Untuk referensi saja,.

Atau kalau mau buat bahan diskusi

 

 

 

------------------------------

 

Berbagi artikel menarik tentang strategi adaptasi pertanian terhadap
perubahan iklim. Semoga menjadi tambahan referensi bahwa kelompok miskin
memang paling rentan menjadi korban persoalan global ini.

 

Salam

-- 

 

 

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/17/23483639/strategi.adaptasi.untuk
.atasi.dampak

 

Strategi Adaptasi untuk Atasi Dampak

 

Selasa, 17 Februari 2009 | 23:48 WIB

 

Perubahan iklim sudah terjadi dan Indonesia mulai merasakan akibatnya yang
dapat dirasakan secara fisik. Lalu, apa dampaknya pada ketahanan pangan?

 

Kajian Intergovernmental Panel on Climate Change, organisasi yang dibentuk
tahun 1988 oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Lingkungan
PBB (UNEP), memperkirakan Indonesia akan mengalami kenaikan suhu 1-4 derajat
celsius pada tahun 2050.

 

Kenaikan suhu ini akan memengaruhi dan menurunkan produksi pangan. Tetapi,
karena Indonesia amat luas dan tiap daerah memiliki pola iklim lokal
berbeda, pengaruh itu tidak dapat disamaratakan untuk seluruh wilayah.

 

Kajian independen yang dilakukan Seameo Biotrop di Bogor bersama Kemitraan
pada tahun 2008 menemukan, kenaikan suhu mempunyai pengaruh berbeda di enam
provinsi (Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan,
Gorontalo, dan Sulawesi Utara).

 

Hasilnya, akan terjadi kenaikan suhu udara dan sementara curah hujan menjadi
tidak pasti.

 

Ketiga peneliti-Prof Dr Ir Handoko, MSc dan Ir Yon Sugiarto dari Departemen
Geofisika dan Meteorologi Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor (IPB) serta
Dr Ir Yusman Syaukat, MEc dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen
IPB-menggunakan data iklim, data spasial penggunaan lahan, dan data
sosial-ekonomi sebagai data sekunder yang kemudian dikonfirmasi dengan data
primer berupa wawancara dengan petani dan pelaku industri pangan lain serta
observasi lapangan.

 

Model perubahan iklim dikaji dari data suhu udara dan curah hujan, dua unsur
yang amat memengaruhi produksi pertanian. Kajian dilakukan terhadap pangan
strategis menurut Organisasi Perdagangan Dunia, yaitu padi, jagung, kedelai,
kelapa sawit, dan tebu.

 

Data dikumpulkan dari seluruh stasiun hujan dan iklim milik Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Departemen Pekerjaan Umum, serta
dinas pertanian di seluruh Indonesia tahun 1932-2002. "Tetapi, karena
keterbatasan data analisis curah hujan jangka panjang 100 tahun hanya
dilakukan untuk Stasiun Ampenan, Lombok," kata Handoko kepada Kompas
beberapa waktu lalu.

 

Suhu dan curah hujan
Kajian independen ini menemukan kecenderungan kenaikan suhu terjadi di
beberapa daerah, tetapi di daerah lain justru suhu menurun selama 30 tahun
terakhir. Sedangkan untuk curah hujan, terdapat perbedaan penurunan curah
hujan di berbagai lokasi, seperti hasil kajian- kajian sebelum ini.

 

Yang menarik dari kajian yang menggunakan angka kecenderungan curah hujan
selama 50 tahun terakhir ini adalah temuan di Provinsi Bali, Jawa Timur, dan
Banten terjadi peningkatan curah hujan yang berjalan seiring dengan
penurunan suhu udara. Sementara analisis rata-rata curah hujan dari tahun ke
tahun memperlihatkan penurunan tertinggi terjadi di Jawa Barat.

 

Dampak kenaikan suhu udara terhadap hasil pangan lebih nyata daripada
penurunan curah hujan. Alasannya, demikian Handoko, sebagian besar lahan
pangan strategis menggunakan pengairan irigasi. Hanya tanaman yang sumber
airnya dari tadah hujan, seperti jagung, yang akan sangat terpengaruh oleh
menurunnya curah hujan.

