Saya juga permisi ingin nimbrung diskusi juga….. pertama turut mengucapkan 
selamat ke pak Nuzul utk kemunculan essaynya di Tempo (ajarin dong)……. Kedua…. 
Saya permisi ingin mengomentari posting mas BTS….. tapi hanya utk 2(dua) 
paragrapnya saja………..
 
+++: Sedikit banyak saya memang menyetujui kesimpulan World Bank itu yang 
memang sering menimbulkan polemik (termasuk di milis ini). Seperti yang Anda 
singgung juga bahwa Indonesia masih berpikir pola lama dalam soal Regional 
Inequality. Hal ini bisa dibaca pada RPJP (UU 17/2007) yang masih memimpikan 
penyebaran kegiatan ekonomi ke banyak daerah.
>>>: Saya  ingin komentari sdkt ttg pemakaian  istilah “pola lama” disini yg 
>>>utk konteks tertentu bisa memiliki makna ganda…..…
Pada umumnya pemakaian istilah2 “pola lama” sekaligus menunjukkan kesan tak 
sedap bhw ia adalah “pola masa lalu yg salah’’….. dan ia sekaligus seperti 
mengesankan bahwa kini telah  ada “pola barunya” yg boleh jadi tidak salah…….
Saya pikir “pola yg salah” tidaklah  harus selalu menjadi milik dari “pola 
lama” saja terus …… ia bisa saja juga terdapat pada “pola baru” juga……...
Seperti dlm hal menangani  regional inequality “dimasa lalu (lama)” misalnya…… 
katakanlah dimasa 1970, 1980 atau 1990 misalnya…… dimana tentu banyak dipakai 
(dicontek) pola2 lebih lama (1945, 1950, 1960) dari negara2 maju yg adalah 
veteran pelaku pembangunan  wilayah……..
Utk konteks Indonesia “masa itu”….kesalahan2 (Ind sendiri)  saya kira memang 
sudah terjadi sejak dihari pertama “dimasa lalu” pola itu mulai “digulirkan”…… 
justru karena ia tidak memakai dgn betul dan konsisten “pola2 lbh lama 
1945-1960” dari negara2 maju itu…….
Jadi kesalahannya bukanlah krn dipakai “pola (lebih) lama 1945-1960 dari 
negara2 maju” yg justru banyak menuai sukses dinegara2 mereka sendiri…… 
“kesalahan (negeri kita) dimasa lalu” justru krn inkonsistensi krn intervensi  
sistem politik/ kekuasaan yg  tak sedap  hingga hasilnya tak semulus spt 
dinegeri maju “kala itu”…..… jadi “pola lama” tak dijamin selalu “pola yg 
salah”…… “pola baru” juga tak dijamin selalu menjadi “pola yg benar”……..
 
+++: Saya setuju bahwa membangun daerah tidak hanya mengandalkan aglomerasi 
ataupun integrasi inter regional, tetapi juga pembangunan institusi yang pada 
gilirannya mampu menunjukkan inovasi. Inovasi adalah kata kunci  instead of 
..counter-conter- an semacamnya. 
>>>: Saya setuju dgn pemakaian kata kunci “pembangunan  institusi” serta 
>>>“inovasi” dan “tidak usah mengandalkan aglomerasi” serta “counter-counteran” 
>>>dalam “membangun daerah”…….sepanjang  itu lbh banyak dilakukan dalam 
>>>pembangunan daerah bersifat “I n t r a -regional”……… tapinya  kalau 
>>>pembangunan daerah yg dilakukan lbh dimaksudkan  sbg bersifat “I n t e r 
>>>-regional” yg itu tentulah berkait dengan kepentingan “pembangunan 
>>>nasional”…… maka “aglomerasi dan counter-counteran” adalah saya kira mrpkn 
>>>tool utamanya didepan…..  dan “pembangunan  institusi” serta “inovasi” 
>>>bolehlah mengiringi dibelakangnya……..
Ketika Fadel hrs bertarung dalam Pilkada di Gorontalo dan menang…… maka apa yg 
the best dibuatnya dan dipikirkannya adalah utamanya lbh fokus utk kepentingan 
Gorontalo (saja) dulu (intra-regional) ……. Fokus pemikiran utk “kepentingan 
bersama tetangga sebelah (prop.nya Manado dan Palu) … atau          
“kepentingan seluruh Sulawesi” (inter-regional) … atau apalagi “kepentingan 
bersama pulau sebelah (Kaltim, Maluku)  juga belum tentu banyak sempat 
dipikirkannya…… apalagi fokus utk kepentingan “dari sabang sampe merauke” 
(nasional)…… saya kira nyaris tak sempat dipikirkannya……. 
Itu bukannya krn Fadel  a-nasionalis….. tetapi lbh krn Fadel berpikir itu akan 
lebih mrpkn porsinya  “pusat”…… Sebaliknya kalau saja Fadel nanti naik kelas 
jadi menteri/ presiden…. Ia mungkin juga “ganti” menjadi hampir  “tak fokus 
melulu” ke Gorontalo…… tapi fokusnya akan lbh ke sabang sampe merauke………..
Pada skala nasional mengapa “strategi counter-counteran” (maksudnya padahal 
countermagnet, yg jualan saya itu bukan?) mutlak perlu dipakai…..itu  adalah 
krn pada skala nasional…… pertama  sblmnya (sejak pra kemerdekaan) telah 
terdapat “ketimpangan kepadatan populasi yg ekstrim serta kronis” antara Jawa 
(6.7% wilayah dihuni 50% penduduk nasional) dan luar Jawa (93.3% wilayah dihuni 
50% penduduk sisanya……. Belum lagi ditambah angka kelahiran penduduk yg tinggi 
(1.6% 3-4 juta jiwa) … Itupun juga masih ditambah lagi terdapat”arus kuat” 
migrasi dari luar Jawa menuju Jawa…… yg itu menyebabkan brain drain didaerah 
(SDM terbaiknya banyak  mengalir ke Jawa : Habibie,  Malarangeng, Frans Seda, 
Latumeten, Latuharhary, Emil Salim, AH Nasution, Adam Malik, Panggabean, bpknya 
pak Wawo… dll.)…….
Jadi “membangun daerah” dalam kerangka pikir “kepentingan nasional”  tidaklah 
bisa dilakukan sesederhana seperti agenda tunggal “ayo tanam jagung dikebun 
kita…. cangkul-cangkul yg dalam…..” (perencana ‘intra’ regional)…….
Sembari memikirkan “lapangan pekerjaan rakyat”…. Blm lagi urusan global… hutang 
negara dll…..  seorang  “perencana nasional” dalam memikirkan “pembangunan 
daerah”… hrslah sembari memikirkan pula  “bgmn mengelola arus kuat migrasi dari 
30 propinsi yg menyerbu menuju Jawa (termasuk brain drain)….. belum lagi hrs 
memikirkan  pula arus kuat urbanisasi dari desa dan kota di Jawa sendiri  (yg 
hari ini berpenduduk  lbh 100 juta) yg menyerbu menuju Jakarta 300.000 jiwa 
tiap tahun……. 
Dari sini saja sudah terlihat ……. Bgmn mungkin seorang “perencana nasional”kok 
akan “menata sistem kota2 secara nasional sambil merem  tak memikirkan masalah 
“counter-counteran” sbg agenda utama didepan……..  
Kalau ada seorang (semula saya kira) “berkelas nasional” spt wagub DKI Prijanto 
lalu “berinovasi” memajukan jam masuk anak sekolah (hehe.. malah gurunya yg 
telat…) lalu ia tak tengok2 sedikitpun masalah ”counter-counteran”… atau 
apalagi “integrasi sistem kota secara nasional” pun babar blas nggak ditengok 
sedikitpun.….. yaitu krn kelasnya pak wagub satu ini ya memang hanya klas “visi 
intra-regional” saja dan visi pilkada saja……  nggak mikir sedikitpun ttg 
kaitannya dgn kepentingan masyarakat sabang sampe merauke…… angka pengangguran 
10%/ 10 jutaTK….  apalagi wilayah tertinggal…….(yg mungkin dipikir rasanya 
lebih ttg pilkada berikut harus menang)…….
Maka  kalau mau mengejek ttg  pemakaian strategi”counter-counteran” saya kira 
sebaiknya  menimbang kembali “skala wilayah” pembangunannya dulu…… kalau “hanya 
‘intra”…… ya… ia boleh diejek-ejek,  dibuang dan  tak usah dipake….. tapi kalau 
visinya  “inter-regional” dan apalagi “nasional”……ya  jangan harap “inovasi yg 
nggak pake counter-counteran” dan “visi integrasi” akan dapat menjawab 
masalah……..
 
