Pak Risfan, Pak Aunur, rekan Eko van Paris, rekan Fajar van Undip dan
rekan-rekan referensiers Ysh.

Terimakasih pak Risfan atas komentarnya. Saya banyak belajar dari pengalaman
empiris rekan-rekan semua di milis ini. Beberapa point dari tulisan saya di
kolom Tempo sudah pernah diposting di milis ini.

Untuk rekan Eko van Paris, kontributor laporan Bank Dunia 2009 memang banyak
sekali tokoh ekonomi, geografi, regional science, dsb. antara lain Vernon
Henderson dari Brown University (salah satu universitas bergengsi di AS -
kelompok Ivy League) . Salah seorang muridnya adalah Dr. Ari Kuncoro - yang
dicited dalam referensi laporan Bank Dunia. Dr Ari kebetulan memang kolega
saya di LPEM. Kontributor lain adalah Prof Fujita juga pernah ke Indonesia
dan punya (eks) murid di Indonesia.

Untuk Pak Fajar van Undip, berikut saya sisipkan tulisan kolom tersebut.
Seperti dikatakan pak Risfan, planning is a process. jadi tulisan ini
hanyalah sepercik pemikiran yang mungkin bisa menjadi bola salju untuk
mengembangkan pemikiran alternatif lainnya.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/12/KL/mbm.20090112.KL129229.id.html


Menata Kembali Geografi Ekonomi Indonesia

*Nuzul Achjar*

LAPORAN tahunan Bank Dunia 2009: Reshaping Economic Geography (Menata
Kembali Geografi Ekonomi) mempunyai nuansa yang agak berbeda dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Isu geografi ekonomi dalam laporan tersebut
tampaknya sedikit banyak diilhami konsep peraih Nobel Ekonomi 2008, Paul
Krugman, tentang "Geografi Ekonomi Baru" (New Economic Geography) dan "Teori
Perdagangan Baru" (New Trade Theory).

Melalui perspektif geografi ekonomi (ekonomi ruang), Bank Dunia menyoroti
berbagai ketimpangan melalui jendela berbingkai 3-D, yaitu konsentrasi
kegiatan ekonomi (density), aspek biaya transportasi (distance), dan faktor
integrasi ekonomi (division) lintas daerah dan lintas negara. Ketiga faktor
"D" tersebut diharapkan dapat mengubah tatanan ekonomi ruang untuk mengatasi
persoalan ketimpangan, baik pada skala lokal maupun regional, temasuk
regional lintas negara.

Analisis dan arah rekomendasi kebijakan Bank Dunia ini diperkirakan akan
menimbulkan polemik atau kontroversi, karena agak berbeda dengan kebijakan
yang diambil banyak negara, termasuk Indonesia. Bank Dunia mengatakan bahwa
persoalan disparitas pada level antardaerah, misalnya, tidak dapat diatasi
hanya dengan menyebarkan kegiatan ekonomi ke semua daerah. Bagi Bank Dunia,
memeratakan kegiatan ekonomi di semua daerah atau lokasi justru menghambat
upaya mengurangi kemiskinan itu sendiri. Sebaliknya, di belahan dunia lain,
banyak negara justru menempuh kebijakan pemerataan kegiatan ekonomi ke
berbagai wilayah yang dihuni sekitar satu miliar penduduk miskin seluruh
dunia.

Ada apa gerangan di balik argumentasi Bank Dunia bahwa konsentrasi kegiatan
ekonomi tidak dapat digerakkan di seluruh daerah atau lokasi? Konsep
"Geografi Ekonomi Baru" yang dilontarkan Krugman dengan jelas
mengindikasikan bahwa konsentrasi kegiatan ekonomi atau aglomerasi
bagaimanapun memerlukan kegiatan produksi dengan skala ekonomis (economies
of scale) tertentu yang tidak dapat diciptakan di semua daerah atau lokasi
begitu saja.

Dalam lingkup yang lebih kecil, konsentrasi toko-toko buku di Kwitang
(sebelum digusur) di Jakarta adalah fenomena paling sederhana adanya
aglomerasi spasial di daerah perkotaan. Bagi calon pembeli buku, tempat
paling pas untuk berburu buku adalah Kwitang. Di benak pedagang buku,
Kwitang adalah lokasi paling tepat untuk menggelar dagangannya karena
pembeli pasti akan ke sana. Konsentrasi jasa keuangan di Jakarta yang
mencapai lebih dari 90 persen nilai tambah bruto total jasa keuangan
Indonesia adalah fenomena kekuatan aglomerasi. Meminjam istilah ilmu fisika,
Paul Krugman mengindikasikan adanya kekuatan sentripetal yang mendorong
konsentrasi kegiatan ekonomi, dan sebaliknya ada kekuatan sentrifugal lebih
besar yang dapat membuyarkannya.

Bagi Bank Dunia, mendorong aglomerasi adalah mendekatkan penduduk ke
kota-kota pusat kegiatan ekonomi yang sedang tumbuh melalui migrasi dan
urbanisasi. Kecenderungan semakin pendeknya jarak tempuh, terutama penduduk
negara-negara maju, ke pusat kegiatan ekonomi memberikan indikasi bahwa
faktor biaya transportasi masih tetap menjadi hal yang tidak boleh
diremehkan. Pandangan ini seolah meruntuhkan mitos bahwa the distance is
dead.

Tapi bukankah urbanisasi menimbulkan persoalan ekonomi, sosial, dan politik?
Tak usah khawatir. Yang penting adalah bagaimana menjadikannya sebagai
urbanisasi inklusif. Toh, urbanisasi tidak bisa dihentikan. Kuncinya
terletak pada penyediaan pelayanan dan infrastruktur dasar.

Jika demikian, seberapa relevankah perspektif geografi ekonomi dapat
digunakan untuk mengevaluasi hasil pembangunan regional Indonesia, baik
melalui bingkai 3-D maupun dari kacamata kita sendiri? Relevansi dari
pendekatan yang ditawarkan Bank Dunia ini adalah peneguhan (kembali) bahwa
ruang ekonomi bukanlah sebuah lanskap datar. The world is not flat adalah
kalimat yang disampaikan Walter Isard, penggagas Regional Science, sekitar
empat dasawarsa lalu, setelah memperhatikan ketidakmampuan pendekatan
ekonomi makro mengatasi persoalan perekonomian regional.

Kita juga melihat suatu masa ketika arah perencanaan regional mulai terlihat
lebih terang sejak Pelita III, rancangan institusi perencanaan seperti
Bappenas sangat diwarnai dengan penentuan pusat-pusat pertumbuhan berikut
hierarkinya. Isu kesenjangan Jawa versus luar Jawa, dan selanjutnya dikotomi
Kawasan Timur Indonesia (KTI) versus Kawasan Barat Indonesia (KBI),
memberikan justifikasi lebih kuat bahwa konsep tersebut seolah langkah yang
tepat. Dengan isu yang sama pula, di bawah pemerintahan Presiden Habibie
pada akhir dekade 1990, pemerintah menetapkan 13 kawasan ekonomi terpadu di
13 provinsi di KTI.

Kita boleh berdebat apakah program atau konsep pembangunan regional seperti
telah disebutkan itu berjalan efektif atau tidak. Dengan tetap memberikan
apresiasi terhadap keberhasilan beberapa program pembangunan regional, kita
juga tidak boleh menutup mata atas banyaknya kegagalan yang terjadi.

Pertama, penentuan lokasi kegiatan ekonomi pada umumnya masih bersifat
supply driven tanpa memperhatikan skala ekonomis sebagaimana terjadi pada
kawasan ekonomi terpadu, dan juga pada pusat pertumbuhan lainnya. Ketika
belakangan pemerintah merencanakan kawasan ekonomi khusus, yang rancangan
undang-undangnya saat ini sedang disiapkan, tidak sedikit pula daerah yang
menawarkan diri menjadi lokasi kawasan ekonomi khusus tanpa memperhatikan
peluang munculnya kekuatan aglomerasi.

