Pak Risfan dan semua rekans referensiers ysh,
 
Menanggapi pendapat dari Pak Risfan di bawah, mudah-mudahan Pak Risfan nggak 
salah dalam memahami pendapat saya. Saya sepakat bahwa banyak pendekatan yang 
bisa dilakukan sebagai solusi dalam menanggapi luasnya ragam permasalahan 
pembangunan di negara kita, termasuk dalam menanggapi permasalahan kemiskinan 
dan keterbelakangan di beberapa (banyak) kawasan tertinggal di negara kita. 
 
Dalam mengemukakan pendapat tentang perlunya pengembangan sistem perkotaan 
tersebut, saya tidak bermaksud untuk menafikkan pentingnya pendekatan lain yang 
berbasis pada kondisi aktual dan kontekstual dari masing-masing kasus daerah 
tertinggal. Saya juga yakin bahwa banyak kasus membutuhkan pendekatan community 
development (termasuk perencanaan dan pembangunan kapasitas masyarakat 
dan/ataupun dunia usaha di dalamnya, baik dalam bidang kapasitas teknologi, 
organisasi, finansial/permodalan, dll), pengembangan kapasitas institusi 
pemerintah daerah, dll. Adapun solusi perencanaan pengembangan pariwisata, 
industri, pertanian, perkebunan dan aktivitas sektoral lainnya mungkin hanya 
cocok dilakukan pada beberapa kawasan/daerah tertinggal yang memiliki 
potensinya. Tidak semua jenis pembangunan sektoral tsb bisa diaplikasikan pada 
semua daerah tertinggal. Alih-alih memperoleh kemaslahatan, malahmimpi dan 
penghamburan sumber daya yang terbatas yang akan
 dilakukan, apabila kita melakukannya (kok saya jadi teringat ttg "dunia 
fantasi" yang dibangun di Kab Kutai Kartanegara ya....? Apakah ada rekan yang 
tahu bgmana kabarnya "dunia fantasi" tsb?).
 
Dalam posting sebelumnya, saya hanya ingin menyampaikan pentingnya pengembangan 
sistem perkotaan dalam pengembangan suatu wilayah, termasuk wilayah-wilayah 
spesifik seperti daerah tertinggal dan/atau kawasan perbatasan, seperti yg kita 
bicarakan sebelumnya. Memang saya akui, pendekatan pengembangan sistem 
perkotaan ini terdengar sangat klasik (jadi seperti itu-itu saja, seperti yg 
Pak Risfan sampaikan). Namun, dalam pandangan saya, pengembangan sistem 
perkotaan ini (atau sistem kota-kota yg merupakan terjemahan dari system of 
cities) merupakan suatu upaya pengorganisasian wilayah agar dapat dilakukan 
suatu sistem aktivitas (sistem kegiatan produktif maupun non-produktif) yang 
dapat berlangsung secara efisien. Ini merupakan suatu implikasi langsung dari, 
terutama, sifat dari setiap aktivitas ekonomi yang memiliki suatu skala 
(ekonomi) tertentu, yang tingkatannya juga bisa bervariasi antar suatu jenis 
aktivitas tertentu dengan aktivitas lainnya, agar dia
 mampu berjalan dan bereproduksi sehingga dapat diperoleh perkembangan dan 
pertumbuhan. Tanpa tercukupinya skala akonomi yg dimaksud, suatu kegiatan tidak 
akan berlangsung secara efisien. Dan apabila dipaksakan, maka kegiatan tersebut 
tidak akan mampu bereproduksi sehingga memerlukan dukungan/suntikan sumber daya 
yang besar untuk menjamin keberlangsungannya.
 
Di sisi lain, adanya keterbatasan 'span of access' dan 'span of control' dari 
masyarakat dan/atau organisasi di dalam masyarakat tsb. Kemampuan masyarakat 
dan organisasi tsb dalam melakukan hubungan/interaksi harian (reguler / 
habituelle), yang bergantung kepada kondisi dan tingkat kepemilikan sumber daya 
yang ada sehingga juga terdapat beberapa tingkat/variasi di dalamnya, yang juga 
sangat terbatas mendorong kita untuk perlu melakukan pengorganisasian sistem 
pelayanan aktivitas (baik aktivitas ekonomi produktif maupun aktivitas non 
ekonomi produktif lainnya) di dalam suatu wilayah. Tanpa dilakukan suatu 
pengembangan sistem perkotaan (external urban system atau system of cities) 
yang baik, maka akan terdapat peluang terjadi suatu keisolasian terhadap salah 
satu atau banyak pusat-pusat permukiman di dalam wilayah tersebut. Menurut 
saya, hal ini lah yang terjadi di banyak wilayah di negara kita, termasuk di 
kawasan/daerah tertinggal atau pun di kawasan
 perbatasan antar-negara dan kawasan perbatasan antar-propinsi kita.
 