Salam,
aby

--- On Tue, 1/13/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: Bls Re: [referensi] Geografi Ekonomi
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 13, 2009, 6:48 AM











Bung Nuzul, menarik sekali bahasan Anda. Pengin juga baca hasil kerja World 
Bank 2009 tentang Reshaping Economic Geography. Di perpustakaan World Bank 
sendiri belum ada. Mungkin belum dicetak ya.
 
Kalau membaca ulasan Bung Nuzul, saya membayangkan laporan World Bank itu 
dengan 3-D (density-distance- diviision) itu skalanya regional dan 
inter-regional. Tapi sedikit bingung ketika Bung Nuzul menukik ke skala kota 
dengan contoh jualan buku di Kwitang (Jakarta). Apakah Laporan World Bank itu 
juga membahas fenomena segregasi spasial berskala kota juga sehingga Anda 
mendampingkan dengan kasus jualan buku semacam di Kwitang?
 
Sedikit banyak saya memang menyetujui kesimpulan World Bank itu yang memang 
sering menimbulkan polemik (termasuk di milis ini). Seperti yang Anda singgung 
juga bahwa Indonesia masih berpikir pola lama dalam soal Regional Inequality. 
Hal ini bisa dibaca pada RPJP (UU 17/2007) yang masih memimpikan penyebaran 
kegiatan ekonomi ke banyak daerah.
 
Saya setuju bahwa membangun daerah tidak hanya mengandalkan aglomerasi ataupun 
integrasi inter regional, tetapi juga pembangunan institusi yang pada 
gilirannya mampu menunjukkan inovasi. Inovasi adalah kata kunci  instead of 
..counter-conter- an semacamnya. Apa yang telah dilakukan 10 tokoh yang diorbit 
Majalah TEMPO adalah contoh, tetapi menurut saya belum bisa jadi icon 
pembangunan ekonomi daerah karena apa yang dilakukan masih sebatas "good 
governance". Dan itupun karena ada iklim desentralisasi dengan Dana Perimbangan 
yang memungkinkan. Implementasi "good governance" itu belum nyata mampu 
mengangkat ekonomi daerahnya. Barangkali kasus Gorontalo jauh lebih konkrit ke 
ekonomi daerah. Kendati demikian 10 tokoh tersebut tetap orang-orang  luar 
biasa.
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 
 
 


--- On Tue, 1/13/09, Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> wrote:

From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com>
Subject: Bls Re: [referensi] Geografi Ekonomi
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, January 13, 2009, 4:49 AM





 
Pak Risfan, Pak Aunur, rekan Eko van Paris, rekan Fajar van Undip dan 
rekan-rekan referensiers Ysh.
 
Terimakasih pak Risfan atas komentarnya. Saya banyak belajar dari pengalaman 
empiris rekan-rekan semua di milis ini. Beberapa point dari tulisan saya di 
kolom Tempo sudah pernah diposting di milis ini. 
 
