Tgp atas bbrp paragraf lepas….. +++: Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan regional inequality adalah misi regional planning yang basic, sehingga para planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu, "kekuatan" yang mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan ekonomi, yang pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan ekonomi (pasar) dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional). Dan, celakanya keterlibatan para regional planner adalah terbatas sekali disitu. >>>: Pertama…….; Maaf…. dari “…Dan, celakanya keterlibatan para regional planner adalah terbatas sekali disitu”…..sedikitnya bisa terdapat makna ganda disini……. Pertama…, kemungkinan ada suatu higher positioned power yg sengaja sangat membatasi keterlibatan (peran) regional planner disitu walau minat planner utk sangat terlibat cukup besar (ini sendiri juga debatable, masak iya mau berperan serta ‘lebih’ kok nggak boleh….., atau kalau benar nggak boleh, padahal sini menggebu…. setidaknya masyarakat khan bisa lihat ada banyak protes atau unjuk rasa oleh masyarakat planning tentang “mau berperan serta ‘lebih’ kok nggak boleh” ……, tapi yg macem gini ini khan di teve juga nggak pernah terlihat sekali juga khan ya?)……… Kedua……., keterlibatan masyarakat planner memang (salahnya sendiri/ maunya sendiri) terbatas sekali…… dalam artian ganda pula….. setidaknya pertama…. Masyarakat planner sebenarnya sangat tahu benar apa obat mujarab yg harus dipakai…..hanya mungkin nunggu harga cocok dulu baru mau ‘banyak terlibat’…..…. Kedua…….‘keterbatasan’ dalam artian yg sesungguhnya memang amat menyelimuti kapabilitas intelektual masyarakat planning itu sendiri utk agar visinya dpt diterima, mudah dilaksanakan dan hasilnya yg signifikan mudah terbayang……. Karena “keterbatasan” itulah (ini juga bisa bermakna internally pendapat para planner sendiri masih ngalor ngidul alias kontroversial, tak jelas yg bener yg mana)…… maka lalu perannya menjadi ’absen’……… Ketiga … dsb…… Kedua……; dari : “…..Tapi kita tahu, "kekuatan" yang mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan ekonomi, yang pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan ekonomi (pasar) dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional)……”…kita mendapatkan dari kutipan diatas…. bahwa kata2 (kebijakan makro ekonomi) “nasional” muncul disitu…… so kenapa…. sesuatu upaya yg dimaksudkan bersifat ‘nasional’ pula (justru agar apa yg menjadi “…misi regional planning yang basic…” itu bisa dilaksanakan….. lha kok malah bisa ‘belok’ atau ‘dibalik’ dimaknakan sebagai “mau mengatur daerah2” (krn padahal ini khan era desentralisasi dan otonomi daerah?)……. +++: Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional planner, ya sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan inovasi-inovasi daerah, supaya capacity building daerah makin gencar, sehingga meningkat kepercayaan ke daerah. Ilmu planologi itu intinya site plan, urban plan, regional plan. Ada sekitar 472 kabupaten/kota di Indonesia yang perlu ditingkatkan kapasitasnya. >>>: Ada sebuah kalimat diatas yg katakan “…. Ilmu planologi itu intinya site >>>plan, urban plan, regional plan...” (national strategic plan jelas2 nggak >>>disebut disitu)……Jadi bgmn ya caranya mau mengakomodasikan “national >>>strategic plan” disitu yg itu bisa mengcover aspek “integratif” sabang >>>samppe merauke atau “keterpaduan fungsi2 spatial secara >>>nasional”?............ padahal jelas terlihat bahwa masalah “daerah” dan >>>“nasional” itu berkait erat….. dan malah yg kepentingan “nasional” (tak >>>harus berarti pusat : cendana, cikeas, ciganjur, tapi artinya sabang sampe >>>merauke) itu khan seharusnya malah diatas “kepentingan daerah”?........ lha >>>kok disini terkesan “kepentingan nasional” seperti dihilangkan atau >>>dianggap tak perlu muncul atau spt mau recokin otonomi daerah?......... Padahal kalau “daerah” mau diatas “nasional”….. bukankah nanti jadinya bisa spt Yugoslavia?.....atau memang ada yg mulai ingin spt Yugoslaviakah?........... Pertanyaan lain …… kalau “ilmunya regional planner” itu memang jelas2 gak mau mikirin “national spatial planning”…… apakah planning yg spatially nationalistic perlu diurus oleh “the others” gitu?….. kalau memang ya… ya asal tahu saja…… jadi biar jelas……. Salam, aby