Kedua, pemerintah lalai memperhatikan lemahnya keunggulan geografis
(geographical advantage) karena tingginya biaya transportasi. Penentuan
lokasi kegiatan ekonomi lebih banyak karena tawar-menawar politik ketimbang
pertimbangan yang obyektif. Lihatlah kasus pelabuhan Sabang sebagai salah
satu kawasan ekonomi terpadu. Lepas dari pertimbangan politik, pelabuhan
Sabang dewasa ini bukanlah Sabang "tempo doeloe" yang perlu disinggahi oleh
kapal-kapal konvensional karena letaknya dianggap strategis untuk
perdagangan. Pergeseran konstelasi ekonomi Asia Pasifik dan munculnya
konsentrasi kegiatan ekonomi baru Thailand, Malaysia, Vietnam, dan
sebagainya menyebabkan posisi pelabuhan Sabang secara ekonomi tidak lagi
strategis. Jika harapan diletakkan di pundak Sabang untuk menggerakkan
perekonomian regional melalui ekspor, pada kenyataannya sekitar 80 persen
kegiatan pelabuhan Sabang justru untuk impor.

Tertutupkah peluang daerah untuk mengembangkan perekonomian regional tanpa
harus mengikuti jejak-jejak lama pendekatan konvensional yang sudah semakin
kabur itu? Ketika kita berbicara tentang bagaimana mengalokasikan sumber
daya yang terbatas secara efisien, dimensi aglomerasi dan biaya transportasi
dalam penentuan lokasi kegiatan ekonomi menjadi sangat relevan.

Sesungguhnya, perspektif geografi ekonomi tidak hanya berbicara tentang
aglomerasi, kluster industri, dan biaya transportasi, tetapi juga tentang
institusi, termasuk modal sosial (social capital). Sebagaimana dikatakan
filsuf Prancis Henri Lefebvre (1991) dalam The Production of Space bahwa
lanskap ruang ekonomi dan ruang sosial akan sangat dipengaruhi oleh
kekuasaan atau kekuatan (power) dari institusi dan ideologi yang
melatarbelakanginya. Lanskap ekonomi perkotaan seperti Jakarta dan kota
besar lainnya merupakan cerminan dari kebijakan institusi dengan ideologi
ekonomi yang mendasarinya. Lebih jauh, tata kelola pemerintahan yang baik
serta inovasi yang menyertainya adalah buah dari kekuatan institusi.

Penganugerahan 10 Tokoh 2008 oleh majalah Tempo (edisi khusus akhir tahun
22-28 Desember 2008) menunjukkan dengan tegas bahwa tokoh-tokoh pemimpin
daerah tersebut tidak hanya bekerja dengan hati, tetapi juga dengan inovasi
tanpa harus berbicara tentang aglomerasi dan urbanisasi inklusif. Kata-kata
inovasi inilah yang justru tidak banyak keluar dari janji politik dalam
kampanye pemilihan kepala daerah, janji untuk menerobos kebuntuan penyediaan
pelayanan dan infrastruktur dasar: pendidikan, kesehatan, perumahan,
sanitasi, air bersih dan listrik secara terintegrasi dan kreatif, yang
sangat dituntut pada era otonomi daerah ini.

Menata kembali geografi ekonomi nasional tentu tidak cukup dengan membangun
kekuatan aglomerasi, memperkecil hambatan migrasi dan urbanisasi, ataupun
integrasi ekonomi lintas daerah bahkan ekonomi global, tetapi juga menata
kembali institusi lokal yang masih centang-perenang, dan budaya rasa saling
percaya (trust) yang masih rendah. Dengan semua pencerahan pendekatan
geografi ekonomi melalui kekuatan aglomerasi, mempermudah transportasi dan
integrasi ekonomi, Laporan Bank Dunia 2009 layak diapresiasi sekaligus perlu
dikritik karena perspektif "Geografi Ekonomi Baru" ala Paul Krugman yang
mewarnai pandangan Bank Dunia agak menafikan aspek institusi, ideologi
ekonomi, dan politik di luar kerangka liberalisme dalam menata kembali
geografi ekonomi.

Kirim email ke