Untuk rekan Eko van Paris, kontributor laporan Bank Dunia 2009 memang banyak 
sekali tokoh ekonomi, geografi, regional science, dsb. antara lain Vernon 
Henderson dari Brown University (salah satu universitas bergengsi di AS - 
kelompok Ivy League) . Salah seorang muridnya adalah Dr. Ari Kuncoro - yang 
dicited dalam referensi laporan Bank Dunia. Dr Ari kebetulan memang kolega saya 
di LPEM. Kontributor lain adalah Prof Fujita juga pernah ke Indonesia dan punya 
(eks) murid di Indonesia. 
 
Untuk Pak Fajar van Undip, berikut saya sisipkan tulisan kolom tersebut. 
Seperti dikatakan pak Risfan, planning is a process. jadi tulisan ini hanyalah 
sepercik pemikiran yang mungkin bisa menjadi bola salju untuk mengembangkan 
pemikiran alternatif lainnya.
 
http://majalah. tempointeraktif. com/id/arsip/ 2009/01/12/ KL/mbm.20090112. 
KL129229. id.html
 

Menata Kembali Geografi Ekonomi Indonesia 
Nuzul Achjar 
LAPORAN tahunan Bank Dunia 2009: Reshaping Economic Geography (Menata Kembali 
Geografi Ekonomi) mempunyai nuansa yang agak berbeda dibandingkan tahun-tahun 
sebelumnya. Isu geografi ekonomi dalam laporan tersebut tampaknya sedikit 
banyak diilhami konsep peraih Nobel Ekonomi 2008, Paul Krugman, tentang 
"Geografi Ekonomi Baru" (New Economic Geography) dan "Teori Perdagangan Baru" 
(New Trade Theory). 
Melalui perspektif geografi ekonomi (ekonomi ruang), Bank Dunia menyoroti 
berbagai ketimpangan melalui jendela berbingkai 3-D, yaitu konsentrasi kegiatan 
ekonomi (density), aspek biaya transportasi (distance), dan faktor integrasi 
ekonomi (division) lintas daerah dan lintas negara. Ketiga faktor "D" tersebut 
diharapkan dapat mengubah tatanan ekonomi ruang untuk mengatasi persoalan 
ketimpangan, baik pada skala lokal maupun regional, temasuk regional lintas 
negara. 
Analisis dan arah rekomendasi kebijakan Bank Dunia ini diperkirakan akan 
menimbulkan polemik atau kontroversi, karena agak berbeda dengan kebijakan yang 
diambil banyak negara, termasuk Indonesia. Bank Dunia mengatakan bahwa 
persoalan disparitas pada level antardaerah, misalnya, tidak dapat diatasi 
hanya dengan menyebarkan kegiatan ekonomi ke semua daerah. Bagi Bank Dunia, 
memeratakan kegiatan ekonomi di semua daerah atau lokasi justru menghambat 
upaya mengurangi kemiskinan itu sendiri. Sebaliknya, di belahan dunia lain, 
banyak negara justru menempuh kebijakan pemerataan kegiatan ekonomi ke berbagai 
wilayah yang dihuni sekitar satu miliar penduduk miskin seluruh dunia. 
Ada apa gerangan di balik argumentasi Bank Dunia bahwa konsentrasi kegiatan 
ekonomi tidak dapat digerakkan di seluruh daerah atau lokasi? Konsep "Geografi 
Ekonomi Baru" yang dilontarkan Krugman dengan jelas mengindikasikan bahwa 
konsentrasi kegiatan ekonomi atau aglomerasi bagaimanapun memerlukan kegiatan 
produksi dengan skala ekonomis (economies of scale) tertentu yang tidak dapat 
diciptakan di semua daerah atau lokasi begitu saja. 
Dalam lingkup yang lebih kecil, konsentrasi toko-toko buku di Kwitang (sebelum 
digusur) di Jakarta adalah fenomena paling sederhana adanya aglomerasi spasial 
di daerah perkotaan. Bagi calon pembeli buku, tempat paling pas untuk berburu 
buku adalah Kwitang. Di benak pedagang buku, Kwitang adalah lokasi paling tepat 
untuk menggelar dagangannya karena pembeli pasti akan ke sana. Konsentrasi jasa 
keuangan di Jakarta yang mencapai lebih dari 90 persen nilai tambah bruto total 
jasa keuangan Indonesia adalah fenomena kekuatan aglomerasi. Meminjam istilah 
ilmu fisika, Paul Krugman mengindikasikan adanya kekuatan sentripetal yang 
mendorong konsentrasi kegiatan ekonomi, dan sebaliknya ada kekuatan sentrifugal 
lebih besar yang dapat membuyarkannya. 
Bagi Bank Dunia, mendorong aglomerasi adalah mendekatkan penduduk ke kota-kota 
pusat kegiatan ekonomi yang sedang tumbuh melalui migrasi dan urbanisasi. 
Kecenderungan semakin pendeknya jarak tempuh, terutama penduduk negara-negara 
maju, ke pusat kegiatan ekonomi memberikan indikasi bahwa faktor biaya 
transportasi masih tetap menjadi hal yang tidak boleh diremehkan. Pandangan ini 
seolah meruntuhkan mitos bahwa the distance is dead. 
Tapi bukankah urbanisasi menimbulkan persoalan ekonomi, sosial, dan politik? 
Tak usah khawatir. Yang penting adalah bagaimana menjadikannya sebagai 
urbanisasi inklusif. Toh, urbanisasi tidak bisa dihentikan. Kuncinya terletak 
pada penyediaan pelayanan dan infrastruktur dasar. 
Jika demikian, seberapa relevankah perspektif geografi ekonomi dapat digunakan 
untuk mengevaluasi hasil pembangunan regional Indonesia, baik melalui bingkai 
3-D maupun dari kacamata kita sendiri? Relevansi dari pendekatan yang 
ditawarkan Bank Dunia ini adalah peneguhan (kembali) bahwa ruang ekonomi 
bukanlah sebuah lanskap datar. The world is not flat adalah kalimat yang 
disampaikan Walter Isard, penggagas Regional Science, sekitar empat dasawarsa 
lalu, setelah memperhatikan ketidakmampuan pendekatan ekonomi makro mengatasi 
persoalan perekonomian regional. 
Kita juga melihat suatu masa ketika arah perencanaan regional mulai terlihat 
lebih terang sejak Pelita III, rancangan institusi perencanaan seperti Bappenas 
sangat diwarnai dengan penentuan pusat-pusat pertumbuhan berikut hierarkinya. 
Isu kesenjangan Jawa versus luar Jawa, dan selanjutnya dikotomi Kawasan Timur 
Indonesia (KTI) versus Kawasan Barat Indonesia (KBI), memberikan justifikasi 
lebih kuat bahwa konsep tersebut seolah langkah yang tepat. Dengan isu yang 
sama pula, di bawah pemerintahan Presiden Habibie pada akhir dekade 1990, 
pemerintah menetapkan 13 kawasan ekonomi terpadu di 13 provinsi di KTI. 
Kita boleh berdebat apakah program atau konsep pembangunan regional seperti 
telah disebutkan itu berjalan efektif atau tidak. Dengan tetap memberikan 
apresiasi terhadap keberhasilan beberapa program pembangunan regional, kita 
juga tidak boleh menutup mata atas banyaknya kegagalan yang terjadi. 
Pertama, penentuan lokasi kegiatan ekonomi pada umumnya masih bersifat supply 
driven tanpa memperhatikan skala ekonomis sebagaimana terjadi pada kawasan 
ekonomi terpadu, dan juga pada pusat pertumbuhan lainnya. Ketika belakangan 
pemerintah merencanakan kawasan ekonomi khusus, yang rancangan undang-undangnya 
saat ini sedang disiapkan, tidak sedikit pula daerah yang menawarkan diri 
menjadi lokasi kawasan ekonomi khusus tanpa memperhatikan peluang munculnya 
kekuatan aglomerasi. 
Kedua, pemerintah lalai memperhatikan lemahnya keunggulan geografis 
(geographical advantage) karena tingginya biaya transportasi. Penentuan lokasi 
