Trims Dr. Djarot Purbadi atas tambahan bekal filosofisnya...... tapi sorry saya kecewa….. undangan syukurannya ditunggu nggak dateng2…… Salam dari aby --- On Mon, 2/16/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:
From: Djarot Purbadi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Terukur dan Tak Terukur To: [email protected] Cc: [email protected] Date: Monday, February 16, 2009, 6:28 PM Kalau kita mengikuti pikiran Budi Hardiman dalam bukunya "Melampaui Positivisma dan Modernitas" terbitan Kanisius 2003, posisi planner memang perlu peka terhadap pemikirannya sendiri. Apakah fenomena planning dilihat sebagai fenomena alamiah atau fenomena sosial-budaya, atau bahkan keduanya. Sarannya, kalau dilihat sebagai fenomena fisik-alamiah maka paradigmanya jelas positivisme. ..yang lebih kritis barangkali, dan kalau sebagai fenomena sosial-budaya ya beda maka menggunakan paradigma ilmu-ilmu sosial yang amat kaya. Planner semestinya tahu kedua nya dan bisa wise ketika menggunakannya sebagai sensitizer atau eyeglasses ketika mengamati, berpikir dan mengungkapkannya dalam berbagai wujud ungkapan komunikasi. Mengapa ? ya karena permasalahan planning sangat kompleks dan rumit.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Tue, 2/17/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: Terukur dan Tak Terukur To: refere...@yahoogrou ps.com Cc: pl...@yahoogroups. com Date: Tuesday, February 17, 2009, 9:11 AM Terukur dan Tak Terukur Someone wrote: “…….Ada dua sifat planner yg sering saya hadapi. 1. Yg suka dgn pemikiran2 tapi tdk ada ukurannya. 2. Ada yg suka semuanya pengen terukur. Nah, tinggal pilih yg mana……..” Bbrp terlihat berkomentar dan memilih (2) “suka yg terukur”……. Yg itu artinya mengisyaratkan bhw (1) “yg suka dgn pemikiran2 tapi tdk ada ukurannya” dianggap salah atau 'kurang tepat'……. Boleh jadi begitu….. tapi bisa juga pembuatan perumusan kategorisasi diatas juga bisa tidak tepat2 amat….. lalu mereka yg disuruh memilih sama juga harus memilih 1 dari 2 perumusan kategori yg (tanpa sadar) bia juga tidak tepat2 benar…… Mereka yg diperumuskan sbg …(1) “suka dgn pemikiran2 tapi ‘tdk ada’ ukurannya” ….. belum tentu juga kalau dalam ‘pemikiran’ mereka disitu samasekali ‘nol’ tak ada sedikitpun terkandung parameter2 yg namanya “ukuran” itu….. krn dari yg namanya “pemikiran” itu sendiri sudah jelas2 terkandung perkembangan proses nilai2 “ukuran”… seperti dari “semula ia tidak ada”….. lalu ia kemudian “menjadi ada”… tapi “masih bersifat pemikiran awal”….. dimana “pemikiran” itu kemudian dapat berkembang menjadi “mulai memerlukan ukuran2/ nilai2”….. lalu setelah lahir “ukuran2”…. Maka lalu muncullah kebutuhan ttg “target konkretisasi” dan muncul keingin tahuan ttg “result”…… R&D saya kira adalah bagian maha penting dari kegiatan manusia….. yg urusan utamanya banyak menyangkut masalah2 yg serba “semula tidak ada”….. lalu “menjadi ada” bahkan meningkat menjadi “kebutuhan”…… dan tentu saja menjadi “ukuran2”…. Atau sebaliknya….. R&D bisa juga merupakan sebuah kerja panjang yg akhirnya menghasilkan kesimpulan bahwa apa2 yang semula dianggap “perlu” lalu bisa juga menjadi “tidak perlu”……. Sebaliknya dari mereka yg amat sangat… (2) “suka semuanya pengen terukur”……. Ini malah bisa jadi menimbulkan pertanyaan balik juga..… mereka ini sebenarnya sekaligus termasuk yg suka dgn “Pemikiran” (“baru”) “yg belum ada ukurannya” atau tidak…… sebab jangan2 mereka ini hanya mau menoleh saja pada “apa2 yg sudah jelas menjadi ‘produk jadi’ dan sudah serba jelas saja ukurannya” (padahal itu awalnya khan hasil dari “yg suka pemikiran” dimana awalnya “tidak ada” dan jelas mereka belum bicara ukuran2”nya dulu)…… Apa yg menurut saya malah “gawat” dari yg (2) “suka semuanya pengen terukur” …adalah mereka sepertinya selalu “lebih senang selalu berada digaris belakang” melulu …. Ialah berada diarea2 dimana segalanya sudah serba ‘terukur’ dan sudah serba ‘terpetakan’….. hasil dari kerja panjang R&D digaris depan yg serba penuh “pemikiran yg belum ada ukurannya”…. Serba penuh resiko, penuh tanda tanya dan sekaligus penuh trial and error…… Nah sekarang silahkan kembali memilih 1 dari 2 diatas……. Kalau bagi saya sih….. apapun pilihannya yg penting minumnya masih teh botol sosro………. Salam, aby

