Pak Eka, Pak Risfan dan rekan ysh, Ternyata diskusi semakin berkembang. Namun tampaknya tidak dpt lepas dari penyakit lama.
Pertama, pengakuan terhadap kepemerintahan oleh pemangku kepentingan setempat dimasa lalu tidak terdukung. Hal ini karena paradigma yang dianut bersifat top down. Kelemahan top down di Bali adalah karena tidak integratif dengan perkembangan konsep pembangunan yang dianut stake holder setempat, karena mungkin memang tidak disertakan. Akibatnya setelah era top down runtuh, penganut bottom up emoh melanjutkan keinginan top down semula. Perlu proses panjang dan lebih evolutif untuk mengubah kondisi ini, siapapun yang "benar". Lembaga pemangku kepentingan setempat belum menjadi tuan rumah yang menjadi tuan di negeri sendiri (punya sense of belonging atas setiap perkembangan dalam waktu-ruang kehidupannya). Padahal seharusnya, sesuai tujuan kemerdekaan NKRI, lembaga masyarakat setempat lebih meningkat kemandirian (kemerdekaan dalam arti positif) dalam bertanggung jawab atas peningkatan kualitas hidupnya. Penyakit kedua adalah paradigma "penataan ruang" (yang pada hakekatnya introduksi rencana "penggunaan lahan" di tanah orang lain yang merasa "dikuasai" oleh pengintroduksinya). Hingga revisi UU PR yang barupun masih terasa nuansa yang sama. Penataan masih seperti proses konstruksi, ada rencana, ada implementasi ada pengendalian agar sesuai rencana. "Rencana" juga belum sebagai salah satu alat "pembangunan" (konseptual, mendasar, local carrying capacity & improvement based), namun seolah-olah cuma mesin ekonomi agar apa yang kita introduksi dapat menjadi generator pertumbuhan ekonomi, atau lebih parah apablia cuma intervensi fisikal untuk mengubah wajah aspek lokal agar laku mendukung jualan kita setempat (kasarnya: seperti interest para perusahaan belanda dijaman VOC. Atau pengadopsian kultur Barat sebelum restorasi Meiji mengoreksi kembali berdasarkan ciri lokalnya). Padahal pada hakekatnya "penataan" perlu bila suatu kondisi suatu tempat yang belum tertata. atau tatanan sebelumnya belum mampu mengantisipasi perkembangan lingkungan yang mungkin terjadi. Artinya pembangunan berarti peningkatan daya dukung masyarakat dan lingkungan hidupnya serta kelentingannya terhadap perubahan alam dan manusia yang mempengaruhinya, hingga tingkat global sekalipun. Rencana, Implementasi dan Pengendalian berjalan bersama pada setiap tahap kehidupan lokal dan dalam interaksi dengan sekitarnya. Ruang belum dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari perubahan waktu-ruang-kultural setempat. Saya melihat bahwa perubahan pendekatan dari sentralistis ke lokalistis telah berproses, walau lambat dan tambal sulam, namun bila selalu difasilitasi secara positif dapat menyembuhkan luka-luka lama dan melahirkan kembali kebanggan lokal untuk muncul menjadi unggul. Implementasi dan pengendalian adalah agar perubahan tidak menyebabkan unsur-unsur lokal menjadi semakin tergantung kepada intervensi luar, bukan sebaliknya selama ini. Penataan ruang dan introduksi kegiatan ekonomi baru selalu perlu dikoreksi menjadi lebih berbasis kesesuaian dengan proses perubahan unsur waktu-ruang kultural alam dan komunitas lokal untuk menuju unggul. Konsep keunggulan harus datang dari dalam, agar berkelanjutan dan menyejahterakan. Artinya perubahan mulai dari proses belajar masyarakat lokal, dari kegiatan nyata hingga proses pendidikan formal, non-formal dan informal yang berkembang sesuia irama waktur-ruang kultural masing-masing budaya, tidak dapat diinstankan. Memang tidak sesuai dengan keinginan penguasa dalam periode