Sahabat H. Ekadj dan milisters ysh, Posting kedua ini menyangkut ttg kritik atas perhatian berlebih pada Wamena……. Dpt dimengerti bhw keserba-mahalan harga2 yg ekstrim di Wamena menjadi keprihatinan….. dan kita mengerti.. sebabnya karena kota itu hanya dpt dicapai lewat jalur udara saja…….. Sama spt Tembagapura pun semula juga menjadi satu2nya lokasi pertambangan didunia yg pemulaian penyiapan pembangunannya dan penyediaan peralatan2nya dilakukan serba lwt udara dgn helikopter… tapi kemudian dpt dibuat jalur darat dari pantainya…… Kita tentu senang bila saja dpt menemukan dan menerapkan ‘teknologi ruang’ yg tepat bagi “bgmn mengembangkan kawasan terpencil”… sehingga daerah2 dgn tingkat kemahalan harga2 diatas normal spt itu dpt dijinakkan…… atau brkli sbg jalan keluar sementara spt disarankan oleh anda adalah misalnya diberlakukannya subsidi khusus….. Tapi kalau ingat bhw negeri kita ini kelewat luas dgn laut2 luas ganas ditengahnya… lalu penduduknyapun kelewat banyak pula…. 235 juta atau no. 4 dunia…. Dimana 58% atau 136 jt tinggal di p. kecil Jawa lalu dgn itupun terdp kemiskinan serta angka pengangguran yg tinggi pula…… lalu dibandingkan dgn kabupaten Wamena yg hanya berpenduduk 108.500 jiwa…..…. Rasanya tidak fair kalau kita disatu sisi nampak amat sgt prihatin pada Wamena… Tolikara…. Sampai kedetil2nya…. tapi disisi lain spt nampak acuh2 saja dgn kepadatan serta kemiskinan yg juga melilit p. Jawa 138.000.000 jiwa….. atau juga atas “ketertinggalan dari KTI secara umum” (43.000.000 jiwa?)…… dimana “peran” beban terberatnya serta yg paling strategisnya sesungguhnya lbh disandang oleh “kota primat pusat layannya”…… ialah Makassar…… dan PR (pekerjaan rumah) terbanyak dalam pembangunan KTI pada ”tahap awalnya” juga sesungguhnya justru lebih disandang oleh Makassar (perlunya perletakan dasar / persemaian industri manufaktur) …… dan bukan pedalaman2nya yg kelewat musykil utk dicapai…. . Dari sisi nasional…..juga dari kacamata internasional…… masalah2 keterpencilan sudut2 KTI seperti Wamena, Morotai, Sawu, Sumba, Talaud atau Yamdena saya kira tidaklah harus menyita perhatian kita melebihi perhatian yg seharusnya diberikan pada “kota pusat layan utama” KTI (makassar)…. Sebagaimana rekan Indra Budiman pernah menyinggungnya pula sbg itu pernah menjadi perhatian pula dari Jetro Jepang pada 1970-an misalnya…. KTI sbg separuh wilayah NKRI yg tertinggal, bentang 2500 kilometer x 1500km….. dimana ia (dlm hubungan dgn ‘Distance’ dan ‘Density’ dari 3-D-nya World Bank, kalau itu dipercaya) memerlukan memiliki setidaknya 1 buah Greater Metropolis (Makassar) sbg kota pusat layan yg handal….. lalu kelak kota2 hirarkhi dibawahnya spt Manado, Jayapura, Sofifi, Kupang, Kendari dsb. (juga dlm rangka Distance dan Density) juga seharusnya meningkat menjadi kota2 metropolis tahap awal…….. lalu kota2 dibawahnya lagi seperti Ende, Waingapu, Merauke, Luwuk, Poso, Sorong dsb. (msh demi 2-D itu) perlu menjadi kotamadya yg dinamis pula …dst. … dan hirarkhi “kota” paling bawah “subkota pusat layan desa” (kompleks rukodesa swadaya) adalah seharusnya dpt menjadi 60.000 unit “Urban Density” swadaya sbg