Pak aby, wah saya harus merenung cukup lama untuk menjawab komentar pak aby. Pertama kalau ingin acuan satu paragraf dari laporan bank dunia untuk menyimpulkan yang saya maksud agak susah, karena laporan bank dunia terdiri dari tiga bagian, yang pertama berisi fakta (3 bab), kedua analisis (3 bab) dan kebijakan 3 bab serta contoh-contoh kebijakan yang dilakukan beberapa negara....laporan bank dunia tidak membuat kesimpulan dalam satu bab apalagi satu paragraf...tetapi diharapkan para pembacanya menyimak apa yang terjadi....
Tidak bisa menyetop proses aglomerasi karena faktanya demikian, kemudian apakah bisa membentuk aglomerasi di tempat lain....ya jelas bisa asal kepadatan (density) yang dibutuhkan untuk menjadi magnet tercapai... beberapa contoh kebijakan yang bagus telah dilakukan oleh beberapa negara, yakni dengan membangun akses.....mengurangi biaya "jarak" (distance) sehingga memperluas secara spatial kemakmuran... Mengenai pidatonya SBY sebenarnya saya hanya memancing teman-teman, apakah sensitif dengan pernyataan tersebut. Kalau tidak nggak apa-apa, karena saya khawatir Kompas tidak pas mengutip pidato tersebut. Salam Aunur Rofiq --- On Fri, 1/30/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: > From: hengky abiyoso <[email protected]> > Subject: [referensi] Re: World Bank Re: Diskusi Dgn Pak Rofiq > To: [email protected] > Cc: [email protected] > Date: Friday, January 30, 2009, 11:39 AM > +++: “……BTW, saya sudah baca laporan bank dunia....... > .menarik, jadi untuk membangun KTI memang tidak perlu > mengurangi proses aglomerasi kota-kota besar.....”. > >>>: (1). Utk klarifikasi atau kesamaan pokok > bahasan….bolehkah saya mohon kutipan paragraf laporan > World Bank itu yg menjadi acuan?........ (2). Kalimat > ”membangun KTI tanpa mengurangi proses aglomerasi > kota-kota besar” ini bisa menjadi kalimat bersayap atau > punya 2 makna ganda yg sangat berbeda lho pak….. pertama > (2a). membangun KTI tanpa mengurangi proses aglomerasi kota2 > besar… tapi di KTI itu sendiri tetap dilakukan upaya > aglomerasi (yg selalu saya kemukakan sekitar ‘begitu’ > juga)….. atau (2b). membangun KTI tanpa mengurangi proses > aglomerasi kota2 besar… tapi di KTI itu sendiri samasekali > tidak dilakukan suatu upaya apapun utk mengembangkan > aglomerasi……. Nah, adakah dari 2 pilihan saling berbeda > ini yg kira2 agak sesuai dgn selera bapak?.......... > > +++: “….Kalau baca kompas tentang pidatonya SBY di > Unbraw.....kelihata nnya presidenpun tidak bisa berbuat > apa-apa untuk memeratakan pembangunan. ..”. > >>>: Manusia memang bukan Tuhan…. Jadi tentu > tak akan mampu menguasai semua masalah kehidupan dan aspek > pembangunan didunia ini sendirian…..… maka itu manusia > ditakdirkan harus saling bekerjasama/ tolong > menolong…… atau apakah ini sedikit cara utk mencari > suatu ‘pembenaran’ kah?….. > > Salam, > aby > > On 29/1/09, 4:56 PM "Aunur rofiq" > <aunurrofiqh...@.........> wrote: > > Bung Nuzul, memang kalau dilihat kegagalan pasar seperti > yang anda sebutkan, ternyata neoliberal juga mengakui peran > pemerintah seperti membangun akses, mengurangi entry barrier > bagi warung baru....jadi tetap saja perlu peran pemerintah. > BTW, saya sudah baca laporan bank dunia....... .menarik, > jadi untuk membangun KTI memang tidak perlu mengurangi > proses aglomerasi kota-kota besar..... > Kalau baca kompas tentang pidatonya SBY di > Unbraw.....kelihata nnya presidenpun tidak bisa berbuat > apa-apa untuk memeratakan pembangunan. .. > > > Salam > Aunur Rofiq >