yang pendek dan terbatas (untuk menghasilkan monumen pada jamannya) namun lebih bermanfaat bagi masyarakat lokal dan akhirnya nusa bangsa secara kumulatif, Bagaimana caranya disetiap kasus? Nah itu adalah tugas bersama para konseptor pembangunan setempat plus mereka yag berinteraksi positif dengannya. Salam, Abimanyu 2009/1/4 ffekadj <[email protected]> > > Pak Risfan ysh, > > Satu hal yang dapat dipahami adalah pekerjaan 'pengendalian' adalah > pekerjaan 'cuci piring', atau ada yang pesta-pesta sebelumnya dan > meninggalkan sampah, kemudian dibersihkan. Pekerjaan ini tidak populer > di lingkungan Pemda, karena secara politik dapat menjatuhkan > kredibilitas di depan konstituen. Apalagi yang harus dibersihkan adalah > lingkungan di sekitar sistem nasional. Dan yang cukup telak adalah > sebagian besar terjadi karena adanya izin, hak, konsesi, fatwa, > persetujuan, dll yang dikeluarkan oleh Pemda sendiri. > > Sektor Pusat yang diharapkan masih memiliki mindset seperti Pemda, > berorientasi pada pembangunan dan bukan pengelolaan, apalagi > pengendalian. Jadi memang harus jelas pembebanan tanggung jawab, urusan, > dan risk sharing ini; dan justru yang seperti ini harus dilindungi oleh > perundang-undangan. Saya kurang tahu perihal Jabodetabek, apakah > 'kebijakan baru' yang ada telah mengatur 'hal terpenting' ini. Kalau > tidak, dimana letak 'strategis nasional' itu? > > Kembali ke Bali, menyusuri koridor 'jalan nasional' Ngurah Rai kita > dapat melihat perubahan fungsi ruang yang kian membebani ruang jalan. > Dan hebatnya, memiliki akses langsung ke ruang jalan itu. Dan sistem > nasional itu telah berfungsi lokal. Dalam kasus seperti ini siapa yang > layak mengendalikan? > > Mungkin kita perlu memformulasi growth management ini secara jelas dan > mendalam pak. Salam. > > > -ekadj > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, "risfano" > <risf...@...> wrote: > > > > Bang Eka dan rekan2 ysh, > > > > Siapa pengelolanya, ya jelas pemerintah daerah, kabupaten/kota di > > koordinir gubernur. Pada intinya, "growth management" perlu > > dipromosikan untuk menggeser paradigma "development" dalam > > pengertian sempit membangun. > > Walaupun sistem penganggaran berubah dan istilah "pembangunan vs > > rutin" sudah ditiadakan, tapi mindset pemda masih cenderung ke > > pembangunan, dan meremehkan pengelolaan. Terutama untuk daerah > > seperti Bali, Jabodetabek, justru pengelolaan (pengendalian) > > pertumbuhan itu yang perlu diutamakan. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > "ffekadj" 4ekadj@ wrote: > > > > > > > > > Pak Risfan ysh, > > > > > > Karena menyangkut growth 'management', bukankah ini menyangkut > > aspek > > > 'pengelolaan'? Pertanyaan berikutnya adalah 'siapa' (who) yang akan > > > melakukan pengelolaan? Apalagi misi pengelolaan (: pengendalian) > > ini > > > dilekatkan pada tugas pemerintah (yang mana?), kepemerintahan, dan > > juga > > > ada yang dikonsesikan pada swasta. > > > > > > Kasus Bali (baca: Sarbagita) ini saya kira menarik. Tidak semata > > kita > > > men-cap-nya dengan status KSN (Kawasan Strategis Nasional), karena > > telah > > > banyaknya investasi Pemerintah Pusat di tempat tersebut dan juga > > > melesatnya 'fungsi'; namun UUPD juga telah menganugerahkan 'segala > > > urusan' kepada Pemda. Jadi julukan 'sistem perkotaan nasional' > > hingga > > > 'KSN' bisa jadi 'tong kosong nyaring bunyinya', karena tidak jelas > > > urusan Pusat di tempat tersebut; apalagi harus melakukan 'growth > > > management' di tempat tersebut. > > > > > > Saya kira ini salah satu bentuk 