hirarkhi terbawah sistem kota diseluruh negeri…… dimana kalau 1/3nya saja atau 20.000 unit dpt di Semua rentetan pengembangan kota2 itu perlu lbh dilihat sebagai pengaruh “Spill Over Effect” atau kemampuan “Spread Effect” yg memancar dari dinamika dan modernitas serta aglomerasi Greater Metropolis Makassar (juga dari kota2 peringkat dibawahnya kepd kota lbh bawahnya lagi dst) more than kita ditakut2in oleh ceritaan momok seram yang bernama “Backwash Effect” yang dikatakan sbg dapat menguras banyak SDM dari seluruh pedalaman KTI yg lalu akan mengumpul di Makassar dan Jkt (padahal kalaupun SDMnya kepusat… setidaknya kiriman uang per bulan atau simpanan/ investasinya msh tetap ada saja didaerah… dan tetap akan ada yg prefer bertani saja didaerah krn tak cocok pd budaya kota )……. Daripada termakan oleh provokasi ‘backwash effect’ yg lalu malah visi kita ttg ‘sistem kota secara nasional’ menjadi gelap, buram dan blangsak….. lalu kita sampai detil (tapi tak strategis) memperdebatkan konsep ekonomisasi harga2 wilayah atap negeri dikaki langit yg sulit dijangkau semacam Wamena (108.500 jiwa)… dimana padahal riwayat dari beberapa pemukiman suku2 yg lokasinya sangat sulit dicapai… awalnya ada yg karena kebiasaan perang suku…. sehingga bbrp suku sengaja memilih naik keatas gunung ketempat2 yg terjal dan sulit dicapai… agar tak mudah diserang suku lain……….. Saya kira ditengah angka kemiskinan yg masih puluhan juta jiwa dan pengangguran angkatan kerja sampai 9 jutaTK dan tambahan 1,5 juta TK angkatan kerja baru per tahun……… kita seharusnya perlu lbh menekuni memahami fenomena ‘Spread/ Spill Over Effect’nya dinamika pengembangan kota besar pusat layan KTI… dengan membangun aglomerasinya yg lebih kuat… yg justru diharapkan dapat memancarkan kemajuannya sampai kerelung2 dari wilayah2 belakangnya spt tersebut diatas barusan (dan bukannya ditonjolkan backwash effectnya)……… dimana ini tentu masih perlu dibarengi dengan penegakan sistem “hirarkhi kota” maupun sistem prinsip jarak2 antar kota dan desa……. Kalau saja kita mau bergeser lebih keaspek sosial ekonomi ruang…. dan tak hanya mengerami aspek fisik saja terus….. Kalau saja kita mau utk tidak mudah tinggi hati dgn terlalu mudah dan terlalu banyak menolak (padahal nggak bisa bikin) teori2 spt ‘Prinsip Jarak’ dan ‘Hirarkhi Kota’ dari Christaller misalnya…… yg memperlihatkan pada tabelnya…. bahwa seyogyanya jarak dari 2 (dua) buah kota metropolitan seyogyanya adalah sekitar 200-an km (dan jarak antar 2 pusat desa seyogyanya 7-12km)…….. yg artinya sebuah kota metropolitan melayani radius layan sekitar 100km……. dalam rangka kemudahan kewiraswastaan dan aglomerasi….. Ini seperti gambaran tentang jarak 2 metropolis ‘Jakarta’ dan ‘Bandung’ yg sekitar 200km…… atau antara ‘Semarang’ dan ’Surabaya’ (225km) misalnya…… dimana kita melihat bahwa “daerah2 pedalaman” diantara Bdg dan Jkt… atau diantara Smg dan Sby…. atau bahkan diantara Jkt-Crb….diantara Crb-Smg… atau antara Yogya-Sby atau antara Yogya-Bdg misalnya….. Semuanya nyaris tidak ada yg mengalami “keterpencilan” yg luar biasa … dibandingkan dgn ---tak usah jauh-jauh--- poros BdrLampung-Plmbg