Menanggapi posting lontaran pak Risfan yang kreatif ini saya teringat hehe..... 
Someone wrote: 
  
“……..Kalau migrasi yang  terjadi dari daerah tertinggal ke kota, saya rasa itu 
wajar, karena daerah tertinggal tidak bisa menyediakan lapangan kerja, antara 
lain karena akses tadi. Pada saat ini di daerah tertinggal, lapangan kerja yang 
ada hanya sebagai pegawai negeri dan anggota DPRD. Karena itu Government 
spending merupakan penggerak utama perekonomian…….”. 
  
Kalau dikatakan “lapangan kerja yang ada hanya sebagai pegawai negeri dan 
anggota DPRD.” Lalu….  “… Karena itu Government spending merupakan penggerak 
utama perekonomian…….”. 
Saya khawatirpernyataan demikian ini terlampau umum pengertiannya dan bisa-bisa 
misleading…….  saya khawatir  ini bisa dianggap sebagai semacam ‘fatwa’ yang 
perlu dicamkan dan diingat2 oleh mahasiswa yg membaca pernyataan demikian 
(maksud saya dgn “mahasiswa”  tidak hanya  yg D3 dan S1 saja lho?)…… dan 
jadilah nanti adik2 mahasiswa studi pembangunan kita yg misleading……. 
Mungkin saja yang dimaksud “lapangan kerja” disini oleh siempunya posting  
hanyalah apa-apa yg dapat dikatakan sebagai pekerjaan “salaryman yang keren” 
atau dpt dikatakan sbg “pekerjaan kerah putih” dikantoran… atau setengahnya utk 
‘memudahkan  diskusi’ saja….. tapi justru untuk “wacana lapangan kerja” 
didaerah tertinggal saya kira ini sudah mirip  seperti “mengunci  pintu harapan 
pada langkah pertama” dan kemungkinan besar misleading itu…… 
Pada kenyataannya yang namanya “lapangan usaha” (ini kalau ia ingin sangat 
dibedakan maknanya dibanding “lapangan kerja”) cukuplah banyak juga didaerah 
tertinggal…..dan tidak sedikit mereka yang hidup kaya dan mewah “didaerah 
tertinggal” (contohnya keluarga Kalla) hanya sekedar berasal dari sumber 
penghidupan yang namanya “lapangan usaha” (kalau itu mau dibedakan dari 
“lapangan kerja”) berbasis SDA lokal…… dan tak bedanya  UMR didaerah perkotaan 
didaerah maju…. Apa yg namanya “pekerjaan salaryman dari sektor usaha” didaerah 
tertinggal nilainya juga tidak buruk2 amat (setidaknya tak perlu kontrak rumah, 
tak perlu transport, tak perlu jajan makan siang diwarung)…… 
Bgmnpun dipulau2 seperti Sangihe (Sangir Talaud, Manado) …. saya dulu (belum 
dizaman low cost air service spt saat ini) punya kenalan keluarga orang China 
dr marga Tandayu….. yg punya hubungan famili dgn keluarga di Jkt….. mereka 
silih berganti kalau datang ke Jkt  naik  kapal dulu ke Manado lalu naik 
pesawat….. Di proyek Senen mereka berbelanja barang2 elektronik bbrp buah.. 
lalu dipaketkan kesana….. bbrp anak2 mereka  laki/pr  juga disekolahkan di 
Trisakti seperti dikedokteran Gigi (dan bbrp kumbang di Jkt mengerumuni juga 
madu dari Sangihe itu)…. 
Sama spt yg di Sangihe tadi….  hanya sekedar kota2 spt Tobelo di Halmahera 
Utara… saya lihat juga toko2 orang China yg sekedar berbisnis hasil bumi 
seperti  cengkeh, kopra, kemiri dsb. tapi dilihat dari luasnya gudang… nampak 
bahwa usaha2 itu bukan kelas “main2”….. banyak “salaryman blue collar” bisa 
bekerja disektor2 seperti itu….. belum lagi yg disektor jasa lainnya…. 
Di Morotai juga sama…. Dipulau terpencil itu orang China masih juga membangun 
ruko yg nilainya pastilah ratusan juta rp. Dan berbisnis dgn penghasilan yg 
nampaknya lebih dari cukup dibanding penghasilan UMR….. 
Di lokasi transmigrasi Batumarta, Baturaja,SumSel….. saya melihat sebuah 
keluarga orang China berdagang dipasar2 lokasi transmigrasi secara mobile….. 
mereka mengikuti hari pasaran yang berbeda2 ditiap desa yg  ‘resminya’ pasar 
desa hanya buka 2 kali seminggu (hingga mereka bisa “beroperasi “ tiap hari 
dari desa satu kedesa lainnya)….. Sang tuan menggelar dagangan pecah belah….. 
istrinya distand yang lain menggelar dagangan sayurmayur dataran tinggi seperti 
wortel, kol, kentang (yg itu tak dapat ditanam dilokasi transmigrasi).. sang 
nenek memomong cucu… dan sang sopir hilir mudik menjalankan kol pickup bututnya 
menjalani rute Unit pasar itu keunit desa lainnya (sekitar jarak 7km) utk bbrp  
rit perjalanan sampai jam operasi pasar usai……. 
Jadi saya ingin katakan…. Memang ada “arus migrasi kekota”…. Tetapi sebaliknya 
dengan “mata elang”  kewiraswastaan orang China misalnya justru ada yang 
“mengarus kedesa”…. Mereka ingin menjadi “yang pertama” mendahului lainnya… 
merebut kesempatan pertama peluang bisnis apapun yang muncul dipedalaman…… krn 
mereka percaya…. perekonomian dipedalamanpun  akan tumbuh……...    
  
Salam, 
aby 

--- On Sun, 2/22/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: [referensi] Solusi Planologi
To: [email protected]
Date: Sunday, February 22, 2009, 3:39 AM






Rekans ysh,

Menanggapi luasnya ragam permasalahan pembangunan, pengangguran, kemiskinan, 
lingkungan hidup, pantai dan pulau kecil, pemanasan global, bencana alam, dst. 
Menurut saya pelu lebih banyak ragam pilihan solusi dan saran dari profesi 
Planologi.

Ini saya sampaikan karena ada kesan kok - untuk masalah pembangunan apapun, 
solusi yang ditawarkan ya: sistem kota-kota dan land-use. Apa tidak ada 
alternatif solusi lain?

Saya pernah baca buku, misalnya, "Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: SDA, SDM, 
Teknologi." buku yang diterbitkan oleh BPPT, (seingat saya kata pengantar 
ditulis oleh Aunur Rofiq). Buku alternatif seperti ini tentu menawarkan 
alternatif lain: yaitu saran strategi/ program pengembangan SDM, pendaya-gunaan 
SDA daerah, dan strategi penerapan/pemilihan / transfer teknologi.

Ini sekedar contoh agar dalam pencarian solusi, seperti dalam kasus 
pengembangan wilayah perbatasan atau tertinggal, ada perspektif lain.

Urbanisasi adalah transformasi dari sifat desa ke sifat kota, dari 
peramu/petani ke kegiatan perkotaan. Bukan menggiring orang pindah 
(resttlement) ke kota. Jadi aspek pengembangan SDM,SDA, teknologi itu sangat 
penting.

Dalam dunia perencanaan, sekarang ada berapa wacana setidaknya:
(1) perencanaan tata ruang; (2) perencanaan pembangunan daerah; (3) 
pengembangan wilayah sektoral: pariwisata, industri, pertanian; (4) community 
development planning, dst.

Perencanaan pembangunan daerah misalnya, dengan format populernya RPJMD. Ini 
merupakan mandatori dari Otnomi Daerah bagi kepala daerah terpilih. Metodenya 
terutama strategic planning, plus aspek programming dan budgeting, serta 
kelembagaan.

Perencanaan wilayah sektoral, misal: Rencana Induk Pengembangan Pariwisata; 
Rencana Induk Pembangunan Perumahan; RP Daerah Aliran Sungai; RP Kawasan 
Industri. Yang kuat muatan teknis sektoralnya, tapi metodenya gabungan 
perencanaan spatial dan strategic planning.

Keempat, community development planning. Ini lebih informal, banyak diterapkan 
dalam program pembangunan masyarakat desa, PNPM, CSR perusahaan besar. Content 
nya mengarah ke pengembangan SDM, SDA, teknologi, juga kelembagaan

Beberapa aspek itu bisa jadi wacana Solusi Planologi, more than just "sistem 
kota-kota dan land-use plan". Semuanya masih dalam lingkup "core competence" 
planner, yaitu planning & management wilayah atau daerah.

Salam,
Risfan Munir
http://ecoplano. blogspot. com

















      

Kirim email ke