'perencanaan', 'penganugerahan > > status', > > > dan 'otonomi' yang kebablasan, yaitu suatu masa ruang itu 'tidak > > dapat > > > dikendalikan' lagi oleh 'siapapun'. Namun mohon pencerahannya juga > > pak. > > > Salam. > > > > > > -ekadj > > > > > > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > "risfano" <risfano@> wrote: > > > > > > > > Bang Eka dan rekan-rekan ysh, > > > > > > > > Untuk Bali (dan wilayah Jabodetabek), saya kira kita perlu > > > > mempromosikan penggunaan istilah "growth management". Sebaiknya > > > > jangan pakai istilah pembangunan (development) lagi, karena > > dengan > > > > pengamatan sepintas saja, kita sudah melihat tanda-tanda akan > > > > dilampauainya ambang batas daya dukung lingkungannya. > > > > > > > > Salam, > > > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > "ffekadj" 4ekadj@ wrote: > > > > > > > > > > > > > > > Pak Abim ysh, bagaimanapun hasta kosala kosali dan hasta bumi > > serta > > > > > sekarang bertambah dengan tri hita karana diterapkan, tidak > > dapat > > > > > menahan laju perubahan struktur > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2923> ruang > > > > sehingga > > > > > tidak terkendali. Dampak terbesar dapat sampai kepada musibah > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4355> , > > termasuk > > > > juga > > > > > perubahan fungsi > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4365> > > > > > (infrastruktur) yang ada. Apa ini karena 'ekonomi wisata' > > terlalu > > > > cepat > > > > > berkembang sehingga spill over ke Lombok? Namun setidaknya > > kasus > > > > ini > > > > > menunjukkan realisasi melampaui prediksi/perencanaan > > pemerintah. > > > > Salam. > > > > > > > > > > -ekadj > > > > > > > > > > > > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > "abimanyu takdir alamsyah" > > > > > <takdir65@> wrote: > > > > > > > > > > > > Pak Eka ysh, > > > > > > > > > > > > Saya mungkin rindu dan kehilangan suasana Bali seperti waktu > > > > akhir > > > > > tahun > > > > > > 1960-an (kebetulan kakak ibu tinggal di denpasar) dan sempat > > > > tinggal > > > > > di > > > > > > Werdhapura di pantai Sanur pada awal tahun 70-an dulu. Bali > > yang > > > > belum > > > > > > ternag-benderang dan hingar-bingar seperti sekarang, yang > > > > kekhasan > > > > > kehidupan > > > > > > masyarakatnya serta arsitektur budayanya masih kental dan > > tidak > > > > banyak > > > > > > terpolusi oleh produk pendatang yang "mem-bali". Mungkin itu > > > > pula yang > > > > > > dirasakan oleh rekan-rekan dari Australia pada tahun > > pertengahan > > > > > 1980-an > > > > > > ketika mulai memilih Lombok sebagai daerah wisata daripada > > Bali. > > > > > Padahal > > > > > > Lombok jauh dibawah suasana lingkungan Bali saat akhir 1960- > > an > > > > > tersebut. > > > > > > > > > > > > Memang rekan-rekan di Bali masih merasakan bahwa para pemuka > > adat > > > > > masih > > > > > > lebih dipatuhi masyarakat Bali dalam pengembangan > > permasalahan > > > > > sosial-budaya > > > > > > setempat. Namun pembangunan fisik dan ekonomi ditentukan oleh > > > > pemda > > > > > dan > > > > > > pusat. Aparat setepat juga tidak dapat berbuat banyak > > misalnya > > > > > terhadap > > > > > > rusaknya sebagian hutan mangrove di daerah percontohan > > tanaman > > > > > mangrove di > > > > > > pantai Sanur akibat perubahan arus setelah terjadi reklamasi > > > > pantai > > > > > > perluasan pulau dimukanya. Walaupun drill behaya Tsunami > > telah > > > > > dilakukan di > > > > > > kawasan setempat, namun bangunan-bangunan penyelamat maupun > > tata > > > > ruang > > > > > > setempat maupun penyesuaiannya dengan tradisi rumah-halaman > > > > budaya > > > > > Bali > > > > > > kurang menjamin penyelamatan yang lebih aman apabila bahaya > > > > tersebut > > > > > > benar-benar terjadi. Belum lagi apabila animasi rekan-rekan > > ITB > > > > > mengenai > > > > > > peluang tenggelamnya sebagian pulau dan pantai Sanur-Jimbaran > > > > > benar-benar > > > > > > terjadi. Pembangunan Bali masih bersifat sektoral (ekonomi- > > fisik, > > > > > belum > > > > > > menyeluruh). > > > > > > > > > > > > Sejak lama Bali telah lebih dikenal daripada Indonesia > > (melalui > > > > > kekhasannya > > > > > > dan pariwisata). Konferensi tingkat dunia banyak dilaksanakan > > > > disana, > > > > > > termasuk aspek lingkungan hidup dan kelautan. Juga percobaan- > > > > percobaan > > > > > > pelestarian laut dan perikanan akibat pemutihan karang maupun > > > > > perusakan oleh > > > > > > manusia. Bagaimana Bali dapat membalikkan globalisasi dunia > > > > dengan > > > > > menjadi > > > > > > contoh pula bahwa serbuan "globalisasi modernisasi" dan > > > > > "artifisialisasi > > > > > > Bali" masih terkendali oleh keunggulan lokal yang justru > > > > > "mem-Bali-kan" atau > > > > > > bahkan "meng-Indonesia-kan" dunia, mengingat bahwa Bali > > merupakan > > > > > bagian tak > > > > > > terpisahkan dari kebhinekaan Indonesia. > > > > > > > > > > > > Begitu dulu pak, > > > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > Abimanyu > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > On 12/25/08, - ekadj 4ekadj@ wrote: > > > > > > > > > > > > > > Pak Abim ysh, > > > > > > > > > > > > > > Sengaja diskusi Bali sebagai salah satu contoh 'success > > story' > > > > dalam > > > > > > > penataan ruang di masa lampau ini saya tarik ke Referensi, > > > > berhubung > > > > > banyak > > > > > > > pakar di milis ini yang memahami masalah Bali. Ada Pak > > Aca, Pak > > > > > Wayan, Pak > > > > > > > Risman, dll yang diharapkan dapat memberikan pandangan. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Point yang ingin saya tawarkan adalah: 'keberpihakan' Pusat > > > > secara > > > > > intens > > > > > > > dalam pengembangan kawasan baru adalah niscaya. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Dari beberapa cerita yang saya dengar hingga tahun 1950an > > Bali > > > > belum > > > > > > > dikenal, dan baru tahun 1960-an mulai dikenal secara luas. > > Saya > > > > > kurang tahu > > > > > > > mana yang dikembangkan dulu, apakah Sanur atau Kuta. Tapi > > > > sekitar > > > > > tahun 1969 > > > > > > > Ditjen Cipta Karya membuat resor percontohan di Sanur, yang > > > > kita > > > > > kenal > > > > > > > sebagai Werdhapura. Resor ini merumuskan tipikal arsitektur > > > > > permukiman Bali > > > > > > > yang mengindahkan hasta kosala-kosali. Dan setelah > > itu 'pola' > > > > ini > > > > > menjamur > > > > > > > menjadi teladan resor wisata di Bali. Dengan kata lain, > > sedikit > > > > > ungkitan > > > > > > > dari Pusat telah merebak dan berkembang dalam berbagai > > bentuk. > > > > > Apalagi era > > > > > > > 1970an hingga 1980an didukung penuh dengan berbagai > > pembangunan > > > > > > > infrastruktur. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Mudah-mudahan Pak Aca mau cerita lagi ketika dulu 'pusat > > > > > pemerintahan' > > > > > > > dipindahkan ke Renon, suatu areal pertanian yang subur. > > Namun > > > > > pertimbangan > > > > > > > hasta bumi ditanamkan dan menjadikan bentuknya yang > > sekarang. > > > > > Termasuk juga > > > > > > > area karang Nusa Dua yang dulu direncanakan oleh alm > > Abukasan > > > > dan > > > > > Joko Item > > > > > > > menjadi bentuknya sekarang. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Mungkin itu dulu Pak Abim. Salam. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > -ekadj > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ---------- Forwarded message ---------- > > > > > > > From: abimanyu takdir alamsyah takdir65@ > > > > > > > Date: 2008/12/25 > > > > > > > Subject: Re: [futurologi] Re: Kami, Jakarta > > > > > > > To: [email protected] <futurologi%40yahoogroups.com> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Menarik juga argumen pak eka berikut ini: > > > > > > > > > > > > > > "......Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' > > > > mengembangkan > > > > > kawasan > > > > > > > baru ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial > > > > area' di > > > > > Batam > > > > > > > tahun 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang > > > > dulu 'merencanakan' > > > > > Bali, dan > > > > > > > ada beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam......." > > > > > > > > > > > > > > Betulkah aktivitas ekonomi ini termasuk "berhasil"....? > > > > > > > 1). Bali ?: ......saya malah merasa bahwa Bali yang > > beberapa > > > > kali > > > > > saya > > > > > > > kunjungi tahun-tahun ini sama sekali bukan Bali yang saya > > > > kenal 30 > > > > > tahun > > > > > > > lalu. Sangat asing dan 'artificial'. Halo pak Aca, saya > > ingin > > > > tahu, > > > > > apakah > > > > > > > betul itu yang pak Aca "rencana"kan dahulu?. Padahal 'the > > > > real' Bali > > > > > sudah > > > > > > > dikenal dunia sejak abad lalu.... > > > > > > > 2). Batam? ...... > > > > > > > Salam, > > > > > > > Abimanyu > > > > > > > > > > > > > > 2008/12/25 ffekadj 4ekadj@ > > > > > > > > > > > > > >> Cak Andri, saysudah on lagi, walau masih harus mempelajari > > > > banyak > > > > > > >> informasi baru. > > > > > > >> > > > > > > >> Isu pusat pemerintahan ini kelihatannya masih menarik > > > > dibicarakan. > > > > > > >> Sebenarnya perlu ditawarkan beberapa alternatif metoda dan > > > > > pendekatan, > > > > > > >> karena sebenarnya 'kebuntuan' pemikiran dari banyak orang > > > > adalah > > > > > berawal > > > > > > >> dari hal itu. Varia[n]si 'lokasi ekonomi' kelihatannya > > selalu > > > > > dominan dan > > > > > > >> selalu menjadi debat, karena bicara 'hulu' dan 'hilir' > > yang > > > > tidak > > > > > pernah > > > > > > >> selesai. Coba juga dengan beberapa 'nilai mutlak lokasi' > > untuk > > > > > aktivitas > > > > > > >> lain yang lebih sedikit debatnya, seperti aktivitas > > sosial, > > > > > iptek<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4309>, > > > > > > >> dan sebenarnya ada satu lagi yang nanti coba saya > > ketengahkan, > > > > > yaitu > > > > > > >> 'pertahanan', dan beberapa > > > > > > > contoh<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5764>pernah > > > > saya > > > > > sampaikan. > > > > > > >> > > > > > > >> Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' > > mengembangkan > > > > > kawasan baru > > > > > > >> ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial > > area' di > > > > > Batam tahun > > > > > > >> 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang dulu 'merencanakan' > > > > Bali, > > > > > dan ada > > > > > > >> beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam. > > > > > > >> > > > > > > >> Sementara demikian dulu. Salam. > > > > > > >> > > > > > > >> > > > > > > >> > > > > > > >> -ekadj > > > > > > > > > > > > > > > > >