atau Plbg-Jambi.. atau Jambi-Pekanbaru atau Plb-Bengkulu misalnya……. dimana pada jarak2 300an km lebih…… kota2 tsb ini belumlah menjadi kota2 metropolis yg dinamis….. kita lihat pedalamannya masih banyak mengalami keterpencilan……… Pada kawasan dengan (entah sengaja direncana or tidak oleh kolonial Bld) “prinsip jarak dan prinsip hirarkhi kota sesuai Christaller” misalnya seperti di Jawa…… spt layaknya di Jerman Selatan….. kita lihat …… Hasil2 pertanian dari wilayah paling ‘terdalam’ dengan ringan dapat dikirim ke ‘pusat’ kepasar induk di Jkt, Sby, Smg, Bdg hanya dlm bilangan bbrp jam saja….. anak2 petani (asal ada uangnya) mudah saja utk bersekolah utk selanjutnya bekerja di Jkt, Sby, Smg atau Bdg dan hubungan dengan ‘pedalaman’ termasuk ‘transfer uang’.. pendanaan proyek “pertanian didesa dgn modal dari Jkt”…. Atau “pengaspalan jalan desa dgn dana TKW dari LN atau dari pejabat sukses”… dsb. … cukup mudah sepanjang tahun…….. Semua ini lebih terlihat sebagai akibat “spread effect” kemajuan kota metropolis…. dibanding dgn ceritaan gambaran suram ttg “backwash effect” yg menyedot habis SDM dan SDA dari pedalaman dan membangkrutkan kota2 kecil dipedalaman……. Kita tak boleh naif dgn terlihat amat tekun mendiskusikan hal2 tidak terlampau strategis seperti kasus Wamena (walau nampaknya tragis) sampai demikian mendetailnya… sambil lupa mendiskusikan hal yang jauh lebih strategis……… ialah dinamisasi kota pusat layan KTI yg walau punya seabreg program S2-S3….. tapi tak punya industri manufaktur perkotaan kecuali industri sirup dan makanan kering…... Wilayah tertinggal butuh infrastruktur…. Tapi wilayah tertinggal juga butuh industri manufaktur dlm rangka utk membentuk aglomerasi dan memperbanyak populasi kelas menengahnya…… Karena nyatanya kita2 ini toh doyan modernitas…… saya kira kita perlu menjadi bangsa yg “terus lapar dan haus utk belajar” dan menatap agak keatas…. “mudah utk menimba masukan”….. dibanding menjadi bangsa yg walau sedang blangsak…. tapi terlalu mudah utk tinggi hati menolak-nolak dan terlalu mudah menganggap-anggap buruk berbagai teori keruangan semacam Christaller’s yg dinegara asalnya sana juga dimasa jadulnya dulu telah menuai sukses besar dan justru menjadi fundamental dari pembangunan mereka selanjutnya………. Atau sebaliknya …. saya yg ganti bingung…. Kok kita terlalu mudah terkagum2 pada gubernur yg sukses mengajak rakyatnya menanam jagung dikebun kita (cangkul yg dalam)….…pdhal bukankah itu wajar saja?.... Atau masyaallah astagfirullah…. sampai menyebut2 kebesaran nama Allah segala hanya sekedar krn kekaguman pada seorang yg a.l. berpendidikan planning lalu menjadi manager HRD dari perusahaan properti yg membangun central distrik di Pluit sana….. Padahal bukankah kita sebenarnya perlu lbh kagum pada anak cucu migran dari tiongkok sana itu… yg dulu sekedar menjadi buruh penambang emas dinegeri kita….. dimana kini anak cucunya sbg para pemilik saham dan sbg bos dari kawan yg kita kagumi itu sendiri malah tidak belajar planning sedikitpun…… tapi mereka kok bisa memimpin seorang planner dari ITB utk membangun dan lalu dikagumi oleh kawan2nya……… Salam dari aby

