Milisters ysh,
 
+++: Kalau untuk kapal, dulu saya pernah tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu 
orang bikin kapal 10 ton, dan teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira 
pusatnya di Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita bisa 
jadi negara maritim. 
>>>: Saya kira namanya ‘industri pembuatan kapal/ perahu’ di KTI maupun 
>>>dibanyak pantai/ pesisir semua pelosok negeri kita ini sudah lahir  bahkan 
>>>sebelum masa Srivijaya, Syailendra, Hang Tuah, Sultan Hasanuddin, Gajahmada 
>>>atau Pati Unus…. Bahkan  sejak lama sekali hampir seusia dgn perkembangan 
>>>budaya manusia itu sendiri (ingat kisah nabi Nuh dan perahunya, ingat 
>>>pelayaran ke Madagaskar)……. 
Jadi kalau hari ini kita katakan “mau menyemai industri pembuatan kapal di 
KTI”… saya kira ini adalah “langkah baru” yang  samasekali bukan “baru” lagi 
dan seperti malah melecehkan para leluhur kita di KTI sana….. seolah para 
beliau tak pernah mampu lakukan itu……. 
Sedangkan kalau mau “memassalkan budaya motorisasi kapal2/ perahu di KTI”…. 
Inipun juga sudah terjadi sblm hari ini…….. 
Jadi bgmnpun juga ….dgn segala kekurangannya…. kita ini memang tidak usah pake 
nanti-nanti… sekarang dan hari inipun juga adalah (sudah jadi) negara maritim…… 
hanya saja masih loyo dan kalo meminjam istilah mbah Marijan maka istilahnya  
“belum rosa”….
Amma ba'du..... 
Saya masih melihat bbrp visi dan semangat “regional development” yg saya tentu 
senang tapi sayang…. pada dasarnya masihlah tetap a.l. (hanya mau) bertumpu 
pada  fanatisme optimisme “menggali potensi daerah” seperti bercampur juga 
dengan eforia otonomi daerah….. sambil pada saat yang sama menafikan atau 
kurangnya  prioritas minat pada visi strategi nasional (tapi maaf,  top-down, 
tapi maksudnya demi sabang-merauke) “concentrated deconcentration” yg artinya 
adalah a.l. bgmn “mengembangkan pusat  ‘aglomerasi baru’ nasional” sebagai 
tandingan “kota primat nasional”…/ sekaligus sebagai pemecah arus urbanisasi/ 
migrasi nasional (dimana ini memang  tidak sinkron banget dgn eforia otonomi 
daerah)……. Yg mana itu adalah justru sumber dari berlangsungnya ketimpangan 
nasional….. yg pada gilirannya juga menghambat pembangunan daerah……..
 
Sekaligus pula….. pandangan “regional development” dgn semangat otonomi daerah 
ini sayangnya…. menafikan pula berlangsungnya  ‘hukum alam’  (yg universal) 
berupa  “hirarkhi perkotaan” yang  pada dasarnya adalah “hukum alam hirarkhi 
pengadaan (kota2 pusat) jasa”(secara universal)…… dimana selain (eksistensi 
alamiah) besaran kota “metropolitan” sebagai (fungsi alamiah) ‘engine of 
growth’  (tahap ex-ante yg masih imut dan loyo disatu sisi;  tahap ex-post yg 
sudah matang dan menuju kelas berikutnya disisi lain) menjadi kebutuhan (akibat 
revolusi industri )……… ada berikutnya lagi…  ialah  besaran kota“megapolitan”…. 
yg adalah “super engine of growth’ (alamiah juga, universal juga)….. tapi 
eksistensinya… super fungsinya….. maupun keadaan alamiah serta waktu (evolusi) 
yg pasti akan membentuknya (ditempat lain)……. Masih dianggap enteng… dianggap 
asing dan nyeleneh…… belumlah dipandang
 sebelah mata dan menjadi “agenda strategi jangka pendek” pembangunan (sistem 
hirarkhi kota secara nasional) yg utama…… maupun (mesin) penggerak utama 
pembangunan  wilayah (dari sisi pandang nasional)…….
 
Maaf satu hal lagi….. saya menyadari bahwa visi nasional dan top-down tidak 
banyak disuka (terserahlah alasannya apa)…… tapi spt tak banyak yg menyadari 
pula….. bahwa mereka yg bersemangat  utk memajukan kewiraswastaan (UKM) 
daerah….. seperti  seolah lupa bahwa… itu semua tak akan terjadi kalau tak 
disertai dengan peran lembaga keuangan/ bank sebagai backupnya yg kuat…….yang 
“celakanya” padahal umumnya visi dan pola manajemen dari lembaga keuangan besar 
ini adalah “top-down” …”nasional” dan seperti nggak mungkin ada yang bervisi 
“bottom-up” dan “kedaerahan”…….…
 
Ini semua antara lain juga karena akibat pengaruh pandangan negatip atas teori 
kutub pertumbuhan…… sekaligus sikap awam para intelektual (umumnya sebagai 
intelektual dibelakang meja dan jauh dari keras serta pahitnya rutinitas 
kegiatan riil pasar sehari2) akan dunia  kepraktisian kewiraswastaan yg dlm 
praktek sehari2 amat sangat mengenali dan mengakui prinsip-prinsip “hirarkhi 
jasa dilapangan”…… 
Seperti bahwa para businesman di Papua, Ternate. Maluku, Kupang, Kendari  atau 
Manado misalnya (yg sayangnya mereka tak banyak yg mendalami teori regional 
planning atau ekonomi regional)… yg pasti berbeda dengan mereka yg di Taman 
Suropati, Jalan Patimura, Jl. Ganesha atau Jl.Sudirman atau Thamrin…. 
Mereka di KTI sana  sehari2  amat sangat mengenali apa beda besar makna fungsi 
kota2 Makassar dan Surabaya… apalagi Jkt… dimata mereka dan “dilihat dari kota 
mereka” …… karena mereka sangat involved  (dan hidupnya berkait erat ) dengan 
masalah riil sehari-hari…..… Ialah masalah  jarak (utamanya utk cargo 
ekspor/impor  mereka  hari2 dgn Jawa di/ lewat laut) …..masalah biaya  (kalo yg 
di sekian alamat diatas khan sehari2 tak terlibat masalah cargo, serba lewat 
udara, serba dgn biaya negara, sedangkan mereka serba biaya dan resiko  
sendiri) ….(lalu dari kedua masalah ‘jarak’ dan ‘biaya’ itu  jadi faktor beda 
jauh “harga produk” antara Jawa dan KTI)……  dan waktu……
Serta kalau masih ingat satu saja dari banyak kasus tragedi terakhir “KM 
Teratai Prima”  diselat dekat Majene…. ya tambahkanlah sekalian kalo boleh… 
faktor resiko akibat fakta lapangan tak memadainya kapasitas/ safety sarana 
angkutan..…… sebagai label yg menunjukkan beda antara kawasan maju dan kawasan 
tertinggal………. 
 
Salam,
aby
 
 
"ffekadj" 4ek...@...... wrote :
 
Pak Aby ysh,
Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur yang potensial 
dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel kapal) dan kapalnya 
sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung memperbesar kapasitas dan 
volume. 
Kemarin di Ternate kita pernah coba 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 
PK, hanya untuk perahu kecil. 
Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau assembling 
Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi mesin di KTI. 
Dinas DKP Malut juga punya program rutin motorisasi nelayan, sekitar 500 
unit/tahun.
Kalau untuk kapal, dulu saya pernah tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang 
bikin kapal 10 ton, dan teman-teman UNCRD itu cukup antusias. 
Saya kira pusatnya di Buton-Selayar Sulsel. 
Kalau disemai di beberapa tempat, kita bisa jadi negara maritim. 
Di Ambon di samping penyeberangan itu juga ada satu galangan kapal, tapi lebih 
sering sepi. 
Memang ketika saya tanyakan si Ahmad dari Asmat mengenai perlunya membeli 
kapal-kapal perikanan yang baru ukuran besar, dia menyarankan, "Ngapain beli 
yang baru pak, beli saja yang bekas di Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru 
tahu rupanya Probolinggo menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin 
sejak era Majapahit.
Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. 
Sementara demikian dulu pak. 
 
Salam.
-ekadj
 
 


      

Kirim email ke