kegiatan ekonomi lebih banyak karena tawar-menawar politik ketimbang 
pertimbangan yang obyektif. Lihatlah kasus pelabuhan Sabang sebagai salah satu 
kawasan ekonomi terpadu. Lepas dari pertimbangan politik, pelabuhan Sabang 
dewasa ini bukanlah Sabang "tempo doeloe" yang perlu disinggahi oleh 
kapal-kapal konvensional karena letaknya dianggap strategis untuk perdagangan. 
Pergeseran konstelasi ekonomi Asia Pasifik dan munculnya konsentrasi kegiatan 
ekonomi baru Thailand, Malaysia, Vietnam, dan sebagainya menyebabkan posisi 
pelabuhan Sabang secara ekonomi tidak lagi strategis. Jika harapan diletakkan 
di pundak Sabang untuk menggerakkan perekonomian regional melalui ekspor, pada 
kenyataannya sekitar 80 persen kegiatan pelabuhan Sabang justru untuk impor. 
Tertutupkah peluang daerah untuk mengembangkan perekonomian regional tanpa 
harus mengikuti jejak-jejak lama pendekatan konvensional yang sudah semakin 
kabur itu? Ketika kita berbicara tentang bagaimana mengalokasikan sumber daya 
yang terbatas secara efisien, dimensi aglomerasi dan biaya transportasi dalam 
penentuan lokasi kegiatan ekonomi menjadi sangat relevan. 
Sesungguhnya, perspektif geografi ekonomi tidak hanya berbicara tentang 
aglomerasi, kluster industri, dan biaya transportasi, tetapi juga tentang 
institusi, termasuk modal sosial (social capital). Sebagaimana dikatakan filsuf 
Prancis Henri Lefebvre (1991) dalam The Production of Space bahwa lanskap ruang 
ekonomi dan ruang sosial akan sangat dipengaruhi oleh kekuasaan atau kekuatan 
(power) dari institusi dan ideologi yang melatarbelakanginya . Lanskap ekonomi 
perkotaan seperti Jakarta dan kota besar lainnya merupakan cerminan dari 
kebijakan institusi dengan ideologi ekonomi yang mendasarinya. Lebih jauh, tata 
kelola pemerintahan yang baik serta inovasi yang menyertainya adalah buah dari 
kekuatan institusi. 
Penganugerahan 10 Tokoh 2008 oleh majalah Tempo (edisi khusus akhir tahun 22-28 
Desember 2008) menunjukkan dengan tegas bahwa tokoh-tokoh pemimpin daerah 
tersebut tidak hanya bekerja dengan hati, tetapi juga dengan inovasi tanpa 
harus berbicara tentang aglomerasi dan urbanisasi inklusif. Kata-kata inovasi 
inilah yang justru tidak banyak keluar dari janji politik dalam kampanye 
pemilihan kepala daerah, janji untuk menerobos kebuntuan penyediaan pelayanan 
dan infrastruktur dasar: pendidikan, kesehatan, perumahan, sanitasi, air bersih 
dan listrik secara terintegrasi dan kreatif, yang sangat dituntut pada era 
otonomi daerah ini. 
Menata kembali geografi ekonomi nasional tentu tidak cukup dengan membangun 
kekuatan aglomerasi, memperkecil hambatan migrasi dan urbanisasi, ataupun 
integrasi ekonomi lintas daerah bahkan ekonomi global, tetapi juga menata 
kembali institusi lokal yang masih centang-perenang, dan budaya rasa saling 
percaya (trust) yang masih rendah. Dengan semua pencerahan pendekatan geografi 
ekonomi melalui kekuatan aglomerasi, mempermudah transportasi dan integrasi 
ekonomi, Laporan Bank Dunia 2009 layak diapresiasi sekaligus perlu dikritik 
karena perspektif "Geografi Ekonomi Baru" ala Paul Krugman yang mewarnai 
pandangan Bank Dunia agak menafikan aspek institusi, ideologi ekonomi, dan 
politik di luar kerangka liberalisme dalam menata kembali geografi ekonomi.
 
 
 
 
 














      

Kirim email ke