Rekan ysh, Saya cuma mengingatkan bahwa system of cities tidak sama dengan system of human settlements, sangat sukar untuk mengidentifikasi kota-kota dalam kelompok yang sama (apalagi antar wilayah yang memiliki permasalahan berbeda) kecuali dilakukan "super penyederhanaan masalah" demi statistik, ukuran economic scale juga terbias oleh perbedaan "kurs" bukan hanya antar negara namun juga antar daerah (apalagi antar pulau yang tersebar), sistem tersebut juga mangabaikan non human settlement, dan hirarkhi dalam system of cities bukan hirarkhi kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungannya namun lebih kepada kemudahan memperoleh alasan yang bersifat ekonomi secara agregat dan sentralistis, sehingga mudah di remunerasi ke sistem keuangan global.... Menurut saya, teori tersebut tidak ada kaitan dengan "pembangunan yang sebenarnya", cuma berkepentingan terhadap pertanggung jawaban ekonomis atau keuangan pemerintahan saja. Semoga memancing penjelasan lain.... atau melahirkan konsep alternatif yang lebih up to date, realistik, atau futuristik (?) ... silahkan.
Salam, Abimanyu On Mon, Feb 23, 2009 at 4:54 PM, <[email protected]> wrote: > Syukur deh kalau begitu sih,krn kirain kang juragan tdk sengaja menebar > virus....jd sy perlu remind > > Powered by Telkomsel BlackBerry(R) > > ------------------------------ > *From*: > *Date*: Mon, 23 Feb 2009 01:32:46 -0800 (PST) > *To*: <[email protected]> > > *Subject*: Re: [referensi] Solusi Planologi-Tak ada sebuah 'Antibiotik' > Pamungkas sebagai solusi permasalahan pembangunan > > Mohon maaf Pak Bos...., > > Itu karena urang salah pencet... Entah gimana begitu salah pencet eh... > tulisannya hilang semua. Setelah direfresh...nggak tahunya malah sudah > terkirim beberapa kali... > > Please let me be excused for the inconvinience, yah... > > Salam, > > Fadjar > > > --- On *Mon, 2/23/09, [email protected] <[email protected]>* wrote: > > > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] Solusi Planologi-Tak ada sebuah 'Antibiotik' > Pamungkas sebagai solusi permasalahan pembangunan > To: [email protected] > Date: Monday, February 23, 2009, 4:24 PM > > Pak fajar sdg bersemangat, sehingga email bpk dgn isi yg sama sy terima > berulang kaliPowered by Telkomsel BlackBerry(R) > ------------------------------ > *From*: > *Date*: Mon, 23 Feb 2009 00:34:33 -0800 (PST) > *To*: <refere...@yahoogrou ps.com> > *Subject*: Re: [referensi] Solusi Planologi-Tak ada sebuah 'Antibiotik' > Pamungkas sebagai solusi permasalahan pembangunan > Pak Risfan dan semua rekans referensiers ysh, > > Menanggapi pendapat dari Pak Risfan di bawah, mudah-mudahan Pak Risfan > nggak salah dalam memahami pendapat saya. Saya sepakat bahwa banyak > pendekatan yang bisa dilakukan sebagai solusi dalam menanggapi luasnya ragam > permasalahan pembangunan di negara kita, termasuk dalam menanggapi > permasalahan kemiskinan dan keterbelakangan di beberapa (banyak) kawasan > tertinggal di negara kita. > > Dalam mengemukakan pendapat tentang perlunya pengembangan sistem perkotaan > tersebut, saya tidak bermaksud untuk menafikkan pentingnya pendekatan lain > yang berbasis pada kondisi aktual dan kontekstual dari masing-masing kasus > daerah tertinggal. Saya juga yakin bahwa banyak kasus membutuhkan pendekatan > community development (termasuk perencanaan dan pembangunan kapasitas > masyarakat dan/ataupun dunia usaha di dalamnya, baik dalam bidang kapasitas > teknologi, organisasi, finansial/permodala n, dll), pengembangan kapasitas > institusi pemerintah daerah, dll. Adapun solusi perencanaan pengembangan > pariwisata, industri, pertanian, perkebunan dan aktivitas sektoral lainnya > mungkin hanya cocok dilakukan pada beberapa kawasan/daerah tertinggal yang > memiliki potensinya. Tidak semua jenis pembangunan sektoral tsb bisa > diaplikasikan pada semua daerah tertinggal. Alih-alih memperoleh > kemaslahatan, malahmimpi dan penghamburan sumber daya yang terbatas yang > akan dilakukan, apabila kita melakukannya (kok saya jadi teringat ttg "dunia > fantasi" yang dibangun di Kab Kutai Kartanegara ya....? Apakah ada rekan > yang tahu bgmana kabarnya "dunia fantasi" tsb?). > > Dalam posting sebelumnya, saya hanya ingin menyampaikan pentingnya > pengembangan sistem perkotaan dalam pengembangan suatu wilayah, termasuk > wilayah-wilayah spesifik seperti daerah tertinggal dan/atau kawasan > perbatasan, seperti yg kita bicarakan sebelumnya. Memang saya akui, > pendekatan pengembangan sistem perkotaan ini terdengar sangat klasik (jadi > seperti itu-itu saja, seperti yg Pak Risfan sampaikan). Namun, dalam > pandangan saya, pengembangan sistem perkotaan ini (atau sistem kota-kota yg > merupakan terjemahan dari *system of* *cities)* merupakan suatu upaya > pengorganisasian wilayah agar dapat dilakukan suatu sistem aktivitas (sistem > kegiatan produktif maupun non-produktif) yang dapat berlangsung secara > efisien. Ini merupakan suatu implikasi langsung dari, terutama, sifat dari > setiap aktivitas ekonomi yang memiliki suatu skala (ekonomi) tertentu, yang > tingkatannya juga bisa bervariasi antar suatu jenis aktivitas tertentu > dengan aktivitas lainnya, agar dia mampu berjalan dan bereproduksi sehingga > dapat diperoleh perkembangan dan pertumbuhan. Tanpa tercukupinya skala > akonomi yg dimaksud, suatu kegiatan tidak akan berlangsung secara efisien. > Dan apabila dipaksakan, maka kegiatan tersebut tidak akan mampu bereproduksi > sehingga memerlukan dukungan/suntikan sumber daya yang besar untuk menjamin > keberlangsungannya. > > Di sisi lain, adanya keterbatasan *'span of access'* dan *'span of > control' *dari masyarakat dan/atau organisasi di dalam masyarakat tsb. > Kemampuan masyarakat dan organisasi tsb dalam melakukan hubungan/interaksi > harian (reguler / habituelle), yang bergantung kepada kondisi dan tingkat > kepemilikan sumber daya yang ada sehingga juga terdapat beberapa > tingkat/variasi di dalamnya, yang juga sangat terbatas mendorong kita untuk > perlu melakukan pengorganisasian sistem pelayanan aktivitas (baik aktivitas > ekonomi produktif maupun aktivitas non ekonomi produktif lainnya) di dalam > suatu wilayah. Tanpa dilakukan suatu pengembangan sistem perkotaan (*external > urban system* atau *system of cities*) yang baik, maka akan terdapat > peluang terjadi suatu *keisolasian* terhadap salah satu atau banyak > pusat-pusat permukiman di dalam wilayah tersebut. Menurut saya, hal ini lah > yang terjadi di banyak wilayah di negara kita, termasuk di kawasan/daerah > tertinggal atau pun di kawasan perbatasan antar-negara dan kawasan > perbatasan antar-propinsi kita. > > Oleh karena itu, menurut saya, pengembangan sistem perkotaan seperti ini > merupakan suatu hal dasar (basis) bagi kegiatan pembangunan di negara kita. > Pengembangan sistem perkotaan seperti ini perlu dilakukan untuk memberikan > suatu kerangka wilayah (ruang) bagi pengembangan aktivitas kegiatan di > dalamnya. Dan saya sangat percaya bahwa pengembangan sistem perkotaan > seperti ini (pendekatan kewilayahan dalam pembangunan) bukan merupakan > satu-satunya obat mujarab bagi pemecahan (solusi) bagi permasalahan > pembangunan di negara kita, seperti halnya saya juga sangat percaya bahwa > pembangunan sektoral dan/atau pembangunan masyarakat (community development) > , yang merupakan suatu pendekatan pengembangan aktivitas tertentu dalam > pembangunan, juga bukan merupakan satu-satunya obat mujarab bagi > permasalahan- permasalahan pembangunan kita. Saya sangat berharap bahwa > kedua pendekatan tersebut, yaitu pendekatan kewilayahan dalam pembangunan > wilayah (*geographical approach in regional development*) dan > pendekatan pengembangan aktivitas dalam pembangunan wilayah (*development > of activities in regional development*) bisa dilakukan secara bersama-sama > karena kedua hal itu akan membangun pengembangan sistem aktivitas dalam > pembangunan. > > Sekali lagi saya sampaikan pendapat saya bahwa walaupun pendekatan > pembangunan sektoral, *community development*, *institutional capacity > development* dan pendekatan-pendekat an 'terkini' lainnya juga sangat > penting, saya berpendapat bahwa pendekatan kewilayahan dalam pembangunan > seperti *system of cities*, s*econdary/intermedia te cities development*, > *urban-rural linkag*es atau *rural-urban linkages*, dan pendekatan > kewilayahan lainnya juga merupakan jam-hal yang sangat penting dalam > pembangunan di negara kita. Tarlebih kalau dikaitkan dengan luasan dan > kondisi geografis negara kita yang telah menjadi Indonesia sebagai negara > kepulauan terbesar di dunia baik > mudah-m > > yang memaksa kita untuk perlu melakukan pengembangan pusat-pusat > permukiman > > > > --- On *Sun, 2/22/09, Risfan M <risf...@yahoo. com>* wrote: > > > From: Risfan M <risf...@yahoo. com> > Subject: [referensi] Solusi Planologi > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Sunday, February 22, 2009, 6:39 PM > > Rekans ysh, > > Menanggapi luasnya ragam permasalahan pembangunan, pengangguran, > kemiskinan, lingkungan hidup, pantai dan pulau kecil, pemanasan global, > bencana alam, dst. Menurut saya pelu lebih banyak ragam pilihan solusi dan > saran dari profesi Planologi. > > Ini saya sampaikan karena ada kesan kok - untuk masalah pembangunan apapun, > solusi yang ditawarkan ya: sistem kota-kota dan land-use. Apa tidak ada > alternatif solusi lain? > > Saya pernah baca buku, misalnya, "Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: SDA, > SDM, Teknologi." buku yang diterbitkan oleh BPPT, (seingat saya kata > pengantar ditulis oleh Aunur Rofiq). Buku alternatif seperti ini tentu > menawarkan alternatif lain: yaitu saran strategi/ program pengembangan SDM, > pendaya-gunaan SDA daerah, dan strategi penerapan/pemilihan / transfer > teknologi. > > Ini sekedar contoh agar dalam pencarian solusi, seperti dalam kasus > pengembangan wilayah perbatasan atau tertinggal, ada perspektif lain. > > Urbanisasi adalah transformasi dari sifat desa ke sifat kota, dari > peramu/petani ke kegiatan perkotaan. Bukan menggiring orang pindah > (resttlement) ke kota. Jadi aspek pengembangan SDM,SDA, teknologi itu sangat > penting. > > Dalam dunia perencanaan, sekarang ada berapa wacana setidaknya: > (1) perencanaan tata ruang; (2) perencanaan pembangunan daerah; (3) > pengembangan wilayah sektoral: pariwisata, industri, pertanian; (4) > community development planning, dst. > > Perencanaan pembangunan daerah misalnya, dengan format populernya RPJMD. > Ini merupakan mandatori dari Otnomi Daerah bagi kepala daerah terpilih. > Metodenya terutama strategic planning, plus aspek programming dan budgeting, > serta kelembagaan. > > Perencanaan wilayah sektoral, misal: Rencana Induk Pengembangan Pariwisata; > Rencana Induk Pembangunan Perumahan; RP Daerah Aliran Sungai; RP Kawasan > Industri. Yang kuat muatan teknis sektoralnya, tapi metodenya gabungan > perencanaan spatial dan strategic planning. > > Keempat, community development planning. Ini lebih informal, banyak > diterapkan dalam program pembangunan masyarakat desa, PNPM, CSR perusahaan > besar. Content nya mengarah ke pengembangan SDM, SDA, teknologi, juga > kelembagaan > > Beberapa aspek itu bisa jadi wacana Solusi Planologi, more than just > "sistem kota-kota dan land-use plan". Semuanya masih dalam lingkup "core > competence" planner, yaitu planning & management wilayah atau daerah. > > Salam, > Risfan Munir > http://ecoplano. blogspot. com > > > > >