Oleh karena itu, menurut saya, pengembangan sistem perkotaan seperti ini 
merupakan suatu hal dasar (basis) bagi kegiatan pembangunan di negara kita. 
Pengembangan sistem perkotaan seperti ini perlu dilakukan untuk memberikan 
suatu kerangka wilayah (ruang) bagi pengembangan aktivitas kegiatan di 
dalamnya. Dan saya sangat percaya bahwa pengembangan sistem perkotaan seperti 
ini (pendekatan kewilayahan dalam pembangunan) bukan merupakan satu-satunya 
obat mujarab bagi pemecahan (solusi) bagi permasalahan pembangunan di negara 
kita, seperti halnya saya juga sangat percaya bahwa pembangunan sektoral 
dan/atau pembangunan masyarakat (community development), yang merupakan suatu 
pendekatan pengembangan aktivitas tertentu dalam pembangunan, juga bukan 
merupakan satu-satunya obat mujarab bagi permasalahan-permasalahan pembangunan 
kita. Saya sangat berharap bahwa kedua pendekatan tersebut, yaitu pendekatan 
kewilayahan dalam pembangunan wilayah (geographical approach
 in regional development) dan pendekatan pengembangan aktivitas dalam 
pembangunan wilayah (development of activities in regional development) bisa 
dilakukan secara bersama-sama karena kedua hal itu akan membangun pengembangan 
sistem aktivitas dalam pembangunan.
 
Sekali lagi saya sampaikan pendapat saya bahwa walaupun pendekatan pembangunan 
sektoral, community development, institutional capacity development dan 
pendekatan-pendekatan 'terkini' lainnya juga sangat penting, saya berpendapat 
bahwa pendekatan kewilayahan dalam pembangunan seperti system of cities, 
secondary/intermediate cities development, urban-rural linkages atau 
rural-urban linkages, dan pendekatan kewilayahan lainnya juga merupakan jam-hal 
yang sangat penting dalam pembangunan di negara kita. Tarlebih kalau dikaitkan 
dengan luasan dan kondisi geografis negara kita yang telah menjadi Indonesia 
sebagai negara kepulauan terbesar di dunia baik dari 
mudah-m
 
 yang memaksa kita untuk perlu melakukan pengembangan pusat-pusat permukiman 
 


--- On Sun, 2/22/09, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: [referensi] Solusi Planologi
To: [email protected]
Date: Sunday, February 22, 2009, 6:39 PM






Rekans ysh,

Menanggapi luasnya ragam permasalahan pembangunan, pengangguran, kemiskinan, 
lingkungan hidup, pantai dan pulau kecil, pemanasan global, bencana alam, dst. 
Menurut saya pelu lebih banyak ragam pilihan solusi dan saran dari profesi 
Planologi.

Ini saya sampaikan karena ada kesan kok - untuk masalah pembangunan apapun, 
solusi yang ditawarkan ya: sistem kota-kota dan land-use. Apa tidak ada 
alternatif solusi lain?

Saya pernah baca buku, misalnya, "Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: SDA, SDM, 
Teknologi." buku yang diterbitkan oleh BPPT, (seingat saya kata pengantar 
ditulis oleh Aunur Rofiq). Buku alternatif seperti ini tentu menawarkan 
alternatif lain: yaitu saran strategi/ program pengembangan SDM, pendaya-gunaan 
SDA daerah, dan strategi penerapan/pemilihan / transfer teknologi.

Ini sekedar contoh agar dalam pencarian solusi, seperti dalam kasus 
pengembangan wilayah perbatasan atau tertinggal, ada perspektif lain.

Urbanisasi adalah transformasi dari sifat desa ke sifat kota, dari 
peramu/petani ke kegiatan perkotaan. Bukan menggiring orang pindah 
(resttlement) ke kota. Jadi aspek pengembangan SDM,SDA, teknologi itu sangat 
penting.

Dalam dunia perencanaan, sekarang ada berapa wacana setidaknya:
(1) perencanaan tata ruang; (2) perencanaan pembangunan daerah; (3) 
pengembangan wilayah sektoral: pariwisata, industri, pertanian; (4) community 
development planning, dst.

Perencanaan pembangunan daerah misalnya, dengan format populernya RPJMD. Ini 
merupakan mandatori dari Otnomi Daerah bagi kepala daerah terpilih. Metodenya 
terutama strategic planning, plus aspek programming dan budgeting, serta 
kelembagaan.

Perencanaan wilayah sektoral, misal: Rencana Induk Pengembangan Pariwisata; 
Rencana Induk Pembangunan Perumahan; RP Daerah Aliran Sungai; RP Kawasan 
Industri. Yang kuat muatan teknis sektoralnya, tapi metodenya gabungan 
perencanaan spatial dan strategic planning.

Keempat, community development planning. Ini lebih informal, banyak diterapkan 
dalam program pembangunan masyarakat desa, PNPM, CSR perusahaan besar. Content 
nya mengarah ke pengembangan SDM, SDA, teknologi, juga kelembagaan

Beberapa aspek itu bisa jadi wacana Solusi Planologi, more than just "sistem 
kota-kota dan land-use plan". Semuanya masih dalam lingkup "core competence" 
planner, yaitu planning & management wilayah atau daerah.

Salam,
Risfan Munir
http://ecoplano. blogspot. com

















      

Kirim email ke