Uda Eka ysm, rekan milister. Uda benar memang sudah dibuat perencanaan untuk penutupan Malioboro secara permanen. Jalan itu hanya akan dipergunakan untuk kendaraan non motor (kecuali busway), dan kendaraan pelayan khusus seperti pemadam kebakaran, sampah.
Ternyata konsep yang sudah sangat matang itu tidak berani dilaksanakan oleh Walikota. Alasannya ada desakan dari pihak pemilik kegiatan di sepanjang Malioboro. Jadi ini masih proses tarik ulur. Untuk setasiun Tugu, yang pasti jalan tidak mungkin membuat Malioboro sebagai underpass. Hal ini terkait dengan sumbu spiritual kota yang memanjang dari Parang Kusuma di Parang Tritis-Panggung Krapyak-Kraton-Tugu Pal Putih-Gunung Merapi. Ini merupakan suatu sumbu imajiner yang dipercayai oleh masyarakat jogjas sebagai sumbu kekuatan kota (baca: masyarakat termasuk keraton). Karena itulah dengan cerdik Belanda membuat jalur kereta api memotong jalur itu. Dan mereka secara pandai memotongnya di antara Kraton dan Tugu Pal Putih yang dianggap sebagai simbol perjalanan hidup manusia. Ini misalnya akan beda kalau diambil di selatan kraton yang dalam kepercayaannya adalah simbol alam sebelum kelahiran (ada bagian dari kraton yang namanya Kemandungan dari kata kandungan). Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menurunkan jalan kereta api. Hal inipun sudah dibuat perencanaannya. Namun sampai sekarang belum ada implementasinya. Begitu Uda sekedar informasi kecil dari jogja bambang sp

