timur, lanjut

> > 

> > > Wapres, Jawa dan Sumatera tidak perlu memasok pupuk ke

> > sana.

> > 

> > > Kepala BP Migas R Priyono mengemukakan, Tangguh sangat

> > mungkin 

> > 

> > dijadikan

> > 

> > > sentra industri petrokimia. "Namun, harus dikaji

> > besar 

> > 

> > cadangannya, apakah

> > 

> > > cadangan itu cukup ekonomis untuk dikembangkan.

> > Tambahan cadangan 

> > 

> > gas

> > 

> > > Tangguh baru bisa diketahui akhir 2009 setelah

> > eksplorasi yang 

> > 

> > dilakukan BP

> > 

> > > Tangguh selesai," kata Priyono.

> > 

> > > Dirjen Migas Evita Legowo mengatakan, proyek gas alam

> > Tangguh 

> > 

> > cukup lengkap

> > 

> > > untuk memproses gas alam cair dan kondensat. Namun,

> > seluruh gas 

> > 

> > yang diolah

> > 

> > > dari dua unit kilang dengan kapasitas 7,2 juta ton

> > yang akan 

> > 

> > beroperasi

> > 

> > > komersial mulai Mei 2009 sudah habis terkontrak untuk

> > jangka waktu 

> > 

> > 24 tahun.

> > 

> > > Evita mengatakan, ada rencana untuk mengembangkan unit

> > kilang 

> > 

> > ketiga yang

> > 

> > > bisa didedikasikan untuk keperluan gas domestik.

> > Pemerintah 

> > 

> > menyetujui

> > 

> > > proyek Tangguh dengan total investasi 5 miliar dollar

> > AS untuk 

> > 

> > dilaksanakan

> > 

> > > tahun 2005.

> > 

> > > Sebesar 37,16 persen saham proyek itu dimiliki BP

> > Indonesia 

> > 

> > sebagai operator

> > 

> > > dari proyek ini. Mitra BP, antara lain, CNOOC Ltd, LNG

> > Japan 

> > 

> > Corporation, MI

> > 

> > > Berau BV, Nippon Oil Exploration Berau, Talisman, dan

> > KG Companies.

> > 

> > > Head of Country Manager BP Indonesia Nico Kanter

> > mengatakan, 

> > 

> > pengiriman gas

> > 

> > > pertama akan disesuaikan dengan kontrak. Gas alam cair

> > dari 

> > 

> > Tangguh sudah

> > 

> > > mendapat pembeli di Korea Selatan, China, dan Amerika

> > Serikat.

> > 

> > > 

> > 

> > > DOT 

> > 

> > > Sumber : Kompas Cetak

> > 

> > > 

> > 

> > > ------------ -----

> > 

> > > Best Regards,

> > 

> > >  

> > 

> > > Benedictus Dwiagus S.

> > 

> > > http://bdwiagus.

> > blogspot. com

> > 

> > > http://bdwiagus.

> > multiply. com 

> > 

> > >  

> > 

> > > "The most difficult thing in the world is to know

> > how to do a 

> > 

> > thing and to

> > 

> > > watch somebody else doing it wrong, without

> > comment."  - T. H. 

> > 

> > White

> > 

> > > 

> > 

> > > :::... Indo-MONEV ...:::

> > 

> > > Indo-MONEV is a mailing list to build a network of

> > Indonesian 

> > 

> > People

> > 

> > > anywhere in the world who are interested, dedicated,

> > and 

> > 

> > profesionalised to

> > 

> > > the work on monitoring and evaluation and other

> > related 

> > 

> > development issues

> > 

> > > including development aid works, particularly in

> > Indonesia.

> > 

> > > Join in by sending an email to:  indo-monev-

> > 

> > subscr...@yahoogrou

> > ps.com

> > 

> > >

> > 

> > 

> > 

> > 

> >       

> > 

> >     

> >     

> >  

> >   

> >  

> >  

> > 

> > 

> > 

> > 

> >  

> > 

> > 

> > 

> > 

> >  

> >  

> > 

> > 

> >  

> >  

> >  

> > 

> >

>




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke