Milisters ysh,

++++:    Menanggapi luasnya ragam permasalahan pembangunan, pengangguran, 
kemiskinan, lingkungan hidup, pantai dan pulau kecil, pemanasan global, bencana 
alam, dst. Menurut saya pelu lebih banyak ragam pilihan solusi dan saran dari 
profesi Planologi. Ini saya sampaikan karena ada kesan kok - untuk masalah 
pembangunan apapun, solusi yang ditawarkan ya: sistem kota-kota dan land-use. 
Apa tidak ada alternatif solusi lain?
>>>>:   Maafkan saya pak Risfan, saya justru berpikir sebaliknya….. selama ini 
>>>>yg banyak terjadi adalah justru  wacana “pembangunan” tetapi tidak 
>>>>mengaitkannya dgn pengembangan “sistem perkotaan secara nasional”….. 
>>>>contohnya adalah Strategi Resmi Keruangan dari  Pemerintah Yang 13 
>>>>(tigabelas ) Kapet itu…… samasekali tak pernah terbaca satu kalimatpun 
>>>>didalamnya yang mencantumkan tentang “pengembangan kota”….. atau “pengaitan 
>>>>antara pengembangan sektor2 pertanian dan pengembangan kota” didalamnya….. 
>>>>seolah bahwa pembangunan (mono) sektoral memang bisa jalan sendiri tanpa 
>>>>kaitannya dgn perkembangan kota…… dan tragisnya tentu saja strategi  itu 
>>>>gagal……… 
Kota bgmnpun adalah “wadah dari 99% aktivitas manusia diluar ladang” (off-farm 
activities)…… khususnya utk kegiatan “transaksi” atau ”produksi”, “promoting/ 
marketing” atau juga “mobilitas”… dsb….…... Dasar bhw  integrasi “sistem kota 
kita secara nasional” blm pernah dikembangkan secara maksimal (utk tak 
mengatakan “blm pernah”)…. Maka  wajarlah kalau (wacana sistem kota) itu mutlak 
perlu disertakan terus dalam setiap wacana pembangunan, supaya tak terulang 
lagi bicara ttg pembangunan tanpa mengaitkannya dgn “pengembangan sistem kota” 
(lagian khan juga enak bagi  profesi anda dan kelompok anda….. jadi ada 
pekerjaan terus)…… :--))      Mohon jangan lupa….. mengaitkan dgn “kota”…  
semua sektor bisa masuk dan turut serta……
 
++++:    Saya pernah baca buku, misalnya, "Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: 
SDA, SDM, Teknologi." buku yang diterbitkan oleh BPPT, (seingat saya kata 
pengantar ditulis oleh Aunur Rofiq). Buku alternatif seperti ini tentu 
menawarkan alternatif lain: yaitu saran strategi/ program pengembangan SDM, 
pendaya-gunaan SDA daerah, dan strategi penerapan/pemilihan / transfer 
teknologi.
Ini sekedar contoh agar dalam pencarian solusi, seperti dalam kasus 
pengembangan wilayah perbatasan atau tertinggal, ada perspektif lain.
>>>>: Yang  “3” itu malah bisa jadi “non-spatial”….. dan sulit utk “mengubah 
>>>>ketimpangan keruangan” pada kasus2 yg  kronis……… jadi justru agar wawasan2 
>>>>menjadi wise…. Yg “non-spatial” itu perlu terus digabung dan dijejer tanpa 
>>>>boleh terpisahkan dengan apa yg namanya “the spatial techniques” atau “the 
>>>>spatial engineerings” itu…… dan jadilah wacana “pembangunan wilayah dan 
>>>>(sistem) kota” yg solid……. Ada pembangunan eksosbudnya (yg non-spatial) … 
>>>>namun juga ada eko dan fisiknya (dan antropo dan baharinya…… soalnya kalo 
>>>>gak disebut takut pak Abim ngomel)……..
 
++++:  Urbanisasi adalah transformasi dari sifat desa ke sifat kota, dari 
peramu/petani ke kegiatan perkotaan. Bukan menggiring orang pindah 
(resttlement) ke kota. Jadi aspek pengembangan SDM,SDA, teknologi itu sangat 
penting.
>>>>:  Betul siih…. Tapi “wadah” atau “tapak” dari transformasi “pekerjaan 
>>>>diladang” menjadi “pekerjaan off-farm” itu adalah bukan sekedar activities 
>>>>dipematang sawah ditepi hamparan tanaman padi atau kebun jagung, sekedar 
>>>>dibawah pohon pisang….. semuanya itu sebagian besarnya (kecuali ketika 
>>>>melakukan mobilitas)  dilakukan didalam ruang “indoor”…… dan lalu 
>>>>konstelasi dari “unit2 aktivitis” itu adalah berupa “bangunan2 fisik” 
>>>>(pakai atap, supaya masih bisa lanjut dikala hujan dan panas; pakai 
>>>>instalasi listrik dan lampu2 supaya kegiatan bisa juga dilakukan dimalam 
>>>>hari; pakai lantai permanen supaya bersih…. toko, workshop, pabrik, kantor, 
>>>>ruang pamer, sekolah, rumah sakit, pasar)…. Lalu kelompok dari banyak 
>>>>“unit2 aktivitis” itu lalu memerlukan “jalan” sebagai sarana mobilitas…….  
>>>>Dan apalagi namanya “kumpulan dari unit2 aktivitas didalam bangunan 
>>>>beratap” serta “jaringan jalan”
 diantaranya… kalau itu semua  bukan lalu namanya  “kota” …… dan dari situ 
selanjutnya masih diperlukan lagi  yg namanya “aglomerasi”….. spy aktivitas 
eksosbud kota dpt berkembang lebih kencang….
Peran dari “kota” (kumpulan bangunan beratap plus jaringan jalan)  ini 
sangatlah vital dalam kehidupan pasca revolusi industri…….
Manusia tak lagi sekedar memerlukan “keberadaan (ruang)  kota”  bagi 
kehidupannya (tidak asalkan  sekedar ada jalan dan sekedar bangunan saja) namun 
juga manusia membutuhkan  “mutu dari kota/ quality of cities” (perlu jalan dgn 
mutu yg baik, pakai aspal/ semen, got, trotoar, lebar jalan yg sesuai 
kebutuhan;….ada jaringan listrik, telpon, airpam, ada rekreasi, media.) ….dan 
utk bangunan beratap (space for activities) ….. orang tak hanya mengenal  pola 
“beli” atau “miliki” saja…. Tapi juga ”Sewa”… tak hanya utk bilangan tahun atau 
bulan, namun bahkan ‘hari’ (hotel) bahkan juga ‘jam’ (pesta pernikahan) ……. dan 
mereka “dapat memilih space yg ideal dan terjangkau harganya”…… dan untuk itu 
orang lalu berlomba2 menyediakan “space for rent”.… dengan mengedepankan visual 
aesthetics serta kenyamanan yg prima, bahkan lokasi yg prima…….. dan jadilah 
semuanya itu “perkembangan kota yg
 modern”……….
Mereka yg ingin menanam modalnya (utamanya asing) sering justru mau lihat 
dulu….. seberapa jauh “sistem kota’ itu telah dikembangkan… semakin payah dan 
primitip sistem kota… jenis investasi yg masuk semakin terbatas…. hanya yg tak 
mutlak memerlukan estetika kota saja  (misalnya produk2 alat berat dan mesin2 
pertanian) yg mau masuk dulu…. Lainnya mah  nunggu dulu….
Saya kira ‘ciri khas’ dari planners yg beda dari lainnya adalah bhw ia harus 
selalu bicara masalah eksosbud dan mengaitkannya secara kuat dengan “sistem 
ruang”…. Yg tak bisa tidak itu adlh “kota”….. dan dari sanalah semua (berbagai) 
sektor yg luas dpt memperoleh ‘entry point’nya…. Utk turut berperan serta aktif 
dlm pembangunan………..
 
++++: Dalam dunia perencanaan, sekarang ada berapa wacana setidaknya:
(1) perencanaan tata ruang; (2) perencanaan pembangunan daerah; (3) 
pengembangan wilayah sektoral: pariwisata, industri, pertanian; (4) community 
development planning, dst.
>>>>: menguasai semuanya hampir tak mungkin…… tetapi mengambil spesialisasi 
>>>>sampai keterlaluan sampai “too far to be too specialized” juga menimbulkan 
>>>>dampak yg kurang baik juga….. menjadi agak-agak “generalis” (khan plano itu 
>>>>eklektik)….  asalkan agak2 mendalam menggalinya ilmu…  saya kira malah akan 
>>>>menghasilkan “the proud and the wise”…… dan bukannya sekedar “the proud and 
>>>>the (narrow minded ego monosectoralistic) planner”… lalu sedih lagi kalau 
>>>>lalu jadi  ‘the sorrow’ dan ‘the pity’……. :--)

++++:  Perencanaan pembangunan daerah misalnya, dengan format populernya RPJMD. 
Ini merupakan mandatori dari Otnomi Daerah bagi kepala daerah terpilih. 
Metodenya terutama strategic planning, plus aspek programming dan budgeting, 
serta kelembagaan.
Perencanaan wilayah sektoral, misal: Rencana Induk Pengembangan Pariwisata; 
Rencana Induk Pembangunan Perumahan; RP Daerah Aliran Sungai; RP Kawasan 
Industri. Yang kuat muatan teknis sektoralnya, tapi metodenya gabungan 
perencanaan spatial dan strategic planning.
Keempat, community development planning. Ini lebih informal, banyak diterapkan 
dalam program pembangunan masyarakat desa, PNPM, CSR perusahaan besar. Content 
nya mengarah ke pengembangan SDM, SDA, teknologi, juga kelembagaan. Beberapa 
aspek itu bisa jadi wacana Solusi Planologi, more than just "sistem kota-kota 
dan land-use plan". Semuanya masih dalam lingkup "core competence" planner, 
yaitu planning & management wilayah atau daerah.
>>>>: Betul pak… saya setuju……

Salam, aby

--- On Sun, 2/22/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: [referensi] Solusi Planologi
To: [email protected]
Date: Sunday, February 22, 2009, 3:39 AM






Rekans ysh,

Menanggapi luasnya ragam permasalahan pembangunan, pengangguran, kemiskinan, 
lingkungan hidup, pantai dan pulau kecil, pemanasan global, bencana alam, dst. 
Menurut saya pelu lebih banyak ragam pilihan solusi dan saran dari profesi 
Planologi.

Ini saya sampaikan karena ada kesan kok - untuk masalah pembangunan apapun, 
solusi yang ditawarkan ya: sistem kota-kota dan land-use. Apa tidak ada 
alternatif solusi lain?

Saya pernah baca buku, misalnya, "Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: SDA, SDM, 
Teknologi." buku yang diterbitkan oleh BPPT, (seingat saya kata pengantar 
ditulis oleh Aunur Rofiq). Buku alternatif seperti ini tentu menawarkan 
alternatif lain: yaitu saran strategi/ program pengembangan SDM, pendaya-gunaan 
SDA daerah, dan strategi penerapan/pemilihan / transfer teknologi.

Ini sekedar contoh agar dalam pencarian solusi, seperti dalam kasus 
pengembangan wilayah perbatasan atau tertinggal, ada perspektif lain.

Urbanisasi adalah transformasi dari sifat desa ke sifat kota, dari 
peramu/petani ke kegiatan perkotaan. Bukan menggiring orang pindah 
(resttlement) ke kota. Jadi aspek pengembangan SDM,SDA, teknologi itu sangat 
penting.

Dalam dunia perencanaan, sekarang ada berapa wacana setidaknya:
(1) perencanaan tata ruang; (2) perencanaan pembangunan daerah; (3) 
pengembangan wilayah sektoral: pariwisata, industri, pertanian; (4) community 
development planning, dst.

Perencanaan pembangunan daerah misalnya, dengan format populernya RPJMD. Ini 
merupakan mandatori dari Otnomi Daerah bagi kepala daerah terpilih. Metodenya 
terutama strategic planning, plus aspek programming dan budgeting, serta 
kelembagaan.

Perencanaan wilayah sektoral, misal: Rencana Induk Pengembangan Pariwisata; 
Rencana Induk Pembangunan Perumahan; RP Daerah Aliran Sungai; RP Kawasan 
Industri. Yang kuat muatan teknis sektoralnya, tapi metodenya gabungan 
perencanaan spatial dan strategic planning.

Keempat, community development planning. Ini lebih informal, banyak diterapkan 
dalam program pembangunan masyarakat desa, PNPM, CSR perusahaan besar. Content 
nya mengarah ke pengembangan SDM, SDA, teknologi, juga kelembagaan

Beberapa aspek itu bisa jadi wacana Solusi Planologi, more than just "sistem 
kota-kota dan land-use plan". Semuanya masih dalam lingkup "core competence" 
planner, yaitu planning & management wilayah atau daerah.

Salam,
Risfan Munir
http://ecoplano. blogspot. com

















      

Kirim email ke