 

Di sisi lain, kenaikan suhu udara akan memengaruhi proses respirasi dan
fotosintesis tanaman. Tanaman di daerah tropis dengan suhu relatif tinggi,
seperti di Indonesia, mengalami periode pertumbuhan lebih singkat dan laju
respirasi lebih tinggi sehingga peningkatan suhu akan menghasilkan produksi
biomassa dan hasil tanaman lebih kecil.

 

Menurut Handoko, hasil survei dan verifikasi di lapangan memperlihatkan,
sebagian besar pelaku sektor pertanian, terutama petani, mengaku berhadapan
dengan ketidakpastian curah hujan yang semakin besar variasinya.

 

Hal itu disebabkan pemanasan global meningkatkan proses transfer uap air ke
atmosfer sehingga meningkatkan kelembaban atmosfer. Konsekuensinya, di
beberapa daerah curah hujan meningkat dan di daerah lain menurun.

 

Strategi adaptasi
Dampak lain pemanasan global yang merupakan salah satu aspek dari perubahan
iklim adalah naiknya permukaan air laut yang akan menyusutkan luas lahan
pertanian.

 

Dengan memperhitungkan kenaikan jumlah penduduk dan alih fungsi lahan
pertanian produktif, tim ini membuat berbagai skenario dampak perubahan
iklim.

 

Bila kenaikan muka air laut 50 cm yang terutama memengaruhi lumbung beras di
pantai utara Jawa Barat ikut diperhitungkan, penurunan produksi padi menjadi
11,69 juta ton. Dengan harga gabah kering giling Rp 2.000, potensi kerugian
petani Rp 23,38 triliun, belum termasuk dampak dari petani yang kehilangan
pekerjaan dan kehilangan potensi nilai tambah dari industri pengolahan padi
itu.

 

Dilihat dari defisit pangan angkanya lebih menakutkan. Handoko menyebut,
dengan mengandaikan semua tidak berbuat apa-apa alias bertindak seperti
tidak ada masalah, selisih antara produksi dan konsumsi pada tahun 2050
besarnya 65 juta ton gabah. Ini dengan memperhitungkan pertambahan jumlah
penduduk 1,5 persen per tahun.

 

Bila terjadi peningkatan suhu udara 2 derajat celsius dan penurunan curah
hujan 246 mm per tahun, pada 2050 defisit gabah diperkirakan akan menjadi 90
juta ton (lihat Tabel).

 

Untuk mengatasi dampak perubahan iklim, strategi adaptasi menurut Handoko
lebih ekonomis dan rasional daripada program rehabilitasi.

 

Program adaptasi harus dilakukan di beberapa lini secara simultan, yaitu
diversifikasi pangan untuk menurunkan konsumsi beras yang 130 kg per kapita
saat ini, perluasan areal tanam, serta peningkatan intensitas tanam dan
produktivitas tanaman.

 

"Kalau konsumsi beras turun 10 persen per kapita, intensitas tanaman
meningkat dari 1,5 menjadi 1,65 kali per tahun, luas tanaman bertambah
100.000 ha per tahun, produktivitas bisa dinaikkan 50 persen, kita bisa
surplus beras sampai 17 juta ton pada 2050. Apalagi kalau diikuti
pengendalian pertumbuhan penduduk yang kalau berjalan seperti sekarang
jumlahnya akan 500 juta orang," kata Handoko. "Tetapi, upaya itu harus
dilakukan dari sekarang."

 

Dalam meningkatkan produk pangan tersebut bukan hanya sistem produksi
menyangkut fisik yang harus ditingkatkan, tetapi juga kelembagaan, termasuk
penyuluhan kepada petani dan masyarakat, serta stimulus fiskal dan moneter.
Inilah tantangan untuk Dewan Ketahanan Pangan dan tahun 2050 tidak terlalu
lama lagi dari sekarang.

---- 
Anton Muhajir
Editor Majalah SALAM - VECO Indonesia
Denpasar Bali 
Email: [email protected]
Blog: http://www.rumahtulisan.com



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke