Pak Risfan ysh,

Terima kasih atas infonya.

Pak Nuzul ysh,

Kembali saya mengulang permohonan lama agar Pak Nuzul tidak berkeberatan 
membagi artikelnya melalui milist ini. Kebetulan saya tidak berkemampuan untuk 
membaca artikel tersebut di majalah Tempo. Apabila Pak Nuzul bisa men-sharing 
artikel tsb melalui milist, keingin-tahuan saya (akibat publikasi dari Pak 
Risfan di bawah, he... he... mohon maaf saya ikut-ikutin ya Pak Risfan....) 
bisa terpenuhi.

Salam,

Fadjar Undip


--- On Tue, 1/13/09, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Geografi Ekonomi
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 13, 2009, 5:22 AM










    
            Rekans ysh,



Geografi ekonomi



Akhirnya terbaca juga tanggapan Bang Nuzul Achjar atas WB Report: "Reshaping 
Economic Geography," di TEMPO (18-1-09). Selamat!



Kalau boleh mengapresiasi, dan mencoba mengunyahnya, ada beberapa yang saya 
tangkap.

Pertama, mengutip Isard, "the world is not flat", ada yang menambahi "there are 
mountains". Nyatanya landscapenya begitu. Yang penting "inclusive" kesimpulan 
WB.



Tentu tidak boleh nrimo begitu saja. Inilah tugas regional planning. 
Mengimbangi side effect dari kebijakan ekonomi makro yang abai terhadap 
pemerataan antar wilayah.



Diapresiasi juga bahwa pemerintah Indonesia sejak Pelita III (orba) telah 
mengadopsi kebijakan pengembangan wilayah, berturut-turut dengan berbagai 
variasi dan versi. Catatan Bang Nuzul tentang kelemahan pendekatan pemerintah 
selama ini: (1) terlalu supply driven, tanpa memperhatikan skala ekonomis. (RM: 
artinya kurang melihat demand, pasarnya siapa). (2) dalam penetapan pusat dan 
perwilayahan, pemerintah kurang mempertimbangkan keunggulan geografis, lebih 
banyak berdasar bargain politik. 



Yang paling menarik bagi saya, Bang Nuzul pengangkat pendapat-pendapat yang 
menyarankan pentingnya: pengembangan institusi, good-governance,  social 
capital, dan peran kepemimpinan daerah yang punya visi dan INOVASI untuk 
menerobos kebuntuan penyediaan pelayanan dan infrastuktur dasar.



Baru-baru ini saya baca buku "The Elephant and the Dragon", yang mengisahkan 
kebangkitan raksasa ekonomi India dan China. Akhirnya devision of labor antar 
wilayah/negara terjadi. Negara kaya (lama) seperti USA, Eropa Barat jadi pasar, 
China yang memproduksi barang, India melakukan pekejaan jasa (online, menjawab 
telpon, ICT lainnya). Itu yang akhirnya mengalihkan banyak pekerjaan ke kedua 
rksasa baru. Orang di negara maju kalau bukan investor kaya, ya kebagian jadi 
tukang pipa, tukang potong rambut, tukang taman, yang sifatnya lokal, tak bisa 
dialihkan ke  India atau diproduksi di China. Distance bukan kendala kalau 
economic of scale bisa nutup ongkos transpor. Bisakah pada skala dalam negeri, 
daerah-daerah kita mengambil alih berbagai kegiatan ekonomi dari Jakarta atau 
P. Jawa? Artinya menciptakan skala ekonomi, yang basisnya adalah regional 
advantage, good-governance, social capital (trust), dan innovative leader 
seperti catatan Bang Nuzul di atas?
 Kalau ingat bahwa era otonomi ini juga memunculkan model Fadel, 10 tokoh Tempo 
itu, dan lainnya. Rasanya harapan pemerataan antar daerah tidaklah berlebihan. 

Sekali lagi selamat untuk Bang Nuzul!



Salam,

Risfan Munir




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke